Mutiara Hati

Mutiara Hati
Pria brengsek


__ADS_3

Sore ini Susan menemani Elina bermain.


"Ma...kapan mama mau tinggal di sini bersama elin?"


"Sabar ya sayang, nanti kalau pekerjaan mama sudah selesai pasti mama tinggal di sini sama Elina dan setiap hari bisa bermain bersama Elina."


"Asyik...berarti setiap hari mama masak untuk Elin ya?" ucap gadis kecil itu kegirangan.


"Pasti sayang, setiap hari mama akan buatkan makanan yang enak buat Elin dan papa."


"Bener ya ma?"


"Iya sayang."


Bel rumah Rey berbunyi menandakan ada orang yang datang. Bibik hendak membukakan pintu.


"Biar saya saja bik, mungkin itu Rey. Bibik ajak Elina ke kamar saja untuk mandi!" ucap Susan kalau berjalan ke arah pintu.


Pintu dibuka. Seorang pria bertubuh tinggi dengan raut wajah dingin berdiri di depan pintu.


"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu? dan anda mencari siapa?" ucap Susan pada pria itu.


Pria itu tidak menjawab tetapi memandangi Susan dari atas sampai bawah dan dilakukan beberapa kali.


Susan merasa risih dan takut melihat pria tersebut.


"Maaf tuan tolong jaga mata anda!" ucap Susan tidak suka.


Pria itu semakin menatap tajam pada Susan.


Susan mundur satu langkah dan bermaksud untuk menutup pintu tapi tangan pria itu mendorong daun pintu.


Susan terkejut atas kelakuan pria itu.


"Apa tujuan anda ke sini?!"


"Tidak sopan!" ucap pria itu lalu menerobos masuk melewati Susan.


"Hey...!! siapa yang mengijinkan kamu masuk?" Susan mengejar langkah pria itu dan menarik tangannya.


Tatapan pria itu semakin tajam, dia melangkah mendekatkan diri pada Susan. Susan melangkah mundur menghindari pria itu tapi dia tersudut pada tembok.


Pria itu mengunci Susan dengan kedua tangannya dan mencondongkan wajahnya lebih dekat pada wajah Susan.


"Kamu pikir kamu siapa bisa melarangku untuk masuk ke dalam rumah ini?!" ucap pria itu penuh dengan penekanan.


Susan menatap tajam pria itu meski sebenarnya dia merasa ngeri.


"Siapa yang menyuruhmu menatapku seperti itu?!"


Pria itu menambah jarak antara wajahnya dengan wajah Susan semakin dekat hingga hembusan napasnya terasa dingin menyentuh kulit.


"Ternyata wajahmu terlihat sangat cantik bila jarak kita seperti ini nona! aku penasaran apakah akan terlihat cantik juga bila tidak ada lagi jarak antara kita."


Sekali lagi pria itu mendekatkan wajahnya semakin dekat hingga jarak antara wajah Susan dan pria itu hanya kira - kira satu centi saja.


Susan memejamkan matanya dengan ketakutan. Pria itu sedikit menjauhkan wajahnya dan mengamati wajah wanita yang ketakutan di hadapannya.


Di raihnya dagu wanita itu dengan tangannya.

__ADS_1


"Apa kamu takut padaku nona cantik? atau malah ekspresi wajahmu ini meminta sesuatu kepadaku?!"


Susan perlahan membuka matanya.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan?!"


"Bagaimana kalau aku menginginkanmu?"


"Jangan gila! Lepaskan aku! aku tidak mengenalmu!"


Susan berusaha melepaskan diri tapi pria itu lebih kuat darinya.


"Apa kamu pikir bisa lari dariku semudah itu?! aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan mereka dengan mudah!"


"Apa maksudmu?!"


"Aku tidak akan memberitahumu nanti juga kamu akan tau dengan sendirinya!"


Pria itu kembali meraih dagu Susan.


"Bagaimana kalau kamu memberiku satu ciuman saja sebagai ucapan selamat datang padaku?"


Plak!!!


Tangan Susan reflek menampar pipi pria itu.


Pria itu menyeringai dan kembali menatap tajam Susan.


"Apa begini caramu menyambut kedatanganku nona cantik?!"


"Kamu yang kurang ajar padaku!"


"Jangan basa - basi! siapa kamu sebenarnya?! dan apa tujuanmu datang kemari?!"


"Siapa aku itu tidak penting! soal tujuanku, nanti juga kamu akan tau!"


Pria itu melepaskan Susan dan berjalan masuk.


