Mutiara Hati

Mutiara Hati
Polos atau Bodoh


__ADS_3

Susan menatap serius layar monitor di depannya.


Tangannya dengan terampil menekan tuts keyboard.


Terkadang membuka berkas di sebelah kanannya dan matanya bergerak ke kanan dan ke kiri.


"San....." panggil Mela.


" Hemm..." tanpa memalingkan pandangannya dari layar monitor.


"Susan.."


"Hemmm..."


"Susan..." suara Mela semakin kencang.


"Apa sih Mela?!. Kamu tidak tau aku sedang sibuk?" masih tidak berpaling dari monitor dan berkas.


"Susan.."


"Mel....kenapa suaramu menjadi suara laki - laki?"


"Apa kamu tidak bisa sedetik saja memalingkan matamu ke sini?"


Susan mengarahkan matanya ke sumber suara.


"Eh...Pak Aldo. Maaf pak saya tidak lihat."


Susan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mela tersenyum melihat Susan salah tingkah di depan Aldo.


"Aku tunggu di ruangan ku!"


"Baik Pak."


Aldo meninggalkan mereka.


"Kenapa kamu tidak bilang kalo ada Pak Aldo tadi?!" sambil mencubit Mela sahabatnya.


"Kamu saja yang tidak peka. Aku sudah memanggilmu dari tadi. Malah kamu bilang suaraku berubah jadi laki - laki."


"Hee he he maaf"


Susan berjalan menuju ruang Aldo.


Tok tok tok


Susan masuk dan berjalan ke arah Aldo.


"Apa kamu tidak merindukan aku San?"


"Tidak"


"Ya sudah kalo tidak, kamu boleh keluar dari ruangan ini!" ucap Aldo


Aldo membolak balik dokumen di mejanya tanpa menghiraukan keberadaan Susan.


Susan mendekati Aldo.


"Ini untukmu," dia menyodorkan kotak musik


"Aku tidak mau."


"Hey...kenapa kamu seperti anak kecil?. Suka sekali ngambek. Jelas aku merindukanmu.'


Susan merangkul lengan Aldo.


"Benar kamu rindu Kakakmu ini?" Aldo menatap Susan.


"Iya lah. Kalau aku tidak rindu, aku tidak akan kembali ke kota ini. Lebih baik aku jalan - jalan dengan Rey."


Aldo membuka matanya lebar mendengar kata Rey.


"Jangan bilang kalau kamu suka sama Rey?!"


"Ha ha ha ...tidak"


"Lalu apa yang kalian lakukan di sana?"


"Ya meninjau lahan proyek. Emang apalagi yang kami kerjakan?"


"Kerjaan itu harusnya sabtu siang jam satu selesai, sesuai jadwal. Kenapa kalian pulang hari Minggu?"


"Dari mana kamu tau kalau jadwal kunjungan hanya sampai jam satu siang?"


"Hey....yang membuat jadwal itu aku. Tentu saja aku tau."


"Kenapa kamu tidak memberitahu aku?"


"Memangnya Rey tidak memberitahumu?"


"Tidak"


"Dasar Rey. mencari kesempatan dalam kesempitan," ucap Aldo lirih.


"Apa katamu?"


"Tidak ada"


"Kalau aku tau jadwalnya hanya sampai jam satu siang khan aku bisa langsung pulang."


"Tapi kamu senang khan bisa berduaan sama Rey?"


"Seneng apanya?. Aku khan jadi tidak bisa ketemu Elina."


"Masih ada hari lain."


"O ya. Apa kamu tau kemarin Bos DJ Company tidak datang?"


"Apa kamu yakin dia tidak datang?"

__ADS_1


"Ya...hanya ada aku dan Rey."


Aldo tersenyum.


Polos atau bodoh kamu Susan. Kamu pikir Rey itu siapa? Dia bosnya.


"Kenapa kamu senyum - senyum sendiri?"


"Aku menertawakan kebodohanmu."


"Enak saja kamu bilang aku bodoh!" Susan meninju lengan Aldo.


"Aldo..."


"Hemm.." tanpa melihat Susan dia membolak balik dokumen di depannya.


"Apakah Rey itu belum menikah?"


Aldo menghentikan tangannya dan menatap Susan.


"Apa kamu suka pada Rey?"


"Tidak. Hanya tanya saja."


"Bertanya itu pasti ada alasannya."


"Hanya sekedar ingin tau saja. Kalau sudah menikah kenapa dia keluar kota di hari libur. Harusnya hari libur itu untuk keluarga."


"Rey itu pekerja keras. Dia tidak suka mengecewakan rekan bisnisnya. Dan dia tidak suka kerja setengah - setengah. Dia itu orang yang perfec."


"Lalu bagaimana dengan istrinya?'


"Dia belum punya istri. Apa kamu mau menjadi istrinya?"


"Jangan ngacau!"


Ceklek...


"Rey...??"


Susan kaget melihat Rey ada di sini.


"Panjang umur sekali kamu Rey."


"Apa kalian sedang menggosipi aku?"


"Dia tuh nanya apa kamu sudah punya istri?"


"Apa kamu mau mendaftar jadi istriku Nona cantik?" Rey menggoda Susan


"Kalian sama sama gila!"


Rey dan Aldo tertawa melihat kejengkelan Susan.


"Kalo aku jadi bosmu sudah ku pecat asisten sepertimu Rey" ucap Susan kesal.


"Asisten?" Aldo bingung dan menatap Rey minta penjelasan.


Ah....sandiwara apa lagi kamu Rey?


"Bosku itu terlalu sayang padaku Nona. Jadi dia tidak akan berani memecatku. Malah dia akan merindukan ku bila aku jauh darinya," ucap Rey matanya melirik pada Aldo.


