
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Cullen berupaya keras agar Jasmeen kembali ke sisinya, melalui bantuan para pengawalnya. Akhirnya Jasmeen datang ke mansion kediaman Cullen, bahkan ia rela mengabaikan peringatan dari sang kakaknya untuk tidak melepaskan kalung penghalang.
---------
Sudah berhari-hari Jaes tak nafsu makan, lidahnya seakan sudah mati rasa. Wajahnya pucat, tubuhnya panas, dan tatapannya pun terlihat kosong.
“Apakah nyonya sudah mau makan?”
Tidak tuan. Nyonya Jasmeen hanya duduk diam saja, dan terkadang menjerit-jerit kesakitan. Tukas salah seorang pelayan.
Cullen pun bergegas menuju kamar special bagi Jasmeen.
Jasmeen hanya duduk di atas kursi santai, dengan tatapan menghadap ke arah hutan buatan, area mansion.
“Sayang, apakah kau masih marah padaku?” ujar Cullen sambil mendekap Jaes dari belakang.
Jaes hanya diam, dan enggan untuk membuka pembicaraannya dengan Cullen.
Aku tidak suka dengan cara tuan menipuku. Jika tuan ingin aku datang, gunakanlah cara yang baik… ujar Jaes tanpa ingin menatap wajah Cullen.
“Aku tahu sayang… tapi aku pun tidak dapat menemuimu…” Cullen menggenggam erat tangan Jaes.
Tuan, kau keterlaluan. Kau bahkan menghisap darahku… lirih Jaes dengan wajahnya yang begitu pucat.
“Maafkan aku, tapi aku tidak sanggup kehilanganmu..”Cullen mengecup lembut bibir pucat Jaes, dan menyeka air matanya yang menetes.
“Malam ini kita akan pergi bersenang-senang. Makanlah sesuatu, jangan siksa dirimu..” Cullen menuntun Jaes kembali ke atas kasurnya. Ia membantu Jaes menghabiskan makanannya, Jaes pun menurut dengan segala perlakuan lembut Cullen padanya.
>>
Malam pun tiba, Cullen mengajak Jaes pergi bersama, dengan mengendarai mobil sport mewah miliknya.
“Ayo sayang…” Cullen meraih tangan Jaes, mereka bahkan hanay pergi berdua. Para pekerja mansion begitu terharu melihat perlakuan lembut sang tuan sadis mereka.
“Semoga tuan benar-benar selamanya seperti itu..” ujar para pekerja dengan senyum haru mereka.
***
Jaes terlihat begitu bahagia, mengenakan pakaian kasual dan topi yang lucu, seakan menambah aura kecantikannya.
Sepanjang jalan menyusuri area festival, Cullen selalu mengenggam tangan Jaes erat. Jaes pun tak ragu untuk bermanja pada Cullen.
“Kau suka mendengar orang-orang bodoh itu bernyanyi?” ujar Cullen sambil menyentuh lembut pipi Jaes.
Jika tuan tidak senang dengan acara music, silakan tunggu di parkir saja.. tukas Jaes kesal.
“Tidak tidak.. aku suka, semua yang berhubungan denganmu, semua aku suka. Apalagi saat melihat tubuh indahmu..” bisik Cullen dengan nada sensualnya.
Tuan… Jaes mengembungkan kedua pipinya, membuat Cullen semakin gemas.
“Sayang, jangan buat ekspresi seperti itu, atau aku akan menghibisimu di lapangan ini..” Cullen menyeringai seperti biasanya.
Dasar mesum… bahkan ditengah lapangan begini, sudah berniat buruk.. keluh Jaes, lalu kembali menikmati pertunjukan music lokal yang saat itu sedang mereka saksikan.
“Sayang, ini sangat membosankan, aku lebih suka mencumbumu di sini..” Cullen langsung menyandarkan kepalanya di bahu Jaes.
Tuan hentikan! kita sedang di muka umum..
“Lihatlah! mereka pun berciuman di area ini, masakan kita tidak boleh melakukannya..” keluh Cullen, sambil menunjukkan tangannya ke arah beberapa pasangan kasmaran, lalu mendekap Jaes erat.
