
Susan langsung memeluk tubuh pria yang berdiri di depan pintu. Pria itu baru saja datang.
Aldo merasa bingung karna tiba - tiba Susan memeluknya dan menangis.
Aldo membawanya masuk, Susan masih setia memeluknya dengan tangis.
"Hey...kenapa kamu menangis? seperti anak kecil," ucap Aldo sambil membelai rambutnya.
"Aku sebel dengan dia!"
"Siapa? siapa yang menyakitimu?"
"ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜..."
Apa yang mereka lakukan saat ini tidak terlepas dari perhatian mata Shandy yang setia mengikuti setiap adegan yang terjadi.
"Sama persis dengan Susi, manja," gumam Shandy.
Rey berjalan mendekati Aldo dan Susan.
Sebelum Rey mengatakan apa - apa, Aldo sudah melotot tajam ke arahnya.
"Apa yang sudah kamu lakukan Rey?!" ucap Aldo.
"Apa? apa yang sudah aku lakukan? tidak ada," jawab Rey bingung dengan pertanyaan Aldo.
"Kenapa Susan menangis?!"
"Sayang..... kenapa kamu memeluk Aldo begitu erat? dan kenapa kamu menangis? apa dadaku ini tidak cukup lebar untuk kamu jadikan sandaran waktu menangis? kenapa harus Aldo?"
Susan mengangkat kepalanya dan menoleh pada Rey, Susan hendak memeluk Rey tapi di cegah oleh Aldo.
"Tidak! kamu tidak boleh bersamanya!"
"Kenapa kamu melarangnya? dia itu kekasihku Aldo, bukan kekasihmu!" ucap Rey tidak terima.
"Kamu sudah membuatnya menangis, aku tidak akan membiarkannya bersamamu!"
"Aku tidak membuatnya menangis."
"Bukan Rey yang membuat aku menangis,"
Aldo memegang kedua pipi Susan.
"Katakan siapa yang membuatmu menangis?!"
Susan menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu takut pada orang itu?"
"Aku tidak takut, aku hanya sebel!".
Aldo menatap Rey mencari jawaban.
"Bukan aku, tapi dia!"
Rey menunjuk pada Shandy yang berjalan ke arah mereka.
"Shandy.... benarkah itu kamu?" Aldo terkejut melihat kehadiran Shandy di rumah Rey.
"Ya. Ini aku Shandy."
Shandy berjalan menghampiri Aldo dan mereka saling berpelukan ala cowok macho.
"Aku pikir kamu sudah lupa balik ke kota ini?"
"Aku masih punya ponakan di sini."
"Apa yang membawamu tiba - tiba kemari?"
"Aku ingin bermain - main dengan seseorang," ucap Shandy, matanya melirik nakal ke arah Susan.
"Jangan macam - macam padanya!" ucap Aldo melihat apa yang dilakukan Shandy pada Susan.
"Aku hanya ingin mengenalnya saja," ucap Shandy.
"Aldo... aku mau pulang," Susan menarik tangan Aldo.
"Hey...kenapa kamu mengajak Aldo pulang? kamu ini kekasihku sayang." Rey meraih tangan Susan.
__ADS_1
"Tidak mau! kamu tidak mau mengantarku pulang!".
"Sayang... aku pasti mengantarmu tapi tidak saat ini."
"Aku mau sekarang!".
"Kenapa kamu jadi seperti Elina?, mudah ngambek."
"Tuh kan...Aldo, Rey selalu seperti itu," Susan menarik - narik tangan Aldo seperti nak kecil.
"Rey...!!" Aldo melotot pada Rey.
"Terus saja belain, dasar sekertaris kesayangan," Rey ngedumel.
Aldo membawa Susan untuk duduk.
"Katakan padaku! siapa yang membuatmu jengkel?"
Susan menatap ke arah Shandy.
Aldo tertawa kecil.
"Kenapa kamu malah tertawa? apanya yang lucu?" Susan tambah jengkel.
"Kamu yang lucu sayang." Aldo melanjutkan tawanya.
"Kamu tau san, dia itu siapa? dia itu Shandy uncle nya Elina."
"Aku tau."
"Lalu apa yang membuatmu sebel? apa dia jail kepadamu sama dengan Rey waktu pertama bertemu denganmu?"
"Lebih parah!" ucap Susan cemberut.
"Dulu Rey juga suka mengganggumu sekarang kalian jatuh cinta. Nah sekarang Shandy lebih menyebalkan dari Rey, jangan - jangan kalian juga bakal jatuh cinta?"
"Aldo.....!!" Susan memukul lengan Aldo.
Susan dan Rey hampir bersamaan dan sama - sama menatap Aldo.
"Ok - ok. Shandy ga mungkin jatuh cinta padamu, dia sudah punya istri. Dia itu kakaknya Susi, istri Rey. Apa Rey belum cerita?"
"Rey.. kenapa kamu tidak memberitaunya?"
"Jangan tanya aku. Tanyakan saja pada dia!" Rey menunjuk Shandy menggunakan tatapan matanya.
"Shandy?"
"Ya. Ini semua ide dia."
