
Susan merebahkan tubuhnya di atas kasur dalam kamarnya.
Senyumnya mengembang di bibirnya.
Dia merasa bahagia hari ini. Dia bersyukur karena mempunyai orang - orang yang menyayanginya, meskipun mereka bukan keluarga. Tapi dia merasa merekalah keluarga yang sebenarnya.
Susan mengambil telepon selularnya dalam tas.
Astaga. Hpku mati.
Susan mengambil casger dan menyambungkan ke telepon selularnya.
Dia menghidupkannya.
Dret..dret....dret....
Teleponnya berbunyi dan bergetar beberapa kali.
Ya ampun banyak banget notifikasinya.
Ada delapan kali panggilan, sepuluh chat.
Di bukanya satu persatu.
Riko, delapan kali panggilan tak terjawab.
Riko
Susan kamu di mana?
Riko
Susan aku mau ketemu!
Riko
Sayang aku sudah di kantormu
Riko
Sayang kamu di mana kok tidak ada di kantor?
Riko
Susan kenapa tidak menjawab teleponku?
Riko
Susan apa kamu pergi dengan Aldo?
Riko
Susan..
Riko
Susan
Riko
Susan
Riko
susan
Mati aku. Riko pasti marah besar
Susan mencoba menghubungi Riko tapi nomornya tidak aktif.
mencoba sekali lagi.
Sekali lagi
Lagi.
Masih sama tidak aktif.
Susan mengirim pesan.
Susan
Riko maaf tadi hp aku mati habis baterai.
Tadi siang aku makan siang dengan Aldo dan temannya dari perusahaan DJ Company. Setelah itu aku ke rumah Elina. Maaf aku lupa ngecas hp.
Besok kita ketemu ya. Jemput aku di jam istirahat.
Love you
Susan terlelap dalam tidurnya tanpa menunggu balasan dari Riko.
Pagi hari Susan mengambil hpnya dan dilihatnya masih belum ada jawaban dari Riko.
Apa dia marah padaku?
Susan melihat arlojinya. Jam setengah dua belas. Sebentar lagi jam istirahat. Tapi belum ada tanda - tanda Riko akan menjemputnya.
"Susan. Ada Riko di depan," ucap Mela
"Kamu serius Mel?" Susan senang.
Susan segera meninggalkan Mela sahabatnya itu dan berjalan menghampiri Riko.
"Halo sayang. Maaf kemarin hp aku mati."
Riko tersenyum
"Kita mau makan di mana?"
"Terserah kamu saja."
Riko menggandeng tangan Susan dan mereka berjalan ke arah mobilnya.
Dia melajukan mobilnya meninggalkan kantor.
__ADS_1
Apa yang mereka lakukan saat itu tidak luput dari perhatian Rey.
Rey baru turun dari ruangan Aldo dan akan pulang.
Dia melihat Riko. Rey sengaja tidak langsung pulang karna dia penasaran dengan orang itu.
Setelah mereka pergi, Rey juga ikut pergi.
Di kantor Rey tampak uring - uringan.
Dino dan karyawan lainnya tidak luput dari kemarahannya.
Dino yang sudah hafal betul dengan bosnya itu mencoba memberi pengertian kepada karyawan yang menjadi sasaran kemarahan Rey.
Dino menghubungi Aldo. Aldo pun tidak tau kenapa Rey menjadi seperti itu. Yang Aldo tau Rey ke kantornya hanya untuk menyerahkan laporannya.
Dino membiarkan Rey sendirian.
Disebuah restauran NN Riko dan Susan makan siang.
"Apa kamu masih sering menemui anak itu sayang?"
"Iya. Aku selalu merindukannya."
"Apa kamu tidak merindukanku?"
"Tentu aku merindukanmu, kamu khan pacar aku."
"Bagaimana dengan Aldo? Apa kalian masih dekat dan sering keluar bersama?"
"Aku sekertarisnya. Wajar kalau aku sering pergi bersama."
"Tapi aku tidak menyukainya."
"Kamu tidak harus menyukainya. Tapi jangan campur adukkan masalah kerja dengan masalah pribadi."
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak suka kamu dekat dengan dia."
"Kami ini partner kerja Riko. Bagaimana kami tidak dekat?. Kamu jangan mikir macam - macam!"
"Aku lihat hubungan kalian sepertinya lebih dari partner kerja."
"Kamu mencurigaiku?"
"Kenyataannya begitu."
"Apa kamu sudah tidak percaya lagi padaku?"
"Apa kamu bisa membuktikan padaku kalau diantara kalian tidak ada hubungan apa - apa selain pekerjaan?"
"Apa yang bisa membuatmu percaya?"
"Tinggalkan pekerjaanmu!"
"Apa kamu sudah gila?!"
"Kenapa? Kamu tidak bisa kan?. Aku yakin kamu tidak akan bisa melakukannya. Karna kamu memang mencintainya."
"Aku tidak pernah mencintainya. Tapi aku tidak bisa keluar dari pekerjaanku."
"Berarti benar kamu mencintainya dan lebih memilih dia."
Riko hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Susan.
"Kemarin aku ke kantormu. Kata resepsionis kamu pergi dengan Aldo."
