
Ribuan bunga segar nan indah menghiasi seluruh sudut rumah Rey. Bunga dengan nuansa putih dan pink serta segarnya hijau daun menggambarkan kesejukan dan keromantisan.
Aroma harum bunga membawa kedamaian dan kebahagiaan bagi setiap insan yang menghirupnya.
Semua mata kagum melihatnya, semua bibir memuji keindahannya.
Suara riuh para tamu undangan membuat suasana semakin hidup.
Terlihat wajah - wajah yang menyiratkan kebahagiaan.
Berbeda dengan seorang pria yang berjalan mondar - mandir di dalam kamar.
Seakan ada kegusaran yang terhebat dari prilakunya.
"Rey....!! Bisakah kau duduk manis sebentar saja! Mataku sakit lihat kamu mondar - mandir seperti itu."
"Aldo. Kenapa aku merasa gugup ya?"
"Rey, kamu ini mau menikah untuk yang kedua kalinya, harusnya kamu bisa lebih tenang," ucap Shandy.
"Sumpeh Shandy, aku gugup banget."
"Apa dulu waktu kamu menikah dengan Susi tidak gugup?"
"Gugup juga sih tapi itu udah lewat."
"Aku tau, kamu gugup bukan karna mau janji nikah khan? tapi kamu gugup memikirkan malam pertamamu nanti," ucap Aldo.
"Maksudnya?" Rey berlagak ****.
"Bilang aja kalau kamu khawatir, takut tidak bisa memuaskan Susan di atas ranjang karna milikmu itu sudah lama tidak di asah," ucap Aldo lirih agar tidak terdengar orang banyak.
Shandy dan Aldo terkekeh.
"Kamu gila Aldo!! Kalian lihat saja nanti! aku akan buktikan kalau aku ini benar - benar jantan tidak seperti manusia di sampingku ini!" Rey melirik pada Dino.
"Aku sebentar lagi juga siap tempur!" Dino tidak mau kalah.
"Kami tunggu hasilnya. Segera beri kami ponakan!" ucap Shandy.
Sedangkan di ruang kamar yang lain, nampak beberapa perempuan sibuk dengan riasan yang pengantin wanita.
"San, kamu cantik sekali," ucap Mela memuji kecantikan sahabatnya itu.
"Calon adik iparku memang sempurna, bak bidadari turun dari khayangan," ucap Ririn.
"Aku gugup Mbak," ucap Susan memegang tangan Ririn.
"Santai saja! Semua pasti seperti itu. Inget ya nanti malam harus kuat!"
"Kuat apa Mbak? memang acaranya sampai malam ya?" Susan tidak mengerti.
"Aduh..... Kenapa kamu polos sekali sih?!"
__ADS_1
"Maklum Rin, masih virgin belum pengalaman. Memangnya kita," ucap Ana menimpali.
"Apa acaranya masih lama Mbak? Aku deg - degan."
"Sabar! Sebentar lagi."
Seseorang membuka pintu dan berbisik pada Ana bahwa pengantin pria sudah memasuki ruangan tempat janji suci akan di gelar.
"Ayo kita turun! pengantin pria sudah siap."
"Mbak...." ucap Susan menarik tangan Ana.
"Tarik napas, santai saja!"
"Mama, Mama cantik banget. Aku mau cium Mama," ucap Elina sebelum keluar kamar.
"Sayang, kamu juga cantik. Sini Mama cium!"
Susan mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan paduan merah muda. Kecantikannya memang mengalahkan kontestan pemilihan putri sejagat.
Dengan diiringi Ana, Ririn serta Mela, Susan menuruni anak tangga satu persatu. Elina tentu saja tidak mau kalah, dia berjalan tepat di depan Susan. Gadis kecil itu berjalan anggun penuh senyuman seolah dialah peran utamanya.
Susan mengembangkan senyum terbaiknya saat melihat para tamu yang memenuhi ruangan itu. Jangan tanya berapa jumlah denyut jantungnya per menit kalau dihitung mungkin melebihi orang yang sakit jantung.
Semua mata tertuju padanya, mengagumi keagungan Tuhan. Para tamu terpana melihat kecantikannya bahkan ada yang berbisik iri akan kecantikan sang pengantin.
"Pak Rey beruntung sekali ya, istrinya cantik banget," ucap salah satu tamu yang merupakan karyawan Rey.
"Iya. Mereka serasi sekali. Pak Rey tampan dan istrinya cantik."