Baiklah, kita pergi dari sini… Jaes beranjak, dan seketika melihat penyewaan sepeda roda dua, ia pun ingin menaikinya.
“Kau kemana?”
Aku ingin menaiki itu.. Jaes pun bergegas menuju pusat penyewaan sepeda.
Cullen hanya duduk memandangi Jaes yang sedang terlihat begitu bersemangat dan menikmati permainan sepedanya, namun…
__ADS_1
Bhukkkhh… Jaes hampir saja menubruk seseorang, dank karena ingin menghindar, ia pun terjatuh.
“Jasmeen!!” Cullen bergegas mengangkat Jaes.
“Sudah kukatakan ini permainan bodoh. Aku akan menghancurkan sepeda jelek ini..”
Jangan!! teriak Jaes.
Jangan tuan, aku yang salah karena kurang hati-hati..
“Tapi lututmu terluka tidak, atau yang mana terluka?” Cullen dengan sigap memeriksa bagian tubuh Jaes yang tergores.
Kau terlalu berlebihan tuan, aku tidak apa-apa.. ini akan sembuh dalam beberapa hari.
“Mulai malam ini, kau tidak boleh bermain permainan jelek ini lagi. Atau aku akan membakar hangus area ini..”
Tuan hentikan! mengapa semua pernyataanmu mengandung ancaman.. hentikan.. dengus Jaes kesal.
“Aku akan menggendongmu…”
Jangan… orang-orang melihat… Jaes begitu malu karena Cullen menggendongnya melewati kerumunan orang-orang yang ada di area festival.
“Diam! atau kau ingin kita bercumbu juga sayang, sehingga akan lebih menjadi pusat perhatian..”
Jaes hanya terdiam sambil menahan malunya, ia tahu bahwa percuma saja berdebat dengan pria ini, pikirnya.
Setelah tiba di sisi area keramaian, Cullen menurunkan tubuh Jaes dengan hati-hati.u
Aku ingin ice cream… ujar Jaes sambil membuat ekspresi wajah yang menggemaskan bagi Cullen.
“Kau minta aku untuk membakar penjual ice cream itu pun, tentu aku lakukan semua untukmu sayangku..” ujar Cullen sambil tersenyum puas.
Tuan.. kau..—Jaes mengernyitkan dahinya, dan hanya mendengus saja. Ia tak ingin meresponi ucapan Cullen, karena tentu saja itu percuma baginya.
Hanya sekejap mata, Cullen sudah kembali dengan membawa dua ice cream yang menggoda untuk segera disantap.
Jaes menganga kegirangan, dan…
Hmmm… Jaes mengecup kasar pipi Cullen, lalu merampas ice cream yang berada di tangan Cullen.
Tsk… ”apakah kau sangat suka ice cream ini melebihi rasa suka padaku hmm…”
Apakah tuan ingin membandingkan diri tuan dengan ice cream ini? Hhaha…
Untuk pertama kalinya bagi Cullen, melihat senyuman, tawa bahagia Jaes. Ia bahka tak percaya jika ini benar Jaes.
“besok aku ingin membawamu ke rumah keluarga Kyleer…”
Keluarga Kyleer… Jaes menatap heran wajah Cullen
“Yah, aku ingin menyatakan bahwa kita akan segera menikah…”
Menikah…
“Yah, aku ingin kita segera menikah, dan memiliki anak yang banyak..”
Aaaah apaa yang tuan maksud.. jangan bergurau…
“Aku serius sayang… tidakkah kau ingin hubungan ini nyata adanya. Aku tidak suka terlalu lama. Pikirkan itu baik-baik..”
***
“Perusahaan Penerbit xx”
Sepanjang hari Jaes terlihat begitu letih. Letih dengan segala pekerjaan, naskah mau pun pikirannya saat ini.
“Jasmeen…”
__ADS_1
Bos!! ahh, maaf… Jaes terkejut hingga berteriak pada Zeros.
