Mutiara Hati

Mutiara Hati
Kepedihan Rey


__ADS_3

Sudah dua pekan Susan tidak berkunjung ke rumah Rey. Karna jadwal metting yang sangat padat dan banyak dokumen yang harus dia selesaikan. Untung Elina mau mengerti kesibukannya. Apabila gadis kecil itu rindu pada Susan mereka hanya melakukan panggilan video di sela - sela jam istirahat.


Akhir pekan ini rencananya dia kan berkunjung ke rumah Rey tapi ternyata Riko mengajaknya jalan.


Terpaksa Susan mengurungkan niatnya.


Sampai hari Minggu Susan baru bisa berkunjung dan bermain bersama gadis kecil itu.


"Papa kemana sayang?"


"Papa lagi ketemu temen ma di ruang kerjanya."


Rey memang sedang ada tamu hari itu.


Dia tidak bisa menolak tamu di hari libur. Karna sebagian koleganya bisa bertemu di hari libur kerja.


Setelah tamunya pulang, Rey bergabung dengan Susan dan putrinya.


"Ma...Elina ikut bibik ke supermaket ya?"


"Iya sayang. Hati - hati ya!"


"Iya ma"


Susan memperhatikan putrinya pergi.


"Rey..."


Rey menoleh ke arahnya.


"Apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?"


"Apa?"


"Masalah pribadimu."


"Pasti kamu mau menanyakan di mana istriku?"


"Ya"


Rey menghela napas panjang dan dalam sebelum menceritakan kisah tentang kehidupannya dan istrinya.


Flasback on


Sepasang suami istri sedang bercengkrama di halaman belakang rumah mereka.


Sambil menikmati kopi buatan istrinya pria itu memeluk pundak istrinya.


"Mas.."


"Hemmm .."


"Kalau anak kita lahir besok akan kamu kasih nama siapa?"


"Kalau dia perempuan Putri, kalau di laki - laki putra."


"Itu mah nama pasaran mas, yang lain donk!"


"Menurutmu apa nama yang bagus?"


"Bagaimana kalau Elina? Aku yakin anak kita perempuan mas."


"Bagus juga"


"Mas. Kalau suatu saat nanti aku tidak ada apa kamu akan tetap menyayangi anak kita mas?"


"Tidak boleh ngomong seperti itu!. Kamu akan tetap berada di sisiku. Kita akan besarkan anak kita bersama, hingga dia tumbuh besar dan kita akan membuatkan dia adek lagi."


"Kamu ini mas. Anak belum lahir sudah mikir buat lagi," wanita itu mencubit perut suaminya.


"Apa kamu tidak mau punya anak banyak? Anak banyak itu rame jadi nanti waktu kita tua banyak cucu kita tidak kesepian."


"Aku mau mas."


Pria itu mengecup mesra pucuk rambut istrinya.


Pernikahan mereka selalu di warnai oleh kebahagian. Dengan kehamilan istrinya, Rey semakin mencintainya dan mulai mengurangi jam kerjanya.


Susi adalah istri Rey. Wanita cantik yang Rey nikahi satu tahun yang lalu. Sejak kehadiran Susi dalam hidupnya, Rey merasa mempunyai semangat dan cinta.


Persalinan Susi di perkiraan dua bulan lagi. Waktu yang masih cukup lama. Susi pun menikmati kehamilannya Karna selama hamil Susi tidak pernah merasakan mual atau pun pusing. Kehamilan Susi sangat dinantikan oleh Rey dan keluarganya bukan hanya keluarga Rey saja tapi juga keluarga Susi.


Karna bagi mereka ini adalah cucu pertama.


Rey dan Susi Sama - sama merupakan anak tunggal.


Saat itu umur kehamilan Susi sekitar delapan bulan. Dan malam itu Rey mendapatkan kabar bahwa perusahaannya di luar negeri sedang mengalami masalah besar. Dan mengharuskan Rey pergi ke sana.


Sebenarnya Rey tidak mu meninggalkan Susi sendirian di rumah dan ingin membawa bersamanya. Tapi Susi tidak mau, dia lebih memilih di rumah.

