Mutiara Hati

Mutiara Hati
Ini Rumahku


__ADS_3

Rey berkutat dengan berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.


Di bacanya lembar demi lembar dengan teliti. Tangannya memainkan bulpoin yang dia pegang.


Sesekali dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Ahk, kenapa juga Dino harus pergi, kalau begini kan aku yang pusing."


Sore ini Rey ada pertemuan dengan koleganya.


Sebenarnya dia mengajak Dino asistennya tapi asistennya itu ada acara bersama keluarganya di luar kota. Jadi dengan terpaksa Rey berangkat sendiri.


Telepon selular Rey berdering.


"Halo Ma."


"Apa yang kamu lakukan di akhir pekan begini Rey? Kenapa kamu masih saja gila kerja? Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan putrimu? Kalau kamu masih saja seperti ini, biar Elina mama bawa saja, biar dia tinggal di rumah Mama."


Belum sempet Rey menjelaskan, suara di seberang sana sudah nerocos kayak petasan kawinan.


"Ma, dengar dulu penjelasan Rey!"


"Apa yang mau kamu jelasin ke Mama? Berapa kali Mama bilang gunakan akhir pekanmu untuk kelurga?. Apa kamu tidak bisa menghilangkan kegilaanmu pada kerja?"


"Ma, ini bukan masalah gila kerja. Tapi ini rapat penting. Nanti kalau sudah selesai Rey pasti pulang kok."


"Kapan selesainya?"


"Kemungkinan malam ini."


"Jangan kemungkinan!! Mama mau malam ini kamu pulang!!"


"Tapi Ma."


"Tidak ada tapi - tapian!!. Kalau malam ini kamu tidak pulang, Elina Mama bawa!"


"Iya Ma. Rey usahakan," jawabnya pasrah.


"Bagus, itu baru anak Mama."


Telepon di seberang sana di tutup.


Rey mendesah kesal. Mama Rey memang cerewet bila sudah berhubungan dengan cucunya.


Rey menghubungi seseorang lewat HP nya.


"Aldo tolong Carikan aku tiket pesawat malam ini!. Aku harus pulang."


"Apa pertemuanmu sudah selesai?"


"Bagaimana mau selesai, mulai saja belum."


"Lalu kenapa kamu mau pulang?"


"Aku pulang nanti setelah pertemuan. Makanya tolong kamu carikan aku tiket!"


"Kenapa tidak besok pagi saja sih Rey? Kamu pikir masih ada penerbangan tengah malam!"


"Rencanaku juga seperti itu, tapi kamu tau mama bukan? baru saja mama menghubungiku dan malam ini mau tidak mau aku harus pulang. Dia mengancam akan membawa Elina bersamanya kalau aku tidak pulang."


"Ya biarkan saja. Elina cucunya."


"Apa kamu mau aku jahit mulutmu itu?!!"


"Iya iya aku carikan. Jam berapa?!"


"Jam sebelas."


"Semoga saja masih ada. Secara kota yang kamu kunjungi itu bukan kota besar."

__ADS_1


"Jangan bawel!"


Rey menutup teleponnya. Di lihat arlojinya.


Sebentar lagi pertemuan dimulai.


Semoga lancar dan selesai lebih cepat.


Sementara di rumah Rey.


Seorang wanita berjalan menuruni anak tangga di tengah malam. Dia berjalan dalam kegelapan. Tangannya mengucek - ucek matanya yang masih terasa ngantuk berat.


Setengah sadar dia berjalan meraba - raba tiang tangga.


Uh... ngantuk sekali.


Ucapnya sambil menguap, tangannya menutup mulutnya yang terbuka lebar.


Di bukanya lemari pendingin. Dia mengambil botol air dan menuangkan ke dalam gelas lalu meminumnya. Matanya masih setengah tertutup.


Saat akan kembali ke kamarnya. Wanita itu melihat bayangan seseorang.


Dia mengambil panci dari atas meja dapur. Di dekatinya bayangan itu sambil berjalan pelan dan mengendap - endap seperti akan menangkap mangsanya.


Di pukulnya kepala orang tersebut.


Plentung


"Auw..."


Pria itu berteriak sambil memegangi kepalanya yang kena pukul.


Wanita itu terus membabi buta memukuli pria tersebut tanpa mempedulikan apapun walau pria itu memintanya untuk berhenti.


"Hay dasar maling! Rasain kamu ya! Makanya jadi orang jangan suka maling! Nih rasain pukulanku, aku akan membunuhmu, dasar maling!"


"Hay, hentikan! Hentikan!"


Bibik yang mendengar ada keributan terbangun dan berjalan keluar, bukan hanya bibik saja tapi semua penghuni rumah yang mendengarnya ikut berlari mendekati sumber keributan tersebut.


Cetek ...


Lampu listrik hidup dan suasana terang benderang.


Wanita itu menghentikan aksinya dan berdiri mematung dengan panci di tangannya. Pria itu masih memegangi kepalanya dan sedikit membungkuk.