"Aku kan sudah bilang, aku hanya ingin bermain - main sebentar dengannya. Kenapa kalian menyalahkanku?"
"Apa maksudmu bermain - main?!" Susan nyolot.
"Sabarlah cantik. Aku tidak ada niat buruk kepadamu. Aku hanya ingin mengenalmu saja."
"Tapi caramu menyebalkan!".
"Kenapa kamu ingin mengenalnya?" tanya Aldo.
"Mama cerita kepadaku, katanya dia bertemu dengan kekasih Rey. Wanita itu mirip dengan Susi dan Elina sangat menyayanginya. Aku penasaran dengan wanita itu, makanya aku kemari ingin mengenalnya. Ternyata mama benar, dia sangat cantik."
"Lalu..?"
"Saat melihatnya membukakan pintu untukku, tiba - tiba muncul ide jail untuk mengerjainya dan berhasil membuatnya jengkel."
Shandy menatap intens Susan.
"Rey benar. Aku akan jatuh cinta ketika aku sudah mengenalnya. Awalnya aku tidak yakin, tapi setelah aku melihat ketulusannya pada Elina dan Elina begitu mencintainya sebagai mamanya, aku mulai yakin bahwa dia memang pantas menggantikan posisi susi, dan hari ini aku melihatnya bertingkah manja padamu, aku merasa telah menemukan Susi ku yang telah pergi."
Shandy menarik napas panjang menahan kerinduannya pada Susi adeknya.
"Aku merindukan dia," ucapnya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan tubuhnya setengah membungkuk.
Susan berjalan mendekatinya dan duduk di depan Shandy lututnya dijadikan sebagai penopang tubuhnya. Susan memegang lengan Shandy.
"Maafkan aku," ucap Susan.
Shandy membuka tangannya dan menatap wajah Susan.
__ADS_1
"Bolehkah aku memelukmu?"
Susan menganggukkan kepala. Shandy memeluk erat tubuh Susan.
"Terimakasih. Kamu telah mengobati kerinduanku padanya."
Cukup lama mereka saling memeluk.
Setelah adegan tangis menangis dan peluk memeluk selesai, mereka berbincang biasa.
"Aldo. Kenapa mbak Ana tidak kamu ajak ke sini?"
"Angel masih terlalu kecil untuk dibawa keluar."
"Shandy bagaimana dengan perkembangan bisnismu?" tanya Aldo.
"Aku baru akan mengadakan kerjasama dengan sebuah perusahaan di kota ini. Kemarin aku sudah bertemu dengan managernya, namanya Riko."
"Maksudmu Riko Febrianto?" tanya Rey.
"Ya, apa kalian mengenalnya?"
"Aku tidak begitu mengenalnya. Tapi ada yang sangat mengenalnya." Rey melirikkan matanya pada Susan.
"Apa maksudmu seperti itu?!" ucap Susan.
"Apa? aku tidak apa - apa."
"Matamu mengatakan apa - apa." ucap ayam sebal.
"Aku hanya mengatakan ada yang sangat mengenalnya, memangnya salah?".
"Ya. Dia mantan kekasihku."
"Jadi kalian pernah pacaran?" ucap Shandy.
"Dulu."
"Tapi sayang di selingkuhi," ucap Rey.
"Jangan meledekku! atau kita putus saja!"
Rey langsung meraih tangan Susan begitu mendengar kata putus.
"Sayang....jangan begitu donk. Aku khan hanya bercanda saja." Rey merayu Susan.
"Ga lucu!"
"Sayang..."
"Sudahlah, mending aku sama Aldo saja, ga apa - apa jadi istri yang kedua, aku rela asal bahagia."
"Sayang...apa kamu tidak bahagia denganku? sampai mau jadi istri keduanya Aldo?"
"Itu artinya dia lebih sayang padaku dan aku lebih bisa membahagiakannya dibandingkan kamu Rey."
"Aldo!! kali ini kamu diam dulu!". ucap Rey.
"Sudahlah, Susan lebih baik kamu denganku saja! kamu masih ingatkan apa yang aku katakan padamu kemarin?" Shandy tidak mau kalah.
"Hey.. apa yang kamu katakan padanya?!' Rey penasaran.
"Tidak ada. Aku hanya mengatakan bahwa aku tidak hanya akan memuaskannya dengan hartaku tapi aku akan memuaskannya di atas ranjang."
"Apa kamu sudah gila." Aldo melemparkan bantal kursi pada Shandy.
"Milikku selalu di asah, sedangkan milik Rey sudah lama menganggur pasti sudah tidak tajam lagi. Kamu tidak akan puas san."
"Biarpun lama menganggur tapi rasanya masih kayak perjaka ting - Ting." timpal Rey tidak terima.
"Kalian ini ngomongin apa sih?! Kemarin berdua saja aku sudah pusing dengernya apalagi sekarang di tambah satu orang lagi. Tambah gila aku menghadapi kalian."
Susan berdiri dan beranjak pergi.
"Sayang, mau kemana?"
"Buat minum." ucap Susan sambil berlalu.
"Kalian sudah membuatnya marah!" ucap Rey.
__ADS_1
😀😀😀😀😀