Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Perasaan apa ini?


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Niat ingin berlibur dengan tenang pun, kacaulah sudah. Rencana Jasmeen untuk menikmati hari-hari cutinya, habislah sudah.


Sorot kedua pasang mata yang sudah dapat Jaes tebak.


Tttuuan… apa yang terjadi.. ujar Jaes dengan nada terbata-bata, dan perlahan menggenggam ganggang pintu dengan jantungnya yang sedari tadi tak mampu tenang.


Shyuutt… sebuah tangan menarinya masuk secara paksa.


Ahkk.. lenguh Jaes, karena rasa panas area pergelangan tangannya, akibat cengkraman kuat tadi.


“Kau darimana saja!” bentak Cullen sambil mencengkram kedua bahu Jaes.


Akkuh hanya pergi berlibur tuan.. lirih Jaes sambil menggigit bibirnya, menahan sakitnya cengkraman kasar Cullen.


“Kau tahu bukan, jika kau tidak suka dengan caramu yang tiba-tiba menghilang!!” bentak Cullen tepat di wajahya.



Aku hanya ingin cuti beberapa hari tuan, dan menenangkan pikiranku…


“Diam!! aku belum minta kau untuk bicara!!” bentaknya lagi sambil mengeratkan cengkraman pada bahu Jaes.


Ahkk.. hakk.. Jaes kembali melenguh hingga mengeluarkan air mata.


Sakkkitt tuan.. sakitt.. lirih Jaes, ia sudah benar-benar tak tahan dengan rasa sakit pada bahunya.


Hahh.. Cullen melepaskan cengkramannya secara kasar, Jaes pun menyentuh bagian bahunya yang masih terasa nyei.


“Kenapa tidak bicara? apakah mulut ini minta untuk kujahit, atau ku robek!! hahh!!” Cullen mencengram bagian rahang Jaes.


Ampun tuan Cullen, aku salah dan aku tak akan mengulanginya lagi… lirih Jaes dengan mulut yang terbungkam.


Cup…


Cullen langsung mengecup, melumat bibir Jaes.


Jaes menangis sejadi-jadinya, ia sangat sedih akan keadaannya kali ini. Cullen menatap kedua mata yang sedang menangis itu, sambil terus menikmati bibir mungil milik kepunyaan Jaes.


Mengecup bibir, wajah, dagu, leher hingga area dada tak pernah lolos dari kecupan kasar Cullen.


Uhukk uhukk… Jaes terbatuk-batuk, karena selama kurang lebih dua puluh menit, Cullen melumat bibirnya.


Cullen menyentuh wajah Jaes, perlahan menyeka air matanya dengan tangan yang kokoh berurat itu. Ia mengangkat tubuh Jaes menuju kasur.


Ah, sial! lagi-lagi di kasur, pikir Jaes.

__ADS_1


“Apakah sakit?” tanyanya sambil menyentuh bagian bahu Jaes.


Hmm.. Jaes hanya mengangguk , sambil terus menangis hingga sesenggukkan.


“Lain kali jangan buat aku panic mencarimu… aku takut kau menghilang dariku..” ucap Cullen sambil mendekap tubuh Jaes. Cullen mendekap sembari bersandar di dada Jaes, bagai seorang anak kecil yang sedang bermanja pada ibu.


Ia mendekap erat tubuh Jaes, dan membuat Jaes kesulitan bergerak karena bobot tubuh Cullen yang berat.


Jaes sebenarnya sangat ngantuk dan lelah, karena saat sedang tertidur pulas, ia harus terbangun karena ulah Cullen.


“Apakah yang harus aku perbuat? mengapa wajah pria ini, juga tatapannya seakan dipenuhi kehampaan. Aku bahkan tak mengenal keluarganya, dan asal usulnya hingga saat ini..” batin Jaes.



Perlahan Jaes membelai wajah tampan yang sudah memejamkan mata itu, dan berada di atas dadanya. Jaes hanya duduk bersandar di bagian sisi atas kasur king size milik Cullen.


Cullen bahkan sudah terlelap di dalam dekapan dan belaian Jaes.


Tsk.. Jaes tersenyum sendu saat melihat ekspresi wajah Cullen yang sedang tertidur pulas.


“Pria yang penuh misteri, siapa pria ini sebenarnya..” batin Jaes, sambil ia terus membelai wajah yang berbulu halus itu.


Keesokan harinya…


Ahkk… lenguh Jaes, saat dirasanya, bagian punggungnya begitu pegal. Karena selama berjam-jam ia tidur dalam keadaan duduk bersandar, karena Cullen yang enggan untuk berpindah.


