
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Jasmeen yang selalu di sibukkan dengan segala tugas kuliahnya, kini harus mengejar deadline naskahnya dar sang editor tampan namun super bawel dan sedikit temperamental.
“Kampus xxx”
“Heii coba lihat pak Remost dengan tunangannya sangat serasi bukan..”
Iya betul, cantik dan tampan. Super mapan lagi, dari keluarga terhormat..— riuh para mahasiswa saat melihat seorang dosen mudah nan tampan sedang bersama tunangannya yang juga cantik anggun.
“Iya, kak Remost memang sangat tampan dan juga..—“batin Jaes.
Ahhhss… apa yang pikirkan dan kuharapkan saat ini..
Bergegas membereskan barang-barangnya, dan ingin segera pergi menuju sebuah café terdekat.
“Jasmeen!!” seseorang memanggil namanya, saat Jaes menyusuri lorong kampusnya yang sudah menunjukan waktu sore hari.
Jaes berbalik sejenak…
“Bagaimana kabarmu?” ujar seorang pria tampan sambil tersenyum.
Aku baik-baik saja pak…
“sekarang sedang tak ada orang, mengapa kamu memanggilku bapak, tidakkah itu terlalu formal..” tukas sang dosen tampan, yang ialah Remost Tyga.
Remost Tyga
Tetapi kita sedang berada di area kampus…
“Iya aku tahu, tetapi malam ini aku ingin mengajakmu makan malam bersama…” ujar Remost penuh harap.
Maaf, aku harus menyelesaikan deadline pekerjaanku, permisi… Jaes pun bergegas pergi dari hadapan Remost si dosen tampannya.
“Jasmeen! maaf… maafkan aku..” tukas Remost, dan seketika menghentikan langkah Jaes.
Yah… aku mengerti… jawab Jaes singkat, lalu ia beranjak pergi.
>>>
Hahhh… sial!! mengapa aku bisa jatuh cinta dengan pria sebrengsek Remost Tyga!!! Jaes mengumpat sendiri, dan menendangi kaleng ke sisi kanan trotoar.
“Hei… perhatikan langkahmu..” tukas seseorang dari arah tendangan kaleng tadi.
Ahh maaf tuan… maafkan aku… Jaes bergegas menuju sumber suara, dan…
Seorang pria tampan, sorot mata yang tajam, tinggi, kekar, dengan bulu-bulu halus pada bagian rahang hingga pipi tegasnya.
“ini milikmu..” ujar sang pria sambil menyodorkan kaleng yang telah Jaes tendangi tadi, namun dengan wajah yang datar dan terasa tak senang.
Aku sangat minta maaf tuan, aku tak sengaja.. aku..---
“Sepertinya kita saling mengenal…” tukas si pria sambil mendekati wajah Jaes.
Maaf… aku tidak akan mengulangi hal ini lagi, kapan pun dan dimana pun.. ujar Jaes sambil mundur perlahan, karena jarak wajah mereka sangat dekat sekali.
“Cullen…. hei mengapa kau meninggalkanku..” ujar seorang pria sambil mengejarnya.
“Jadi nama pria ini Cullen…” batin Jaes sambil menoleh ke arah seseorang yang sedang memanggil Cullen.
Bos!!! Jaes terkejut saat melihat sang editor cerewetnya ternyata teman baik si pria misterius itu.
“Ohhh kau Jasmeen.. mengapa? kalian sudah saling mengenal..” ujar Zeros terkejut.
Hahhaa…
“Cullen kenalkan, ini adalah Jasmeen seorang novelis..” ujar Zeros memperkenalkan.
Jasmeen… Jaes mengangkat tangan kanannya hendak memberi salam pada Cullen, si pria dingin nan misterius itu.
“Cerita apa yang telah kau tulis..” tukas Cullen dengan sorot mata yang begitu tajam.
__ADS_1
Ohh, dia menulis naskah gore… tukas Zeros memotong pertanyaan Cullen.
