
Setelah Susan sembuh dan pulih, Rey mengajaknya berlibur ke pantai yang pernah mereka kunjungi bersama.
Mereka berjalan di sepanjang bibir pantai menikmati hembusan angin dan deburan ombak.
Pasir putih di sepanjang pantai menambah keindahan alam itu.
Sepanjang jalan pantai Rey menggandeng tangan Susan. Sesekali mereka berhenti hanya sekedar bermain dengan ombak.
"Apa kamu senang?" tanya Rey.
"Aku senang. Terimakasih sudah mengenalkanku pada tempat indah ini."
"Lihat rumah di pinggir pantai itu!".
Rey menunjuk satu rumah yang berukuran sedang tapi bernuansa modern dan elegan di sudut bibir pantai.
"Rumah siapa?"
"Apa kamu mau ke sana?"
"Nanti saja. Aku ingin menikmati indahnya suasana sore di sini."
"Mau menulis lagi?".
Rey memberikan ranting kecil pada Susan.
Susan mengambil ranting dari tangan Rey tetapi tidak menggunakannya untuk menulis, ranting itu dia lempar ke tengah air laut.
Mata Rey mengikuti ranting yang terbawa ombak.
"Tidak ada yang perlu di tulis lagi."
Susan menatap Rey.
"Apa kamu tau? ranting itu sangat kecil. Saat dia terbawa oleh besarnya ombak, maka dia akan terombang - ambing dan hilang. Aku tidak ingin menulis dengan sebuah ranting, aku ingin menulis dengan sebuah tinta emas dan aku tidak ingin menulis di atas pasir."
Susan meletakkan tangannya di dada Rey.
"Aku ingin menulisnya di sini. Apa aku boleh?"
Rey tersenyum dan menggenggam tangan Susan.
"Kamu sudah menulisnya di sini. Sejak pertama aku mengenalmu, tinta itu tidak akan pernah pudar dan hilang. Tinta itu bukan hanya terbuat dari emas tapi dia sudah menyatu dengan darahku."
Susan menatap Rey haru.
Rey mengusap pipinya dengan lembut.
"Aku akan selalu menjaga aliran darah ini agar apa yang kamu tulis tidak akan pernah hilang."
Susan memeluk tubuh Rey dengan erat.
"Terimakasih Rey."
Tiba - tiba rintik hujan mengguyur bumi.
Membasahi seluruh penghuni bumi termasuk dua anak manusia yang sedang berdiri di tepi pantai.
Rey dan Susan berlari ke rumah yang ditunjuk Rey.
"Rey....ini rumah siapa? apa ada orang di sini?" tanya Susan saat mereka tiba di teras depan rumah itu.
"Tidak ada orang. Hanya ada kita berdua."
"Lalu ini rumah siapa? apa tidak sebaiknya kita pulang saja Rey? aku takut."
__ADS_1
"Hey....ada aku di sini. Ini rumahku."
"Kamu bercanda Rey?"
"Tidak sayang. Ini memang rumahku. Susi senang datang ke pantai ini, kami sering menghabiskan waktu berdua di sini. Maka dari itu aku membeli dan membangun rumah kecil di sini hanya untuk menikmati keindahan pantai dan menyaksikan matahari terbenam. Sejak Susi pergi, aku tidak pernah ke sini lagi. Setiap aku ke sini, aku selalu ingat dia dan selalu menyalahkan diriku sendiri atas kepergiannya."
Rey menghentikan ucapannya.
"Sebaiknya kita masuk, diluar sangat dingin," lanjutnya.
"Apa kamu masih sangat mencintainya?"
"Aku akan terus mencintainya sepanjang hidupku. Apa kamu keberatan kalau aku masih mencintainya?".
"Tidak. Aku senang, kamu adalah pria yang setia pada hatimu."
"Terimakasih. Aku bersyukur Tuhan mengirimmu padaku dan Elina, kamu memberi hidup baru bagi kami."
Rey menatap Susan dengan penuh kelembutan, tangannya mengusap pipi wanita itu.
Perlahan Rey mendekatkan wajahnya pada wajah Susan. Perlahan tapi pasti.
Rey mencium bibir sexy wanita di depannya dengan lembut dan hangat.
Mereka saling menikmati kehangatan di tengah guyuran hujan.
Susan mendorong pelan tubuh Rey untuk menghentikan aksinya.
Air mata jatuh di sudut mata wanita itu.
"Kenapa kamu menangis? Maaf aku sudah lancang melakukannya," ucap Rey penuh penyesalan sambil mengusap air mata Susan.
