Mutiara Hati

Mutiara Hati
Crazy honeymoon


__ADS_3

Shandy memberikan hadiah pernikahan pada Rey dan Susan sebuah paket bulan madu di Paris. Kebayang khan bagaimana senangnya Susan?


Eits.... jangan senang dulu.


Rey dan Susan mulai packing untuk persiapan bulan madu.


"Sayang, jangan banyak - banyak bawa bajunya! nanti kita beli saja di sana," ucap Rey.


"Baiklah, aku hanya bawa beberapa baju saja."


"Sayang, selama seminggu di sana bagaimana kalau kita tempur terus?" Rey memeluk pinggang Susan dari belakang.


"Rey.... jangan nakal! Kamu pikir kita lagi perang!"


"Sayang, kita harus buktikan pada mereka kalau aku ini bisa memuaskan istriku di atas ranjang."


"Jangan dengarkan mereka! mereka hanya menggodamu saja."


"Apa kamu percaya padaku?"


Susan membalikkan tubuhnya dan menghadap Rey, tangan Rey masih setia berada di pinggang Susan.


"Aku percaya padamu suamiku," ucap Susan menarik hidung Rey.


"Oh sayang, kalau seperti ini kamu bisa membangunkannya," ucap Rey menempelkan kepalanya pada kepala Susan.


"Bukannya dari tadi memang kamu bangun?"


"Bukan aku yang bangun tapi yang di dalam sana," mata Rey mengarah pada miliknya yang mulai berontak.


"Rey..." wajah Susan berubah menjadi merah karna malu.


"Apa aku boleh melakukannya sekarang?"


"Jangan sekarang! Aku lelah," Susan melepaskan tangan Rey dan berjalan ke tempat tidur.


Wajah Rey berubah cemberut, Rey hanya bisa menatap istrinya pasrah.


"Kenapa kamu masih berdiri di situ Rey?" tanya Susan melihat Rey mematung tak bergerak.


"Apa kamu tidak ngantuk? Ini sudah malam. Besok kita harus berangkat pagi - pagi."


"Apa kamu benar - benar tega membiarkannya?"


Rey berjalan mendekati istrinya.


Susan berdiri dan menggalungkan tangannya pada leher suaminya, Rey.


"Apa kamu sudah tidak tahan Rey?" ucapnya menggoda.


"Bagaimana aku bisa tahan kalau kamu menggodaku seperti ini?" Rey melingkarkan tangannya pada pinggang Susan.


"Apa kamu yakin tidak lelah malam ini?"


"Tidak sayang. Lelahku hilang bila melihatmu."


"Kamu memang pandai merayu Rey."


Susan mengecup bibir Rey.


Rey tersenyum senang melihat istrinya yang mulai nakal.


"Kamu mulai nakal sayang."


Rey menempelkan bibirnya pada bibir istrinya dan mereka saling beradu aksi menikmati sentuhan dan permainan permulaan.


"Apa kamu siap sayang?" bisik Rey tepat di telinga Susan.


Susan menyeringai geli dan hanya bisa mengganggukan kepala, gairahnya semakin menjadi.


Rey menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya diatas ranjang. Rey memulai aksinya dan bermain sangat cantik hingga membuat tubuh Susan tak mampu menolaknya.


Malam yang penuh kehangatan, malam ini dunia terasa milik mereka berdua, mungkin yang lain hanya numpang saja. 😁😁

__ADS_1


Suara gemericik air hujan membuat suasana malam itu menjadi semakin menggairahkan bagi pasangan pengantin baru, hingga mereka terlelap dalam pelukan hangat karna kelelahan.


***


"Ma, Pa..."


Elina mengetuk pintu kamar Rey.


Rey membuka matanya, Susan masih terlelap dalam pelukannya.


"Sayang, Elina memanggil," ucap Rey membangunkan istrinya.


"Rey, aku masih ngantuk," Susan masih enggan membuka matanya.


Rey tersenyum karna Susan memeluknya lebih erat lagi.


"Mama, Papa, ayo bangun!!" teriak Elina sambil menggedor - gedor pintu.


"Rey,. Elina!!" ucap Susan panik.


Bagaimana tidak panik, Susan dan Rey masih dalam keadaan tidak berpakaian sehelai pun tubuh mereka hanya tertutupi oleh selimut.


"Sayang, kenapa kamu panik begitu? pintunya terkunci, Elina tidak akan bisa masuk."


"Tapi dia akan terus berteriak kalau tidak segera kita buka."


