
Raut wajah Rey datar dan dingin, tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Ada rasa kesal dalam hatinya yang tidak dapat diungkapkan. Bagaimana tidak kesal, bulan madu yang seharusnya milik Rey dan Susan kini ada Elina ditengah - tengah mereka. Parahnya Elina selalu nempel pada Susan, bahkan bila Rey menempel sedikit saja pada Susan otomatis putrinya itu akan melarangnya dan marah.
Elina masih marah pada Papanya karna kejadian tadi pagi.
"Nanti malam Elina mau bobo sama Mama," ucap putri kecil itu.
Kalian tau bagaimana reaksi Rey??
Yap, betul sekali. Mata Rey langsung melotot seperti mau keluar melihat ke arah Susan.
Susan hanya tersenyum melihat reaksi suaminya.
"Kamu lucu Rey," ucap Susan seolah tak berdosa.
Rey tak memberi tanggapan, dia membuang muka melihat ke arah luar pesawat.
Susan tau apa yang Rey pikirkan tapi dia juga tidak mau membuat Elina semakin marah pada Papanya.
"Sayang, bagaimana kalau nanti malam Elina bobo sama Bibik saja?"
"Ga mau! Elina mau sama Mama saja, biar Papa bobo di luar saja!"
"Kalau Papa bobo di luar kedinginan donk."
"Biar saja, habis Papa pelit!"
"Sayang, Papa bukannya pelit. Ya sudah nanti malam Elina bobo sama Mama tapi besok - besok boboknya sama Bibik ya?"
"Iya Ma."
"Anak pinter. Sekarang ga boleh marah lagi sama Papa. Cium Papa dulu donk!" bujuk Susan.
"Tapi Papa ga boleh pelit lagi ya?"
Rey tidak menghiraukan mereka.
"Rey..." panggil Susan.
"Tuh khan Ma, Papa diem aja."
"Sayang...!!" panggil Susan penuh penekanan.
"Iya. Papa ga diem lagi. Sini cium Papa dulu!" ucap Rey sambil menyodorkan pipinya pada Elina.
Elina mencium pipi Rey dengan cepat kilat dan Rey pun berganti mencium pipi putri kecilnya itu.
"Yang lama donk sayang! Ga kerasa nih," goda Rey.
"Ih Papa ini lho!!" Wajah Elina terlihat lucu.
__ADS_1
Malam hari sesuai dengan janjinya, Elina tidur bersama Susan dan Rey. Bahkan malah Elina tidur di tengah - tengah antara Susan dan Rey.
Rey tidak dapat memejamkan matanya, tubuhnya selalu bergerak balik kanan, balik kiri seperti orang yang sedang gundah gulana.
"Sayang, apa kamu sudah tidur?" ucap Rey sambil melihat istrinya tapi yang dilihat sudah memejamkan mata.
Tidak ada jawaban. Rey mendengus kesal dan bangkit dari tidurnya.
Rey berjalan ke arah dinding kaca dan menatap gemerlapnya lampu kota di malam hari.
Sebuah tangan melingkar pada pinggangnya dan memeluknya erat dari belakang.
Rey membalikkan badannya dan membalas pelukan hangat istrinya.
"Apa kamu belum tidur?" tanya Susan.
"Belum."
"Kenapa?"
"Bagaimana aku bisa tidur? aku belum ngantuk." Rey melepaskan peluknya dan kembali menatap suasana kota.
Susan kembali memeluknya dan kepalanya disandarkan pada punggung suaminya.
Tok tok tok
"Siapa malam - malam begini mengganggu?!" ucap Rey heran bercampur kesal.
"Itu Bibik."
Susan hanya tersenyum melihat Rey kesal dan marah. Susan berjalan dan membuka pintu.
"Maaf Nyonya saya terlambat," ucap Bibik.
"Ga apa - apa Bik, Elina juga baru tidur kok."
Susan mengajak Bibik masuk.
"Bik, tolong Bibik temani Elina tidur di sini ya," ucap Susan.
"Tapi Nyonya ini khan kamar Nyonya dan Tuan, mana mungkin saya tidur di sini?"