Setelah selesai membersihkan diri, Jaes menuruni anak-anak tangga, terlihat para pelayan sedang sibuk bekerja.


dan…


“Nyonya! nyonya!” tukas seorang pengawal dengan napas memburu.


Ada apa? mengapa? tanya Jaes heran, ia baru saja duduk hendak menyantap sarapan pagi.


“Sepertinya tuan sedang sakit, dan dari sejak tuan terbangun, tuan terlihat gelisah..” tukas sang pengawal.


Bailah, aku akan menyelesaikan sarapanku.. tukas Jaes, ia pun sedang sangat kelaparan.


Jaes kembali menuju kamar pribadi Cullen.


Cullen hanya terbaring taik berdaya, bahkan suhu tubuhnya sangat dingin membeku.


“Nyonya, apa yang harus kita lakukan?” lirih sang pengawal setia Cullen.


“Apa yang terjadi dengan anakku?” tiba-tiba ada suara langkah terburu-buru menuju kamar pribadi Cullen.


“Permisi nyonya, ini adalah ibunda tuan Cullen..” tukas sang pelayan.


Jaes pun mundur beberapa langkah dari hadapan Cullen. Sedangkan wanita yang baru tiba tersebut adalah bunda Sonya Kyleer. Bunda Sonya menatap dalam ke arah Jaes, dari ujung kaki hingga ujung kepala, dengan tatapan yang dalam dan dingin.

__ADS_1


Cullen, apa yang terjadi denganmu anakku… lirih sang bunda.


"Kau, keluar dari sini!" titah bunda Sonya, dengan wajah yang tidak bersahabat pada Jaes.


Ahmm, baik nyonya.. Jaes pun pergi keluar. Sedangkan para pengawal mau pun pelayan ingin menghentikan Jaes, karena mereka tahu, Cullen akan sangat murka jika Jaes pergi lagi. Namun titah mutlak sang bunda pun tak terbantahkan lagi.


>>


Jaes duduk di sofa yang berada di luar kamar Cullen.


“Lebih baik kau keluar dari rumah ini!” tukas sang bunda Sonya, yang baru saja keluar dari dalam kamar pribadi Cullen.



Jaes hanya membalas tatapan sang bunda, dan para pelayan hanya terdiam, tak berani bicara, karena yang memberi perintah adalah ibunda dari tuan mereka.


Baik nyonya… jawab Jaes singkat. Sungguh sesuatu yang sangat ia tunggu-tunggu untuk dapat keluar dari mansion tersebut.


“Maaf ibunda, tetapi nyonya Jasmeen adalah wanita milik tuan!” tukas sang pengawal dengan wajah menunduk, sebagai tanda hormat.


Aku tidak peduli siapa dia, yang jelas dialah penyebab sakitnya Cullen. Aku ibunya, aku berhak melakukan sesuatu untuk anakku! tukas sang ibunda Sonya.


“Tapi ibunda, tuan akan sangat marah..—“


Kau hanya pengawal, aku yang berkuasa di sini, aku ibu dari tuan kalian! bentak sang bunda Sonya.


Sementara itu, Jaes datang lagi hendak memberi salam/ pamit.


“Apa lagi?” bentak bunda Sonya.


Aku hanya ingin pamit nyonya.. tukas Jaes, lalu pergi dari hadapan mereka.


>>


“Nyonya! jangan pergi! tuan akan segera bangun dan akan sangat marah!!” tukas para pekerja yang sedang berada di lantai satu.


Tapi, ibunda tuan memerintahkanku untuk pergi, jadi aku harus pergi.. ujar Jaes dengan tersenyum sendu.


***


“Kediaman Jasmeen”


Selama dua hari Jaes menjalani hari-harinya seperti biasa, tanpa kehadiran Cullen. Namun entah mengapa, ada perasaan tak rela meninggalkan Cullen di sana.


Huhh.. “sadarlah Jasmeen, kau hanya orang miskin dan tak pantas bersama seorang pria jutawan itu..” gumam Jaes lalu kembali melanjutkan naskah novelnya.


Sang bunda Sonya terlihat tak senang dengan keberadaan Jaes, Jaes pun tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya. Bahkan Cullenlah yang selalu memaksanya untuk datang ke mansion tersebut. Tapi kini, Jaes harus menerima perlakuan tak menyenangkan dari ibunda Cullen.


***

__ADS_1


__ADS_2