Mutiara Hati

Mutiara Hati
Double Date


__ADS_3

"Susan, hari ini Ana minta kamu main ke rumah," ucap Aldo


"Maaf. Hari ini aku ga bisa. Aku sudah ada janji. Besok aja ya."


"Kamu janjian sama siapa?"


Susan tersenyum malu.


"Eh malah senyum - senyum. Jangan bilang kamu janjian sama Rey?"


"Iya," jawab Susan singkat malu - malu.


"Ada hubungan apa kalian sekarang?"


"Tidak ada. Hanya sekedar jalan saja."


"Jangan bohong"


Aldo menyentuh hidung Susan dengan telunjuknya.


"San ..."


"Apa?"


"Apa kamu mencintai Rey?"


"Aku tidak yakin. Aku hanya merasa nyaman saat bersamanya."


"Apa bersamaku tidak nyaman?"


Susan memeluk lengan Aldo dan bergelayut manja.


"Jelas aku sangat nyaman bersamamu. Kamu itu tidak ada duanya."


Aldo mengelus rambut Susan dan mencium pucuk kepalanya.


"Kamu tau san....kamu dan Ana adalah orang yang sama - sama aku sayangi. Ana adalah istriku dan kamu adalah adikku yang paling manis."


Susan mengangkat wajahnya menatap Aldo.


"Kamu kakakku yang paling aku sayang," Susan menarik hidung Aldo.


"Apa nanti setelah kamu menikah kita akan tetap bisa seperti ini?"


Ada kekawatiran dan kesedihan tersirat di wajah Aldo.


Susan memegang pipi Aldo dengan kedua tangannya.


"Kamu itu kakakku. Sampai kapan pun akan tetap menjadi kakakku. Dan aku ini adekmu jadi sampai kapan pun aku akan menjadi adekmu yang manja."


"Apa kamu mau berjanji padaku?"


"Apa?"


"Kamu tidak akan pernah merahasiakan apapun dari ku"


"Aku janji"


"Boleh aku memelukmu?"


"Kenapa kamu bertanya?"


Susan memeluk Aldo erat. Dia tau apa yang di rasakan oleh Aldo.


Rey menjemput Susan di kantornya dan mengantarnya pulang. Setelah itu mereka pergi.


"Kita mu kemana Rey?"


"Maunya kemana?"


"Ga taulah. kamu yang ajak jalan."


"Jalan aja dan makan"


"Ha...Makan doank," Mata Susan melotot.


"Emang mau apa. Pacaran? ayok"


Susan meninju lengan pria itu.


Mereka masuk ke sebuah restauran dengan bernuansa alam terbuka.


Saat mereka masuk dan hendak duduk. Susan melihat Riko bersama kekasihnya. Dia menarik tangan Rey.


"Kita cari tempat lain saja," matanya tertuju pada sepasang kekasih itu.


Rey mengarahkan matanya pada orang yang di lihat Susan.


"Apa kamu cemburu?"


"Tidak"


"Apa kamu masih mencintainya?"


"Tidak"

__ADS_1


"Kalau begitu kenapa harus menghindar?. Mari tunjukkan padanya kalau dia sudah tidak berarti bagimu."


"Caranya?"


"Ikuti aku dan jangan menolak"


Rey mengangkat tangannya memberi kode agar Susan menggandeng tangannya.


Mereka berjalan mendekati meja Riko.


"Hay ..boleh kami gabung di sini?"


Riko dan kekasihnya langsung mengarahkan mata pada Rey dan Susan.


"Boleh. Silahkan duduk tuan," jawab wanita itu cepat.


Riko menatap aneh pada kekasihnya itu.


Rey dan Susan duduk di depan mereka.


"Perkenalkan saya Gea," kekasih Riko mengulurkan tangan ke Rey.


Rey menatap wanita itu dengan sorot mata dingin.


"Saya Rey dan ini kekasihku Susan," ucap Rey tanpa membalas uluran tangan Gea.


Riko menatap tajam Susan.


Selama makan Gea selalu mencuri - curi pandang pada Rey.


Rey merasa jijik dengan wanita itu.


Kamu membuang mutiara dan memungut sampah, Riko.


"Sayang, coba makan ini."


Rey menyuapkan sendok pada Susan.


Susan menatapnya, mengerti maksud Rey.


Kini giliran Susan yang menyodorkan sendok pada mulut Rey.


Mereka saling tersenyum manis.


Riko panas melihatnya.


Gea masih saja curi - curi pandang pada Rey.


Boleh juga nih cowok. Udah tampan, romantis lagi. Aku harus mendapatkannya.


"Sayang. Aku ke toilet sebentar ya" ucap Rey pada Susan.


"Kamu ini ya cuma di tinggal ke toilet saja tidak mau. Apa kita ke toilet sama - sama saja?" Rey menarik hidung Susan.


"Kamu nih. Malu tau," ucap Susan di buat semanja mungkin.


Rey tersenyum melihat tingkah Susan menikmati permainan itu.


