Mutiara Hati

Mutiara Hati
Pengunduran Diri Dino


__ADS_3

Rey menyenderkan kepalanya pada sandaran kursi, matanya terpejam tapi tangannya memainkan bulpoin.


Ceklek


Mata Rey terbuka setengah tertutup.


"Woy.... pengantin baru jam segini sudah ngantuk! Lembur sampai berapa ronde Bos?" ucap Dino lalu duduk di sofa.


"Sok tau Lo sama ronde! Kamu aja belum pernah ngerasain."


"Aish.... Biar pun aku belum pernah ngerasain tapi tau donk, jaman gini ada mbah Google lho."


"Ketahuan kamu ya suka nonton film bokep!"


"Enak aja!"


"Tumben pagi - pagi udah ke ruanganku, ada apa? Biasanya siang baru nongol."


"Aku mau mengajukan surat pengunduran diri."


Maksudmu?"


"Aku mau keluar dari perusahaanmu. Bokap nyuruh aku gantiin posisinya di perusahaan."


Ceklek


Aldo dan Shandy masuk bersama - sama.


"Ngapain sih kalian ke sini semua?" tanya Rey heran.


"Aku diajak sama dia nih. Katanya mau liat pengantin baru yang habis honeymoon," ucap Aldo.


"Bagaimana? Apa kalian menikmati bulan madunya? Enak khan suasana di sana? dingin, sejuk pasti kalian tambah tidak mau keluar kamar," ucap Shandy.


"Enak apanya! Elina ikut dengan kami."


"Whats???!! Kalian ini bulan madu apa liburan keluarga?!!" ucap Aldo kaget.


"Judulnya bulan madu tapi aslinya liburan keluarga," ucap Rey kesal.


"Kenapa tidak kamu titipkan saja pada Omanya?" ucap Aldo.


"Tadinya begitu. Di hari kami akan berangkat dia nangis mau ikut, malah ngambek juga padaku. Katanya aku jahat dan pelit."


"Kenapa tidak kamu antar saja ke rumahku? Seharusnya bisa jalan bersamaku dan Ana."


"Susan juga bermaksud begitu, tapi dia tetap tidak mau. Susan tidak tega melihat Elina menangis makanya dia memutuskan untuk membawanya."


"Kenapa tidak kamu rayu saja putrimu itu?" ucap Dino.


"Dia ga mau nemuin aku, pintunya di kunci, malah Susan ikutan ngambek, kalau Elina tidak ikut maka bulan madu dibatalkan."


"Ponakanku memang pinter," ucap Shandy.


"Tunggu dulu! Jangan - jangan kamu yang memberitau putriku kalau kami mau bulan madu!"


"Aku hanya bilang padanya kalau kalian mau ke Paris."


"Ternyata kamu biangnya! Pantas saja dia sudah mengepak bajunya dalam koper dengan rapi."


"Ha..ha..ha... Maaf."


"Sialan lo kakak ipar!!"


"Jangan memanggilku begitu!! Geli aku dengarnya."


Shandy memang dari dulu tidak mau dipanggil kakak ipar oleh Rey karna dia tidak mau ada kecanggungan antara mereka.

__ADS_1


"Dino, kapan giliran kamu menikah?" tanya Shandy.


"Tunggu saja! Saat ini aku mau fokus dulu dengan perusahaan Papaku."


"Bagaimana kamu mau fokus? sedangkan kamu saja masih jadi asisten Rey?" ucap Aldo.


"Aku sudah mengajukan surat pengunduran diriku pada Rey."


"Sebelum kamu keluar, carikan dulu aku penggantimu!" ucap Rey.


"Kenapa tidak istrimu saja yang jadi asistenmu? Pengalaman kerjanya tidak bisa diragukan lagi," ucap Dino.


"Tidak boleh!! Dia sekertarisku," Aldo tidak setuju.


"Hey!! Sekarang dia istriku, jadi terserah aku donk," ucap Rey.


"Aku tidak akan melepasnya!"


"Kamu tidak bisa melarangnya!"


"Coba saja kamu tanya pada Susan! Aku yakin dia akan tetap memilih jadi sekertarisku."


"Percaya dirimu tinggi sekali Tuan!" ucap Rey.


"Coba saja!"


"Kenapa kalian malah rebutan Susan sih?!" ucap Shandy.


"Shandy, apa kamu tidak kembali ke kotamu?" tanya Dino.


"Untuk beberapa bulan ini aku akan lebih banyak di sini. Aku sedang mengadakan kerjasama dengan perusahaan Riko," ucapnya.


"Riko mantan kekasih Susan?" tanya Dino.


"Ya. Apa dia kekasih Susan?"


"Mantan!!" ucap Rey tegas.


