Mutiara Hati

Mutiara Hati
Rindu Riko


__ADS_3

"Sayang, hari ini aku ada metting penting, mungkin aku tidak bisa menjemputmu pulang nanti," ucap Rey.


"Ga apa - apa Rey. Nanti aku pulang sama Aldo saja."


"Baiklah. Kamu hati - hati ya"


"Rey, bolehkah aku hari ini bertemu dengan Riko?"


"Untuk apa?" ucap Rey tanpa melihat Susan.


"Aku hanya ingin bertemu saja."


"Tidak boleh! Kamu itu istriku, tidak baik bertemu dengan pria lain sendirian."


"Tapi Rey..."


"Lain kali saja aku temani kamu bertemu dengannya. Jangan sekarang!"


Susan memasang wajah kecewa. Entah kenapa hari ini dia merasa sangat rindu ingin bertemu dan ngobrol dengan Riko.


Saat mendengar Rey melarangnya Susan merasa sangat sedih.


"Aku mau berangkat sekarang!" ucap Susan meninggalkan meja makan.


"Aku antar ya," ucap Rey mengikuti langkah istrinya.


"Aku sama supir saja!"


"Sayang..." Rey menarik lembut tangan istrinya.


"Apa kamu marah padaku karna melarangmu bertemu dengan Riko?" lanjut Rey.


"Aku sudah telat Rey."


Susan melepaskan tangan Rey dan berjalan meninggalkannya.


Rey mendengus kesal melihat sikap Susan.


Sepanjang hari ini Susan merasa tidak bersemangat dan kesal.


"San, kamu sakit?" tanya Mela.


"Mel, kenapa ya hari ini aku merasa rindu Riko?"


"Apa kamu rindu padanya?!" ucap Mela matanya melotot


"Entahlah, tapi yang jelas aku ingin sekali bertemu dengannya."


"Apa Rey tau?"


"Ya. Dia melarangku bertemu dengannya."


"Ya iyalah San, kamu sudah punya suami pasti Rey tidak suka kamu bertemu Riko apalagi dia itu mantan kekasihmu."


"Kamu sama dengan Rey! Tidak mengerti."


Susan kesal dan meninggalkan Mela.


"Rey menyuruhku mengantarmu pulang," ucap Aldo menghampiri meja kerja Susan saat jam pulang.


"Apa dia meneleponmu?"


"Ya."


Susan dan Aldo berjalan menuju parkiran.


"Apa ada masalah?" tanya Aldo.


"Tidak."


"Apa kamu menyembunyikan sesuatu?"


"Tidak."


"Kamu yakin?"

__ADS_1


"Ya."


Sepanjang perjalanan Susan hanya diam.


Aldo membiarkan Susan menikmati Susana hatinya sendiri.


"Terimakasih sudah mengantarku," Susan membuka pintu mobil.


"San. Aku rindu senyummu," ucap Aldo.


Susan tersenyum sedikit memaksakan diri.


"Hey.... Aku tidak suka senyum seperti itu!"


Aldo memegang pipi lembut Susan.


"Jangan kawatir!" ucap Aldo seolah mengerti apa yang Susan rasakan.


"Besok siang datanglah ke ruanganku!" lanjutnya.


Susan hanya menganggukkan kepala saja lalu pergi meninggalkan Aldo.


Malam ini Rey belum pulang, hari ini emang dia sangat sibuk dan mungkin sampai beberapa hari ke depan dia akan sering pulang larut malam.


Setelah Elina tidur, Susan menuju kamarnya untuk beristirahat. Malam ini dia tidak menunggu Rey pulang karna memang Rey berpesan padanya untuk tidak menunggunya.


Tengah malam Rey masuk ke dalam kamar, dilihat istrinya tidur dengan posisi miring dan berselimut.


Rey mencium pucuk kepala istrinya.


Susan membalikkan tubuhnya dan membelakangi Rey. Hatinya masih merasa kesal gara - gara tadi pagi.


"Sayang, apa kamu masih marah padaku?" tanya Rey.


Tidak ada jawaban, tapi malah suara Isak tangis yang Rey dengar.


Rey merengkuh pundak istrinya bermaksud membalikkan tubuh Susan untuk menghadapnya, tapi Susan melawan dan menepis tangan Rey.


"Sayang...."


"Aku ngantuk Rey! Sebaiknya kamu juga cepat tidur! bukannya besok masih ada metting lagi?" ucap Susan sambil menutupi kepalanya dengan selimut.


"Apa dia masih mencintai Riko? Kenapa dia merindukan pria itu?" ucap Rey kesal.


Beberapa saat Rey bergelut dengan pikirannya yang kacau.


Rey kembali ke kamarnya setelah merasa lebih tenang dan dapat menahan emosinya.


Rey terkejut ketika melihat istrinya tidak ada di tempat tidur.


Rey mencari Susan di dalam kamar mandi, balkon, tapi tidak ada.


"Sayang, kamu di mana?" Rey mulai panik.