“Aku tidak peduli denganmu! aku sedang bertanya pada gadis ini..” tukas Cullen dengan tatapan dinginnya, dan membuat Jaes sedikit bergidik ngeri. Seakan sorot mata itu pernah ia lihat sebelumnya.
Baik baik… mari kita pulang.
Maaf Jasmeen.. aku pulang dulu..
Baik bos.. Jaes pun berjalan perlahan, tanpa sadar ia sudah tiba di depan area rumah susun kediamannya.
>>
Ahhh…
“Apakah aku sudah mulai gila.. mengapa sorot mata itu tidak asing…” gumam Jaes sambil membuka laptopnya, dan mulai melanjutkan naskah gore-darkness miliknya.
Drrrtttt… satu pesan belum dibaca..
“Jasmeen, kita harus bicara, dan kamu harus mengerti mengapa aku sampai menerima perjodohan itu..—“ Remost Tyga.
“Persetan!! aku tak peduli lagi! dasar pendusta!!” Jaes enggan untuk membalas pesan tersebut.
Drtttt… ponselnya kembali bergetar dan berdering.
“Editor Zeros memanggil…”
Jaes: “hallo bos…”
Zeros: “Malam ini berdandanlah dengan cantik, karena kita akan mengadakan pesta di hotel xxx, aku akan menjemputmu…”
Jaes: “Oke bos..”
Jaes mulai memilih dress yang akan ia kenakan di pesta nanti…
“Sudahlah, ini saja..” Jaes akhirnya menentukan pakaian yang pas untuknya.
Ia mengenakan dress mini yang memperlihatkan paha putih miliknya, rambut yang di ikat satu dengan balutan hand bag.
>>
Kita akan pergi ke pesta apa bos?
“ikut saja dan nikmati, oke..” tukas Zeros dengan senyuman miringnya.
Tak lama setelahnya, mereka pun tiba si sebuah hotel berbintang nan mewah.
***
Bangunan tinggi menjulang, dengan design yang memang terlihat sangat mewah, mampu membuat Jaes ternganga kagum.
“hei.. ayo masuk…” Zeros pun mengajaknya untuk masuk bersamanya.
Orang-orang terlihat saling berinteraksi satu sama lain, dan terlihat pula mereka adalah orang-orang yang memiliki status sosial tinggi.
“Nikmati saja pestanya, aku akan bergabung dengan yang lain..” ujar Zeros lalu meninggalkan Jaes di area kolam renang.
Duduk termenung dan seakan membosankan, namun sambil menyantap salad buah segar.
Hmm… Jaes teralihkan oleh seorang pria tampan, yang sibuk dengan gadget miliknya.
Cullen… gumam, Jaes saat melihat pria itu, dia adalah Cullen, si pria dingin nan tampan.
“Tuan muda Cullen… silakan minumannya, dan silakan masuk untuk mengikuti acaranya..” tukas seorang pria yang berpakaian serba hitam.
Lalu pria itu pun pergi, ia berpapasan dengan Jaes yang sedang duduk di sisi samping kolam.
“Bukankah itu pria yang malam itu menarik tanganku..—“batin Jaes, seakan mengingat sosok pria yang berpakaian serba hitam tadi.
Huhhh… bosan… keluh Jaes, lalu ia mulai berkeliling menyusuri area hotel mewah itu.
__ADS_1
Ahkkk ahhh… hmm… suara lenguhan seorang wanita.
“Siapa itu…” gumam Jaes, namun ia masih masih saja melangkah.
Argh…. hkk… suara lenguhan tadi berubah menjadi sedikit kasar.
Sontak membuat Jaes merasa penasaran, dan mencoba untuk pelahan melangkah menuju asal suara.
Hahhh!! Jaes menutup mulutnya, saat ia melihat seorang pria mengenakan jaket kulit berwarna cokat kehitaman sedang mencumbu seorang wanita bergaun. Eh, bukan mencumbu, pria itu terlihat berdarah, dia sedang menggigit leher si wanita.
