
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Cullen sangat murka karena Jasmeen yang secara tiba-tiba pergi dari mansion kediamannya. Ia terburu-buru terbakar emosi akibat pengaduan sang bunda yang mengatakan seolah-olah Jasmeen dengan sengaja meninggalkannya, dan memilih sejumlah uang sebagai jaminan.
Karena hal itu, Cullen menjadi tak terkendali, dan bertindak kasar bahkan hampir membuat Jasmeen celaka.
Lirih seorang pria yang selama ini selalu bertindak kejam pada siapa pun, dan tak ada satu pun yang berani membantahnya, sekali pun itu keluarganya sendiri.
“Jasmeen!!” jeritnya sambil mendekap erat tubuh Jaes yang kini tak sadarkan diri.
Ahkkk… harggkk… lenguhnya, sambil perlahan meletakkan tubuh Jaes di atas kasur milik Zeros. Ia mulai mengeluarkan kedua taringnya, akibat aroma darah Jaes yang begitu menyengat.
Merogoh isi saku celananya, dan mencoba melakukan panggilan kepada seseorang.
“Cepat kemari, bawa dokter terbaik..” titahnya, lalu mencengkram sisi sofa. Urat-urat tubuhnya semakin terlihat, rasa sakit pada area tubuhnya mulai terasa menyiksa. Rasa sakit karena menahan hasrat iblisnya untuk tidak menghisap darah Jaes.
Ia memanggil seorang dokter untuk mengobati Jaes, karena ia tak tahan dengan aroma darah Jaes. Itulah kelemahan Cullen.
Cullen! apa yang terjadi… hahhhh… Zeros yang baru saja tiba bersama seorang dokter kepercayaan mereka. Zeros sangat terkejut saat melihat keadaan apartemennya yang terlihat begitu banyak pecahan kaca.
“Lakukan yang terbaik, dan buat luka pada tubuhnya benar-benar menghilang!” titah Cullen sambil duduk terperosot di lantai, tepatnya di dalam kamar samping kamar pribadi Zeros.
“Clean service, datang ke kamar apartemen lantai 10 sepuluh sekarang..” ujar Zeros yang sedang meminta beberapa Clean service untuk membersihkan kamar apartemennya.
Huhhh… Zeros menghela napas sejenak dan menggeleng-gelenkan kepalanya atas apa yang saat ini ia lihat.
Tuan Cullen, apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Jasmeen?? ujar Zeros sambil duduk di samping Cullen.
“yang jelas, dia adalah wanitaku!” tukas Cullen sambil memijat-mijat kepalanya.
Ohh, mengapa aku editornya bahkan tidak mengetahui berita penting ini. Lalu mengapa kalian sampai seperti ini?
“Dia pergi meninggalkanku, dan tidak menurut. Jadi, aku ingin memberinya hukuman, namun tak di sangka hal semacam ini akan terjadi..” tukas Cullen dengan wajah sendunya.
Ohh hmm… cari tahu dulu kebenarannya, baru bertindak. Karena jika kalian memang selama menjadlin hubungan tanpa sepengetahuanku, mungkin Jasmeen punya alasan lain. Tetapi setahuku, Jasmeen bukan tipe wanita yang suka ingkar janji..
“Mengapa kau sangat ingin tahu..” Cullen memandang ke arah Zeros dengan tatapan tajamnya.
Hei hei.. aku hanyalah editor novelnya, namun aku pun cukup lama mengenal Jasmeen.. Zeros menepuk bahu Cullen.
“Permisi tuan, sepertinya nona Jasmeen harus di rawat agar luka-luka pada bagian tubuhnya pun dapat segera terselesaikan..” tukas seorang dokter tampan yang baru saja selesai memberi perawatan pada Jaes.
“Maksudmu, dia harus di bawa ke rumah sakit?” tukas Cullen lalu menghampiri sang dokter.
Benar tuan, karena luka-lukanya harus dibalut. Sekarang aku akan membalutnya terlebih dahulu.
Sang dokter pun menyentuh area kulit Jaes, ia melihat tanda-tanda kissmark area leher Jaes, ia hanya berusaha diam saja.
__ADS_1
Ehmmm… gumam Zeros yang berpura-pura tidak melihat.
“Hei, apa yang kau sentuh!” tukas Cullen sambil menarik krah leher baju kemeja sang dokter yang hendak membalut luka pada area paha Jaes.
Cullen… ujar Zeros yang langsung menahan tindakan Cullen.
Maaf tuan, aku hanya ingin membalut lukanya menggunakan beberapa obat.. ujar sang dokter.
“Tetapi kau tidak perlu menyentuh-nyentuh bagian tubuh tertutupnya!!, atau aku akan buat kau kehilangan tanganmu itu!!” tukas Cullen dengan sorot matanya yang menajam, tentu saja ia sangat serius dengan perkataannya.
Tidak tuan, aku hanya ingin membalutnya…
“Biar aku yang melakukannya!” Cullen merampas perban yang saat itu berada di tangan sang dokter.
Ahhh.. Cullen, biarkan dokter ini yang melakukannya.. tukas Zeros menghampiri Cullen.