“Apa yang terjadi padamu? mengapa beberapa hari yang lalu kau tak masuk, bahkan terlihat begitu pucat?” ujar Zeros dengan begitu prihatin.
Mungkin aku terlalu lelah bos, jadi wajar saja…
“Jasmeen, jika sesuatu, jangan sungkan untuk jujur padaku..” Zeros menepuk bahu Jaes. Kini Zeros akan posisinya hanyalah seorang atasan/ bos bagi Jaes, dan tak lebih dari itu.
>>
“nona Jasmeen. Kita akan mengadakan pameran buku di..---“ ujar salah seorang atasan Jaes.
Baik tuan, aku akan segera menyiapkan segala kebutuhannya. Jaes bergegas mengerahkan para kelompok yang akan bersamanya, mengadakan pameran buku.
Sibuk dan terus sibuk sedari pagi, hingga membuat Jaes melupakan sejenak beban pikirannya.
“Bagaimana nona Jasmeen? apakah semua sudah beres?”
Sudah bos, kami sudah mempersiapkan tenda tempat pameran buku-buku yang akan kita adakan diskon besar-besaran.
><>
“Sepertinya nyonya baik-baik saja tuan.. tapi nyonya terlihat sangat lelah..” ujar seorang pria yang sedang duduk di dalam mobil, dan tepatnya di balik kaca mobil berwarna hitam pekat.
“Awasi nyonya, jangan sampai ada pria yang mencoba mendekatinya..” tukas seseorang pula dari balik panggilan telepon sang pria berpakaian serba hitam.
“Baik tuna Cullen…” ujar sang pria, lalu kembali memperhatikan semua yang Jaes lakukan.
Setelah malam, Jaes benar-benar kelelahan, dan ingin segera istirahat.
“Terimakasih atas kerja keras tim nona Jasmeen, besok kita akan lanjutkan lagi..”
Baik tuan… Jaes pun mengemasi barang-barangnya, dengan tampilan wajah yang tentu saja sudah sangat kelelahan.
“Nyonya…” tukas seorang pria yang sedari tadi mengawasinya.
Siapa kau? Jaes terkejut melihat seorang yang tiba-tiba saja menepuk bahunya.
“Aku pengawal tuan Cullen, dan tuan ingin aku mengantarkan nyonya..”
Hmm.. baiklah.. aku sangat lelah.. Jaes mau menerima mandat dari kekasih kejamnya.
>>
“Nyonya, tuan tidak dapat menjemput nyonya. Karena tuan saat ini sedang sangat sibuk..”
Tidak masalah.. aku bisa melakukan semuanya sendiri.. ujar Jaes yang hampir saja tertidur dalam perjalanan.
***
“Kediaman Jasmeen”
Melepaskan pakaian, membersihkan diri, dan berbaring sejenak hanya untuk merenggangkan otot-ototnya.
“Apa yang harus aku lakukan.. pria itu sangat kejam saat memangsa, bagaimana mungkin menikah dengannya..” gumam Jaes yang masih tak mampu untuk tertidur. Kali ini ia mulai berpikir sesuatu yang juga cukup rumit baginya.
Drrttttt… Mr. Devil memanggil…
Jaes: “Hallo tuan…
Cullen: “Mengapa kau belum istrahat? ini sudah cukup malam..”
Jaes: “Sebentar lagi aku akan segera beristirahat…”
Cullen: “yah, jaga kesehatanmu. Jika masih terlalu lelah, lebih baik jangan bekerja lagi..”
Jaes: “Baiklah tuan, aku ingin segera beristirahat sekarang..—“
Hahhh… menghela napas perlahan.
“Mengapa kisah ini sangat sulit… kak Timoty, apa yang harus adikmu ini perbuat?” lirih batin Jaes.
__ADS_1
Ia benar-benar bingung dengan keadaanya kali ini. Ia telah resmi menjadi kekasih Cullen tanpa sepengetahuan sang kakak. Terlebih lagi, sang kakak sangat membenci bahkan selalu berpikir akan membunuh para mahkluk kegelapan. Sedangkan Jaes kini sedang menjalin hubungan bersama seorang pria mahluk kegelapan…
****