__ADS_1


"Aku kawatir sayang. Ikutlah denganku karna aku akan di sana lebih dari seminggu!"


"Tidak mas. Aku di rumah saja. Lagi pula kan ada para bibik di sini. Ada mama Reka juga yang akan menemaniku selama mas Rey pergi."


"Tapi aku takut. Kamu ikut saja ya?" rayu suaminya.


Susi mencium bibir suaminya.


"Percayalah mas. Aku dan anak kita akan baik - baik saja."


"Apa kamu yakin sayang?"


"Aku yakin mas. Aku akan menjaga anak kita sampai bapaknya kembali dan sampai dia lahir," ucap Susi.


"Tapi kamu harus janji padaku. Kamu akan Baik - baik dan jaga diri."


"Iya mas, aku janji."


Rey memeluk istrinya dengan perut besar dan mencium keningnya.


"Aku sangat mencintaimu sayang."


"Aku juga mencintaimu mas."


Pagi itu Rey terbang ke luar negeri dengan perasaan takut. Entah kenapa Rey merasakan kesedihan yang mendalam saat dia meninggalkan istrinya sendirian.


Andai saja urusan kerjaan itu bisa di wakilkan pasti sudah dia suruh Dino yang berangkat. Tapi sayang hanya Rey sendiri yang harus menyelesaikannya.


Tiga hari Rey berada jauh dari istrinya. Hampir setiap saat Rey menanyakan kabar istrinya lewat telepon selulernya.


Hari ke empat Rey sangat sibuk sampai dia tidak sempet memberi kabar pada istrinya.


Tiba - tiba teleponnya berbunyi berkali - kali.


Rey sedang rapat penting, dia tidak menghiraukan hp nya.


Saat selesai rapat Rey melihat teleponnya. Di lihatnya ada lebih dari sepuluh kali panggilan tak terjawab.


Rey mencoba menghubungi balik tapi sibuk.


Tak ada jawaban.


Rey menghubungi ayahnya...sama, sibuk.


Pikiran Rey semakin kalut. Dia takut terjadi sesuatu pada istrinya.


Terakhir Rey menghubungi Dino asistennya.


Rey terkejut saat mendengar bahwa istrinya pingsan dan dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Tanpa pikir panjang Rey langsung memesan tiket pesawat dan kembali.


Di rumah sakit, dua keluarga tampak panik dan menangis. Mereka berada di ruang tunggu UGD.


Dokter yang memeriksa Susi keluar dengan wajah yang tidak meyakinkan.


"Apakah ada suami pasien?" tanya dokter itu.


"Suaminya sedang di luar negeri dokter. Saya papanya."


"Saya harus berbicara dengan suaminya."


"Apa tidak bisa di wakilkan dokter? Kami di sini semua keluarganya, dia menantu kami dan mereka orangtuanya."


"Maaf pak tidak bisa. Ini menyangkut dua pilihan."


"Maksud dokter apa?!"


"Kita harus menyelamatkan salah satu dari pasien. Karna untuk menyelamatkan dua - duanya itu tidak mungkin. Malah sebaliknya kita bisa membahayakan mereka bila tidak segera di tangani."


"Selamatkan istri saya dokter!"


Rey tiba - tiba muncul di belakang mereka.


"Rey...kamu sudah datang nak? istrimu nak dia pingsan."


"Iya ma..Rey sudah tau. Ini semua salah Rey ma, seharusnya Rey tidak meninggalkan dia sendirian di rumah."


"Tidak nak...ini salah mama juga. Mama harusnya tidak pergi belanja tadi," ucap mama Reka penuh penyesalan.


"Bagaimana tuan? Siapa yang akan kita selamatkan?" tanya dokter memperjelas.


"Selamatkan istri saya dokter!"


"Baiklah kalau begitu. Kami akan melakukan operasi pada pasien sesegera mungkin."


"Dokter, bolehkah saya menemui istri saya sebentar?"


