
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Jasmee merasa begitu sangat putus asa dengan kehidupannya yang sekarang. Ia hampir kehilangan arah hidupnya, keluarganya telah tiada lagi. Kini Jasmeen hidup sebatang kara, dan hanya bertahan hidup dengan pekerjaannya sebagai seorang penulis novel.
Austin sang asisten kepercayaan Timoty, mengajak Jaes untuk bekerjasama dengannya, demi membalaskan dendam kebancian Jaes.
Setelah mengajar Jaes untu pergi bersamanya, Austin pun membawa Jaes menuju markas kediamannya.
------
“Kediaman tuan Austin”
Jasmeen hanya duduk tanpa ekspresi, wajahnya masih sangat pucat. Akibat kehilangan bayi yang sedang ia kandung, kini juga harus kehilangan kakak semata wayangnya. Jaes sangat berduka, dan berada dalam tekanan batin yang sangat berat.
“Nona Jasmeen, silakan makanlah sesuatu untuk menambah tenaga nona,” ujar Asutin sambil menyodorkan sekotak makanan yang baru saja ia pesan delivery.
Terimakasih tuan Austin.. susah payah Jaes mengunyah makanannya, dan bahkan ia sudah tak lagi bernafsu untuk menyantap makanannya.
“Nona Jasmeen sangat tergoncang, sepertinya sangat mudah untuk membuatnya benar-benar memiliki kebencian pada keluarga itu..”batin Austin.
>>
Setelah menghabiskan makanannya, Jaes pun kembali beristirahat. Namun sorot mata Jaes sangat hampa, ia sangat putus asa.
Menangis dan meratap, itulah yang Jaes alami kini.
“Apa salahku Tuhan.. mengapa hidupku harus seperti ini…” lirih Jaes dengan penuh kehancuran.
Sementara Austin berada di balik pintu halaman samping kediamannya, melihat Jaes yang sedari tadi terus terisak pilu.
Duduk di halaman samping, sambil bersandar di sisi tembok.
Saat itu terdapat sebuah pisau pemotong buah, Jaes mulai melirik pisau tersebut. Ia meraih pisau pemotong itu, dan mengarahkan pada pergelangan tangannya.
“Nona Jasmeen!!” Austin pun berlari ke arah Jaes, kemudian segera merebut pisau yang sedang Jaes genggam.
Lepaskan aku tuan! lepaskan! Jaes meronta sambil terus menangis.
“Ini bukanlah penyelesaian masalah nona! bukankah kita sudah sepakat akan membalas semua kepedihan keluarga nona!” tegas Austin sambil mendekap tubuh Jaes.
Karena suasana menjadi cukup canggung, Austin pun melepaskan dekapannya.
“Maaf.. nona jangan berpikir terlalu pendek..” Austin mencoba menenangkan hati Jaes.
Aku lelah dengan semua ini tuan… aku lelah.. lirih Jaes.
“Iya nona.. sabarlah, tenanglah..” Austin berusaha untuk menenangkan perasaan Jaes.
Jaes pun akhirnya kembali tenang. Untuk mengantisipasi segala kemungkinan terjadi, Austin mengamankan segala benda-benda tajam yang berada di dalam kediamannya.
Tuan, aku harus pulang ke kediamanku..
“Apakah semua aman nona, nona harus belajar ilmu bela diri sehingga bisa melindungi diri nona..”
Tapi aku terlalu merepotkan tuan, aku bahkan tidak memiliki dana yang cukup banyak sekarang..
“Nona tenanglah.. tuan Timoty telah menyerahkan tanggung jawab padaku. Aku akan meneruskan pesan tuan..”
Tuan tuan! di mana kakakku di makamkan! aku sangat ingin berziarah.. lirih Jaes, ia mencengkram krah leher mantel milik tuan Austin.
“Belum sekarang saatnya nona..”
Tidak! aku ingin sekarang…. Jaes terus merintih pilu.
Perlahan, Austin menceritakan segala hal yang telah terjadi, saat kepergiannya dari kediaman Timoty waktu itu.
