Mutiara Hati

Mutiara Hati
Kecewa


__ADS_3

Pagi yang dingin. Matahari tidak menampakan diri pagi ini. Mendung menyelimuti kita itu. Rey masih tertidur pulas dikasur empuknya.


Tubuhnya berbalut selimut tebal.


Tok tok tok


Tak ada sahutan


Tok tok tok


Sepi


Tok tok tok


"Nih orang tidur atau mati sih kok ga ada jawaban. Apa aku masuk aja ya," ucapnya pada diri sendiri.


Ceklek


Susan mendekati ranjang Rey.


Dipandangnya wajah Rey. Dia tersenyum.


"Tampan juga nih orang, tidurnya kayak anak bayi, sok manis."


Susan menyingkirkan ujung selimut yang menutupi sebagian wajah laki - laki itu.


Dia terus memandanginya.


"Wajahku memang tampan tapi ga segitunya juga kali lihatnya!"


Rey membuka matanya.


Susan gugup mengetahui orang yang dia perhatikan tiba - tiba bangun.


"Siapa juga yang ngeliatin kamu?, aku tadi cari nyamuk dia kayaknya terbang di wajahmu"


"Wah nyamuknya pinter ya terbang aja milih di wajah yang tampan," Rey tersenyum.


"Ada ya orang memuji diri sendiri."


Susan memalingkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Rey.


Dengan cepat Rey menarik tangan gadis itu.


Seketika tubuh Susan jatuh di atas tubuh Rey.


Mata mereka beradu sempurna. Wajah gadis itu seketika menjadi merah.


"Sialan kamu Rey!"


Susan berusaha bangun dan berdiri tapi tangan laki - laki itu melingkar kuat pada pinggangnya.


"Kenapa harus buru - buru nona?"


"Kau gila Rey!! lepaskan dan cepatlah kamu mandi!"


"Biarkan seperti ini sebentar saja!"


"Tidak aku tidak mau. Tolong lepaskan tanganmu Rey!"


Rey semakin mengencangkan tangannya dan semakin menarik tubuh Susan erat.


"Rey badanku sakit."


"Maaf."


Rey melepaskan pelukannya, dia tidak ingin menyakiti wanita itu.


"Kamu perlu ke spikiater Rey"


Susan berdiri di tepi tempat tidur.


"Cepat bangun!"


Ide jailnya muncul, Susan menarik selimut yang menutup tubuh Rey.


Bukannya Rey yang terkejut, melainkan dirinya karna ternyata Rey tidak mengenakan baju, dia hanya memakai celana boxer


"Aaaaa.....!!"


Susan menutup matanya dengan kedua tangan dan membalikkan badannya.


"Kamu porno sekali Rey," ucapnya kesal


Rey tersenyum melihat tingkahnya.


Dia bangun dan berdiri di belakang wanita itu.


Rey berbisik tepat di telinga Susan.


"Apa kamu tidak ingin melihat tubuhku yang sexy ini?"


"Kamu gila!!"


Susan berjalan keluar masih dengan menutup matanya. Dia bergidik mengingatnya.


"Dasar laki - laki gila," ucapnya lirih.


"Rey cepat mandi kita sarapan!" teriaknya sambil berjalan menuruni tangga.


Selesai mandi Rey menghampiri Susan di meja makan.


"Makan apa pagi ini bik?"


"Bubur ayam tuan."


"Tumben makan bubur?"


Selama ini Rey jarang sekali makan bubur karna memang dia tidak begitu suka dengan bubur ayam.


"Maaf tuan apa perlu saya masakkan yang lain?"


"Tidak usah bik, biarkan saja dia makan yang ada di meja," ucap Susan.


"Tapi non...."


"Tidak usah bik, saya makan ini saja."


"Cobalah aku yang membuatnya!. Hargai usahaku!"


"Kamu yang masak? aku tidak yakin rasanya akan enak."


"Coba dulu ga usah bawel!, atau perlu aku suapin?"


Rey langsung membuka mulutnya seperti anak kecil minta suap pada emaknya.


"Hey...!! kamu sudah tua bukan anak kecil lagi."