"Rey?" ucap Susan terkejut.


Ternyata orang yang dia sangka maling tidak lain dan tidak bukan adalah Rey. Ya Rey baru pulang dari luar kota larut malam.


Semua orang yang ada di situ juga merasa kaget kecuali pak satpam dan supir Rey karna mereka tau kalau tuannya baru pulang.


"Apa yang kamu lakukan di sini?!" ucap Rey pada wanita itu.


"Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa yang kamu lakukan di sini?!" nada suara Susan menyolot.


"Ini rumahku. Wajar saja kalau aku di sini."


" Tunggu dulu! Apa maksudmu?" Susan tidak mengerti apa maksud Rey.


"Apa telingamu tuli?! Aku bilang ini rumahku," ucap Rey kesal.


Rey berjalan duduk di kursi meja makan.


Susan masih nampak bingung. Dia belum mengerti dengan apa yang dia dengar. Dia berjalan mendekati pria itu dan duduk di depannya. Matanya menatap tajam Rey.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?!" nada suaranya masih kesal.


"Apa kamu pikir aku akan menjadi maling di rumahku sendiri? Dasar wanita gila!!" lanjutnya masih dengan kekesalannya.

__ADS_1


Orang - orang yang menyaksikan kejadian itu tidak berani berkutik sedikit pun. Mereka tau saat ini tuan mereka sedang kesal.


"Kalian boleh kembali dan istirahat!" nadanya mulai turun.


"Baik tuan." jawab mereka lalu pergi.


Susan masih tetap menatap Rey dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada perasaan bersalah karena sudah memukul Rey, ada perasaan bingung ternyata ini rumah Rey, pokoknya campur aduk.


"Kenapa masih diam?!"


Susan masih dengan ekspresi wajah yang sama.


"Apa kamu tidak merasa bersalah padaku Nona?!"


"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku?" ucap Susan tidak kalah kesal.


"Apa kamu tidak mau mengobatiku?! Kamu sudah memukuliku."


"Tubuhmu tidak ada yang terluka. Jadi aku tidak perlu mengobatinya."


"Apa kamu pikir kepalaku ini tidak peyang karna beradu dengan panci dapur?"


"Itu salahmu sendiri"


"Hey, pandai sekali kamu menyalahkan ku!"


"Salahnya tengah malam keluyuran keluar kamar," ucap Susan lirih.


"Lalu kamu sendiri kenapa malam - malam keluyuran juga di dapur?"


"Aku haus makanya aku turun mengambil minum. Tapi tiba - tiba aku melihat orang berjalan, naluriku menyuruhku mengambil panci untuk menghajarnya. Aku tidak tau kalau itu kamu. Maaf."


"Lain kali jangan sok jadi pahlawan!. Bagaimana kalau itu maling beneran?"


"Ya kalau itu maling sungguhan pasti aku akan mengajarnya sampai mati, tapi sayangnya itu kamu jadi aku tidak menghajarmu sampai mati."


"Bagaimana kalau sebaliknya?. Mereka mengahajarmu balik. Mending kalau hanya di hajar, bagaimana kalau mereka memperkosamu?"


"Itu hanya ada dalam otak mesummu saja!"


"Kalau aku yang jadi malingnya, dan melihat wanita cantik sepertimu pasti aku sudah memperkosamu, bahkan aku kurung dalam kamar. Saat aku ingin melakukannya lagi tinggal aku tarik tubuhmu," Rey mulai jail.


"Otakmu memang rusak!. Semoga saja setelah mendapat pukulan dariku tadi otakmu menjadi waras."


Susan berdiri dan pergi meninggalkan Rey.


"Apa kamu tidak ingin mencobanya nona? dedek kecilku ini sudah tidak tahan," Rey terkekeh sendirian.


Susan tidak menghiraukan kegilaan Rey. Dia terus berjalan masuk ke kamar.


Rey tersenyum senang sudah berhasil membuat wanita itu kesal.


Di pegangnya Kembali kepalanya yang terasa sakit.


"Dasar wanita preman, tunggu saja aku akan menakhlukkan hatimu dan menahlukkanmu di atas ranjang," Rey tersenyum.


Di dalam kamar, Susan tidak langsung tidur. Dia tidak bisa memejamkan mata.


Terngiang kata - kata pria itu.


Ini rumahku. Wajar saja kalau aku di sini.


Tunggu dulu. Kalau ini rumah Rey, berarti Elina itu anak Rey? Berarti Rey sudah mempunyai istri. Jadi selama ini Rey membohongiku?. Aldo....apa Aldo juga bersekongkol dengan Rey?


Apa yang mereka sembunyikan?


Apa sebenarnya rencana mereka?


Besok aku harus minta penjelasan dari mereka, terlebih Rey.

__ADS_1


Awas saja kalau mereka berani mempermainkan ku.


Susan memaksa untuk memejamkan matanya dan menghentikan segala pertanyaan yang ada di pikirannya.


__ADS_2