
Malam ini Rey tidak mampu memejamkan mata dengan tenang.
Dia memutar otaknya untuk menemukan ide agar bisa menangkap basah Merry. Karna dia tidak mungkin membereskannya bila tidak ada bukti.
Bagaimanapun dia tidak mau gegabah, karna itu akan membahayakan putrinya dan Susan.
Rey mencoba lagi memejamkan matanya.
Mimpi.
Rey memutarkan pandangannya. Dia berada pada gurun pasir yang sangat luas. Suasana sangat sepi dan sunyi.
Rey mencoba terus berjalan.
Matanya menangkap sosok wanita cantik di hadapannya. Wanita itu mengenakan baju serba putih cemerlang. Dan dia tersenyum pada Rey. Wajahnya bersinar.
Wanita itu melambaikan tangannya memanggil Rey.
Rey berjalan semakin mendekat. Tampak jelas wajah wanita itu tersenyum manis.
"Susi....Susi sayang itu kamu sayang? aku sangat merindukanmu. Jangan pernah tinggalkan aku sendiri sayang!"
Rey berusaha meraih wanita itu, tapi sia - sia. Bayangan itu semakin menghilang.
"Susi....Jagan tinggalkan aku sayang!. Sayang kamu di mana? Ku mohon kembalilah!"
Rey terus berteriak memanggil nama istrinya.
Rey terus berjalan mencari istrinya.
"Susi..aku mohon kembalilah...!! aku sangat merindukanmu."
Rey membalikkan tubuhnya. Di lihatnya seorang wanita lain.
Wanita itu tersenyum pada Rey. Wajahnya pucat tapi tetap terlihat cantik.
"Rey....tolong aku...!!" ucap wanita itu memohon.
"Susan...apakah itu kamu? Kenapa wajahmu pucat sekali? apa yang terjadi padamu?"
Rey menyentuh wajah itu.
"Rey...aku mencintaimu."
Bayangan wanita itu kembali menghilang.
"Susan ...Susan...di mana kamu? jangan tinggalkan aku!. Aku sangat mencintaimu. Kembalilah!"
Rey menjatuhkan dirinya di atas pasir.
Dia menggunakan lutut untuk menopang tubuhnya.
Tangannya terkulai lemas.
"Kenapa kalian semua meninggalkan aku? Apa kalian tidak mencintaiku lagi? Kenapa dunia ini tidak adil? Susi...aku merindukanmu. Kenapa kamu pergi sayang? Susan ...kenapa kamu juga ikut meninggalkanku? Apa kalian tidak mencintaiku?", Rey semakin berteriak.
Dua wanita cantik berdiri di hadapannya. Wanita itu terlihat sangat cantik, wajahnya di hiasi senyum tulus. Tangannya saling bergandengan.
"Susi.....Susan...apakah kalian datang untuk menjemputku sayang?"
Kedua wanita itu melambaikan tangan pada Rey.
"Jaga putri kita Rey...!" ucap kedua wanita itu bersamaan. Lalu perlahan menghilang.
"Tidak...kalian tidak boleh meninggalkan aku...tidak...tolong kembalilah!!"
Rey terbangun dari tidurnya. Napasnya cepat dan dangkal.
Apa arti mimpi itu? Apakah Susan dalam bahaya? Tidak. Aku tidak akan membiarkan dia dalam bahaya.
Susi...aku mohon jangan bawa Susan bersamamu.
Sementara di tempat lain, Merry sedang menikmati wisky dalam gelasnya.
__ADS_1
Wajahnya penuh dengan ketegangan dan kesal.
"Sialan!!. Wanita itu tidak menuruti perkataanku. Dia sudah Berani melawanku," ucap Merry kesal.
"Apa perlu kita bereskan wanita itu?," tanya salah satu pria kekar di depannya.
"Kita tunggu waktu yang tepat. Aku yakin Rey tidak tinggal diam. Dia pasti melindungi wanita itu."
"Bagaimana dengan anak kecil itu?"
"Sementara biarkan saja. Nanti kalau Rey sudah dalam genggamanku, aku akan membuang anak sialan itu."
"Sekarang apa yang harus kami lakukan?"
"Tetap awasi wanita itu jangan sampai lolos dari incaranmu!"
Merry mendengus kesal.
Siang ini Aldo mendatangi kantor Rey. Rey memintanya datang.
"Kenapa kamu menyuruhku ke sini Rey?"
"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu"
"Soal wanita itu?"
"Ya. Susan dalam bahaya."
"Apa maksudmu?"