Rey memandang Susan tanpa berkedip, seolah baru saja melihat bidadari turun dari surga dan menghampirinya. Bukan hanya Rey tapi Aldo dan Shandy juga terkagum - kagum melihat kecantikan Susan.
"Ya Tuhan, cantik sekali sekertarisku," ucap Aldo mengagumi kecantikan Susan.
"Dia adik iparku," ucap Shandy tidak mau kalah dari Aldo.
"Dia istriku!" Rey masih sempet nimbrung dan menimpali kata - kata mereka meski matanya tidak beralih dari kecantikan Susan.
"Masih calon!" ucap Aldo dan Shandy hampir bersamaan.
Rey berjalan menghampiri sang pengantin wanita dan mengulurkan tangannya. Susan menyambutnya dengan senyuman. Rey mencium punggung tangan wanita pujaannya, tercium aroma segar yang menenangkan.
Rey membawa Susan berjalan mendekati altar tempat mereka akan mengikat janji suci pernikahan. Senyum bahagia terus mengembang dari bibir mereka meski sebenarnya mereka sangat gugup.
"Ya Tuhan, mereka persis seperti raja dan ratu, pasangan yang membuat iri semua orang," ucap salah satu tamu undangan.
Semua kerabat dan kolega Rey memang diundang, tidak terkecuali dengan Riko. Rey dan Susan mengundang Riko, meski Riko pernah menjadi kekasih Susan tapi Rey mencoba untuk menjalin hubungan baik dengannya karna Rey tau Riko adalah salah satu korban dari keserakahan Gea.
"Apa aku terlambat menyaksikan prosesi janji sucinya?" ucap Riko berdiri di samping Aldo.
"Tidak. Acaranya baru mau dimulai. Kamu datang sendiri? mana kekasihmu?"
"Dia bersama istrimu."
__ADS_1
Acara dimulai.
Rey mengucap janji
"Saya Reynald Wicaksono berjanji kepadamu akan setia dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, dalam suka dan duka dan akan menjadi suami serta ayah yang baik bagi anak - anak kita."
Susan mengucap janji
"Saya Susan Anggraini berjanji kepadamu akan setia dalam untung dan malang, dalam sehat dan sakit, dalam suka dan duka dan akan menjadi istri serta ibu yang baik bagi anak - anak kita."
Prosesi dilanjutkan dengan acara penyematan cincin perkawinan.
Rey mengambil cincin dan memakaikan di jari manis Susan.
"Susan Anggraini terimalah cincin ini sebagai lambang cintaku kepadamu."
Kini giliran Susan yang memakaikan cincin di jemari Rey.
"Reynald Wicaksono terimalah cincin ini sebagai lambang cintaku kepadamu."
Setelah penyematan cincin, Rey mencium kening Susan yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.
Kebahagian menyelimuti dua hati yang telah dipersatukan dalam ikatan perkawinan yang suci.
"Akhirnya kamu menjadi istriku," ucap Rey girang, saking girangnya Rey memeluk pinggang dan mengangkat tubuh Susan sambil berputar girang.
Semua tamu undangan tercengang melihat tingkah Rey dan sontak tertawa riuh.
"Rey... malu ah," ucap Susan tersipu malu.
Rey melepaskan pelukannya dan merangkul mesra pinggang langsing istrinya dari samping.
"Maaf sayang, aku terlalu bahagia."
"Jangan berlebihan! Malu di lihat orang."
"Mereka memang harus melihatnya, melihat kebahagiaan kita."
Rey dan Susan tersenyum memberi hormat pada para tamu undangan.
"Dasar Rey si mesum, tidak bisa mengontrol diri!" ucap Aldo melihat tingkah sahabatnya itu.
"Berbeda dengan di kantor sok galak, giliran masalah cinta, bucinnya amit - amit dah," ucap Dino.
"Mereka pasangan yang serasi," ucap Riko.
"Apa kamu tidak cemburu?"
"Itu masa lalu, sekarang kita sudah mempunyai kehidupan masing - masing. Aku menyesal sudah menyakitinya dia pantas mendapat yang terbaik."
Aldo menepuk pundak Riko.
"Aku yakin wanita pilihanmu yang sekarang juga pasti terbaik untukmu."
__ADS_1
Riko menanggapi ucapan Aldo dengan senyum. Riko benar, dia telah membuang mutiara yang sangat berharga demi sebuah sampah.
Setelah Riko putus dengan Susan, tidak berap lama Riko mengetahui bahwa Gea bukanlah wanita baik. Gea hanya memanfaatkan Riko dan ternyata Gea juga suka menggoda pria tajir hanya untuk mengeruk hartanya.