Susan beranjak dari tempat tidur.


"Sayang, apa kamu mau menggodaku lagi?" ucap Rey melihat istrinya berdiri polos.


Susan terkejut dan sontak menarik selimut yang tadi menutup tubuh mereka.


"Sayang, kalau itu kamu tarik bagaimana denganku?"


Susan semakin terkejut saat melihat tubuh kekar suaminya tanpa tertutup apapun.


"Kamu cari yang lain saja!"


Susan berlari masuk ke dalam kamar mandi.


***


Di ruang makan, keluarga kecil sedang menikmati sarapan pagi.


"Ma, kita mau berangkat jam berapa? tanya Elina.


"Berangkat ke mana sayang?"


"Berangkat ke Paris, bukannya kita mau liburan?" ucapnya polos.


Rey dan Susan saling beradu pandang.


"Sayang, yang berangkat ke Paris itu hanya Papa dan Mama saja. Elina tidak ikut, sementara Elina tidur tempat Oma dulu ya," ucap Rey.


"Elina ga mau tempat Oma, Elina mau ikut Mama sama Papa."


"Sayang, lain kali kita liburan bareng ya," ucap Susan.


"Ga mau!! Elina mau ikut sekarang."


Elina menundukkan kepalanya cemberut, ngambek.


"Elina jangan ngambek donk, nanti ilang deh cantiknya," rayu Rey.


"Bagaimana kalau Elina liburan sama tante Ana dan om Aldo?"


"Ga mau!! Elina mau ikut Mama!!"


"Sayang...."


"Papa sama Mama jahat!!"


Elina lari masuk ke kamarnya sambil menangis.

__ADS_1


"Elina sayang...." panggil Susan tapi sia - sia.


Susan menatap Rey.


"Biar aku yang bicara padanya," ucap Rey.


Rey mengetuk pintu kamar Elina karna gadis kecil itu menguncinya.


"Sayang, buka donk pintunya! Papa mau ngomong nih."


"Ga mau! Papa jahat! Papa pelit!"


"Sayang.... Papa janji lain kali kita pergi liburan bareng."


Tak ada jawaban hanya suara tangis yang terdengar.


"Rey, apa sebaiknya kita bawa saja Elina?"


"Sayang, kita ini mau bulan madu bukan liburan keluarga!"


"Tapi aku tidak mau melihat Elina sedih seperti ini."


"Kamu percaya padaku! Elina pasti mengerti."


Rey mencoba membujuk putrinya agar mau keluar dari kamar tapi sia - sia.


"Kita bawa saja Elina," ucap Susan.


"Tapi sayang..."


"Ga ada waktu Rey, lihat sekarang sudah jam berapa! Kita akan ketinggalan pesawat Rey."


"Tapi..."


"Kalau begitu batalkan saja bulan madunya! Aku tidak mau meninggalkan Elina dalam keadaan marah."


Susan meninggalkan Rey dan duduk di sofa depan kamar Elina.


Rey mendekati istrinya dan berjongkok di depannya.


"Baiklah, kita bawa Elina bersama kita."


"Apa kamu tidak bercanda Rey?" ucap Susan sumringah.


"Aku tidak bercanda. Aku tidak mau kedua bidadariku marah dan cemberut kepadaku."


"Terimakasih Rey. I Love You."


Susan memeluk dan mencium suaminya lalu beranjak mendekati pintu kamar Elina.


"Sayang, buka pintunya donk. Mama sama Papa akan membawamu liburan bareng."


Pintu terbuka, terlihat wajah gadis kecil itu sangat sedih dan mata serta pipinya basah.


Susan berjongkok menyetarakan dengan tinggi putrinya.


"Mama bohong!"


"Ga sayang, Mama tidak bohong. Elina ikut Mama sama Papa liburan."


Susan menyentuh pipi Elina dan mengusap sisa air mata putri kecilnya.


"Benar Ma?" ucap Elina berubah senang lalu memeluk Susan.


"Sekarang Mama bantu Elina untuk packing baju ya."


"Ga perlu Ma, Elina sudah menyiapkannya sendiri."


Susan bingung dan seakan tidak percaya, ternyata Elina memang sudah siap dengan kopernya.


"Kapan Elina menyiapkan ini semua?"


"Semalam Ma, waktu Mama dan Papa packing, makanya Elina ikut packing."

__ADS_1


Ya Tuhan ternyata Elina lebih siap dari kami, selangkah lebih maju. Pantas saja dia merasa sangat kecewa. Batin Susan.


__ADS_2