__ADS_1


"Kamu sendiri yang menawarkan mengapa sekarang malah marah."


Rey memakan bubur yang ada di depannya, satu suap.....dua suap.....tiga suap....


Rey menghayati setiap suapan dan mencoba menikmatinya...


"Ternyata enak, pinter juga kamu masak. Calon mama yang hebat"


Rey menghabiskan bubur yang ada di mangkoknya.


"Rey...."


"Hmmmm.."


"Jam berapa kita pulang?"


"Kenapa kamu tidak sabar sekali?"


"Rey....aku rindu pada Elina."


"Siapa Elina itu? Apa dia anakmu?"


"Bukan. Tapi aku menyayanginya."


"Bukan anakmu lalu anak siapa?"


"Entahlah, aku sendiri belum pernah bertemu dengan orang tuanya."


"Kalo belum tau orang tuanya kenapa kamu menyayanginya? bagaimana kalo orang tuanya tidak suka kamu?"


"Bagaimana kalo ayahnya itu duda dan ternyata dia menyukaimu juga dan menginginkanmu menjadi istrinya?. Atau jangan - jangan Elina itu adalah anak dari bosku siperut buncit, dia duda juga."


"Hiiii..Kau gila!. Pikiranmu terlalu berlebihan."


"Kan ini seandainya."


"Tidak mungkin. Aku sudah punya kekasih dan kami akan segera menikah."


Ada rasa kecewa dalam hati Rey mendengar ucapan Susan.


"Kalo kamu sudah menikah apakah masih akan menyayangi anak itu."


"Pasti. Apa pun yang akan terjadi nanti, aku tetap akan menyayanginya."


"Sebesar itu?"


"Entahlah aku sudah terlanjur jatuh hati padanya. Aku juga merasa kasihan padanya."


"Kenapa?"


"Sepertinya dia merasa kesepian. kurang perhatian."


"Jangan asal menuduh!"


"Kenapa kamu jadi marah begitu?"


Susan menatap Rey heran.


"Bukan begitu," Rey salah tingkah.


"Sudahlah jangan dibahas lagi. Apa kamu tidak ingin membelikannya oleh - oleh?" lanjut Rey.


"Ah iya. Aku janji membelikan boneka Bear besar. Apa kau mau menemaniku?"


"Hamba siap menemani sang putri."


Susan tersenyum melihat kekonyolan Rey.


"Sejak kapan kamu menjadi sekonyol ini?"


"Sejak bertemu denganmu."


Rey membawa Susan kepusat oleh - oleh.


Susan senang dan dia pun ingin membelinya semua.


"Rey kita kesana!" Susan menunjuk sebuah toko yang menjual hiasan.


Mereka melihat dan mengamati barang - barang yang ada disitu.


Susan mengambil sebuah kotak musik kecil warna ungu.


"Rey....apakah ini bagus?"


Rey mengangguk.


"Akan ku berikan pada Aldo."


"Kenapa yang ada di pikiranmu hanya Aldo?"


"Karna aku menyayanginya."


"Apakah semua orang kamu sayangi?"


"Tidak. Aku tidak sayang sama kamu."


Susan berjalan ke kasir untuk membayar.


Rey menatapnya dalam diam.


Sepanjang perjalanan pulang Rey hanya terdiam dan fokus pada kemudinya.


Susan sendiri asyik dengan telepon selularnya sambil senyum - senyum sendiri.


Susan menelpon seseorang.


"Aldo apakah kamu bisa menjemputku di bandara?"


"Dimana posisimu sekarang?"


"Aku masih di kota B. Pesawat kami jam satu siang"


"Baiklah nanti aku jemput. Apakah kamu baik - baik saja berasal Rey?"


"Jangan kawatir aku baik. Rey sangat baik padaku," Susan melirik ke arah Rey.


"Kabari aku kalo sudah sampai!"


"Ok"


"Apa kamu tidak percaya padaku? hingga harus dijemput Aldo."


"Bukan begitu. Aku hanya tidak ingin merepotkanmu. Karna setelah pulang aku akan menemui Elina. Aku sudah kangen sekali."


