
Sejak mengetahui bahwa istrinya sedang hamil, Rey semakin ketat menjaga Susan dan selalu memanjakannya.
Elina putri kecilnya pun kini semakin mandiri.
"Ma, adik dalam perut Mama pasti cantik seperti Elina," ucap Elina sambil memeluk perut Susan.
"Pasti donk sayang, dia akan cantik seperti kakak Elina."
"Siapa bilang dia cantik? Adiknya khan cowok pasti tampan seperti Papa," ucap Rey.
"Adiknya tuh cewek Papa, bukan cowok!"
"Cowok!"
"Cewek Papa!"
Terjadi adu mulut antara Elina dan Rey, Rey memang suka menggoda putrinya.
"Sayang, mau cewek atau pun cowok sama saja yang penting adiknya sehat," ucap Susan melerai keduanya.
"Tapi aku maunya cewek, Ma," ucap Elina.
"Kalau adiknya cowok gimana? Apa kakak Elina ga sayang sama adiknya?"
"Sayang donk Ma," ucap Elina sumringah.
"Sekarang sudah malam, Elina bobo ya biar Mama temenin!"
"Ga mau Ma, Elina mau bobo sendiri saja, khan sebentar lagi Elina mau jadi Kakak jadi Elina harus mandiri biar bisa jagain adik."
Susan dan Rey salin pandang.
"Anak Papa sudah pinter ya," ucap Rey mengusap rambut putrinya.
"Sini cium Mama dulu!"
Elina mencium Susan dan berganti ke Papanya, sungguh perubahan yang tidak disangka oleh Rey, putri semata wayangnya kini menunjukkan kemandiriannya.
"Sayang, kita ke kamar juga yuk! Aku juga sudah ngantuk," ucap Susan.
"Mau aku gendong?"
"Ga usah Rey! Aku bisa jalan sendiri."
"Tapi aku mau menggendongmu."
Tanpa menunggu jawaban, Rey langsung membopong tubuh istrinya dan membawanya ke kamar.
Rey membaringkan istrinya di atas ranjang dengan sangat hati - hati. Setelah itu Rey ikut berbaring di samping istrinya.
"Ternyata tubuhmu semakin berat sayang," ucap Rey.
"Lagian kamu ngeyel, aku kan bisa jalan sendiri."
Rey merubah posisi tubuhnya, kini Rey berada di atas tubuh istrinya dengan kedua tangan menopang badannya agar tidak menindih tubuh istrinya.
"Sayang, bolehkah makan ini aku mengunjunginya?"
"Rey, bukannya Dokter bilang tidak boleh terlalu sering?"
"Sekali ini saja sayang, aku sudah rindu," rengek Rey.
"Tapi pelan - pelan ya. Aku takut."
"Pasti sayang. Aku akan melakukannya dengan sangat hati - hati agar dia tidak terganggu."
Benar saja, Rey melakukannya dengan sangat hati - hati dan lembut. Setiap permainannya dilakukan dengan lembut bahkan setiap hentakan yang dia lakukan pun dibuatnya selembut mungkin. Rey merasakan ada kenikmatan tersendiri saat melakukan hentakan - hentakan, meski Rey tidak melakukan seperti saat Susan belum hamil.
Setiap desahan yang keluar dari mulut istrinya membuat gairahnya semakin naik, begitupun dengan Susan, setiap gerakan dan belaian dari Rey membuat tubuhnya semakin menggeliat kenikmatan.
Malam yang begitu hangat mereka lewati dengan kehangatan dan bermandikan keringat kenikmatan.
__ADS_1
Tubuh mereka terkulai dalam pelukan. Rey mencium pucuk kepala istrinya sebagai tanda terimakasih.
Pagi hari seperti biasa, Rey dan Susan bersiap - siap untuk berangkat kerja setelah semua rutinitas rumah selesai.
Pekerjaan Susan sedikit berkurang karna Elina putri mereka kini lebih memilih melakukan aktivitasnya sendiri.
"Sayang, sebaiknya kamu jangan memakai sepatu tinggi lagi! Kamu khan sedang hamil," ucap Rey.
"Hanya hari ini saja Rey, karna hari ini aku mau ketemu dengan kolega perusahaan."
"Tapi itu tidak baik bagi orang hamil."
"Kamu jangan kawatir ya, aku janji mulai besok aku akan pakai sepatu yang berhak pendek."
"Kamu jangan capek - capek ya. Kalau perlu kamu berhenti saja dari pekerjaanmu."
"Rey, aku tidak mau keluar dari perusahaan Aldo."
"Apa kamu tidak bisa sehari saja tidak bertemu Aldo? Kalau begitu biar Aldo saja yang setiap hari ke rumah mengunjungimu!"
"Bukan itu alasannya Rey. Aku suka saja sama pekerjaanku."
"Ya sudah, yang penting kamu jaga anak kita ya, nanti pulangnya aku jemput."
Rey mengantar istrinya sampai di depan kantor Aldo lalu dia pergi ke kantornya.
Sesuai jadwal, Susan dan Aldo hari ini bertemu dengan kolega perusahaan di sebuah restauran yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
"San, lain kali jangan pakai sepatu tinggi lagi! Tidak baik untuk wanita hamil," ucap Aldo melirik pada sepatu Susan.
"Iya. Tadi Rey juga sudah bilang begitu."
"Kenapa masih kamu pakai kalau Rey sudah mengingatkanmu?"
"Aldo, hanya hari ini saja. Aku tidak mau kelihatan tidak profesional di depan kolega kita."
