
Susan berjalan selangkah lebih cepat dari Rey di dorongnya dengan kasar pintu ruang Aldo lalu dilemparkan tasnya di atas sofa, disusul Rey dibelakangnya.
Aldo yang sedang membaca dokumen kaget melihat tingkah kedatangan mereka tanpa permisi dan basa - basi.
"Apa yang terjadi?" tanya Aldo penasaran, menatap Susan dan Rey bergantian.
"Tanya saja pada dia!" ucap Susan kesal sambil menyilangkan kakinya dan tanggannya di depan dada.
Aldo menatap Rey penuh tanya.
"Tidak ada. Hanya masalah kecil." ucap Rey lalu duduk di depan Susan. Matanya menatap Susan.
"Apa kalian bertengkar?"
Aldo duduk di samping Susan.
Suasana hening tidak ada jawaban, Rey masih menatap Susan sedangkan Susan mengarahkan pandangnya ke luar jendela kaca.
"Rey...?!" Aldo menatap Rey mencari jawaban.
Rey menyenderkan kepalanya di sandaran sofa dan mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan.
Merasa tidak mendapat jawaban dari Rey, Aldo meraih bahu Susan dan menghadapkan tubuh wanita itu ke arah dirinya.
"Katakan apa yang terjadi pada kalian?!"
"Dia cemburu pada Dika, direktur Teen Group."
Aldo melepaskan tangannya dan berjalan ke kursi kebesarannya.
"Kalian seperti anak kecil."
Susan berjalan ke arah meja Aldo dan menyerahkan dokumen kerjasama.
"Ini dokumen kerjasamanya, mereka menunggu jawaban darimu."
Susan membalikkan badannya dan hendak keluar.
"Apa kamu mengenal direkturnya dengan baik?".
Aldo menahan tangan Susan. Wanita itu membalikkan tubuhnya menghadap Aldo.
"Dia teman kuliahku. Aku rasa dia orang baik dan dapat dipercaya. Coba kamu pelajari saja dulu dokumennya!".
"Bukan itu maksudku."
"Apa?! jangan bilang kamu juga mencurigaiku sama seperti Rey!"
"Aku hanya bertanya, tidak mencurigaimu. Lagi pula aku berbeda dengan Rey, aku tidak mudah cemburu seperti dia." Ucap Aldo matanya menatap Rey.
"Kami hanya teman biasa, dia juga temannya Riko dan kami tidak mempunyai hubungan apa - apa."
"Apa kamu yakin?"
"Ya."
"Bagaimana dengan Dika? apa dia juga hanya menganggapmu sebagai teman biasa dan tidak mempunyai perasaan terhadapmu?"
"Itu bukan urusanku. Apa aku bisa melarang seseorang untuk tidak menyukaiku?"
"Tidak." jawab Aldo.
"Dika memang pernah mencintaiku tapi itu dulu dan kami tidak pernah pacaran."
"Karna dia kalah cepat dengan Riko. Coba kalau dia duluan yang bilang cinta, pasti kalian juga pacaran," sahut Rey.
"Terserah apa katamu Rey!" Susan kesal dengan ucapan Rey.
Aldo berdiri dan menarik tangan Susan lalu mendudukkannya di kursi miliknya.
Dia memutar kursi agar menghadap padanya, tangannya diletakkan pada kedua sisi sandaran kursi dan membungkukkan tubuhnya lebih dekat pada Susan.
__ADS_1
"Katakan padaku! apa kamu pernah mempunyai perasaan yang sama pada Dika?" ucapnya lembut.
Susan menatap mata Aldo.
"Apa kamu mencoba mengintrogasi ku?"
"Tidak sayang, aku hanya ingin tau saja."
Aldo mengacak lembut rambut Susan.
"Tidak. aku tidak pernah mencintainya. Aku hanya menganggapnya sebagai teman dan aku juga yakin, dia pun begitu."
"Kalau kamu yakin dia sepertimu, aku percaya padamu."
"Apa kamu percaya padaku?" Susan tampak senang.
"Ya. Aku percaya padamu." Aldo menarik lembut hidung Susan.
"Bagaimana dengan dia?" ucap Susan mengarahkan matanya pada Rey.
"Aku yakin dia juga percaya padamu." Aldo melirik Rey.
Rey tidak memberi tanggapan.
"Tapi dia hampir membunuhku."
Aldo menatap tajam Rey meminta penjelasan.
Rey berjalan mendekati Susan dan menggenggam tangannya lembut.
"Sayang...aku kan sudah minta maaf, aku tidak sengaja melakukan itu. Tadi aku hanya terbawa perasaan, aku cemburu melihatmu dengan pria itu."
