
Di sebuah bibir pantai seorang wanita duduk sambil menangis.
Tangannya memeluk lutut. Wajah tertunduk menyentuh lututnya.
Suara tangisan wanita itu semakin dalam.
Ada kepedihan dari tangisannya.
Suasana pantai yang sepi menambah kepiluan hatinya. Gemuruh ombak seakan mengiringi tangisnya.
"Kenapa kalian tega melakukan itu padaku?!
Kenapa kalian harus menutupinya?!
Kenapa kalian meragukan perasaanku pada anak itu?!
Kenapa....?!"
Tangisannya semakin keras.
"Ya Tuhan kenapa harus sesakit ini?"
Hiks.... hiks....hiks...hiks..ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Di sudut pantai lain.
"Aaaaaaaa.........!!!"
Rey berteriak mengekspresikan kekesalannya.
"Kenapa aku bodoh...!! Aku sudah menyakiti wanita yang sangat mencintai putriku."
Rey menjatuhkan diri dan bertumpu pada lututnya. Dia mengusap kasar rambutnya. Lalu menjatuhkan tangannya kesamping dengan lemah.
"Aku bodoh!! Tuhan... Aku bodoh..."
Rey menyalahkan dirinya sendiri.
"Aaaaaaaaa......!!!"
Langit senja itu menjadi saksi kepiluan hati dua insan manusia.
Rey berada di situ hingga langit gelap dengan posisi yang tidak berubah.
***
Susan pergi ke kantor dengan mata sembab akibat kebanyakan menangis bahkan bisa dikatakan menangis semalam.
Mela yang mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya itu tidak bisa berbuat banyak.
Dia sedih melihat sahabatnya begitu.
Seharian ini Susan tidak banyak bicara, dia banyak terdiam.
Susan selalu menghindari Aldo saat di kantor.
Sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak kontak dengannya.
Setiap ada berkas yang harus di tandatangani oleh Aldo, Susan selalu meminta tolong Mela sahabatnya itu.
Hari ini Mela sedang dinas luar. Susan merasa bingung padahal hari ini ada berkas yang harus diserahkan ke Aldo untuk di pelajari oleh Aldo.
Susan tidak tau harus minta tolong pada siapa. Dengan terpaksa dia harus jalan sendiri.
Tok tok tok
Susan berjalan mendekat ke meja Aldo.
"Permisi Pak, ini berkas kerjasama dengan perusahaan Teen Company Group yang harus Bapak pelajari," ucapnya tanpa melihat wajah Aldo.
Aldo menerima berkas itu.
"Saya permisi Pak."
Suasana yang kaku dan asing sangat terasa saat itu.
__ADS_1
Aldo menatap wanita itu sampai hilang, pintu tertutup kembali.
"Kenapa dadaku terasa sesak dan sakit sekali? Sampai kapan kamu akan mendiamkan ku seperti ini San? Aku rindu kamu yang ceria."
Dua Minggu sudah berlalu. Hubungan antara mereka bertiga masih sama belum ada yang berubah.
Hari ini Susan harus ke perusahaan DJ Company. Sebenarnya dia sangat malas karna pasti akan ketemu dengan Rey. Tapi demi sebuah kata profesional kerja dia pun harus melakukannya.
Dia menghubungi sekertaris perusahaan itu bahwa dia akan berkunjung.
Dia sengaja menghubungi sekertarisnya bukan asistennya karna dia tidak mau berhubungan dengan asistennya. Karna yang dia tau Rey adalah asisten bos DJ Company.
"Permisi Mbak, saya Susan yang tadi janjian mau ketemu dengan Direktur," sapanya pada petugas resepsionis.
Petugas itu menghubungi seseorang lewat pesawat telepon.
"Mari Mbak saya antar!"
Susan berjalan mengikuti wanita itu.
Tok tok tok
"Permisi Pak. Ada ibu Susan ingin menemui Anda," ucap wanita itu pada pria di balik kursi kerja bos.
"Silahkan dia masuk!"
"Baik Pak."
Wanita itu keluar dan mempersilahkan Susan masuk.
"Permisi Pak. Saya Susan perwakilan dari perusahaan CAN," ucapnya sopan pada laki - laki dibalik kursi itu.
Pria itu memutarkan kursinya.
Susan terkejut dan mundur satu langkah kebelakang.
"Rey...."
"Susan. Bisa kujelaskan semuanya!" ucap Rey saat melihat ekspresi Susan.
"Sandiwara apa lagi ini Rey?!"
"Belum puaskah kalian mempermainkanku?! Kesalahan apa yang aku buat sehingga kalian tega melakukan ini padaku?!. Katakan Rey!!" air matanya pun jatuh.
Rey memeluk tubuh Susan erat. Wanita itu berusaha melepaskan diri tapi Rey semakin memperkuat tangannya.
"Lepaskan Rey!!"
"Tolong dengarkan aku San!"
Susan terus berusaha melepaskan dirinya.
"Aku mohon tenanglah dan dengarkan aku!"
Setelah di rasa Susan mulai tenang. Rey melonggarkan pelukannya.
