
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Jasmeen sangat panic saat mengetahui Arseo tidak pulang bersama pegawainya. Terlebih lagi saat guru Arseo mengatakan, bahwa Arseo sudah pulang bersama seorang supir. Semakin cemaslah ia kini. Tak tahu harus mencari kemana lagi, dan akhirnya Jasmeen berniat melaporkan kepada pihak yang berwajib.
-------
Drrttt… tuan Fhilip memanggil…
Jaes: “Yah tuan!”
Fhilip: “Arseo ada bersamaku, di apartemen xx.” Seketika Jaes merasa sangat lega dan tak sabar ingin menemui anaknya yang sedang bersama sang kakek Fhilip.
Jaes: “Baik tuan. Aku akan segera ke sana.”
“Bagaimana Jasmeen?”
“Sepertinya Arseo sedang bersama kakek Fhilip,” tukas Jaes, sedikit membuat hati Austin merasa lega namun juga ada rasa kecewa. Kecewa, karena ia merasa bahwa Jaes sebentar lagi tidak akan bersamanya.
Mereka pun segera bergegas menuju alamat apartemen tempat kekek Fhilip berada.
***
“Syukurlah jika Arseo bersama orang yang tepat," jawab Austin dengan senyuman sendunya.
Hmm.. “Yah tuan, aku sangat lega dan tenang kini..” jawab Jaes dengan wajahnya yang dipenuhi senyuman. Namun entah mengapa, Austin merasa ada rasa sesak di dadanya.
“Apartemen xx”
Mereka pun tiba, tepatnya di lantai sepuluh. Seorang pengawal telah menanti Jaes di sana.
“Nyonya Jasmeen..” ujar seorang pengawal dari kakek Fhilip.
“yah tuan..” jawab Jaes dengan tersenyum.
>>
Tok tok tok… mengetuk dengan rasa tidak sabar ingin bertemu Arseo, setelah merasa kecemasan yang luar biasa.
“Ibu…” seru Arseo kecil lalu berlari ke arah Jaes. Jaes pun langsung memeluk Arseo.
“Apakah kau bersenang-senang di sini?” ujar Jaes sambil mengusap kepala Arseo.
“Hallo Arseo!” sapa Austin. Arseo pun mendekapnya juga.
Ehem… “Jasmeen, maaf aku membawanya tanpa sepengetahuanmu. Aku hanya ingin bertemu dengan cucuku..” ujar kekek Fhilip.
“Iya tuan. Aku sempat cemas, namun aku tenang setelah tahu, bahwa Arseo bersama tuan.”
“Jasmeen, malam ini aku ingin mengadakan makan malam bersama. Kau datanglah bersama Arseo. Puku: 19.30, supir akan menjemputmu.”
“Baiklah tuan. Aku akan pulang bersama Arseo..”
Sejenak Fhilip menatap ke arah Austin. Terdapat rasa yang tidak bersahabat di sana. Karena bagaimana pun juga Austin adalah seorang pemburu mahkluk kegelapan. Namun kini keadaan sudah berbeda, Jaes telah melahirkan seorang anak keturunan kegelapan. Austin pun harus rela hati akan hal itu.
\*
__ADS_1
“Kediaman Jasmeen”
“Ibu, apakah benar kakek Fhilip adalah kakekku?”
Hmm.. Jaes berjongkok di hadapan Arseo kecil. “Apakah kakek mengatakan sesuatu padamu? yah, dia adalah kakekmu.” Ucap Jaes dengan tersenyum sendu.
“Apakah paman tampan itu juga ayahku?”
“Paman tampan..—“
Tok tok tok…. seketika suara ketukan pintu membuyarkan pertanyaan Jaes pada Arseo.
Ia pun bergegas menuju pintu, dan tuan Austin telah berdiri di depan pintu menantinya.
“Paman Austin!!” seru Arseo kecil mendekap sang paman.
“Jagoan kecil, ayo kita pergi bersenang-senang..” Jaes tersenyum saat melihat, bagaimana bahagianya Arseo saat bersama Austin. Namun tetap saja, Jaes tidak memiliki perasaan khusus pada Austin.
Mereka pun bergegas pergi menuju pesta jamuan makan malam.
\*
“Hotel xx”
Pesta jamuan makan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang, yang sudah di sewakan oleh keluarga Kyleer secara khusus. Apa pun dapat mereka sewa bahkan beli, dengan segala kekayaan yang mereka miliki.
“Di sebuah meja makan bersama”
Di sana sudah ada kekek Fhilip dan juga kakek Kyleer yang masih tangguh terlihat bugar. Tentu saja, karena mereka adalah mahkluk abadi. Kecuali keinginan mereka untuk mati, maka mereka akan mati.
Sementara Jaes duduk di hadapan keluarga Kyleer dan tak lupa tuan Austin pun turut bersamanya. Namun Austin duduk di antara keluarga Kyleer, karena ia sudah menjadi bagian perwakilan dari keluarga Aimee, pengganti Timoty.
Semua terlihat menikmati acara jamuan makan.
“Apakah kalian sudah bersenang-senang tanpa aku!” tukas seseorang yang membuat Jaes menghentikan gerakan tangannya. Saat hendak mengambil daging untuk diletakkan di piring.
