Mutiara Hati

Mutiara Hati
Apa sandiwaramu??


__ADS_3

Setelah makan siang mereka mengantar Susan ke rumah Elina.


Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan hanya keheningan, Entah apa yang mereka pikirkan dalam benak mereka.


Mereka asyik dengan pikiran mereka masing - masing.


Susan dengan pikiran senangnya karna sebentar lagi akan bertemu dengan Elina.


Rey dengan pikiran kacaunya, apakah Elina sudah sampai rumah.


Aldo dengan pikiran senangnya karna dia merasa menang dan bisa membuat Rey mati kutu dengan ulahnya sendiri.


Mobil Aldo berhenti tepat di depan gerbang. Pintu terbuka. Aldo tetap melajukan mobilnya sampai di depan pintu rumah Rey.


"Apa rencanamu Aldo?" bisik Rey penuh penekanan.


Aldo tersenyum licik.


"Selamat siang Tu...an.." ucap asisten rumah tangga Rey terhenti ketika melihat Rey melotot kepadanya dan memberi kode untuk diam.


Untung Susan tidak menyadari kejadian itu.


"Terimakasih sudah mengantarku. Apa kalian tidak mau mampir sebentar?"


"Tidak" ucap Rey cepat.


"Boleh juga," ucap Aldo hampir bersamaan dengan Rey.


"Auw..." tiba - tiba Aldo menjerit karna di cubit tangannya oleh Rey.


"Aldo kamu kenapa"


"Dia hanya kebelet pipis," ucap Rey terkekeh.


"Kalau begitu kamu bisa menumpang ke toilet di sini."


"Tidak perlu. Dia tidak terbiasa kencing di rumah mewah. Bisa - bisa dia tidur di kamar mandi, saking bagusnya."


"Terserah kalian saja."


Susan melihat mereka bergantian sambil geleng - geleng kepala merasa lelah dengan sikap mereka.


Susan turun dan berjalan kearah kanan mobil di mana ada Aldo di belakang kemudi. Aldo membuka kaca mobilnya.


"Aldo terimakasih sudah mengijinkan aku hari ini"


"Nikmati harimu," Aldo tersenyum, tangannya mengusap rambut Susan.


"Pasti di ijinkan. Sekertaris kesayangan," ucap Rey hampir tak terdengar.


"Jaga mulutmu!!!" Aldo


Aldo melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.


"Kamu hutang penjelasan padaku!!"


"Penjelasan apa?"


"Asisten bos dan tentang Elina putrimu."


"Sekertarismu sendiri yang mengatakan aku asisten bos DJ Company, ya aku terima saja. Kamu tau apa yang dikatakan sekertarismu itu tentang aku? Dalam otaknya bos DJ Company itu adalah laki - laki tua, duda anak satu, berkumis dan perut buncit."


Aldo terkekeh mendengar perkataan Rey.


"Dia tidak tau kalau bosnya ganteng, bertubuh atletis begini, Ade Ray saja kalah."


Rey memperagakan Ade Ray dengan menonjolkan otot lengannya.


"Jangan - jangan kau yang mengotori otak sekertarismu itu?"


"Enak saja. Sejak awal dia memikirkan tentangmu seperti itu."


"Lalu tentang Elina?" lanjut Aldo


"Soal itu. Aku tidak mau Susan kelelahan. Sepulang dari kota B dia akan langsung menemui putriku, makanya aku menyuruh pengasuhnya untuk membawa Elina ke rumah Omanya dan membawanya pulang sore ini. Tapi kau mengacaukannya."


"He he he ....Aku sebel kamu selalu jail pada Susan."


"Sekertarismu itu lucu, aku gemes, rasanya ingin ku cium bibir sexynya."


"Jangan macam - macam atau aku tidak segan - segan membunuhmu!!"


"Ow ..ow...Tuannya marah."


Mereka telah sampai di parkiran perusahaan Aldo.


Rey melihat seseorang yang lewat di depan mobil mereka.