"Silahkan tapi jangan lama - lama. Kita berpacu dengan waktu."

__ADS_1


"Baik dokter."


Rey masuk menemui istrinya yang terkulai lemas di atas brankar rumah sakit.


Dia menggenggam tangan istrinya dan menangis. Di ciumnya berkali - kali wajah pucat di depannya.


"Sayang...bangunlah! jangan tinggalkan aku. Bukankah kamu berjanji akan menungguku dan membesarkan anak kita bersama - sama. Aku mohon bangunlah sayang. Kamu harus bisa. Aku tau kamu kuat sayang. Bangunlah!, bangunlah sayang!"


Tangis Rey tak terbendung. Baru kali ini pria itu menangis.


"Maaf tuan kami harus melakukan operasi sekarang."


"Tolong selamatkan istriku dokter!"


Rey melepas istrinya masuk ruang operasi.


Hampir satu jam mereka menunggu.


Seorang dokter keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana istri saya dokter?"


"Kami sudah berusaha semampu kami. Anak bapak selamat tapi harus dilakukan perawatan khusus dan istri bapak.."


"Katakan istri saya kenapa dokter!. Bukannya tadi saya bilang selamatkan istri saya!. Kenapa dokter tidak melakukannya?!" Rey mulai meninggikan suaranya dan marah.


"Rey sabarlah nak."


"Tidak pa. Susi istriku pa."


"Papa tau sayang"


"Dokter tolong katakan bagaimana keadaan menantu saya?!"


"Menantu anda saat ini sedang dalam masa kritis tuan. Kami sudah berusaha menyelamatkannya. Semoga pasien bisa melewati masa kritisnya."


"Rey Kamu dengar?. Dokter sudah berusaha. Mereka menyelamatkan istrimu dan anakmu meskipun mereka harus mendapatkan perawatan khusus. Kamu harus kuat demi mereka."


"Rey takut pa...Rey takut kehilangan Susi. Rey sangat mencintainya."


Rey menangis dalam pelukan papanya.


"Kami juga sangat mencintainya Rey."


Setelah operasi Susi menjalani perawatan intensif di ruang ICU pada tubuhnya terpasang alat bantu napas dan lainnya.


Di saat jam kunjung Rey menemui istrinya yang terbaring tak berdaya.


"Sayang...kamu pasti kuat. Aku mohon jangan tinggalkan kami!"


Saat Rey menemani istrinya tiba - tiba monitor berbunyi tanda peringatan bahaya.


Dokter dan perawat langsung berlarian mendatangi pasien.


Rey semakin kalut melihat kondisi istrinya saat itu. Dokter melakukan RJP pada pasien beberapa kali tapi hasilnya nihil.


Pasien tidak dapat di selamatkan lagi.


Rey memeluk tubuh istrinya kuat sambil menangis.


Kini dia kehilangan orang yang paling dia cintai.


Dunia seakan runtuh dan menimpanya.


Sejak kepergian istrinya Rey sering keluar malam dan mabuk.


Pekerjaannya terbengkalai, untung ada Dino yang bisa menghendelnya.


Rey menjadi jiwa yang rapuh. Aldo dan Dino selalu memberinya nasehat.


Bahkan mereka rela tinggal bersama Rey hanya untuk mengawasinya.


Mereka takut Rey melakukan tindakan yang membahayakan dirinya.


Bahkan Rey tidak mempedulikan putrinya sama sekali.


Putrinya masih harus mendapatkan perawatan karna kondisinya belum stabil.


Kerja keras Aldo dan Dino tidak sia - sia. Beberapa bulan setelah kepergian Susi, Rey mulai mau pergi ke perusahaan lagi.


Tapi Rey menjadi gila kerja dan dingin.


Rey tidak mengenal hari libur. Dia hanya menghabiskan waktu untuk bekerja.


Hingga putrinya berumur dua tahun. Rey mulai memperhatikan putrinya dan mengurangi kerjanya.


Itu pun tidak luput dari ocehan mamanya.


Flasback off

__ADS_1


__ADS_2