Sret… seseorang tersebut menggeser kursi tepat di samping Jaes kini berada.
Jaes mendongak, dan betapa terkejutnya saat melihat seorang pria yang sangat ia kenal.
“Paman tampan!” seru Arseo pada si pria, yang ialah Cullen. Paman tampan yang sempat ia tenyakan pada Jaes, sesaat sebelum kepergian mereka ke acara jamuan makan.
Semua mata tertuju pada Jaes dan juga Cullen. Mereka pun melanjutkan makan malam. Seolah tak terjadi apa pun dan biasa saja, namun ada rasa canggung di sana.
Jaes mengunyah makanannya dengan susah payah. Dengan sengaja, Cullen menggosok-gosokan betis Jaes dengan lututnya. Tentu saja Jaes tidak fokus dengan makanannya.
Acara makan bersama pun selesai, kini saatnya menikmati acara lainnya.
“Jasmeen! aku ingin bicara padamu!” ujar Cullen sambil meraih tangan Jaes.
"Arseo, pergilah bersama kakek untuk bersenang-senang..” ujar kakek Fhilip. Arseo pun menurut dan mengabaikan Jaes bersama Cullen.
>>
“Mengapa harus di kamar seperti ini!” keluh Jaes. Karena Cullen memintanya untuk bicara berdua di kamar.
“Anak kita sudah besar dan tampan,” ujar Cullen dengan tersenyum sendu.
__ADS_1
Jaes terdiam sejenak dan berdiri menghadap ke arah kaca jendela.
“Apakah kau tidak merindukanku? aku sangat merindukanmu, juga anak kita.” Cullen langsung mendekap Jaes erat.
“Mengapa kau datang tanpa memberiku kabar? mengapa tidak menelponku setelah kau sadar?” tanya Jaes dengan wajah sendunya.
Tsk.. “Aku hanya ingin kau merindukanku, sebelum aku benar-benar datang untuk menjemput istri dan putraku.” Cullen membelai wajah Jaes.
“Aku belum menikah dengamu, mengapa berkata istri!” Jaes terlihat semakin menggemaskan bagi Cullen.
“Jangan pasang wajah imut begitu! atau aku akan membuat Arseo memiliki adik kecil.” Ucap Cullen dengan terkekeh geli.
“Ka-u.. Arseo masih butuh kasih sayangku..” Jaes mengembungkan kedua pipinya yang mulai merona.
“Apakah itu termasuk persetujuan, sayang..” Cullen langsung melumat bibir Jaes dengan penuh kerinduan. Tak cukup hanya melumat, ia mulai melucuti dress yang sedang Jaes kenakan.
“Jang-an tuan… jangan begini..—“ lenguh Jaes disela desah*nnya. Namun Cullen terus saja mengecup area wajah, leher dan area sensitive lainnya.
“Aku sangat merindukanmu dan seluruh tubuhmu..” ucap Cullen sambil menggerayangi Jaes. Ah sial! lagi-lagi Cullen meninggalkan bekas kepemilikan di sekujur area leher Jaes.
“Tuan! hentiakan..—“ Jaes sudah mulai pening akibat ulah nakal Cullen. Hal yang telah sekian lama tak ia rasakan lagi.
Namun di sela kegiatan panas mereka.
Tok tok tok… suara ketukan pintu kamar.
“Ibu! ibu! apakah ibu di dalam?” suara Arseo kecil sedang memanggil. Jaes mendorong tubuh Cullen darinya, dan mencoba membuka pintul. Namun Cullen enggan melepaskan dekapannya.
“Yah Arseo..” Jaes membuka pintu, namun hanya kepalanya saja yang muncul.
“Arseo, ibu sedang sibuk dengan ibu. Bersenang-senanglah bersama kakek, ayah akan menjemputmu!” tukas Cullen sambil memunculkan kepalanya.
“Baik ayah, ibu! aku akan pergi bersama kakek.” Arseo pun pergi bersama pengawal kakek fhilip.
“Tuan! mengapa Arseo memanggilmu ayah..” ucap Jaes di sela kepeningannya, karena Cullen masih saja melalukan hal nakal padanya.
“Aku sudah menjelaskan semuanya. Jadi mari kita buat adik kecil yang lucu untuk Arseo..”
“Kau preman..” keluh Jaes. Bagaimana bisa Cullen meminta seorang adik kecil lagi, sedangkan Arseo masih sangat membutuhkan kasih sayangnya, pikirnya.
Bhukh… Cullen menjatuhkan kedua tubuh mereka di atas kasur king size.
“Tuan… janga—nnn..—“
>>
Sementara di luar, ada seorang pria yang sedang menahan rasa sesak di tengah kebahagiaan Cullen bersama Jasmeen.
Yah, Austin cukup terluka dengan apa yang ia lihat. Tak kurang usahanya untuk bisa mendapatkan hati Jasmeen. Namun Jasmeen sungguh bukanlah tipe wanita yang bisa dengan mudahnya berpaling hati. Kini Austin harus benar-benar merelakan Jasmeen bersama pria yang mampu membuatnya bahagia.
“Kuharap kau akan bahagia selamanya..” ucap Austin lalu pergi dari area hotel dengan penuh lirih.
***
👇👇👇😉
__ADS_1