"Sepertinya aku pernah melihat laki - laki yang baru saja lewat," ucap Rey.


"Itu pacar Susan."


"Kenapa dia ada di sini? Apa kamu mengenalnya?"


"Aku tidak begitu mengenalnya, mungkin dia mencari Susan."


"Apa perlu aku bereskan dia?" ucap Rey penuh dengan kebencian.

__ADS_1


"Tidak. Jangan pernah kau sentuh orang - orang yang berhubungan dengan Susan!"


"Apa kamu tau?"


"Aku tau"


"Kenapa kamu tidak bertindak?"


"Aku sudah bilang padamu, biarkan mengalir seperti air. Selama masih dalam batas wajar biarkan saja. Suatu hari nanti akan tiba waktunya."


"Aku heran. Kamu masih bisa santai."


"Setiap masalah tidak harus diselesaikan dengan kekerasan. Aku tidak mau lihat Susan sedih karena orang yang dia cintai disakiti."


"Aku juga akan melindunginya agar dia tidak tersakiti."


"Hey kamu bukan suaminya!"


"Dia memang belum menjadi istriku tapi dia sudah menjadi ibu dari putriku," ucap Rey senang.


"Sudahlah aku mau pulang," lanjutnya


"Ingat kamu masih punya PR"


"Apa"


"Laporan peninjauan lahan proyek kemarin."


"Hey itu kan tugas sekertarismu!!"


"Kamu lupa. Kamu sendiri yang bilang pada dia kalau laporannya sudah beres. Kamu harus bertanggungjawab. Besok harus sudah ada di mejaku!".


"Apa kamu mau menghukumku dengan lembur malam ini?"


"Itu resiko. Kamu sudah menikmati makan siang dengan sekertarisku. Atau aku bongkar sandiwaramu!"


"Untung aku cuma punya satu saudara sepertimu. Kalau aku punya sepuluh bisa mati gantung diri"


Sementara di rumah Rey.


Elina dan Susan bercengkerama.


"Mama mana oleh - oleh buat Elin?"


"Maaf ya sayang, tadi mama dari kantor jadi bonekanya ga mama bawa deh. Gimana kalau besok pas mama ke sini mama bawa boneka Bearnya."


"Iya Ma. Elin seneng Mama ke rumah elin lagi. Kita bisa main lagi."


"Mama juga seneng main sama Elin"


"Ma...tadi aku sama Ma"


"Oma tadi pergi katanya mau beli sayuran untuk makan malam ini."


"Emang Elin suka sayur?"


"Suka banget. Kata Oma makan sayur itu bagus untuk kulit biar kita tambah cantik."


"Pinter anak Mama"


"Elin .."


Susan dan Elin menoleh ke sumber suara.


"Oma. Elin lagi mainan sama Mama."


Wanita yang dipanggil Oma itu terkejut melihat Susan.


"Susi....."


"Selamat siang Oma," sapa Susan


Wanita itu mencoba menyadarkan dirinya sendiri dengan menggeleng - gelengkan kepalanya.


"Oma, apa Oma sakit?"


"Tidak, tidak. Oma tidak sakit nak. Siapa namamu Nak?"


"Namaku Susan Oma."


"Kamu cantik sekali nak, boleh oma peluk kamu Nak?"


"Boleh Oma."


Wanita itu memeluk erat tubuh Susan, sepertinya ada kerinduan yang dalam yang dirasakan Susan dari pelukkan wanita itu.


"Apakah Oma baik - baik saja?"


Tak terasa air mata wanita itu menetes. Wanita itu mengusap air matanya menggunakan tangannya. Dia tidak ingin Susan melihat kalau dia menangis.


"Oma hanya terlalu senang Nak. Maafkan Oma, Oma terlalu terbawa perasaan."


"Tidak apa - apa Oma. Susan juga senang ketemu Oma."


"Apa kamu sudah lama Nak bertemu dengan Elina?"