“Waktu itu tuan masih belum mati, karena mahkluk terkutuk itu yang telah menusuk dada tuan, namun tidak mengenai jantungnya. Namun saat aku ingin menyelematkan tuan, tuan telah terbunuh..” Austin menunduk sendu.
Terbunuh! siapa yang melakukannya tuan! katakan! Jaes terus menggocang-goncang tubuh Austin.
“Tuan Cullen!” seketika air mata Jaes terhenti, wajahnya kini dipenuhi dengan rsa benci.
Tuan Cullen… apa… jadi… Jaes terdiam kaku, mengepalkan kedua tanganya.
Benar-benar pria iblis, penipuu… Jaes histeris. Ia semakin hancur bahkan lebih hancur lagi, saat mendengar pernyataan dari Austin mengenai kematian sang kakaknya, Timoty.
-------
Jaes pun berusaha keras untuk belajar ilmu bela diri, bahkan menembak. Ia menerima segala jenis kekuatan tenaga dalam pada tubuhnya. Austin dengan setia menemani Jaes selama proses latihannya.
Hah hhh hh… Jaes terlihat sangat kelelahan saat usai latihan bela diri. Area tubuhnya pun terlihat sangat lebam akibat latihan fisik yang sering kali ia lakukan.
Beberapa bulan kemudian…
Jaes sudak cukup mahir dalam cara menembaknya, juga latihan fisik yang setiap hari terus-terusan ia lakukan.
***
“Nona Jasmeen cobalah untuk membunuh lawanmu!” titah Austin padanya.
Apakah harus tuan? Jaes terlihat cukup ragu dan masih merasa takut.
__ADS_1
“Iya nona, anggap saja ini tugas perdana nona. Karena nona harus belajar membunuh..”
Membunuh! siapa yang akan kubunuh?
“Ikuti aku nona..” Austin meraih tangan Jaes dan menuntunnya ke sebuah ruangan rahasia.
>>
Kita di mana tuan? Jaes memandangi sekeliling ruangan yang kini mereka tempati.
“Di sana ada tahanan yang sangat keras kepala, dia seorang wanita. Kau bisa bunuh dia atau bahkan siksa dia, buat dia mengakui kesalahannya..”
Jaes pun memasuki sebuah ruangan, terlihat seorang wanita sedang duduk dengan sorot mata yang begitu tajam. Dengan kakinya yang masih terbelenggu rantai.
Jaes gemetar dan sangat ketakutan kali ini.
“Nona lakukan!” titah Austin.
Jaes pun berjalan mendekati si wanita, wanita itu pun menatap lekat Jaes.
“Aku tidak akan mengatakannya! hahaha..” racau si wanita.
“Kau hanya gadis kecil yang bodoh dan tak berani. Tol*l!” umpat si wanita.
Jaes mulai terpancing emosi dan akhirnya…
Bugh… ia meninju wajah si wanita itu dengan cukup keras, namun si wanita justru meludahinya.
Cuiihhh… “gadis jalang!” umpat si wanita.
Bugh bugh bughh… Jaes meninju bahkan menendangi wajah mau pun tubuh si wanita tersebut.
Argghhk… jangan bicara hal yang tidak kau tahu sama sekali! teriak Jaes, dan untuk terakhir kali.
Dor dor dor… Jaes menembak kepala si wanita dua kali, jua letak jantungnya satu kali.
“Kau akan tetap lemah..” tukas si wanita untuk terakhir kalinya.
Hahh.. hhh… Jaes membelalak ngeri. Tubuhnya terasa sangat kaku dan lemah. Ini adalah pengalaman pertamanya menghilangkan nyawa seseorang, ia hampir terjatuh.
Austin pun dengan sigap menahan tubuh Jaes.
“Nona… tidak apa-apa.. itulah yang seharusnya kita lakukan pada orang-orang jahat..”
Sebenarnya apa kejahatannya tuan…
“Dialah yang membocorkan keberadaan kita pada mahkluk kegelapan, juga tempat persembunyian tuan Timoty.”
Apakah dia mengkhianati kakakku?
