
Susan duduk di sebuah bangku di taman kota.
Suasana taman itu nampak ramai. Hari ini hari Minggu wajar kalau orang - orang ingin menghabiskan liburan akhir pekan bersama keluarga.
Anak - anak kecil berlari kesana kemari. Ada yang hanya sekedar berjalan - jalan, ada yang bersepeda santai, ada pula yang sekedar duduk bersama pacar, keluarga atau pun teman. Bahkan ada juga yang hanya sekedar duduk menikmati kesendirian. Seperti yang dia lakukan saat ini.
Dia mempunyai kekasih tapi seperti tidak mempunyai kekasih.
Sudah beberapa bulan ini Riko jarang sekali mengajaknya jalan di hari Minggu. Riko selalu beralasan sibuk, sibuk dan sibuk.
Susan mencoba mengerti dan memahaminya.
Hubungan mereka akhir - akhir ini tidaklah baik. Sejak pertengkaran itu mereka belum pernah lagi ketemu.
Sebenarnya Dia ingin menjelaskan semuanya pada Riko. Tapi saat ini Riko sangat sulit di hubungi.
Dia hanya pasrah menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengannya.
Susan tersadar dari lamunannya. Sebuah bola mengenai kakinya. Diambilnya bola itu. Dilihatnya ke kanan dan ke kiri mencari sang empunya bola.
"Tante boleh aku minta bolanya?"
Anak laki - laki kecil berlari ke arahnya.
"Boleh sayang."
Susan memberikan bola itu pada anak laki - laki itu.
"Terimakasih tante cantik."
"Sama - sama sayang."
Susan kembali duduk.
Dia mengambil telepon selularnya dan menekan satu nomor.
"Mela kamu di mana?"
"Aku masih di rumah sakit."
"Apa ayah Dandi belum sembuh?"
"Belum San."
"Ya sudah aku ke sana sekarang. Sekalian jenguk."
Susan berjalan meninggalkan taman.
Sebelum ke rumah sakit dia mampir ke toko buah. Dipilihnya buah segar untuk di bawanya.
Seorang wanita setengah baya sedang memperhatikannya.
Melangkah pelan wanita itu mendekati Susan. Susan heran melihat sikap wanita itu padanya.
Wanita itu memegang pipinya dengan kedua tangannya dan mengamati dari atas ke bawah. Tersirat kerinduan yang dalam pada mata wanita itu. Susan hanya terpaku diam.
Tiba - tiba wanita itu memeluknya dan menangis. Susan terkejut dengan apa yang dia alami saat ini. Susan membiarkan wanita itu memeluknya hingga sedikit reda tangisnya.
Wanita itu melepaskan pelukannya dan Kembali memegang pipi Susan.
"Mama merindukanmu Susi."
"Maaf Nyonya. Mungkin anda salah orang. Nama saya Susan bukan Susi."
"Tidak. Mama tidak mungkin salah orang Nak. Apakah kamu lupa sama mama nak?"
"Maaf Nyonya. Saya tidak mengenali Anda."
Pria setengah baya menghampiri mereka.
Pria itu pun tertegun melihat Susan.
Tapi dia masih mampu mengontrol dirinya.
Dia menarik istrinya.
"Pa...Susi kembali Pa.." ucap wanita itu pada suaminya.
"Tidak mungkin Ma. Mungkin kita salah orang"
"Maaf Tuan dan Nyonya saya permisi dulu."
Susan membungkuk memberi hormat dan meninggalkan kedua orang itu.
Mereka masih mematung menatap kepergian Susan.
Susan berjalan di koridor rumah sakit. Pikirannya masih pada wanita setengah baya itu.
__ADS_1
Siapa wanita itu? Siapa Susi? Apa aku mirip dengan anaknya?
Segudang pertanyaan berkecamuk dalam pikirannya. Karna memang bukan kali ini saja dia dipanggil Susi.
Tok tok tok
"Susan kamu sudah datang?"
"Iya"
Susan masuk mendekat ke ayah Dandi.
"Selamat pagi om. Bagaimana kabar Om hari ini ?"
"Sudah lebih baik Nak. Sama siapa kamu ke sini?"
"Sendiri Om. Ini Om saya bawakan buah untuk om."
"Terimakasih ya Nak."
"Sama - sama Om."
Hampir satu jam Susan berada di rumah sakit.
"San...Bagaimana hubunganmu dengan Riko?"
"Buruk"
"Apa kalian belum baikan?"
"Belum"
Susan menceritakan kejadian hari itu setelah Mela meninggalkannya di mall.
