Mr. Devil Season 2

Mr. Devil Season 2
Beginikah akhir segalanya?


__ADS_3

“Mr. Devil – Season II”


Author by Natalie Ernison


Jasmeen yang awalnya sangat membenci keberadaan Cullen, karena Cullen selalu bertindak sesuak hati padanya. Sejak awal pertemuan pun, Cullen sudah membuat Jasmeen begitu muak. Namun seiring berjalannya waktu, Jasmeen pun benar-benar terkajut dalam pelukan Cullen. Walau Timoty, sang kakaknya tak menyetujui hubungan mereka.


---------


“Kediaman Timoty”


“Bagaimana kabar Jasmeen selama keperginku ke luar negeri?”


Nona Jasmeen sangat baik tuan, hanya saja akhir-akhir ini nona Jasmeen kerap kali mual-mual tuan.. ujar salah seorang asisten/pelayan rumah.


“Mungkin dia terlalu kelelahan menulis naskahnya..” tukas Timoty, kemudian menuju kamar pribadi milik Jaes.


>>


“Bagaimana keadaanmu sekarang?” Timoty yang duduk di samping Jaes.


Seperti yang kakak lihat.. jawab Jaes dengan nada cuek.


“Apakah kau masih merasa kesal padaku?”


Aku sangat bosan berada di rumah, aku akan semakin tidak produktif karena ini… keluh Jaes kesal.


“Aku hanya ingin menjamin keamananmu saja Je..” ujar Timoty sambil merangkul Jaes dengan lembut.


Aku susah payah mengumpulkan uang untuk dapat malanjutkan pendidikanku, namun kakak justru merusak perjuanganku!


“Jeje! aku tidak merusak perjuanganmu, justru aku ingin terbaik untukmu!”


Terbaik! terbaik dengan cara mengurungku di dalam rumah ini! tukas Jaes dengan nada yang cukup naik.


“Jeje.. aku..—“


Cukup kak! sebelum kedatangan kakak, hidupku baik-baik saja, bekerja berjuang dengan semestinya. Tapi sekarang, kehadiran kakak justru membuatku tidak mandiri!


“Jeje! cukup! kamu keterlaluan! kamu melawanku hanya karena pria iblis terkutuk itu!”


Diam! apa yang kakak ketahui tentang tuan Cullen! kakak tidak tahu sama sekali. Lirih Jaes, ia kesal karena Timoty tak mengijinkannya untuk keluar dari kediamannya.


“Aku ingin yang terbaik untukmu. Sudah belasan tahun kita terpisah, aku tidak ingin kehilanganmu Je..” Timoty membelai lembut kepala Jaes.


Aku tidak suka dikurung didalam rumah saja kak.. aku pun ingin keluar menikmati udara segar.. Jaes menangis sedu dihadapan sang kakaknya.


“Tidak Je,  pria itu akan kembali mengusikmu..”


Hentikan kak! jangan sampai aku meragukan bahwa kakak adalah saudaraku..


“Je, mengapa kau bicara demikian? apakah kau ingin mengatakan bahwa aku bukanlah kakakmu!”


Jika benar-benar seorang saudara yang begitu peduli, tidak mungkin kakak membiarkanku merasakan tersiksa begini.. aku lelah terus berada di rumah kak..


Hukkk uhhkk ueekkk… tiba-tiba saja Jaes merasa mual, lalu langsung lari ke dalam kamar mandi. Di sana ia mengeluarkan segala yang ia santap sedari pagi.


>>


“Berhentilah menulis, kau kelelahan..”


Lalu jika tidak menulis, apakah kakak ingin membuatku menjadi gila karena hanya bisa duduk, terbaring diam!


“Jeje!  tolong dengarkan aku. Kau tidak dijinkan keluar..” tukas Timoty.


Arghhkkk… sial!! umpat Jaes kesal.


Ahkk hhh hhh… wajahnya begitu pucat, dan segala yang ia makan pun keluar begitu saja.


Sepanjang hari Jaes hanya terbaring lemah di atas kasurnya, ia sangat lemas.


***


“Mansion Kediaman Cullen”


“Mengapa Jasmeen belum membalas pesan email dariku?” gumam Cullen, sambil sesekali ia memeriksa isi kontak masuk email miliknya.


Tuan! tuan! ujar sang pengawal memanggil.


“apa yang ingin kau katakan!”


Maaf tuan, tapi aku sudah melakukan pengintaian di kediaman nyonya Jasmeen. Sepertinya nyonya Jasmeen sedang dalam keadaan yang tidak baik.


“Apa maksudmu tidak baik?” Cullen pun bangkit dari sofa miliknya.


Nyonya Jasmeen tuan… ucap sang pengawal yang sudah mulai ketakutan. Karena tuan Cullen tak segan-segan akan menghajarnya jika bertele-tele.