"Apa yang sudah kamu lakukan?!" tanya Aldo
"Aku tidak sengaja menghentikan mobil secara mendadak dan kepala Susan membentur dasboard mobil."
"Apa kamu sudah gila Rey?!"
"Maaf, aku tadi hanya kesal."
"Aku tidak akan mengulanginya," ucap Rey penuh penyesalan.
"Kalian selesaikan saja! Jangan seperti anak kecil. Sudah punya anak satu masih saja kayak anak ABG yang baru pacaran."
Aldo berjalan ke arah sofa dan duduk menyilangkan kakinya. Kali ini Aldo akan menjadi penonton yang baik.
Rey berjongkok dengan bertumpu pada satu lutut di hadapan Susan.
"Sayang...kamu mau khan maafin aku? aku janji ga akan mengulanginya lagi."
Susan hanya menatap Rey tanpa ada jawaban.
"Sayang...ayolah jangan menghukumku seperti ini, aku mohon...."
Rey mengatupkan kedua tangannya meminta maaf.
"Aku janji akan melakukan apa pun asal kamu mau maafin aku."
"Apa kamu yakin?"
"Ya...aku janji..." ucap Rey semangat.
"Apa pun yang aku minta?"
"Ya...apa pun yang kamu minta..."
"Kalau aku minta kamu pergi dari hadapanku sekarang juga, apa kamu mau memenuhinya?"
"Sayang..."
"Kenapa? Katanya apapun..."
__ADS_1
"Tapi jangan itu...sama saja kamu tidak memaafkanku tapi mengusirku."
"Ya sudah kalau tidak mau, aku tidak akan memaafkanmu sampai kapan pun."
Susan mengalihkan wajahnya dari hadapan Rey.
Rey berdiri dan melepaskan tangan Susan.
"Baiklah kalau memang itu maumu, aku akan pergi dari hadapanmu," ucap Rey menyerah.
Rey berjalan kearah pintu. Saat dia hendak membuka pintu tiba - tiba Susan memeluknya dari belakang.
"Apa kamu akan meninggalkanku sungguhan?" ucap Susan.
"Lepaskan! bukankah kamu yang menginginkannya?"
Rey mencoba menepiskan tangan Susan tapi Susan memeluknya dengan lebih erat.
"Aku hanya bercanda, aku tidak sungguhan mengusirmu."
"Tapi aku menganggapnya sungguhan."
"Maafkan aku. Aku tidak mau kamu pergi."
Susan menyandarkan kepalanya pada punggung Rey dan menangis.
Rey tersenyum puas.
"Tapi kamu sudah mengusirku itu tandanya kamu tidak mencintaiku lagi." ucapnya dibuat seolah - olah masih marah.
"Aku tidak mengusirmu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Ucapnya masih dengan menangis.
"Aku tidak dengar."
"Aku mencintaimu Rey, aku tidak mau kamu meninggalkan aku."
Rey membalikkan tubuhnya menghadap Susan dan memegang pipinya dengan kedua tangan. Mengusap air mata Susan.
"Aku juga sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu jadi jangan pernah berpaling dariku!".
"Apa kamu serius..?"
"Serius sayang. Apa kamu tidak percaya padaku?"
"Aku percaya."
Rey mencium lembut pucuk kepala Susan dan memeluknya mesra.
Aldo merasa sedang menonton film percintaan kedua remaja yang sedang dimabuk cinta.
"Yah....habis deh filmnya. Endingnya tidak seru. Harusnya endingnya itu si cewek marah - marah dan si cowok pergi meninggalkan ceweknya, terus bunuh diri, Mati. Si cowok jadi gila karna ditinggal ceweknya, lari - lari dijalan tanpa pakai celana. Itu baru seru," ucap Aldo.
"Aldo....." ucap Susan malu.
"Kamu pikir aku orang gila!" ucap Rey.
"Lain kali kalau mau buat drama jangan di ruanganku!. Bikin baper aja, main peluk - peluk di depanku."
"Apa kamu juga mau dipeluk Aldo?" goda Susan.
"Pastilah. Sini peluk kakakmu yang lagi baper!" Aldo merentangkan tangannya pada Susan.
Susan menatap Rey dan Rey menganggukan kepalanya mengijinkan.
"Kenapa harus minta persetujuan Rey?!" ucap Aldo.
Susan memeluk Aldo.
"Dia itu milikku, wajar kalau dia minta persetujuanku."
"Tapi dia adikku, aku lebih dulu mengenalnya."
__ADS_1
"Tapi dia milikku."
Mulai deh Tom and Jerry pindah tayang di ruangan Aldo.