"Aku mohon dengarkan aku!. Aku dan Aldo tidak pernah membohongimu atau pun mempermainkanmu. Kami tidak pernah merencanakan apapun untuk menyakitimu."
Susan menatap mata Rey mencari kebenaran.
Rey memegang lembut pipi wanita itu dengan kedua tangannya.
"Aku tidak akan pernah menyakiti orang yang sangat mencintai putriku. Aku tidak pernah mempermainkan orang yang sangat di cintai oleh putriku. Aku dapat merasakan kebahagiaanya saat bersamamu. Mana mungkin aku akan menghancurkan kebahagiaan putriku sendiri."
Susan masih terdiam.
"Sejak awal dia bercerita tentangmu, aku sudah penasaran denganmu dan berusaha mencari tau siapa dirimu. Hingga aku melihatmu memeluk putriku. Saat itu aku merasakan bahwa kamu adalah yang terbaik baginya. Aku semakin senang saat bertemu denganmu di rumah Aldo.Setelah itu aku menyuruh Dino asistenku untuk mencari tau tentangmu. Percayalah aku tidak bermaksud membohongimu!"
"Kenapa kamu tidak jujur padaku kalau dia itu putrimu?"
Rey menuntun Susan untuk duduk di sofa.
"Aku ingin kamu mengenalnya tanpa harus tau siapa orang tuanya. Aku juga ingin kamu mengenalku lewat diriku sendiri bukan karna putriku."
"Bagaimana dengan posisimu sebagai Presdir?"
__ADS_1
"Awalnya aku tidak bermaksud untuk menutupi siapa diriku sebenarnya. Aku pikir kamu sudah mengetahuinya dari Aldo. Ternyata saat kita ke kota B, aku baru tau kalau kamu tidak tau siapa diriku sebenarnya. Malah kamu menganggapku asisten. Dan yang lebih parah lagi kamu bilang bahwa Bos DJ Company itu pria tua, duda, berkumis dengan perut buncit. Dari situ timbul pikiran untuk merahasiakan identitas ku dan mengerjai mu. Maafkan aku!"
"Apa kamu tidak tau betapa sakitnya aku saat aku tau siapa dirimu?"
"Maaf."
"Dasar kalian berdua sudah gila!"
"Lagi pula apa kamu tidak pernah membuka berkas kerjasama kita? Bukannya di situ tertulis dengan jelas REYNALD WICAKSONO sebagai Presiden Direktur?"
"Iya juga ya. Kenapa aku jadi bodoh?. Tapi yang jelas aku kecewa dengan kalian berdua!"
"Apa tidak ada kata maaf bagi kami? terlebih untukku?"
"Tidak!"
"Apa segitu menyakitkan?"
"Sangat menyakitkan. Hatiku sangat sakit saat itu. Aku membencimu dan Aldo. Kalian tega melakukan itu padaku!"
"Hatiku pun sangat sakit saat melihatmu menangis. Aku merasa aku adalah manusia yang paling bodoh. Aku sudah menyakitimu. Aku takut kamu akan menjauh dari putriku dan membencinya juga karna kesalahanku."
"Pikiranmu terlalu dangkal Tuan!. Aku mencintai Elina tanpa syarat. Meskipun aku membencimu tapi aku tidak akan membencinya. Karna aku merasa Elina adalah belahan jiwaku. Aku sangat menyayanginya seperti anak kandungku sendiri."
"Terimakasih San."
Rey memeluk tubuh Susan.
"Jangan peluk - peluk!" Susan mendorong tubuh Rey.
"Kenapa tidak boleh?"
"Kamu bukan kekasihku!"
"Tapi Aldo juga bukan kekasihmu, kenapa dia boleh memelukmu sesuka hatinya?"
"Kau ini....!! Aldo berbeda denganmu," sembari mencubit lengan Rey.
"Apa bedanya ? kami sama - sama laki - laki dan kami sama - sama menyayangimu."
"Tapi tetap saja berbeda."
"San... Apa kamu mau memaafkan ku?"
Susan menjawab dengan anggukan kepala.
"Kali ini boleh aku memelukmu sebagai ucapan maaf dan terimakasihku?"
"Kamu ini modus?!"
"Boleh tidak?"
"Iya boleh tapi sekali saja!" jawabnya tersenyum malu.
Rey merentangkan tangannya agar Susan datang kepelukkannya. Susan tersenyum malu dan memeluk tubuh Rey.
Terimakasih."
"Apa aku tetap boleh mengunjungi Elina?""
"Tentu saja boleh. Kapan pun kamu mau. Sekalian mengunjungi Papanya juga boleh."
Rey mulai jail lagi
"Kenapa kamu selalu menggodaku?"
"Entahlah sejak aku bertemu denganmu aku merasa senang bisa menggodamu. Dan sepertinya itu sudah menjadi hobi baruku. Apa kamu mulai tergoda denganku?"
"Rey....sudahlah jangan seperti itu lagi!"
"Kenapa?"
"Aku malu."
"Kamu semakin cantik kalau seperti ini."
__ADS_1
Rey mencubit gemas kedua pipi wanita itu.
Entah mengapa Susan merasa senang mendapat perlakuan seperti itu dari Rey.