"Aku tidak cemburu, hanya menegaskan saja," Rey membela diri.


"Kenapa mereka bisa putus? Aku lihat Riko orangnya baik dan bertanggung jawab."


"Dia selingkuh. Korban dari wanita matre," ucap Rey.


"Tapi kekasihnya yang sekarang cantik, dia seorang dokter," ucap Aldo.


"Dari mana kamu tau?" tanya Rey.


"Riko membawanya waktu pernikahanmu."


"Dino, pokonya kamu belum boleh keluar kalau aku belum mendapat gantimu!"


"Kamu gila Rey! Bisa digantung aku sama Bokap, udah lama aku menolaknya."


"Kamu tidak perlu datang setiap hari. Kamu bisa fokus pada perusahaanmu tapi kalau aku ada masalah dan membutuhkanmu, kamu harus siap aku panggil!"


"Siap Bos!"


***


Susan duduk di samping Rey yang sedang rebahan di kamarnya.


"Sayang, Aldo bilang bahwa Dino mau keluar dari perusahaanmu, apa itu benar?" tanya Susan.


"Iya. Papanya minta dia gantiin posisinya. Sebenarnya sudah lama Papanya minta dia meneruskan bisnis itu tapi Dino selalu bilang belum siap."


"Kenapa sekarang dia mau?"

__ADS_1


"Karna diancam, kalau dia tidak mau memimpin perusahaan maka hubungannya dengan kekasihnya tidak akan direstui."


"Kok gitu?"


"Aku yakin itu hanya trik dari Papa Dino."


"Lalu siapa yang akan menggantikan dia sebagai asistenmu?"


"Belum ada. Bagaimana kalau kamu saja?"


"Tidak sayang, aku tidak mau. Lagi pula tidak akan efektif kalau aku yang jadi asistenmu."


"Kenapa? Bukannya kamu sudah berpengalaman?"


"Rey, aku tau bagaimana dunia kerja. Apa kamu tega memarahiku saat aku salah dalam bekerja?"


"Ya harus profesional donk, kalau salah ya aku marah."


"Bagaimana kalau aku tidak terima waktu kamu marah dan aku menjadi benci padamu?"


"Sayang, kenapa kamu ngomong seperti itu?"


Rey merengkuh tubuh istrinya dan menyandarkan kepala Susan di dada bidangnya.


"Apa kamu tidak pernah berpikir untuk keluar dari pekerjaanmu sebagai sekertaris Aldo, sayang?"


"Tidak. Aku sangat nyaman dan aku belum berpikir untuk itu."


"Sampai kapan?"


"Mungkin sampai aku melahirkan anak bagimu," Susan mendongakkan kepalanya melihat wajah Rey.


"Sayang, kenapa tidak sekertarismu saja yang kamu jadikan asisten?"


"Sekertarisku itu wanita sayang."


"Memangnya kenapa kalau wanita?"


"Sayang, selama ini aku jarang sekali pergi berbisnis mengajak sekertarisku, aku lebih suka mengajak asistenku dan aku mau asistenku itu laki - laki bukan perempuan."


"Kenapa?"


"Karna kalau laki - laki, aku lebih leluasa mengajaknya pergi tanpa takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, berbeda dengan wanita, banyak setannya. Aku takut tidak kuat."


"Oo..."


"Memangnya kamu mau kalau sekertarisku jadi asistenku, terus aku sering pergi dengan dia? Sekertarisku itu cantik lho sayang, apa kamu mau kalau aku tergoda dengannya dan aku selingkuh?"


Susan memainkan jemarinya di atas dada Rey.


"Kamu tau Rey? Aku akan memastikan milikmu ini tidak akan bisa berdiri lagi kalau kamu berani selingkuh dariku!" ancamnya sambil mengarahkan jemarinya pada senjata pamungkas suaminya, perlahan tapi pasti.


"Ha..ha...ha... Sayang, aku janji padamu, aku tidak akan pernah melakukan itu. Hanya kamu wanita yang aku cintai selain Susi dan Elina serta Mama," ucap Rey mencium pucuk kepala istrinya.


"Aku percaya."


Susan mengeratkan peluknya pada tubuh Rey.


"Sayang, aku mau buat adek untuk Elina."


Rey menuntun tubuh istrinya hingga berada di atas dan menindihnya. Membelai rambut Susan dengan lembut dan menyelipkannya di telinga agar tidak menutupi wajah cantik istrinya.


"Sayang, apa kamu merasakannya?"


"Apa?"


"Dia mulai berontak sayang."

__ADS_1


"Sayang, kamu nakal."


Susan memukul dada Rey lembut. Permainan Rey dimulai lagi.


__ADS_2