Ahh hahh… Jaes berusaha tetap tenang, dengan kaki yang gemetar hebat, Jaes mencoba menjauh, namun pria itu melepaskan si wanita dan sorot matanya mengarah ke arah Jaes saat ini sedang berdiri.
Jaes mundur perlahan, ia sangat takut dan ingin mengambil seribu langkah.
Hahh ahh… Jaes berlari ketakutan, sesekali ia menoleh ke belakang dan saat berpaling kembali.
Bhuk… Ia menubruk dada seseorang.
Jaes mencoba mendongak ke atas, dan ternyata itu adalah Cullen.
Greep… Cullen menarik tangan Jaes menuju samping tembok yang gelap meremang.
“Jasmeen Jasmeen… ayo, kita akan segera pulang..” Zeros sedang memanggil dirinya, namun Jaes tak mampu mengeluarkan suara, karena satu tangan besar sedang mencengkram batang lehernya, dan tangan satunya lagi *** pinggangnya.
Cullen merogoh ponsel yang berada di dalam hand bag milik Jaes, dan mulai mengutak atik..
Kring kring…“ Ohh, ternyata dia sudah pulang, yasudah..” gumam Zeros, lalu berjalan menjauh.
Cullen menyodorkan layar ponsel milik Jaes, dan di sebuah pesan berisi “bos, aku sudah pulang terlebih dahulu..”.
“Kenapa, kau keberatan. manis..” bisik Cullen tepat di telingan Jaes, perlahan Cullen melepaskan cengkramannya dari leher Jaes.
Apa maumu tuan… lirih Jaes, karena bekas cengkraman itu cukup panas di lehernya.
“Seharusnya seorang anak gadis manis tidak boleh berkeliaran dan melihat apa yang orang dewasa lakukan..” ujar Cullen dengan sorot mata yang sangat menakutkan.
Ahkk… Jaes melenguh saat ia merasakan ada sesuatu menyingkap dress mini miliknya.
Lepaskan aku bajingan!!
Hahahha…
“tidakkah semua wanita suka dengan permainan lihat seorang pria hmm…”
Cullen mencelupkan tangannya ke dalam celana lapisan Jaes.
Kau binatang!!! Jaes sangat kesal, karena belum pernah ada sebelumnya pria berani melecehkannya.
“mulutmu sangat pedas, tetapi tubuhmu sangat menikmatinya sayang…” bisik Cullen sambil melumat bibir Jaes.
Sial, ini adalah ciuman pertama Jaes.
Emhh… hhhmm… Jaes berusaha meronta, namun Cullen meraih kedua tangannya dan meletakkan di atas kepala Jaes.
Lepaskan aku… Jaes menangis, ia sangat sedih, mengapa pengalaman berharganya harus di renggut oleh pria bajiangan ini, pikirnya.
“kau beruntung, karena aku tidak langsung membunuhmu dan menancapkan taringku di lehermu..” tukas Cullen dengan sorot matanya yang sangat tajam membunuh, dan Jaes ingat, sorot mata dan suara ini adalah sosok misterius dan sadis pada malam itu.
Kau pria yang waktu itu… Jaes membelalak ngeri.
“benar my lady.. tubuhmu sangat menggoda.. mau bermain denganku..” ujar Cullen dengan seringai senyuman iblisnya.
Jangannn ahkkk… Cullen tak menghitaukannya, namun terus saja membuat Jaes mendesah manja dan sambil terus menangis pilu.
“Kau sekarang milikku… dan ingat jangan sampai orang-orang tahu siapa kau, jika tidak..”
Greepp.. Cullen mencengkram bagian dada Jaes, tidak tidak.. tepatnya di bagian jantungnya.
“Aku akan mencabik isi per*t dan jant*ngmu..” tukas Cullen dengan nada mengancam.
Hhhh… Jaes terus terisak, selain ketakutan ia pun sangat marah namun tak berani melakukan perlawana lagi.
“Ayoo aku antar kau pulang lady..” Cullen mengangkat tubuh mungil jaes ala bridal style.
****
__ADS_1