"Aku akan mengantarmu. Batalkan Aldo!"


Susan mengirim pesan pada Aldo.

__ADS_1


Susan


Aldo tidak usah menjemputku. Rey akan mengantarku. maaf.


Aldo


Baiklah. salam buat Rey.


Susan


👍👍👍👍


Susan melihat sikap Rey.


"Apa kamu marah padaku Rey?"


"Tidak."


"Kenapa sikapmu aneh?"


"Tidak."


"Ayolah Rey...kamu ini temanku."


Susan menggoyang - goyang lengan Rey seperti anak kecil.


"Aku sedang nyetir. Apa kamu mau kita mati bersama seperti Romeo dan Juliet?!"


Susan melepaskan tangannya.


Wajahnya cemberut. Rey melirik ke arahnya.


"Mirip Elina kalau ngambek," gumamnya


"Apa katamu?!" matanya tajam ke arah Rey.


"Tidak ada."


"Sok teu. Kamu saja belum pernah ketemu Elina."


Rey tersenyum


Aku ini ayahnya Elina.


Mereka sampai mension.


"Bersiaplah kita akan berangkat ke bandara tiga puluh menit lagi!"


Mereka mengemasi barang - barang dan memastikan tidak ada yang tertinggal.


Seperti yang dikatakan Rey, tiga puluh menit kemudian berangkatlah mereka ke bandara.


Kira - kira satu jam mereka di dalam pesawat.


Mereka keluar dari bandara.


Rey mengemudikan mobil sendiri tanpa supir.


"Kamu yakin akan langsung menemui anak itu san?"


"Yakin."


"Apa tidak capek?"


"Capekku akan hilang ketika aku bertemu dengannya."


"Baiklah. Aku akan mengantarmu tapi maaf aku tidak bisa menunggumu."


"Tidak apa."


Rey menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumahnya.


Penjaga pintu dengan sigap membuka pagar.


"Selamat sore non Susan."


"Sore pak. Apa Elina ada pak?"


"Maaf non. Non Elina nya tidak di rumah. Dia menginap di rumah oma."


"Dari kapan pak?"


"Tadi pagi non, mungkin besok baru pulang."


"O ya sudah kalo begitu saya permisi ya pak."


"Iya non"


Susan kembali masuk kedalam mobil. Ekspresinya datar tanpa semangat.


Nampak ada kekecewaan di wajahnya.


Rey yang sedari tadi memperhatikan merasa kasihan tapi ada rasa senang juga karna dia melihat ada cinta yang besar untuk putrinya.


"Ada apa?"


"Dia tidak di rumah."


"Ya sudah besok khan masih ada waktu."


"Besok aku sudah kerja, lagi pula aku harus menyelesaikan laporan tentang hasil peninjauan kita."


"Kenapa tidak ijin saja?. Soal laporan aku akan membantumu jangan kawatir."


"Tidak semudah itu bisa ijin."


"Bukankah kamu dekat dengan Aldo?, pasti dia akan mengijinkanmu."


"Aldo itu orangnya disiplin. Meskipun kami dekat tapi dalam pekerjaan dia tidak membedakan karyawan," jelasnya masih dengan ekspresi datar.


"Sebaiknya kamu istirahat saja dulu!. Masih ada lain hari menemui anak itu."


Rey mengantar sampai rumahnya.


Maafkan aku Susan. Semua ini aku lakukan karna aku tidak mau kamu sakit. Aku tau kamu lelah.


Flashback on


Sepulang dari belanja oleh - oleh Rey masuk ke dalam kamarnya.


Rey menghubungi kepala asisten rumah tangganya.


"Sore ini aku akan pulang. Bilang ke pengasuh untuk membawa Elina menginap di rumah Oma. Nanti Susan akan menemui Elina katakan padanya bahwa Elina menginap di rumah Omanya dan pulangnya baru besok. Nanti aku sendiri yang akan mengantarnya ke rumah jadi saat kami datang pura - puralah kalian tidak mengenalku."


"Baik tuan."


Flashback off

__ADS_1


__ADS_2