"Belum Oma. Baru beberapa bulan ini"

__ADS_1


"Oma senang. Elin selalu saja menceritakan tentang dirimu. Terimakasih ya sayang, kamu mau menyayangi cucu Oma."


"Saya juga senang oma. Saya sudah terlanjur jatuh cinta sama Elina. Dia cantik dan imut."


"Oma katanya mau masak sayur. Elin sudah lapar," ucap gadis kecil itu.


"O iya. Oma sampai lupa. Ya sudah Oma masak dulu ya"


"Saya bantu Oma."


"Boleh. Jangan kaku sayang. Anggap saja Oma ini orangtuamu!"


"Iya Oma. Terimakasih ya Oma"


"Sama - sama sayang."


Terjadilah aktifitas menyenangkan di dalam dapur. Mereka bukan hanya memasak tapi juga berbincang dan bercanda bersama.


Susan merasa menemukan keluarga baru dalam hidupnya.


Ada kebahagian dalam rumah itu.


Sementara di kantor Rey masih saja berkutik dengan laptopnya. Dia harus menyelesaikan laporan yang di minta Aldo.


"Sialan Aldo!!. Bener - bener ngerjain aku. Tunggu pembalasanku Aldo. Untung kamu saudaraku kalau bukan sudah ku bereskan."


Rey menggerutu sendiri.


Ceklek


"Apa kamu belum pulang bos?" Dino melihat bosnya masih di ruangan.


"Apa kamu tidak lihat aku masih disini?"


"Apa ada yang bisa aku bantu?"


"Tidak. Ini hanya laporan kemarin."


"Ya sudah. Kalau begitu aku pulang duluan."


"Hey...siapa yang menyuruhmu pulang?. Temani aku lembur malam ini!"


"Apa kau gila?!. Katamu tadi tidak ada yang perlu aku bantu kenapa sekarang kamu minta aku menemanimu?"


"Jangan bawel!. Kamu hanya menemaniku saja bukan membantuku buat laporan."


"Terus aku ngapain di sini?"


"Terserah kamu. Kamu mau guling - guling di situ juga boleh, mau nonton tv boleh, mau tidur juga boleh, eh tapi ingat kalau tidur jangan ngorok!"


"Kau gila bos!!"


Dino bergedeng heran pada sahabatnya itu. Rey memang suka melakukan kejailan pada Dino tapi sebenarnya dia sangat menyayanginya.


Dino menonton tv. Entah berapa kali dia pindah - pindah canel TV.


"Hey...apa kamu mau merusak tv ku?!"


"Aku bosen Rey"


"Tunggu sebentar lagi!"


Telepon selular Rey berdering.


"Halo Oma"


"Rey apa kamu tidak pulang malam ini?"


"Maaf Oma malam ini aku lembur bersama Dino."


"Apa kamu masih sering lembur Rey?"


"Tidak Oma. Hanya malam ini saja. Karna besok pagi laporannya harus selesai."


"Padahal oma sudah masak sama Susan, Oma mau makan bersama dengan kalian."


"Maaf Oma malam ini Rey tidak bisa. Tapi Rey janji kapan - kapan kita makan bareng lagi. Ok Oma?"


"Baiklah. Kamu jaga kesehatan jangan pulang terlalu malam!"


"Iya Oma"


Rey nampak cemas setelah menerima telepon dari Oma.


"Kenapa bos?"


"Oma ketemu sama Susan"


"Bagus donk"


"Bagus gundulmu!!. Aku bisa diberondong pertanyaan sama oma tentang Susan. Bisa - bisa Susan tau sebelum saatnya kalau aku ini sebenarnya ayahnya Elina."


"Terus bagaimana?"


"Jangan tanya!. Aku juga bingung."


"Ya sudah buruan selesaikan laporanmu! Aku sudah bosan menemanimu."

__ADS_1


"Kenapa kamu malah memerintahku?!"


"Sesekali aku jadi bosnya."


__ADS_2