"O ya. Tolong buatkan aku kopi pahit! karna aku akan menikmatinya dengan melihat wajahmu yang manis pasti kopinya akan terasa manis."


"Enak saja nyuruh orang sembarangan, dia pikir ini rumah mbahmu apa? main masuk sembarangan," Susan menggerutu lirih.


"Jangan ngomel!!" Pria itu membalikkan tubuhnya sejenak.


Dengan terpaksa Susan pun menuruti permintaan pria itu tapi tentu masih dengan omelan dan wajah yang ikhlas.


"Enak saja dia main suruh - suruh, lihat saja aku akan memberimu pelajaran!!"


Susan menambahkan garam dalam gelas kopi yang dia buat lalu mengaduknya.


"Rasain kamu!!"


Susan berjalan mendekati pria itu dengan membawa kopi pesanannya.


Wajah Susan menunjukkan sebuah kepuasan.


"Ini pesananmu, selamat menikmati!"


Susan meletakkan gelas kopi di atas meja dengan sedikit kasar.

__ADS_1


"Apa kamu tidak punya sopan santun nona? apa begitu caramu melayani tamu?!"


"Bukannya berterimakasih malah ngomel, dasar pria brengsek," gerutu Susan lirih lalu berbalik badan hendak meninggalkan pria itu.


"Tunggu!!"


Susan menghentikan langkahnya. Jantungnya dag dig dug.


"Apa kamu mau meracuniku nona dengan membuat tensi darahku naik?!"


Pria itu berdiri mendekati Susan dengan membawa cangkir berisi kopi yang Susan buat.


"Aku tidak akan meminumnya! jangan pikir aku bodoh! aku tau kamu memberi garam pada kopi ini! apa kamu mau mencoba kopi buatan mu sendiri nona?"


Susan semakin ketakutan.


Dari mana pria ini tau kalau kopi itu aku beri garam?


"Kamu pasti berpikir bagaimana aku mengetahuinya? aku sudah terbiasa menghadapi wanita sepertimu nona dan kamu tau? tidak ada wanita yang bisa menang dariku!"


"Aku tidak sama dengan mereka!"


"Apa kamu yakin?! kalau begitu aku akan melihatnya, seberapa hebatnya dirimu?!"


"Apa maumu?!"


"Tidak ada. Aku hanya ingin memainkan beberapa permainan saja dan aku pastikan kamu akan menyerah dan akan meninggalkan rumah ini termasuk meninggalkan orang - orang yang ada dalam rumah ini!"


"Tidak semudah itu tuan! meskipun kamu membunuhku sekalipun aku tidak akan meninggalkan mereka!".


"Wow....besar juga nyalimu nona cantik!. Pantas saja Rey bisa jatuh cinta padamu dan menjadi pria yang lemah di depanmu"


"Jaga bicaramu! Rey bukanlah pria lemah, kamu tidak mengenal Rey!".


"Apa kamu yakin? kalau kamu sudah sangat mengenalnya melebihi aku?"


"Karna dia kekasihku"


"Bagaimana kalau kamu tinggalkan Rey dan menjadi kekasihku? aku tidak hanya akan memuaskan mu dengan hartaku tapi aku juga akan memuaskanmu di atas ranjang sayang."


"Kamu laki - laki gila yang pernah aku temui!"


"Aku memang sudah gila. Aku mendadak menjadi gila sejak aku melihatmu hari ini. Awalnya aku hanya ingin menemui Rey, tapi ternyata aku menemukan bidadari di rumah ini. Ternyata Rey pandai mencari wanita cantik sepertimu."


Pria itu menarik pinggang Susan dengan kedua tangannya dan menguncinya hingga tubuh mereka saling bersentuhan.


Susan memukul - mukul dada pria itu.


"Lepaskan! pria brengsek! aku yakin Rey tidak akan membiarkanmu hidup!!"


"Apa kamu pikir Rey akan bisa membunuhku?! Rey tidak akan berani melakukan itu sayang."


"Brengsek!!" Susan masih terus memukulnya.


"Baiklah...kali ini aku akan melepaskan dan membiarkanmu bernapas, lagi pula hari ini aku masih lelah jadi aku akan beristirahat. Tapi ingat permainan kita belum selesai nona!!".


Pria itu melepaskan tubuh Susan dan berjalan menuju kamar tamu dan hilang di balik pintu.


"Siapa sebenarnya pria itu? kenapa dia tidak asing pada rumah ini? dan bisa sembarangan masuk. Siapapun dia yang jelas dia adalah pria brengsek yang pernah aku kenal!".

__ADS_1


__ADS_2