Mutiara Hati

Mutiara Hati
Mama Susan bukan mamanya Elina


__ADS_3

Elina membangunkan Rey dengan menggoyang - goyangkan tubuhnya. Hari ini memang hari Minggu jadi Rey sengaja bangun lebih santai.


"Papa.... ayo bangun!"


"Sebentar lagi sayang, Papa masih ngantuk semalam papa tidur malam."


"Ini udah siang pa. Aku mau liat Mama Susi."


Mendengar nama Susi disebut oleh Elina, mata Rey langsung terbuka lebar dan spontan duduk.


"Elina tadi bilang apa?"


"Elina mau liat Mama Susi Pa,"


"Elina tau Mama Susi?"


Rey bingung kenapa Elina mengatakan itu, selama ini Rey tidak pernah menceritakan tentang Susi yang sebenarnya.


"Memangnya Elina tau Mama Susi sekarang dimana?"


"Tau. Mama Susi pasti sekarang lagi tersenyum di surga, soalnya Mama Susi liat papa bangun siang." ucapnya polos.


"Elina tau dari mana?"


"Ih Papa kepo deh."


Rey mencubit pipi Elina dengan gemes.


"Papa, ga boleh cubit - cubit pipi Elina nanti aku tembem! ga cantik lagi kayak Mama Susan."


Elina menyingkirkan tangan Rey.


"Elina sayang mama Susi atau Mama Susan?"


"Elina sayang semuanya."


"Elina tau kalau mama Susan bukan mamanya Elina?"


"Tau. Elina juga tau kalau mamanya Elina itu Mama Susi dan Mama sudah di surga."


Rey memeluk tubuh mungil putrinya.


"Maafkan Papa sayang."


Rey merasa bersalah pada Elina dan Susi karna selama ini Rey belum pernah membawa Elina ke makam Susi.


"Elina, kamu tau dari mana tentang Mama Susi?"


"Aku denger papa ngobrol sama Mama Susan."


Flasback on


Elina berlari kecil hendak menemui mama Susan tapi langkahnya terhenti saat mendengar percakapan antara papanya dan mama Susan. Elina menyembunyikan tubuh mungilnya di balik tirai.


"Rey, apa tidak sebaiknya kamu jelaskan ke Elina bahwa aku ini bukan mama kandungnya dan mama kandungnya adalah Susi, dan mamanya sudah meninggal saat melahirkan dia?" ucap Susan.


"Aku belum siap. Aku takut dia belum bisa mengerti, dia masih terlalu kecil untuk mengetahui yang sebenarnya. Aku takut bila dia tau kalau kamu bukan mama kandungnya dia akan membencimu."


Susan menggenggam tangan Rey.


"Rey, bagaimanapun dia harus tau bahwa aku ini bukan mama kandungnya. Sekarang ataupun besok itu sama saja. Kamu percaya padaku khan? Walau Elina akan membenciku, aku siap Rey. Lebih baik dia tau dari sekarang sebelum kita menikah."


"Apa maksudmu?! apa kamu akan membatalkan pernikahan kita?" Rey terkejut dengan ucapan Susan.


"Aku tidak mengatakan itu."


" Lalu?"


"Kalau Elina membenciku karena aku bukan mama kandungnya sebelum kita menikah, aku akan menunda pernikahan kita sampai aku bisa mengambil hatinya lagi untuk mencintaiku. Tapi kalau dia tau aku bukan mamanya stelah menikah dan dia membenciku, itu akan sangat menyakitkan bagiku dan bagi Elina."


"Bagaimana kalau dia tidak mau menerimamu lagi?"


"Aku tidak tau. Mungkin aku akan menyerah dan meninggalkannya."

__ADS_1


"Itu berarti kamu akan meninggalkanku juga?"


"Kemungkinan begitu. Aku tidak ingin melihatnya bersedih. Aku sangat menyayanginya apapun yang dia mau akan aku lakukan."


"Termasuk meninggalkanku?"


"Ya."


"Apa kamu tidak mencintaiku?'


"Bukankah kamu pernah bilang padaku, kamu mencari istri bukan hanya untukmu saja tapi untuk mama putrimu. Kalau pun kamu sangat mencintainya tetapi bila putrimu tidak mencintainya kamu akan melepaskannya."


"Tapi aku sangat mencintaimu dan aku tidak mau kehilangan kamu."


"Tapi kita tidak boleh egois Rey. Elina masih dalam masa perkembangan, aku tidak mau menggoreskan luka di masa ini karna itu akan dia ingat sampai dewasa nanti."


"Aku akan menjelaskannya setelah dia dewasa nanti dan kita akan tetap melangsungkan pernikahan!".


"Rey...."


"Aku tidak mau kehilanganmu. Mengertilah!"


Rey memeluk tubuh Susan, ada kepedihan bila membayangkan dia harus kehilangan orang yang sangat dia cintai.