“Yah nona.. maka itu adalah setimpal. Selama ini kami belum membunuhnya, dan tepat sekali kedatangan nona.”
***
Rasa benci, dendam yang ia alami pun membuatnya menjadi sosok yang dipenuhi dendam. Membunuh anggota keluarga Kyleer adalah harapan terbesarnya.
Diam-diam Jaes berkirim pesan dengan Carl, adik Cullen.
Mereka melakukan pertemuan diam-diam di sebuah café.
----------
“Café xxx”
“Nona Jasmeen, aku tidak menyangka jika nona akan menerima tawaranku..” ujar Carl dengan wajah tersenyum bahagia.
Ia tuan, adalah suatu kehormatan bagiku, dapat bertemu dengan tuan.. Jaes tersenyum sensual pada Carl, tak seperti dirinya biasa.
“Nona Jasmeen, bisakah nona datang ke pesta dansa bersamaku?”
Pesta dansa… “jika aku menolak, maka pendekatan kami akan sia-sia..” batin Jaes.
“Ia nona.. namun tenang saja, aku tidak akan memberitahu pada bunda juga kakanda mengenai pertemuan kita..” Carl meraih tangan Jaes, dan mengecup punggung tangan Jaes.
Terimakasih tuan Carl, aku sangat tersanjung.. Jaes kali ini terlihat sangat berbeda dan cukup sensual.
Baiklah nona, aku akan menunggu..
***
“Pesta dansa”
Jaes datang bersama Carl, untuk menghadiri sebuah acara pesta dansa bersama.
Berpakaian dengan begitu anggun dan menarik, seakan menambah aura kecantikannya.
“Nona sangat cantik” puji Carl. Carl kali ini sudah masuk dalam perangkap Jaes. Jaes memanfaatkan keberadaan Carl untuk perlahan membalaskan dendamnya, atas kematian sang kakak.
Tuan pun sangat tampan, aku suka.. Jaes membelai area dada milik kepunyaan Carl.
Melihat keberanian Jaes, Carl pun meraih tangan Jaes.
“Apakah nona Jasmeen tertarik untuk minum bersamaku?” Carl menyentuh wajah Jaes dengan kedua tangannya, dan mengendus area leher Jaes. Jaes bergidik, ia sebenarnya tidak menginginkan hal ini.
__ADS_1
Tuan… aku ingin tahu tentang keluargamu, tidak bisakah tuan memperkenalkanku dengan keluarga tuan?
“tentu nona Jasmeen.. akhir pekan ini aku akan memperkenalkan nona pada bunda..”
Baik tuan.. Jaes tersenyum miring.
Setiap harinya Jaes terus menerus memberikan Carl perhatian. Dari mulai membuatkan bekal saat pergi bekerja, mengingatkan Carl untuk menjaga kesahatan dan lainnya. Carl sungguh tersanjung dengan semua yang Jaes perbuat, hingga akhirnya.
***
“Nona, apakah nona bersedia menjadi kekasihku?” Carl mendekap pinggang Jaes, sementara tangan satunya menyentuh batang leher Jaes.
Apakah tuan masih mau denganku, sekali pun aku sudah pernah bersama kakaknda tuan, aku bukanlah wanita yang baik lagi.. Jaes membelakangi Carl, seolah-olah ia sangat bersedih.
“Aku tahu, namun aku sangat menginginkan nona. Aku tidak peduli dengan keluargaku, persetan dengan mereka..” Carl mendekap erat tubuh Jaes. Ia mengecup tengkuk leher Jaes. Jaes berusaha menahan hasratnya, karena ia tidak tertarik pada Carl.
Maukah tuan berjanji padaku, apa pun yang terjadi tuan akan terus bersamaku? Jaes meraih wajah Carl. Mengucapkan sebuah mantra dalam benaknya, dan kemudian mengecup sekilas bibir milik kepunyaan Carl.
Sejak saat itu Carl semakin tergila-gila pada Jaes. Bahkan ia mulai berseteru dengan sang bunda, namun Jaes selalu mempertahankan tubuhnya agar tidak dijamah oleh Carl.