"Kamu sudah merenggut ciuman pertamaku. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜"
Susan menangis karna Rey sudah mencium bibirnya. Ini adalah ciuman pertama yang dilakukan Susan sepanjang hidupnya.
"Tidak 😢😢"
Rey mendekap tubuh wanita itu dengan perasaan bahagia dan dia tertawa.
"Kenapa kau menertawakan ku?!"
"Aku bahagia sayang, karna aku orang pertama yang merasakan manisnya bibirmu."
"Kamu jahat!! kamu menertawakanku. Pasti kamu meledekku khan? selama ini aku belum pernah ciuman bibir, iya khan?"
"Tidak sayang. Serius aku malah senang mendengarnya."
"Bohong!!"
"Apa Riko tidak pernah melakukannya?"
"Tidak."
"Apa dia tidak pernah memintanya?" Rey penasaran.
"Pernah tapi aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Karna aku ingin ciuman pertamaku hanya untuk pria yang benar - benar akan menjadi suamiku."
"Kenapa saat aku cium kamu tidak menolaknya?"
"Rey...." ucap Susan malu dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Berarti tandanya aku adalah calon suamimu."
ucap Rey girang.
"Rey....kenapa kamu nakal sekali," Susan memukul lengan kekar pria itu.
"Tunggu dulu!! apa Aldo juga tidak pernah menciummu?"
"Rey...aku dan Aldo itu tidak ada hubungan apa - apa, dia itu kakakku jadi tidak mungkin dia macam - macam padaku."
"Apa kamu yakin dia tidak mencintaimu?"
"Yakin. Aku tau dia sangat menyayangiku dan aku pun menyayanginya juga tapi kami tidak mencintai, kami menyayangi seperti keluarga. Apa kamu mencurigai kami berdua?"
"Tidak sayang. Aku tau itu. Aldo sangat menyayangimu karna baginya kamu adalah nyawanya, ada darahmu dalam tubuh Aldo dan setiap dia melihatmu ada pribadi Selvi dalam dirimu."
" Selvi? darah apa?" Susan tidak mengerti maksud ucapan Rey.
"Ah...tidak. Lupakan saja!"
"No...no..no...Jelaskan padaku Rey! apa yang kalian sembunyikan dariku?"
"Tapi kamu harus berjanji jangan bilang sama Aldo?!"
"Aku janji."
"Kamu ingat, kamu pernah memberikan donor darah pada pasien yang bergolongan darah A Negatif? saat itu keluarga dan pacarnya menangis karna kesusahan mencari darah golongan itu. Pasien itu adalah Aldo. Saat dia sembuh dia berjanji akan mencari pendonor itu dan menjaganya. Setelah pencarian yang cukup lama dia menemukanmu. Dia bukan hanya menemukan pemilik darah itu tapi dia juga menemukan pribadi Selvi dalam dirimu."
"Siapa Selvi?"
"Adik Aldo. Dia meninggal saat kecelakaan bersama Aldo. Aldo sangat menyayangi Selvi bahkan dia rela melakukan apapun untuk adeknya itu. Makanya dia sangat menyayangimu."
"Kenapa Aldo tidak pernah cerita soal itu?"
"Aldo takut kamu meninggalkannya saat kamu mengetahui semua ini. Aldo tidak ingin kamu menganggap semua kasih sayangnya kepadamu hanya karna balas Budi."
"Apa dia tulus dan bukan karna balas Budi?"
"Dia tulus menyayangimu. Itulah yang dia takutkan kamu akan berpikir seperti itu."
"Seharusnya dia tidak perlu kawatir karna aku tidak akan pernah meninggalkannya. Aku sangat menyayangi Aldo dan Ana. Mereka keluargaku."
"Apa kamu yakin sayang?"
"Apa kamu keberatan jika aku masih sering manja pada Aldo?"
"Sebenarnya aku cemburu. Tapi aku percaya padamu."
"Apa kamu tidak marah saat Aldo memelukku?"
"Sebenarnya aku marah tapi aku tidak bisa melarangnya karna kalian sudah seperti itu sebelum aku hadir. Asal kamu tetap menjadi milikku."
Rey mencubit hidung Susan.
"Apa aku boleh melakukannya sekali lagi?" ucap Rey setengah berbisik di telinga Susan.
"Kenapa kamu jadi ketagihan?"
"Karna ini rasanya manis sekali sayang," ucap Rey sembari menyentuh bibir Susan dengan jarinya.
"Apa boleh?"
Susan menjawab dengan anggukan dan senyum malu.
Merekapun kembali menikmati manisnya cinta di tengah dinginnya malam.
__ADS_1
(eits.....hanya ciuman bibir ya...ga sampai ena - ena. Belum resmi)