Mereka tidak sadar kalau ada Elina yang setia mendengarkan pembicaraan mereka. Air mata anak itu mengalir di pipinya, tapi dia mencoba menahannya agar tidak bersuara.


Berlahan Elina berjalan meninggalkan papa dan mamanya menuju kamar.


Dipeluknya boneka Bear pemberian mama Susan dan dia menangis.


"Ma... maafkan Elina, Elina tidak tau kalau mama Susi sudah meninggal. Elina sayang sama mama Susan, Elina ga mau mama Susan ninggalin Elina, mama Susi sudah ninggalin Elina."


😭😭😭😭


"Non, non Elina kenapa menangis?"


Bibik heran begitu masuk kamar melihat Elina menangis.


"Bik, apa benar mama Elina sebenarnya sudah meninggal? dan mama Susan itu bukan mama Elina?"


"Maafkan Bibik sayang."


"Bibik mau khan menceritakan pada Elina?"


"Tapi non...."


Elina terus merajuk pada pengasuhnya, akhirnya bibik menyerah dan menceritakan semua kebenarannya pada gadis kecil itu. Dengan sangat hati - hati dia menceritakan dan memberi pengertian pada Elina.


Flasback off


Rey memeluk tubuh putrinya dan mencium pucuk kepalanya.


"Apa kamu marah sama papa sayang?"


"Tidak pa. Elina tidak marah sama siapapun. Bibik bilang Elina harus bersyukur punya papa seperti papa Rey dan Elina juga harus bersyukur menemukan mama Susan."


"Apa Bibik menceritakan tentang mama Susi juga?"


"Kata Bibik, mama Susi itu cantik, baik seperti mama Susan. Apa bener Pa?"


"Iya sayang. Mama Susi cantik dan baik seperti mama Susan. Dia juga sangat menyayangimu."


Rey menahan air mata kepedihan tapi juga bangga pada putrinya karna ternyata putrinya lebih bijaksana walau umurnya masih kecil.


"Apa kamu masih menyayangi mama Susan walaupun dia bukan mama kandungmu?"


"Aku sayang sama mama Susan, meskipun dia bukan mama Elina. Mama Susan baik dan cantik."


"Apa kamu mau kalau mama Susan menjadi mamanya Elina?"


"Mau Pa. Elina mau mama Susan tinggal di sini bareng kita. Biar setiap pagi mama selalu buat sarapan untuk Elina." ucap anak itu dengan girang.


"Papa juga mau mama Susan tinggal di sini, biar papa bisa peluk mama Susan terus."

__ADS_1


"Ih.... Papa genit. Papa ga boleh peluk Mama terus nanti mamanya kabur kalau papanya genit."


"Dasar anak nakal ya...." Rey menarik hidung putrinya.


Rey dan Elina terlibat saling kelitik dan tertawa.


Pintu terbuka.


"Mama....."


Elina langsung berlari begitu melihat Susan di depan pintu dan memeluknya erat.


"Mama, Elina sayang banget sama Mama, Elina ga mau Mama pergi."


Susan merasa bingung dengan sikap Elina, matanya melihat Rey meminta penjelasan. Rey hanya mengangkat bahunya.


"Mama, Mama jangan tinggalin Elin sama Papa ya?"


"Iya sayang, Mama ga akan ninggalin Elina sama Papa kok. Buktinya Mama hari ini ke sini karena Mama kangen sama kamu."


"Sayang, buruan kamu mandi dulu sama Bibik! katanya mau pergi." ucap Rey pada putrinya.


"Pergi kemana sayang?" tanya Susan.


"Hust...." Rey memberi kode pada putrinya.


"Siap Papa!" ucap Elina mengerti lalu berjalan keluar.


Susan menatap Rey tajam.


"Kalian mau pergi kemana?"


"Nanti juga kamu tau."


"Rey....."


Rey mendekati Susan.


"Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang."


"Siapa?"


"Rahasia."


"Rey...."


Rey mendekatkan wajahnya pada wajah Susan dan ingin mencium bibirnya tapi dengan cepat Susan menutup bibirnya dengan tangan.


"Kenapa?" tanya Rey bingung.


"Kamu belum mandi, masih bau iler."


"Sayang, ini bukan bau iler. Ini aroma keperkasaan."


"Mana ada aroma seperti itu?"


"Ada. Kalau kamu sudah merasakannya pasti ketagihan dan minta terus. Apa kamu mau mencobanya?" mata Rey genit.


"Otakmu mesum Rey!"


"He..he...he.."


"Sekarang saja kamu sudah mesum bagaimana kalau sudah menikah nanti."


"Aku akan memakanmu setiap malam dan setiap pagi."


"Kamu gila! cukup malam saja ga pakai pagi!"


"Sayang, serangan fajar itu lebih nikmat."


"Sana mandi dulu biar bersih tuh kepala!"


Susan mendorong tubuh Rey untuk menjauh dan dia berjalan keluar.

__ADS_1


"Sayang, kenapa tidak ada kiss pagi?"


__ADS_2