
“Mr. Devil – Season II”
Author by Natalie Ernison
Kehadiran Jasmeen dalam kehidupan kejam Cullen, benar-benar telah mampu menghancurkan gunung es di hatinya. Jasmeen telah membuatnya mulai mengerti arti cinta sesungguhnya, ialah disaat ia mulai tak lagi saling bertemu dengan Jasmeen.
Cullen meminta Zeros untuk melindungi Jasmeen, yaitu dengan cara Zeros menyatakan bahwa Jasmeen ialah kekasihnya. Meskipun Cullen sangat menyukai ide tersebut, namun ia harus merelakan Jasmeen dijagai oleh sahabatnya, Zeros.
“Perusahaan penerbitan xx”
Semua pegawai bekerja dengan begitu fokus, begitu pula dengan Jaes yang masih setia berkutat dengan layar computer miliknya.
Ehhemm… “apakah nona Jasmeen sudah makan siang?” ujar Zeros yang datang menghampiri Jaes.
Sebentar lagi bos, masih banyak yang harus kuperiksa.. tukas Jaes tanpa melihat ke arah Zeros yang saat itu sedang berbicara padanya.
“Tapi pikirkan juga kesehatanmu, oke..” Zeros menepuk bahu Jaes.
Setelah beberapa saat kemudian…
“Permisi nona Jasmeen..” ujar seorang office boy.
Ohh, iaa… Jaes melepaskan sejenak pekerjaannya.
“Ini ada titipan makan siang untuk nona..” sang office boy menyodorkan sekantong makanan cepat saji dan juga minuman.
Di dalam paket makanan tersebut, terdapat selembar kertas berukuran kecil, yang bertuliskan..
“Selamat makan, tetap semangat bekerja dan jangan lupa untuk selalu tersenyum” Zeros.
Tsk.. Jaes tersenyum setelah membacanya, dan langsung menyantapnya dengan lahap.
“Wau.. tuan Cullen sangat luar biasa, selain tampan, juga romantic..” riuh para pegawai, dan cukup mencuri perhatian Jaes.
Rupanya Cullen datang berkunjung ke perusahaan penerbitan tempat Jaes bekerja. Ia datang dengan membawa seikat bunda nan cantik, berjalan melalui para pegawai yang tak henti-hentinya memuja ketampanan Cullen.
Di sana Jaes hanya bisa terdiam, seakan tak pernah terjadi hal apa pun antara dirinya dengan Cullen.
“Tuan Cullen sangat tampan, aku bahkan rela menjadi wanita simpanannya..”
Aku pun sama, aku sangat rela… riuh para wanita-wanita muda bahkan wanita yang sudah tak lagi lajang, saat melihat ketampanan Cullen.
Yah, tak hanya tampan, bergelimang harta, ketampanan Cullen sangat mampu membuat para wanita-wanita memuja keindahannya.
Sejenak Cullen memandangi sekeliling, terlihat sedang mencari sesuatu. Pada satu titik, pandangannya terhenti pada satu sosok bak malaikat baginya.
Dialah, Jasmeen, si wanita kucing kecilnya yang selalu membuat Cullen merindu bahkan melakukan banyak hal untuk Jasmeen.
Cullen tersenyum tipis saat sedang memandang ke arah Jaes, dan Jaes hanya bisa menunduk lalu pergi dari pandangan mata Cullen.
Sayang, mengapa tidak menelponku, sebelum datang kemari.. ujar Khim, sambil mengelayut manja pada Cullen.
“Bukankah kau yang memaksaku untuk datang dengan membawa bunga busuk ini..” tukas Cullen dengan tatapan yang tak senang.
Ohh sayangku, sangat romantic.. ujar Khim, yang berpura-pura begitu tersanjung dengan kehadiran Cullen.
***
“Mansion Kediaman Cullen”
Wauu.. “calon suamiku memang sangat hebat.. mansion sebesar ini pun hanya untuk baginya..” gumam Khim yang begitu terkagum dengan megahnya mansion kediaman Cullen.
“Maaf nona, siapa anda?” ujar para pengawal yang mencoba menghentikan Khim.
Hei.. dasar pengawal tol*l!! aku adalah calon nyonya besar di rumah ini, jadi jangan macam-macam.. peringat Khim sambil menunjuk-nunjuk ke wajah para pengawal.
“Biarkan wanita jalang itu masuk..” gema suara yang hanya dapat didengar oleh para penghuni mansion kediaman Cullen.
__ADS_1
“silakan nona..”
Minggir! tol*l.. umpat Khim pada para pelayan.
Khim masuk dengan gaya penuh keangkuhan, layaknya seorang nyonya besar yang harus diberi hormat.
“Kemana tuan kalian?” ujar Khim dengan gaya sombong yang sangat luar biasa.
Tuan sedang berpesan agar nona menunggu di ruang tamu, karena tuan masih membersihkan diri (mandi).
“Kalau begitu biar aku datang ke kamarnya..”
Jangan nona, tuan sudah berpesan.. cegat para pelayan.
“Kalian…”
Bhukkk.. Khim mendorong para pelayan hingga terjatuh.
“mengapa semua pekerja mansion ini bahkan tak layak menjadi pelayan, seharusnya kalian menjadi budak..” hina Khim pada para pelayan.
Nona… ujar para pelayan mencoba mencegat, namun Khim benar-benar tak mau tahu.
>>
Huuu.. “design yang luar biasa..” gumam Khim memuji isi mansion megah milik Cullen. Ia mulai mencari letak kamar Cullen.
“Sepertinya ini kamarnya..” gumam Khim, lalu mencoba untuk membuka pintu, namun begitu keras.
