
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Jasmeen di minta untuk pergi dari mansion kediaman Cullen. Ia di suruh keluar oleh bunda Sonya, dengan cara yang tidak hormat, bahkan terkesan merendahkannya. Bunda Sonya sepertinya tidak menyukai keberadaan Jasmeen di sisi Cullen.
Tok tok tok… suara ketukan pintu di kediaman Jasmeen.
Jaes melepaskan ketikannya, lalu melangkah menuju pintu utama. Saat Jaes membuka pintu, bunda Sonya sudah berada di depan pintunya.
Selamat siang nyonya… ujar Jaes menyapa, dan memberikan senyumannya.
Tsk.. bunda Sonya tersenyum miring.
“Aku ingin bicara denganmu, Jasmeen Aimee..” Ujar bunda Sonya dengan tatapannya yang terlihat begitu dalam nan dingin, persis mata milik Cullen ketika sedang tak senang akan sesuatu hal.
Baik, silakan masuk.. Jaes mempersilakan bunda Sonya untuk masuk ke dalam kediamannya yang cukup sederhana.
“Kau tinggal di sini?” ujar bunda Sonya.
Iya nyonya, aku tinggal di sini.. Jaes menyuguhkan segelas air minu dan beberapa camilan.
“Jasmeen, langsung saja ke topic utama kita. Aku tidak suka melihatmu berada di sekitar anakku, aku sebagai ibunya sangat menginginkan hal yang jauh lebih bagus untuk masa depannya.” Tukasnya dengan wajah yang angkuh.
Maaf nyonya, aku hanya pekerja biasa, dan tuan Cullenlah yang memintaku untuk bekerja bersamanya.. jawab Jaes dengan nada santai, karena hal ini bukanlah hal baru baginya, yaitu menghadapi perlakuan orang-orang kaya.
Hahh… menghela napas kasar.
“Aku mimintamu untuk pergi jauh dari sisi anakku…”
Tetapi aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan anak nyonya, lagi pula aku pun hanya pegawai sementara di perusahaan tuan Cullen.
“Aku heran, apa yang menarik darimu! bahkan begitu banyak wanita-wanita muda yang terlahir dari keluarga terpandang, bisa saja menjadi pendamping anakku..”
__ADS_1
Hmmm… Jaes menghela napas pelan, ia sungguh tak mengerti dengan jalan pikiran ibunda Cullen, yang sedari tadi merendahkannya.
Jika nyonya menginginkanku untuk menjauh dari kehidupan tuan Cullen, maka dengan sangat senang hati. Tetapi, tidak bisakah nyonya berhenti memandang rendah seseorang hanya karena status sosialnya. Tukas Jaes dengan sangat ketus, rasanya ia sangat kesal saat itu.
Hahaha… tertawa lepas.
“Kata-katamu sangat tinggi juga, tetapi melihat dari tempat tinggalmu dan gelagatmu.. kau sengaja ingin naik ke atas ranjang anakku demu uang..” tukas bunda Sonya dengan menyipitkan matanya, dan terlihat begitu merendahkan lagi.
Katakan saja, apa yang anda inginkan, waktuku sudah terbuang sia-sia dengan topic ini… Jaes menyenderkan dirinya di sofa.
“Pergilah menjauh dari kehidupan Cullen, aku akan mengirimmu ke pekerjaan yang sesuai keinginanmu..”
Tsk.. maaf nyonya, anda bukan orang tuaku yang bisa seenaknya mengatur. Mulai hari ini aku akan berhenti menjadi sekretaris tuan Cullen, dan anda tidak perlu khawatir! Jaes mengepalkan kedua tangannya.
Hmm…
“Okay.. ini uang sebagai biaya servicemu untukku anakku, bukankah anakku sudah memuaskanmu!” bunda Sonya melemparkan cek senilai ratusan juta.
“Dasar wanita jalang, begitu mudahnya naik ranjang..” gumam bunda Sonya. Jaes hanya terdiam dan berusaha untuk tetap menahan dirinya.
Bunda Sonya pun pergi begitu saja setelah mengatakan hal tersebut , juga melemparkan cek senilai ratusan juta.
>
Hahh… Jaes menghela napas perlahan.
“Aku bahkan tak pernah menggoda anaknya, mengapa harus aku yang disalahkan..” gumam Jaes. Seketika itu ia teringat akan kenangan masa lalunya, bagaimana keluarga Remost memperlakukan hal yang sama padanya.
Drrttt… email baru masuk.
Jaes membuka email tersebut, yang ialah pemberitahuan bahwa iya tak perlu lagi bekerja di perusahaan Kyleer group.
__ADS_1
Hmm “baiklah, bukankah suatu keberentungan bagiku bisa terlepas dari pria iblis itu..” gumam Jaes lalu mulai berpikir positif akan keadaan yang saat ini ia hadapi. Walau jauh dalam batinnya, ia merasa ada sesuatu yang kurang jika ia tak bertemu Cullen lagi.
>>
“Café xxx”
Huhh… mendengus kasar.
“Jasmeen Jasmeen… aku tidak menyangka kau akan terlibat dengan urusan keluarga Kyleer yang dikenal sangat-sangat berkuasa itu.” Tukas Zeros, sang editor naskah Jaes.
Aku pun tidak tahu bos, aku hanya bekerja sesuai aturan mainnya tuan Cullen.
“Jadi, apa rencanamu sekarang?” ujar Zeros sambil menyeruput kopinya.
Aku tentu saja ingin mencari pekerjaan bos, dan mungkin aku akan pindah tempat tinggal di area pinggir kota.. ujar Jaes dengan wajah sendunya.
“Aku akan mencoba membantumu mencari pekerjaan, tapi untuk saat ini selesaikan deadlinemu..” tukas Zeros sambil tersenyum miring.
Aku tahu bos, aku tidak akan melupakan naskahku… huhhh Jaes mendengus sebal, karena Zeros selalu saja menagih deadlinenya.
Setelah berminggu-minggu lamanya, Jasmeen benar-benar tak lagi bertemu dengan Cullen. Jasmeen bahkan pindah tempat tinggal, ke area pinggir kota. Ia menghabiskan waktunya hanya dengan menulis naskah, dan beruntung ia masih memliki uang hasil pemberian dari bunda Sonya, itulah biaya hidupnya selama ini.
Ia harus menyiasati keuangan dengan membeli bahan-bahan makanan dari luar, sehingga tetap tercukupi. Namun Jaes tinggal tetap di rumah susun, karena menurutnya itulah yang lumayan murah.
Seharian hingga malam, ia hanya berkutat di depan layar laptopnya, tanpa ada rasa bosan, karena ia juga sambil melakukan penjualan buku secara online.
>>
Jaes berjalan menyusuri area tempat kediamannya yang dipenuhi dengan berbagai kuliner.
Tit tit tit… sebuah mobil sedari tadi membunyikan klakson padanya.
__ADS_1
Huhh.. “Siapa itu!” gumam Jaes, ia merasa kesal dengan bunyi klakson itu.
“Nona Jasmeen!!” ujar seseorang dari balik helm hitam, dan mengenakan motor sport.