Aldo yang mendapat lirikan Rey menjadi salah tingkah. Aldo tau bahwa kata - kata Rey ditujukan pada dirinya.


"Jangan - jangan kamu dan Bos mu..??? gay"


Susan bergidik sendiri membayangkan kata - katanya sendiri.


Rey tersenyum jail.


"Apa kamu ingin mencoba kejantananku Nona?"


Rey mencolek tangan Susan.


"Dasar laki - laki gila!!"


"Ehem...ada orang di sini Tuan dan Nona."


Aldo merasa menjadi obat nyamuk di ruangannya sendiri.


"Apa kamu cemburu Bos?"


"Kamu memang gila Rey!"


Rey tersenyum menang.


"Apa kamu tidak ada kerjaan Rey? hari Senin sudah ngeluyur ke kantorku."


"Tidak. Aku hanya ingin mengajak sekertarismu ini makan siang," mata Rey melirik pada Susan yang ada di sampingnya.


"Aku tidak mau. Laporan ku tentang proyek kemarin belum selesai."


"Aku sudah bilang padamu jangan kawatir tentang laporan itu. Aku sudah menyelesaikannya, jadi kamu tidak perlu membuat lagi."


"Tapi..."


"Tidak ada penolakan. Yang harus kamu lakukan saat ini adalah menemaniku makan siang."


"Biar aku yang menemanimu," ucap Aldo.


"Aku tidak mengajakmu!" Rey menatap tajam Aldo.


"Baiklah aku mau menemanimu asal Aldo ikut dengan kita."


Susan melihat keanehan pada mereka berdua.


Aldo tersenyum menang mendengar kata - kata Susan.


"Tidak bisa!!" ucap Rey


"Kalau tidak bisa. Aku tidak mau!"

__ADS_1


"Baiklah. Kamu menang hari," ucap Rey pada Aldo.


Aldo kembali tersenyum, beda dengan Rey dia merasa kalah kali ini dengan Aldo.


Sampai di parkiran mereka ribut lagi.


"Susan kamu naik mobilku!" ucap Rey.


"Dia denganku?" sahut Aldo


"Tidak, dia harus naik mobil ku!"


"Dia sekertarisku!"


Susan heran melihat tingkah dua orang di depannya itu.


"Stop!!!!! " teriaknya.


"Kita bertiga naik mobil Aldo saja. Rey kamu duduk didepan dengan Aldo!. aku akan duduk dibelakang. Kalau kalian tidak mau, tidak usah makan."


Rey dan Aldo saling memandang.


Mereka bertiga akhirnya naik mobil Aldo.


"Aku heran sama kalian berdua, seperti anak kecil," ucap Susan kesal.


Rey dan Aldo kembali saling memandang.


"Kamu yang seperti anak kecil," ucap Aldo pada Rey.


"Kamu terlalu over protektif pada sekertarismu."


"Aku hanya tidak ingin melepasnya terlalu mudah untukmu."


"Aku akan mendapatkannya demi putriku."


"Jangan jadikan putrimu sebagai alasan."


Susan melihat percakapan mereka tapi dia tidak begitu mendengar apa yang mereka katakan karna suara mereka sangat kecil.


"Apa lagi yang kalian ributkan?!"


"Tidak ada," jawab mereka serempak.


Mereka sampai di sebuah restauran ternama di kota itu.


Mereka memesan makanan ala seafood.


"Apa hari ini kamu jadi menemui gadis kecilmu San?" tanya Rey


"Entahlah. Aku takut dia belum pulang."


"Memang gadis kecil itu kemana?" tanya Aldo penasaran.


"Kemarin waktu aku dan Rey ke rumahnya, dia tidak ada di rumah. Menginap tempat omanya," jelas Susan.


Aldo melirik Rey curiga.


"Iya kemarin aku mengantar Susan ke sana sepulang dari bandara," Rey gugup karna Aldo terus menatapnya.


Kamu hutang penjelasan padaku Rey soal asisten dan soal Elina, Gumam Aldo dalam hati.


"Mungkin saja hari ini dia sudah pulang." lanjut Rey.


"Apa kau yakin?" tanya Susan.


"Coba saja!"


"Dia pasti sudah pulang. Datanglah kesana setelah ini biar kami antar. Kamu tidak usah ke kantor lagi," ucap Aldo.


Uhuk uhuk


Rey tiba - tiba tersedak.


"Kamu kenapa Rey?" ucap Aldo santai.


"Kamu tidak apa - apa Rey?" Susan menyodorkan minum pada Rey.


"Jangan kawatir!. Dia tidak akan mati."


"Aku ke toilet sebentar."


Rey berjalan ke toilet.


Sialan Aldo. Aku harus menelpon oma untuk membawa Elina pulang. Jangan sampai Susan kecewa lagi.


Rey menghubungi seseorang lewat telepon selularnya.


Setelah selesai Rey kembali menghampiri Aldo dan Susan.


"Apa sudah beres Rey ?" Aldo tersenyum licik pada Rey.


"Tunggu pembalasanku!"


"Bisa gila aku melihat tingkah kalian berdua."


"Dia. Bukan aku," ucap Aldo


"Dia.." balas Rey.


"Kalau kalian tidak bisa diam aku pergi saja!"


Susan berdiri.


"Jangan," kembali mereka serempak


"Duduklah!. Kami janji tidak akan ribut lagi."


Aldo memenggang tangan Susan dan membawanya duduk.


"Inget istri di rumah lagi hamil bro.." ucap Rey sembari menggerakkan matanya ke sembarang arah menghindari tatapan tajam Aldo.

__ADS_1


Sesuai janjinya, mereka tidak berdebat lagi tapi hanya ada keheningan hingga acara makan siang selesai.


__ADS_2