Tidak lama dari Rey pergi, Gea ijin ke toilet juga. Dia menunggu Rey di depan pintu.


Saat melihat Rey keluar, Gea langsung mendekatinya.


"Bisakah kita mengenal lebih dekat tuan yang tampan?" ucapnya sambil memainkan jarinya di dada Rey.


Rey menatap jijik pada wanita itu.


"Apa kamu tidak paham juga nona? Aku ini sudah ada yang memiliki. Apa kamu memang lebih suka merebut milik orang lain?" ucap Rey dingin penuh dengan penekanan.


"Apa maksudmu tuan?" Gea kesal.


"Kamu pikir sendiri. Siapa saja pria yang sudah kamu rebut dari wanita lain. Aku curiga, kamu ini wanita atau bukan. Tidak punya perasaan sesama wanita."


Gea mendengus kesal.


"Jangan pernah main - main denganku nona. Kalau kamu masih ingin menghirup udara segar di dunia ini!!"


Rey pergi meninggalkan Gea.


Saat kembali ke meja tempat mereka makan wajah Rey berubah manis lagi.


"Kamu lama Rey"


"Apa kamu sudah rindu sayang?"


Rey mengelus rambut Susan lembut.


Susan mengikuti permainan yang Rey ciptakan.


Gea duduk di tempatnya dengan muka kesalnya.


"Kamu tidak apa - apa?," tanya Riko kawatir dengan wajah Gea.


"Tidak. Aku tidak apa - apa"


"Sepertinya anda baru melihat setan nona. Wajah anda ketakutan."

__ADS_1


Gea menatap Rey sekilas dan menunduk.


Dia benar - benar takut pada pria itu.


"Sepertinya sudah larut malam. Bagaimana kalau kita pulang sayang?" ucap Rey.


Susan menggangguk setuju.


Mereka berpamitan pada Riko dan Gea.


"Jaga diri anda baik - baik nona. Semoga bahagia."


Rey menggandeng mesra Susan.


"Rey....apa yang kamu lakukan pada wanita itu?"


"Apa? Aku tidak melakukan apa - apa."


"Jangan bohong, aku lihat wanita itu sangat takut padamu setelah dari toilet."


"Itu salahnya. Bukan salahku "


" Apa maksudmu?"


"Apa kamu rela kekasihmu yang tampan ini di rayu oleh wanita seperti dia?"


Susan menatap Rey minta penjelasan.


"Tadi dia menungguku di toilet dan merayuku untuk jadi pacarnya. Aku kasihan pada Riko, dia membuang mutiara secantik kamu dan memungut sampah."


"Rey..."


Rey merangkul pundak gadis di sampingnya.


"Sekarang kita pulang."


Dalam perjalanan


"Apa Riko mengatakan sesuatu padamu?"


"Tidak"


"Kamu yakin?"


"Dia hanya memintaku kembali."


"Apa kamu menyetujuinya?"


"Aku memang pernah mencintainya dalam kebodohanmu. Dan aku tidak akan kembali bodoh."


"Anak pinter"


Rey mengacak rambut Susan.


"Jangan. Rambutku berantakan"


Susan menyingkirkan tangan Rey dari kepalanya.


Rey bermaksud mengantarkan Susan pulang ke rumahnya. Saat sampai depan rumah, Susan tertidur pulas. Rey tidak tega membangunkannya.


Dia putar arah dan membawa ke rumahnya.


Rey menggendong tubuh gadis itu dan membaringkannya di kamar putrinya. Saat itu putrinya masih berlibur dengan Oma Reka. Jadi kamar itu kosong.


Rey memandangi wajah Susan.


Bolehkah aku selalu menjagamu ?


Aku ingin melindungimu seperti Aldo melindungimu bahkan lebih.


Terus terang aku iri pada Aldo. Dia beruntung bisa dekat denganmu. Bisa memanjakanmu.


Rey meninggalkan kamar itu.


Dia turun ke arah dapur. Di lihatnya bibik.


"Bik..."


"Eh tuan"


"Bibik belum istirahat?"


"Sebentar lagi tuan"


"Bik. Besok pagi tidak usah buat sarapan. Ada Susan, biar dia yang buat sarapan. Aku mau makan bubur buatannya."


"Baik tuan"


Rey kembali ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya.


Kembali bangun.


Rey mengambil sebuah bingkai foto di meja.


"Susi sayang. Apa kamu melihatku hari ini?. Aku sangat merindukanmu sayang. Apa kamu tau?, aku mulai mencintai wanita lain selain dirimu. Wanita yang mencintai anak kita Elina. Dia wanita sepertimu. Apakah kamu akan marah padaku sayang bila aku mencintaimu dan juga mencintainya? Aku harap kamu bahagia di sana. Cintaku akan tetap bersamamu. I Love You sayang."

__ADS_1


Rey mencium foto istrinya. Dipeluknya erat.


"Aku rindu kamu sayang."


__ADS_2