"Benar. Kami makan siang."
"Kenapa kamu lebih mementingkan makan siang dengan Aldo dari pada dengan pacarmu sendiri?"
"Aku tidak tau kalau kamu akan datang."
"Bagaimana kamu tau?, teleponku saja tidak kamu jawab."
"Maaf. Aku tidak tau kalau kamu telepon."
"Alasan!"
"Bagaimana kamu akan tau kalo aku telepon?. Kalian sedang asyik makan."
"Riko!! Aku tidak suka kamu menuduhku seperti itu!"
"Kenapa kamu marah? Memang buktinya seperti itu. Aku menunggumu sampai hampir sore tapi kalian belum kembali juga."
"Aku memang tidak kembali ke kantor. Aku ke rumah Elina sampai malam."
"Bukannya itu masih jam kerja? Setauku Aldo orangnya disiplin dia tidak akan membiarkan karyawannya pergi di jam kantor kecuali dinas luar. O ya aku lupa kalau kamu itu sekertaris kesayangannya."
"Riko!!"
"Apa?? kamu masih mau membelanya?"
"Terserah apa katamu... Aku mau balik ke kantor"
"Kenapa kamu setiap kali kita membicarakan soal Aldo kamu selalu menghindar?"
"Aku tidak menghindar. Tapi memang tidak ada yang perlu dibicarakan. Aku dan Aldo hanya sebatas karyawan dan atasan, tidak lebih. Dan satu lagi yang harus kamu ingat, aku tidak pernah mencintai Aldo. Aku hanya mencintaimu. Dia sudah beristri dan istrinya adalah sahabatku. Aku tidak akan menyakiti mereka."
"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?"
"Kamu tidak percaya lagi padaku. Tidak ada gunanya aku jelaskan."
"Aku percaya padamu."
"Beneran kamu percaya padaku Riko?"
"Ya. Aku percaya padamu. Tapi tolong cobalah untuk menjauh dari Aldo!"
"Sama saja itu namanya kamu tidak percaya padaku!"
"Hanya itu permintaanku."
"Aku tidak mau janji."
"Berarti kamu yang membuat aku tidak yakin dengan apa yang kamu ucapkan."
__ADS_1
"Terserah. Aku mau pulang. Kamu mau antar aku apa ga? Kalau ga, aku mau naik taksi saja"
"Aku yang membawamu ke sini, aku yang akan mengantarmu!"
Tidak ada percakapan lagi setelah itu.
Sepanjang jalan hanya lagu dari tipe radio yang terdengar.
Susan berjalan kesal dan duduk dengan kasar di kursi kerjanya.
"Hey...yang habis kencan kenapa mukanya ditekuk jadi tujuh lipat?"
"Aku sebel sama Riko..."
"Apa kalian berantem?"
"Ya. Dan masalah hanya itu - itu saja ga pernah beda."
"Aldo?"
"Ya"
"Dia cemburu?"
"Dia menyuruhku untuk keluar dari perusahaan dan menjauhi Aldo."
"Lalu?"
"Aku tidak mungkin keluar dari pekerjaanku Mel. Dia menuduhku kalau aku mencintai Aldo."
"Apa kamu mencintai Aldo?"
"Kamu gila!! Aku tidak mungkin mencintainya. Dia itu istri sahabatku."
"Apa kamu yakin?"
"Hey...!! kenapa kamu jadi sama menyebalkannya dengan Riko?"
"Sorry."
Mela kembali berkutik dengan pekerjaannya.
Dia membiarkan Susan dengan kekesalannya.
Dret....dret.,.dret.,
Aldo
Apa kamu pergi dengan Riko siang ini ?
Susan
Ya
Aldo
Apa kalian berantem?
Susan
Darimana kamu tau ?
Aldo
Jawabanmu
Susan
😡😡😡😡😡
Aldo
😘😘😘
Di dalam ruangan Aldo tertawa sendiri.
Ceklek
"Aku heran dengan hari ini?"
"Dino bisakah kamu ketuk pintu dulu?!"
"Mungkin tanganku sampai berdarah juga ga bakal denger, empunya saja asyik dengan hpnya."
"Tumben kamu ke sini?"
"Rey uring - uringan di kantor. Males aku lihatnya. Karyawan jadi sasaran kemarahannya. Eh kesini malah liat orang senyum - senyum sendiri kayak orang gila. Heran aku sama kalian berdua."
"Kenapa dia jadi begitu?"
"Mana ku tau"
"Apa dia liat Susan keluar dengan Riko saat keluar dari kantorku?"
"Memangnya Susan dengan Riko?"
"Ya. Mereka pergi makan"
"Pantes. Dasar bucin"
"Sepertinya Susan juga lagi berantem dengan Riko."
"Dari mana kamu tau?"
"Susan itu sekertarisku. Jadi apapun tentang dia aku tau"
"Percaya. Secara dia sekertaris kesayangan bos Aldo."
"Mulutmu sama dengan Rey. Asal bunyi."
"Memang seperti itu adanya. Masih tidak ngaku."
Dino Putra Darmawan
__ADS_1
Riko Febrianto