Gdor gdor.. Khim menggedor-gedor pintu kamar pribadi Cullen.
“Sayang.. bukalah… atau aku akan menendang pintu..” teriak Khim, namun tetap saja tak terdengar suara.
“dasar brengse*..” umpatnya, lalu mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu, namun…
Arghh… jerit Khim saat tubuhnya terjatuh di lantai, ke dalam kamar pribadi Cullen.
Cullen berdiri hanya dengan mengenakan handuk yang cukup membungkus dari area pinggang hingga pahanya.
Hah.. hah… lenguh Khim yang terlihat begitu ketakutan, karena baru kali ini ia melihat Cullen murka.
>>
Khim duduk di sofa yang berada di luar pintu kamar pribadi Cullen.
“bukankah sudah kukatakan, agar kau menungguku di ruang tamu..”
Mengapa aku harus menunggu di ruang tamu bersama pelayan-pelayan tolo* itu… tukas Khim yang terlihat masih sangat ketakutan setelah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu.
“apa tujuanmu datang kemari?”
Aku hanya ingin bertemu dengan calon suamiku, apakah aku salah… Khim bangkit dari sofa dan berjalan ke arah Cullen.
Mengapa kau begitu dingin, dan kau tahu, sifat dingin itulah yang membuatku semakin menginginkanmu… ujar Khim sambil membelai bagian dada terbuka milik Cullen nan berbulu halus itu.
“Lebih baik kau jauhkan tangan kotormu itu!” bentak Cullen.
Hhm… dasar tidak tahu diuntung.. keluh Khim.
“Apa yang kau keluhkan, tidakkah perbuatanmu ini sangat tidak mencerminkan sebagai seorang wanita terhormat…”
Plak… Khim menampar wajah Cullen.
Dasar pria brengsek.. umpat Khim kesal.
“Kau berani sekali menamparku hah!!” Cullen mencengkram lengan Khim.
Ahkkk.. lenguh Khim yang merasa sangat kesakitan. Namun tiba-tiba Cullen teruingat dengan Jaes, ia pun melepaskan tangan Khim.
“Maaf, aku terlalu emosi..” Cullen mendekap Khim, walau pelukan itu bukanlah pelukan tulus. Namun ia melakukannya, semata-mata agar Khim tidak merasa ketakutan lagi padanya.
__ADS_1
***
Hei, itu tuan Zeros bersama kekasihnya… ujar Khim menunjuk ke arah Jaes saat sedang duduk di sebuah kedai bersama Zeros. Pada saat itu, Khim sedang berada dalam satu mobil bersama Cullen.
Cullen langsung memutar setirnya, dan menghadap ke arah kedai tersebut.
“Kedai Coffee xxx”
Hallo tuan Zeros, nona Jasmeen.. sapa Khim sambil merangkul Cullen dengan manja.
“Ohh hai..” jawab Zeros, lalu menyenggol betis Jaes.
Hai, nona Khim dan tuan Cullen.. sapa Jaes sambil tersenyum tulus.
Bolehkah kami ikut berabung? tanya Khim dan langsung menarik kursi yang berada di hadapannya.
“Silakan nona Khim…” tukas Zeros.
Cullen duduk dengan tatapan yang sangat dingin. Menatap Jaes dengan begitu lekat, dan jarak yang sangat dekat pula.
Mereka saling bercengkrama, dan Jaes pun harus bersandiwara seolah ia baik-baik saja.
Cullen diam-diam menggosok-gosok betis Jaes dari balik bawah meja makan mereka.
“Mengapa pria ini begitu kejam, bahkan di samping calon istrinya, dia berani melakukan ini padaku..” batin Jaes. Ia berusaha tetap tenang, saat Cullen menyingkap roknya menggunakan kakinya.
Ahh.. aku ingin ke toilet.. ujar Jaes segera bergegas, sementara Cullen hanya tersenyum miring padanya.
>>
Bagaimana jika kita pergi berlibur ke villa.. hmm.. ujar Khim memberikan ide.
Ahh aku…
“Baiklah.. minggu depan kita berempat akan pergi berlibur ke villa..” tukas Cullen dengan penuh semangat antusias, tentu saja ia sedang merencanakan hal-hal lain.
Ohh sayangku, terimakasih… Khim mendekap Cullen erat dihadapan Jaes dan Zeros.
“Baiklah, aku setuju..” tukas Zeros.
Jaes hanya diam saja, Cullen tersenyum miring pada Jaes, seolah-olah Jaes akan mendapatkan hadiah besar darinya.
***
Tiba saatnya mereka pergi ke sebuah villa, dan mengendarai satu mobil.
“Villa xxx”
Hah… udara malam ini sangat bagus dan segar.. ujar Khim dengan penuh semangat.
“Kau istrahatlah jika lelah..” ujar Zeros pada Jaes.
Hmm.. tidak masalah bos… jawab Jaes lembut, dan Cullen langsung menatap ke arah Zeros dan Jaes yang tertinggal di belakangnya.
Sayang, aku lelah.. aku ingin tidur terlebih dahulu.. ujar Khim, lalu pergi ke kamarnya.
Semua orang kembali ke kamar masing-masing, dan hanya Jaes yang masih berkutat dengan layar laptopnya. Seperti biasanya ia sedang mengerjakan deadline naskahnya.
Whusss whussstt… hembusan angin malam menerpa kulit Jaes, dan ia masih saja betah duduk di pinggir kolam renang bersama.
Hah… hembusan napas yang begitu dingin menerpa kulit bekalang leher Jaes…
__ADS_1
***