__ADS_1


“Cepat katakan! kau ingin membuatmu marah!” bentak Cullen.


Nyonya sedang sakit tuan.. ucap sang pengawal dengan tubuh yang gemetar ketakutan.


“Sakit!! dasar saudara sialan!! bagaimana mungkin wanitaku bisa sakit saat bersamanya!” umpat Cullen kesal. Ia pun lagi-lagi meninju dinding kamarnya hingga terlihat retak.


“Apa pun caranya, kau harus bisa membuat Jasmeen keluar dari rumah jahan*m itu! karena jika aku datang, maka aku akan langsung memporak-porandakan rumah sialan itu!” titah mutlak Cullen.


Baikk tuan…


Sang pengawal pun segera berupaya agar dapat masuk ke dalam area kediaman Timoty, tempat Jaes kini sedang berada.


***


“Kediaman Timoty”


Permisi tuan, nyonya! ujar salah seorang service elektronik.


“Maaf tuan, kami tidak membutuhkan seorang service elektronik..” tukas salah seorang keamanan kediaman Timoty.


Bughh… pria yang ialah seorang service elektronik itu pun menghantam bagian belakang batang leher sang penjaga keamanan hingga terjatuh.


Huhh… “sangat mudah..” gumam si tukang service, lalu menyelinap masuk, sementara para pekerja rumah sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


“Nyonya Jasmeen..” ujar si tukang service yang ialah seorang pengawal kepercayaan Cullen.


Tuan! kau..—Jaes terbelalak terkejut.


“Nyonya, tuan Cullen sangat menginginkan kedatangan nyonya..” tukas sang pengawal yang menyamar sebagai seorang tukang service elektronik.


Maaf tuan, aku tidak bisa pergi. Bagiku kak Timoty adalah hal terpenting dalam hidupku.


“Tapi, bukankah tuan Cullen akan segera menikahi nyonya!”


Tidak, kami tidak dapat melanjutkan hubungan kami. Aku harus melanjutkan hidupku..


“Nyonya! bagaimana mungkin nyonya berkata demikian..” tukas sang pelayan heran.


Pergilah.. katakan pada tuan Cullen, aku harus tetap di sini..


“tapi nyonya, tuan sangat mengkhawatirkan keadaan nyonya..”


Tidak tuan, aku tidak bisa meninggalkan kak Timoty… lirih Jaes.


“Apa yang terjadi pada nyonya..”


-----


“Jasmeen!!” tukas Timoty yang baru saja tiba, dan saat melihat seorang pria yang ialah pengawal dari Cullen. Timoty sangat geram, lalu menghajarnya.


Bugh bugh bugh… pukulan bertubi-tubi mengenai wajah tampan sang pengawal kepercayaan Cullen.


Kakak sudah cukup kak… teriak Jasmeen, sambil mendekap tubuh sang kakak.


“Menjauhlah!” bentak Timoty, sambil mendorong Jaes hingga mengenai ujung sofa.


Hakk hkk ahk.. lenguh sang pengawal yang sudah terlihat berdara-darah, akibat kerasnya pukulan Timoty.


“Kalian, para mahkluk sialan! berani sekali memasuki kediamanku!” tegas Timoty, sambil ia mengambil pistol peraknya.


Anda akan membayar semua ini… lirih sang pengawal yang sudah sangat babak belur, lebam sana sini.


“Diam!!”


Door dorr… suara tembakan memenuhi isi kediaman Timoty.


Arghkkk… kakak tidak!! teriakan histeris Jaes, ia benar-benar tidak menyangka, jika sang kakaknya akan membunuh pengawal kepercayaan Cullen.


Namun setelah tertembak, tubuh sang pengawal tersebut pun berubah menjadi abu hitam.


“Lihatlah Je, mereka ini hanyalah abu fana. Apakah kau ingin tubuhmu seperti ini pada akhirnya..” tukas Timoty. Jaes hanya terdiam membeku, ia sangat terkejut dengan perubahan wujud tubuh sang pengawal tersebut.


Kakak.. mereka itu fana… ujar Jaes, dengan wajah yang kebingungan.


“Yah, kamu istrahatlah..”


>>


Tuan!! tuan muda!! jerit histeris para asisten rumah, yang lari tergopoh.


“Mengapa? apa yang terjadi pada kalian?” ujar Timoty heran, saat itu ia sedang memberi perawatan pada Jaes.


Tuannn… pengawal bagian depan semua mati tuan.. para mahkluk berjubahh tuann… lirih sang pelayan yang terlihat sedang ketakutan.


“apa??” Timoty pun bangkit dari pinggir kasur tempat Jaes sedang berbaring.

__ADS_1


“Kalian jaga nona.. aku akan membereskannya.—“ Timoty pun bergegas pergi.