***
“Kediaman Kyleer family”
Carl, kau dari mana saja? mengapa kau jarang pulang tepat waktu? ujar bunda Sonya dengan penuh kelembutan pada Carl.
“Aku ingin menikah dengan Jasmeen..” tukas Carl secara tiba-tiba.
Menikah dengan Jasmeen! siapa wanita itu nak? apakah berasal dari keluarga terpandang? tukas sang bunda.
“Apakah ukuran kebahagiaan di ukur dari kekayaan? aku akan segera melangsungkan pernikahan kami.” Tegas Carl lalu mengabaikan sang bunda.
Carl! bunda bersumpah akan menghancurkan wanita jalang itu, jika dia yang meracunimu! bentak sang bunda.
“Coba saja, sehelai rambut pun bunda menyentuhnya. Maka aku akan membunuh bunda dan seisi rumah ini!”
Apa! Carl, mengapa kau berkata demikian.. apakah kau sudah bodoh! lirih sang bunda Sonya.
“aku serius bunda. Jangan sekali-kali bunda turut campur dalam urusanku!” tegas Carl.
Arghhh….. harggkkk… teriak bunda Sonya. Ia terlihat snagat marah dan ingin segera menemui Jaes.
>>
Beberapa hari kemudian…
“aku ingin menikahi nona Jasmeen!” tukas Carl ditengah acara makan malam, Jaes pun turut serat di sana.
Carl! kau tahu wanita ini sangat jalang..—tukas sang bunda
“Diam! aku yang memutuskan! aku jauh lebih mengenalnya! bunda diamlah atau aku akan pergi dari rumah ini!”
“Carl, apakah kau sudah bicara pada kakakmu?” tukas ayahnda Fhilip, yang terlihat tak dapat berbuat apa-apa.
“Untuk apa ayah! kakanda hanya kisah masa lalunya. Bukankah begitu sayang?”
Carl menggenggam tangan Jaes. Jaes hanya mengangguk sembari tersenyum. Ia pun harus menahan malu, demi kelancaran rencananya.
>>
“Apa yang kau rencanakan!” tukas bunda Sonya pada Jaes, seusai makan malam bersama, ia mengajak Jaes untuk bicara berdua.
Apa yang kau katakan nyonya Sonya! anak andalah yang tertarik padaku!
“Kau jalang sialan! aku tidak akan membiarkan kalian menikah!”
Coba saja! apakah nyonya akan menghasut tuan Cullen! bahkan itu akan jauh lebih buruk, apakah nona bisa bayangkan, jika dua saudara saling bunuh! tukas Jaes, dengan menyipitkan matanya.
“Kau…!!”
Plak… bunda Sonya menampar wajah Jaes, dan tepat saat Carl tiba, Jaes memang sengaja membuat bunda Sonya melakukannya.
“Bunda!! Jasmeen!” teriak Carl. Ia bahkan mendorong sang bundanya ke sisi.
Keluarga ini sangat keterlaluan! aku tidak ingin menikah dengan tuan! Jaes berlari sambil menangis drai hadapan Carl. Tentu saja Carl tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“Nona Jasmeen tunggu..”
Carl masih berupaya mengejar Jaes.
“Kumohon jangan batalkan pernikahan kita.. aku berjanji akan melindungimu dari hal apa pun, termsuk dari bunda…” Carl memohon sambil terus mendekap tubuh Jaes.
Aku sudah cukup terhina.. liirh Jaes.
“tidak sayang, mari kita buat semuanya baik-baik saja..”
Janji.. Jaes terlihat sangat manja pada Carl. Carl pun sangat bahagia akan hal itu.
“Sampai tahap ini sudah berjalan dengan baik..” batin Jaes. Ia terlihat puas dengan sandiwaranya.
Jaes melancarkan rencana balas dendamnya, namun ia lupa, jika Cullen tidak akan tinggal diam setelah mengetahui keberadaannya dan bahkan rencana pernikahan mereka.
****
__ADS_1
👇👇