"Hey, profesional itu bukan dilihat dari tingginya sepatu, tapi dari sini," ucap Aldo menunjuk kepala Susan.
Orang yang ditunggu oleh Aldo dan Susan sudah datang.
Mereka berbincang masalah kontrak kerjasama. Cukup lama perbincangan antara kedua belah pihak untuk mendapatkan kesepakatan yang saling menguntungkan.
Aldo sangat teliti dan tidak mau main - main dalam memilih dan memutuskan kerjasama dengan perusahaan lain karna itu akan membawa dampak bagi perusahaannya.
Setelah menemukan kesempatan yang dirasa menguntungkan, Aldo menandatangani surat kontrak tersebut.
Saat berjalan hendak pulang tiba - tiba kaki Susan tergelincir dan tubuhnya terjatuh di lantai.
Buk...
"Auw.... sakit..." jerit Susan.
Aldo yang berjalan di sampingnya otomatis terkejut dan reflek mengangkat tubuh Susan dan segera membawanya masuk ke dalam mobil.
Aldo semakin panik saat dilihatnya darah segar mengalir di kaki Susan.
"Aldo.... sakit...." ucap Susan meringis menahan sakit di perutnya.
"Sabar sayang, kita akan segera sampai," ucap Aldo.
Aldo mencoba tetap fokus pada kemudinya meski sesekali dia mencoba menenangkan Susan. Bukan dia tidak kawatir, bahkan lebih kawatir dari seorang suami yang melihat istrinya kesakitan.
"Aldo, aku tidak mau kehilangan anakku," Susan menangis.
"Kamu tenang ya,"Ucap Aldo menutupi kekawatirannya.
Setelah sampai di Rumah Sakit, Aldo langsung menggendong tubuh Susan ke UGD untuk mencari bantuan.
Petugas medis langsung memberikan pertolongan pada Susan.
Aldo mencoba menghubungi Rey beberapa kali tapi tidak ada jawaban.
__ADS_1
Aldo menghubungi Dino, untung saat itu Dino sedang di kantor Rey, karna Rey memintanya datang untuk membicarakan proyek yang mereka dirikan.
Setelah itu Aldo kembali mendampingi Susan.
"Aldo, aku takut," ucap Susan penuh dengan ketakutan.
"Sayang, Rey akan segera datang. Kamu jangan kawatir ya, dokter sudah memeriksa keadaanmu dan bayimu."
"Apakah anda suaminya Tuan?" tanya dokter yang memeriksa Susan.
"Saya kakaknya, Dokter."
"Apa suaminya tidak kemari?"
"Sedang dalam perjalanan kemari Dokter?"
"Baiklah. Kita tunggu suaminya saja."
"Maaf Dokter, apa ada yang membahayakan?" ucap Aldo panik.
"Tidak. Hanya.."
Pintu terbuka, Rey dengan kepanikkannya masuk dan langsung menghambur pada Susan. Dino berjalan dibelakang Rey.
"Sayang, apa kamu baik - baik saja? Apa ada yang sakit? Bagaimana dengan bayi kita sayang? Apa dia baik? Apa ada yang terluka?" Rey bertanya tanpa henti.
"Maaf Tuan, apakah Anda suami Nyonya Susan?" tanya dokter.
"Benar Dokter, saya suaminya. Bagaimana keadaan istri saya Dokter? dan bagaimana keadaan bayinya?"
Dokter tersenyum melihat kekhawatiran Rey.
"Anda tidak perlu khawatir Tuan. Keadaan istri dan anak anda baik - baik saja. Hanya butuh istirahat dan bed rest yang lumayan lama agar janin yang ada di dalam perut istri anda kembali kuat."
"Butuh berapa lama saya harus bed rest Dokter?" tanya Susan.
"Sekitar satu bulan Anda harus benar - benar total tidak melakukan aktivitas berat."
"Apakah setelah itu saya bisa bekerja lagi Dokter?"
"Kita lihat perkembangannya Nyonya. Anda harus rajin kontrol. Baiklah kalau begitu saya permisi dulu." Dokter pun meninggalkan mereka.
"Sayang, apa perutmu masih sakit?"
"Tidak Rey, hanya sedikit saja tapi sudah lebih baik."
"Aldo. Kenapa kamu tidak menjaganya?" ucap Rey menatap Aldo tajam.
"Maafkan aku Rey."
"Rey, ini bukan salah Aldo. Aku yang tidak hati - hati saat berjalan. Aku juga yang ngeyel pakai sepatu tinggi."
"Aku khan sudah mengingatkanmu jangan pakai sepatu tinggi."
"Iya maaf. Tapi jangan salahkan Aldo, dia juga sudah ngingetin aku tadi."
"Aldo memang lebih penting dari suamimu ini."
"Hey, kamu cemburu padaku?! Jelas aku lebih penting darimu."
"Kamu!!!" Rey melempar guling pada Aldo.
Dino hanya bisa geleng - geleng kepala melihat tingkah dua pria dewasa itu.
"Kamu hebat San! bisa hidup dan bertahan diantara dua manusia ini," ucap Dino.
"Mata dan telingaku sudah kebal Dino, melihat dan mendengar tingkah mereka."
"Sayang, kenapa kamu seperti itu? bagaimanapun aku ini suamimu. Orang yang sangat mencintaimu."
"Kumat bucin," ucap Aldo.
__ADS_1
Rey tidak menghiraukan ucapan Aldo, dia memilih untuk bermanjaria dengan istrinya.