Rey berjalan keluar dan membuka pintu kamar putrinya Elina.


Hati Rey sedikit lega saat melihat Susan berbaring disamping Elina sambil memeluknya.


Rey Kembali menutup pintunya dan berjalan ke kamarnya. Direbahkan tubuhnya dan mencoba untuk menutup mata.


Pagi ini setelah Susan menyiapkan sarapan, dia membangunkan dan membantu Elina untuk mandi.


"Sayang, kamu harus makan yang banyak ya biar cepat besar," ucapnya mengambilkan sarapan untuk putrinya.


"Iya Ma."


Susan mengisi piring Rey tanpa mengeluarkan sepatah kata pun bahkan tidak juga melihatnya.


Hati Rey terasa sakit melihat sikap istrinya seperti itu hanya gara - gara pria lain.


Rey meletakkan kembali sendok dan garpu ke dalam piring lalu berdiri dan pergi


"Ma, apa Papa marah?" tanya Elina.


"Ga sayang, mungkin Papa lagi banyak kerjaan. Sekarang Elina habiskan makannya ya. Setelah itu Mama pergi kerja."

__ADS_1


"Iya Ma."


Susan berjalan mendekati Rey.


"Apa kamu tidak bisa menjaga sikapmu di depan Elina?" ucap susan sambil membereskan tas kerja miliknya.


Rey mendekati Susan dan menarik tangannya kasar.


"Katakan padaku! Apa kamu masih mencintai pria itu?" ucap Rey marah.


"Apa maksudmu Rey? Lepaskan tanganku! Sakit!"


"Hanya gara - gara pria itu kamu memperlakukan aku seperti ini!"


"Rey, aku tidak mencintainya lagi," ucap Susan menepis tangan Rey dan kembali membereskan tasnya.


"Lalu kenapa kamu merindukannya?"


Susan menatap dalam mata Rey.


"Aku tidak akan menemuinya tanpa seijinmu! Hilangkan pikiranmu tentang aku masih mencintainya! Aku berangkat kerja dulu, kamu tidak perlu mengantarku, Aldo sudah menjemputku."


Sebelum dia berjalan keluar, Susan mencium bibir Rey.


"I Love You," ucapnya.


Rey hanya bisa mematung melihat istrinya keluar.


"I Love You too," ucap Rey lirih.


Rey pun membereskan dokumen yang diperlukan untuk Metting dan berangkat kerja.


Sebelum kerja Rey menghubungi Aldo hanya sekedar menanyakan apakah benar Aldo menjemput istrinya pagi ini.


"Aku iri padamu, kamu bisa lebih dekat dan memahami Susan dibanding aku meskipun aku adalah suaminya," ucap Rey setelah menutup teleponnya.


Sepanjang perjalanan Aldo hanya diam, dia tidak mau menanyakan apa pun pada sekertarisnya. Begitupun dengan Susan, wajahnya masih tidak bersahabat dengan siapapun termasuk Aldo.


"Jangan lupa siang nanti ke ruanganku!" ucap Aldo setelah sampai kantor.


Di sisi lain, Rey berjalan dengan gagahnya menuju ruang kerjanya.


"Dino, aku butuh bantuanmu sekarang! Aku ada rapat penting tapi hari ini pikiranku sedang tidak fokus. Aku mau kamu membantuku!" ucap Rey menghubungi Dino lewat telepon.


Tidak lama Dino masuk ke ruangan Rey.


"Ada apa Rey? Apa kamu bertengkar dengan istrimu? Atau kamu tidak dapat jatah semalam?" goda Dino.


"Aku serius! Bantu aku menjelaskan isi rapat hari ini!" Rey menyodorkan sebundel dokumen pada Dino.


"Sebanyak ini?" ucap Dino tak percaya.


"Itu belum seberapa, nanti sebagian aku yang menjelaskan. Kamu hanya melengkapi saja kalau aku lupa menjelaskannya."


"Baiklah."


Sepanjang rapat pikiran Rey benar - benar kacau sehingga dia tidak mampu menjelaskan inti pokok rapat, tapi untung ada Dino yang masih setia mendampinginya meskipun Dino sekarang lebih banyak di perusahaannya sendiri.


"Sebaiknya kamu temui istrimu dulu dan selesaikan masalah kalian."


"Apa kamu mengetahuinya?"


"Aldo menceritakan padaku."


"Dasar Aldo ember banget sih!" ucap Rey kesal.


"Bagaimana pun kami tidak mau melihat kalian bertengkar. Apalagi Aldo, dia tidak mungkin membiarkan Susan sedih."


"Apa yang akan dilakukan Aldo?"


"Kamu temui saja mereka!"


"Apa maksudmu Aldo akan membawa Susan bertemu dengan pria itu?"


"Mereka hanya bertemu dan ngobrol saja, ga lebih. Apa kamu tidak percaya pada istrimu sendiri?"

__ADS_1


"Aku percaya."


"Buktikan!"


__ADS_2