“Kau sudah bosan hidup!” peringat Cullen.
Ahhh oke… Zeros mundur perlahan, dan menepuk bahu sang dokter.
Setelah beberapa saat kemudian, Cullen pun menyelesaikan balutan tersebut. Namun Jaes masih tak sadarkan diri.
“Sepertinya bunda tidak menyukaimu… apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu mencintaiku..” lirih Cullen, kali ini ia benar-benar menangis di hadapan Jaes yang sedang terbaring tak sadarkan diri.
Cullen… ujar Zeros dari balik pintu, namun langkahnya pun terhenti saat melihat Cullen menangis tersungkur di samping kasur Jaes.
“Sepertinya dia sudah benar-benar jatuh cinta pada Jasmeen, dan sepertinya aku terlambat…” gumam Zeros dari balik pintu, lalu pergi meninggalkan Cullen hanya berdua bersama Jaes.
>>
Ahkk… melenguh dan memandang sekitar.
“Sudah bangun nona Jasmeen..” tukas seseorang dari balik pintu kamar yang sedang Jaes tempati.
Bos Zeros… ahkk… Jaes berusaha terbangun dari tampat ia berbaring, dan menyentuh bagian bekas luka pada tubuhnya.
Hmm..
“Bahkan aku tak tahu hubunganmu bersama tuan Cullen..”
Bos, maafkan aku, tetapi kami tidak ada hubungan apa pun..
“Kau masih berani bicara seperti itu, setelah apa yang terjadi pada tuan Cullen. Seandainya kau jujur padaku, mungkin aku bisa membantumu menjelaskannya pada Cullen.” Zeros tersenyum lalu duduk di pinggir kasurnya.
Bos, deadlineku..
Sehtt… “dalam keadaan begini pun masih membicarakan naskah, sudahlah istirahatlah. Jika kau tidak cepat pulih, maka Cullen akan membakarku..”
Bos.. jangan bergurau ke hal yang keterlaluan…
__ADS_1
“Jasmeen, terkadang seorang pria itu sangat gengsi untuk mengakui bahwa ia sangat mencintai seorang wanita, hanya karena kedudukannya dan mungkin identitasnya yang telah orang ketahui..”
Apa maksud dari perkataan bos?
“Jasmeen, kau terlalu fokus dengan percintaan di dunia novel, sampai-sampai kau tidak lagi memikirkan dirimu..”
Hmm… Jaes hanya tertunduk sendu.
“Jika sudah membaik, aku akan mengantarkanmu kembali ke kediamanmu..” tukas Zeros sambil meraih mantelnya dan mengenakannya pada Jaes.
Thank you bos…
Hm.. Zeros hanya tersenyum.
***
Bos, aku sangat kelaparan… rengek Jaes.
“baiklah baiklah, kita akan mencari makanan yang sangat enak, dan ini sudah termasuk potongan bonus penghasilan penjualan novelmu…” ujar Zeros menggoda Jaes.
Dasar bos bar-bar… hahha… keduanya menjalin hubungan pertemanan yang begitu hangat. Terlebih lagi, Zeros termasuk editor yang sangat cerewet. Namun sesungguhnya ia sangat baik hati, dan tak sanggup melihat seorang wanita bersedih bahkan menangis.
Saat sedang menikmati makanan…
Beberapa pria berpakaian serba hitam rapi, berkacamata hitam pula, dan bersama seorang wanita di tengah-tengah mereka.
Byurrr… siraman air dar ujung kepala Jaes secara tiba-tiba.
“Jasmeen..” ujar Zeros terkejut melihat Jaes yang sudah basah kuyup akibat siraman segelas juice.
“Kau memang wanita jalang!!” tukas seorang wanita yang telah menyirami Jaes.
“Hei, apa yang anda lakukan nyonya..” Zeros berdiri dari kursinya.
Nyonya… ujar Jaes, saat melihat sosok bunda Sonya sedang berdiri dengan gaya angkuhnya, dan ternyata pelaku yang telah menyiraminya segelas juice.
“Wanita jalang!!” Plaakk…. sebuah tamparan mendarat di pipi Jaes.
“Nyonya! apa yang anda lakukan!!” tukas Zeros, namun ia kini di kelilingi oleh para pengawal tadi.
“Jasmeen, kau bahkan sudah kuberikan cek ratusan juta, tapi masih belum puas mengusik anakku! mulai hari ini jangan sampai aku tahu kau bertemu dengan anakku, atau aku akan bakar orang-orang yang ada di panti asuhan itu!!” peringat bunda Sonya, lalu pergi begitu saja.
Jasmeen duduk perlahan dan membersihkan wajahnya dengan tissue yang tersedia di atas meja. Mereka yang saat itu sedang menikmati makanan di pinggir jalan, dan kejadian itu pun di saksikan oleh banyak orang.
__ADS_1
“Jasmeen, ayo kita pergi..” Zeros memberikan jaket kulit miliknya untuk meletakkan di atas kepala Jaes. Jaes hanya mampu terdiam menahan malu, dan juga sakitnya penghinaan dari bunda Sonya.