"Nanti aku dan Rey pindah kamar di depan kamar ini, jadi Bibik bisa tidur di sini."
"Baik Nyonya."
Rey menatap Susan bingung.
"Sayang, apa maksudnya ini?"
Susan menarik tangan Rey.
__ADS_1
"Apa kamu tidak ingin menikmati malam kita?"
Rey semakin bingung dengan istrinya.
"Bik, nanti kalau Elina tanya bilang saja kami keluar sebentar ya dan beritahu kami kalau dia bangun!"
"Iya Nyonya."
Susan menarik tangan Rey keluar kamar berjalan menuju pintu yang ada di seberang kamarnya dan membawa Rey masuk.
Tangannya melingkar sempurna pada leher pria itu. Rey tak mau melewatkan kesempatan itu, tangannya pun di kunci pada pinggang ramping istrinya.
"Sayang, ini kamar siapa? Kenapa kita harus ke sini?" tanya Rey masih bingung.
"Kamar kita. Aku sengaja memesannya untuk kita. Aku memang tidak mau mengecewakan Elina tapi aku juga tidak bisa membiarkan suamiku ini menahan gairahnya dan ngambek seperti anak kecil."
Jari jemari lentik Susan mulai nakal menjelajahi dada bidang suaminya.
"Istriku ternyata lebih nakal dari yang aku kira," ucap Rey mengusap - usap hidung Susan dengan hidungnya.
"Apa kamu tidak mau melakukannya?" goda Susan.
"Sayang, kenapa kamu sekarang suka menggodaku? bagaimana aku tidak mau melakukannya? sedangkan jarimu sudah mulai menyerangnya dan membuatnya berontak mencari kehangatan."
Gairah Rey semakin tinggi, direngkuhnya bibir merah istrinya dengan gesit tanpa ampun.
Susan menikmati permainan yang Rey perankan, bahkan dia pun tidak kalah gesitnya, Susan membalas setiap permainan yang Rey berikan.
Tangan Rey menjelajah setiap lekuk tubuh istrinya tanpa terlewatkan.
Mereka menikmati malam ini penuh dengan curahan dan gairah cinta yang membara. Kekecewaan Rey terobati oleh ide istrinya yang menyewa kamar lain untuk mereka bercinta, bahkan Rey enggan untuk menyudahi permainannya. Seandainya saja rasa lelah itu tidak ada mungkin mereka akan melakukan sampai fajar menyingsing.
Mungkin butuh jamu STMJ (susu, telor, madu, jahe) biar strong Rey....😂😂😂.
Hampir setiap malam mereka kucing - kucingan dengan Elina putri kecil mereka hanya untuk bisa melakukan permainan itu.
Mereka harus berpura - pura tidur bersama Elina putri mereka, tapi setelah Elina tidur, mereka menyelinap keluar seperti maling berganti shif dengan Bibik.
Sungguh siasat yang luar biasa, demi sebuah kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata - kata.
Pasangan suami istri yang nakal.😆😆😆 Crazy Honeymoon.
Mereka melakukan siasat itu dengan sangat cantik dan hati - hati karna pernah sekali, Elina terbangun dan menangis mencari Mamanya.
Alhasil Rey dan Susan harus menghentikan permainannya di tengah jalan dan itu membuat Rey kesal.
Kalian para lelaki pasti tau donk gimana rasanya kalau pas kalian sedang asyik - asyiknya main tiba - tiba harus berhenti di tengah jalan?
Eh... bukan hanya kaum pria denk, kaum wanita juga sama seperti itu.
Rasanya tuh pusing tujuh keliling bahkan rasanya sampai ke ubun - ubun deh. Bener ga??
__ADS_1
Hari ini honeymoon mereka selesai dan harus pulang kembali ke rumah. Rey merasa senang dan bersyukur mempunyai istri Susan karena meskipun harus menjadi orang tengah antara Elina dan dirinya tapi Susan bisa dengan bijak mengambil keputusan agar tidak mengecewakan mereka berdua.
Rey tidak menyangka Susan bisa melakukan itu karena selama ini yang Rey tau Susan adalah wanita yang manja, apalagi bila berada di sisi aldo, manjanya ga ketulungan.