"Apa kamu akan keluar dari perusahaan?"
"Tidak"
"Apakah Riko akan mengerti?"
"Entahlah Mel. Aku sendiri bingung. Kalau memang kami harus putus mungkin dia bukan jodohku."
"Apa kamu yakin San?"
"Tidak juga. Aku masih berharap hubungan kami baik - baik lagi."
Susan berpamitan pulang.
Riko ...
"Halo Riko"
"Kamu dimana?"
"Aku di jalan"
"Dari mana?"
"Dari rumah sakit. Jenguk ayahnya Dandi."
"Saat ini aku di rumahmu. Aku tunggu."
Telepon tertutup.
Susan turun dari taksi. Di lihatnya Riko duduk di teras rumah.
"Riko.."
"Apa kamu baik - baik saja?"
"Aku baik"
"Riko...masalah kemarin..." lanjutnya.
"Sudahlah tidak usah di bahas lagi. Aku mengerti."
"Apa kamu tidak marah lagi padaku?"
"Tidak. Aku merindukanmu," ucapnya menggapai tangan Susan.
"Riko....Aku juga rindu kamu."
Susan memeluk Riko senang.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Riko.
"Belum."
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita makan di luar? Sudah lama kita tidak menikmati hari Minggu berdua. Aku ingin menghabiskan hari ini hanya denganmu."
"Apa kamu serius?"
"Apa kamu meragukanku?"
"Tidak."
Setelah makan Riko mengajak Susan jala - jalan santai. Mereka bergandengan layaknya sepasang kekasih, ya mereka memang sepasang kekasih yang baru rujuk kembali.
"Aku tidak akan menyuruhmu keluar dari perusahaan Aldo lagi."
Susan menatap tajam Riko mencari kebenaran di wajahnya.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu?. Kalau kamu terus seperti itu, aku akan menciummu di sini."
Susan memukul pelan lengan pria itu.
"Apa kamu tidak bercanda dengan ucapanmu itu?"
"Tidak. Aku serius. Aku sadar, aku tidak boleh egois. Aku tidak bisa berpisah darimu. Aku mencintaimu."
"Terimakasih Riko. Aku juga mencintaimu."
Mereka duduk di bawah pohon di tepi sungai yang mengalir jernih.
Susan menyenderkan kepalanya pada pundak Riko.
Hari ini dia dapat merasakan bahagianya bisa menghabiskan hari bersama kekasihnya.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Sudah. Tinggal endingnya sedikit lagi."
"Jadi kapan kita akan liburan berdua?"
"Bagaimana kalau bulan depan kita ke Bali?. Aku akan pesan tiket wisata."
"Apa kamu serius?"
"Ya"
Susan senang mendengar ucapan Riko.
Riko mengelus lembut rambut gadis di sebelahnya.
Susan tidak menyangka bahwa Riko dapat berubah pikiran dan tidak melarangnya bekerja di perusahaan Aldo.
Tapi dia masih tidak percaya sepenuhnya.
Bagaimana mungkin dalam waktu yang tidak lama tiba - tiba Riko berubah pikiran ?
Apa yang direncanakan Riko ?
Benarkah ucapan itu tulus dari hatinya ?
Untuk saat ini Susan tidak mau memikirkannya.
Saat ini dia hanya ingin menikmati kebersamaannya dengan Riko.
Menikmati waktu berdua yang pernah tersita karna pekerjaan.
Sebenarnya Riko bukanlah orang yang egois. Selama pacaran dia tidak pernah memaksakan kehendaknya pada Susan. Dia termasuk pria yang pengertian, penyayang dan sabar.
Susan sendiri belum pernah membantah ucapan Riko sebelumnya.
Tapi entah mengapa sejak Riko sering lembur dia merasakan sesuatu yang berbeda pada diri Riko.
Dia mulai tidak bisa meluangkan waktu untuk makan siang bersama. Padahal sebelumnya mereka sering makan siang di jam istirahat kantor.
Riko sering menjemput Susan ketika pulang kerja dan mengajaknya jalan meski hanya sekedar makan bakso.
Sampai saat ini Susan tidak pernah menaruh curiga sama sekali pada Riko. Dia percaya kalau Riko mencintainya.
Hari sudah mulai larut.
Riko mengantar Susan pulang.
"Riko..Terimakasih untuk hari ini."
"Sama - sama sayang."
"Kamu hati - hati di jalan!"
"Pasti. Kamu juga harus jaga kesehatan!"
"I Love You," lanjutnya
__ADS_1
"I Love You too."
Riko melajukan mobilnya meninggalkan rumah Susan.