"Semalam aku bermimpi. Dia minta tolong padaku. Susan meninggalkanku dia pergi bersama Susi. Aku takut hal buruk terjadi padanya."
"Itu hanya mimpi Rey"
"Tidak. Itu bukan hanya sekedar mimpi."
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Kamu tetap lindungi Susan. Perketat penjagaannya aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya."
"Tapi ingat jangan sampai mereka tau kalau kita mengawasinya."
"Aku sendiri yang antar jemput dia."
" Baguslah. Tapi ingat jangan terlalu sering memeluknya"
"Hey...sejak kapan kamu jadi cemburu seperti ini? Susan saja belum menerima cintamu secara resmi. Dia belum mengatakan bahwa kamu kekasihnya."
"Dia hanya malu mengucapkan di depanmu karna dia takut kamu akan syok mendengarnya."
Pintu terbuka. Dino masuk.
"Dino...apa ada perkembangan tentang wanita itu?"
"Sepertinya dia tau kalau Susan di jaga ketat oleh orang - orangnya Aldo"
"Aldo...bukankah sudah kubilang jangan sampai mereka tau soal itu"
"Aku sudah menyuruh anak buahku untuk hati - hati"
"Bukan salah mereka. Mereka sudah melakukan tugasnya dengan baik," ucap Dino.
"Lalu apa?"
"Kemarin ada orang yang mencoba untuk menerobos rumah Susan. Tapi digagalkan oleh anak buah Aldo. Dari situ mereka mengetahuinya."
"Sialan. Mereka sudah beraksi," ucap Aldo geram.
"Kita harus memancing mereka keluar."
"Caranya?"
"Kita gunakan Susan untuk umpan"
__ADS_1
"Apa kamu sudah gila Dino? Aku tidak setuju dengan ide gilamu itu," ucap Aldo.
"Aku juga tidak setuju. Itu akan membahayakan nyawanya."
"Lebih baik Susan tidak usah kenal dengan Rey kalau nyawanya terancam."
Rey melotot mendengar perkataan Aldo.
"Sekarang bukan waktunya untuk berdebat. kita harus cari cara lain," ucap Dino.
"Apa kamu punya ide lain selain ide konyolmu itu?"
"Ada"
"Apa?" Rey dan Aldo hampir bersamaan.
"Kalian ini ya sangat kompak. Wajar saja kalau Susan selalu nempel dengan kalian. Coba saja kalau aku sering bertemu dengannya, pasti dia akan lebih memilihku dari pada kalian."
"Masih mau hidup ga kamu?" ucap Rey kesal.
"Sudah. Sekarang apa rencanamu?," ucap Aldo.
"Kita tetap pancing wanita itu. Tapi kali ini aku akan meminta bantuan temanku. Dia seorang wanita, postur tubuhnya hampir sama dengan Susan. Kita bisa menggunakan dia."
"Bagaimana dengan keselamatannya?"
"Dia pandai pencak silat dan taekondow. Aku yakin dia bisa jaga diri."
"Apa dia mau membantu kita?"
"Ini usul darinya dan dia bersedia."
"Kapan kita jalankan?"
"Secepatnya"
"Baiklah"
Persiapan penjebakan sudah berlangsung.
Wanita yang hampir mirip dengan Susan berjalan sendirian di tengah remang - remang cahaya lampu jalan.
Tidak ada tanda - tanda bahaya mengintainya.
Hari pertama aman.
Hari kedua masih aman.
Hari ke tiga wanita itu kembali berjalan dengan santai. Dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang. Dia mempercepat langkahnya dan lelaki di belakangnya pun ikut mempercepat langkahnya. Wanita itu menghilang, lelaki yang mengejarnya mencari ke sana kemari.
Mangsa sudah di tangan. Mereka sengaja tidak menangkap pria itu. Tapi memata - matainya balik. Untuk mengetahui di mana markas mereka.
Usaha yang mereka lakukan tidak sia - sia.
Mereka sudah mengetahui keberadaan wanita itu dan markas tempat mereka berkumpul. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan aksinya.
"Apa wanita itu masih dalam penjagaan?" tanya Merry pada anak buahnya.
"Sepertinya tidak lagi nona. Kemarin kami sempet mengejarnya tapi kami kehilangan jejaknya."
"Bodoh. Mengurus satu wanita lemah saja kalian tidak bisa!!"
"Maaf nona tapi wanita itu sangat cepat larinya."
"Apa kamu pikir dia mempunyai ilmu seribu kaki?"
"Maaf nona"
"Aku ingin kalian besok harus sudah membawa wanita itu kemari"
"Siap nona"
Merryana Salsabila
__ADS_1