Namun setelah beberapa saat, suara riuh keramaian di luar sudah tak lagi terdengar.


“Apa yang terjadi di luar sana..” gumam Jaes heran.


Ia pun memberanikan diri untuk keluar, dan…


>>


Kakak!!! teriak histeris Jaes. Saat itu ia melihat Timoty sedang dihunus oleh belati tajam, tepat di dadanya. Dari


mulut Timoty bersimbah darah segar, sedangkan pekerja lainnya sudah mati mengenaskan.


Hakkrr… tidakk… jangannn… jangan sakiti kakak kuu… lirih Jaes. Ia tersungkur tak berdaya, lemah terkulai.


“Jeje… larilahh… hakkrrggg..” ujar Timoty, dan ia terlihat sangat kesakitan.


“Nona.. ayolah…” salah seorang pelayan meraih tangan Jaes. Ia memaksa Jaes untuk menjauh.


Tidak.. jangan… lepaskan aku…. sudah cukup keluargaku merasakan banyak penderitaan… jerit Jaes sambil terus meronta.


“Nona hentikan!! ingat keselamatan bayi nona!” teriak pilu sang pelayannya.


Hakkk… kak Timoty… lirih Jaes sambil menangis meraung-raung.


“Sudahlah nona… ingat untuk terus merawat bayi yang sedang nona kandung..”


Rupanya Jaes sudah mengandung anak dari hasil hubungannya bersama dengan Cullen. Hal itu ia sembunyikan dari semua orang, dan hanya sang pelayan setianya yang mengathui, bahkan Timoty tidak mengetahuinya. Ia takut keberadaan bayi yang sedang ia kandung akan terancam.


***


Hahh hhh hhh… napas Jaes tersengal-sengal. Mereka lari ke area hutan yang sama sekali tak mereka kenali.



Kita dimana… ujar Jaes sambil menarik napas panjang.


“Kita harus pergi menjauh nona.. aku akan tetap berada di sisi nona. Namun, jika bahaya datang, nona larilah, jangan pedulikan aku. Ingatlah bahwa nona harus merawat bayi nona.


Ahkk… mengapa begini… lirih Jaes. Dibawah guyuran air hujan, dan dinginnya malam. Mereka harus terus berlari tak karuan, dan tak tentu arah lagi.


Suasana gelap dan dinginnya air hujanlah yang kini mereka hadapi. Mereka dapat melangkah, hanya pada saat datangnya cahaya petir yang menyinari area hutan tersebut.


Argghhh hhhhrrggkkk… suara teriakan aneh kini terasa semakin dekat.


“Nona, lari lari!!” mereka pun berlari tak tahu arahnya lagi.


Aku lelah.. aku lelah…. keluh Jaes. Ia hampir putus asa dengan keadaannya kini.


“Nona…-- harggkkk arrggkk…. lenguh sang pelayannya, dan ada sesuatu yang lain.


Arghkkk tidak… tidakkk… jangan begini… Jaes semakin histeris.


“Nona pergilah..” lirih sang pelayan. Sang pelayan terhunus tombak yang menembus perutnya.


Hakkhh hakkk… lenguh sang pelayan dengan bersimbah darah dari area mulutnya.


Jangan tinggalkan aku… kumohon… hahh hhh.. Dengan gemetar Jaes meraih tombak tersebut.


Arghh…. hhkkk… sang pelayan semakin melenguh tak karuan. Sakit sangat sakit hingga ia ingin segera mati.


Syuuttthhhh… sebuah tombak satu lagi menghunus punggung hingga menembus dada sang pelaya.


Arrrggkkk… Jaes membelalak, ia benar-benar tak sanggup lagi melihat hal itu dan semua kekerasan mau pun kekejaman yang ada.


“Nona pergilah…--“ lirih sang pelayan.


Jaes akhirnya berlari dengan susah payah. Ia sangat kelelahan, ia kehausan, dan ingin segera beristirahat.  Berlari dengan penuh rasa takut, tubuh gemetar kedinginan, menangis sedu.


Namun…


“bunuh wanita itu!!” jerit seorang wanita yang kini berada tak jauh dari Jaes. Mereka membawa lampion-lampion yang tahan guyuran  air hujan.


Syingggtt…salah seoarang pengawal berjubah serba hitam menarik sebuah pedang panjang dari sisi pinggangnya. Ia berjalan ke  arah Jaes.



Hahh hhh..  Jaes mundur perlahan. Ia sangat ketakutan, dan ketika ingin mundur lagi, ia pun terjatuh ke bawah jurang.



“Sialan! semoga mati saja!” umpat sang wanita yang kala itu berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang berjubah serba hitam.


****

__ADS_1


Terimakasih bagi yang sudah add IG thor, juga join di whatsapp group.. thor senanh bisa mengenal para readers" Mr. Devil😊😇


__ADS_2