
Sejak pulang dari Rumah Sakit Susan harus menjalani bed rest, dia harus istirahat total agar kesehatannya dan bayi yang dikandungnya pulih. Ternyata bukan hanya Susan yang yang menjalani bed rest, Rey pun kini sering berada di rumah untuk menemani istrinya.
Yang lebih senang lagi adalah Elina, putri kecil itu merasa senang Karna setiap hari bisa bersama Mamanya dan adik kecil di dalam perut Mamanya.
"Rey, apa ga sebaiknya kamu kerja? Sudah dua Minggu lho kamu di rumah," ucap Susan.
"Sayang, aku mau menemanimu," ucap Rey sambil membelai rambut istrinya.
Susan tiduran dengan kepala di pangkuan Rey.
"Aku tidak mau perusahaanmu bangkrut hanya gara - gara kamu jarang masuk Rey."
"Itu tidak akan terjadi sayang, lagi pula aku juga memantaunya dari rumah."
"Aku tidak mau punya suami miskin," canda Susan.
"Hey, sayang! kamu matre juga ya ternyata," ucap Rey menarik hidung istrinya.
"Aku ga mau hidup susah," ucap Susan tertawa.
"Aku tidak akan membiarkan kalian hidup susah."
"Apa kamu masih mau kerja lagi sayang?" tanya Rey.
"Ya. Setelah dokter bilang boleh kerja, aku akan kembali bekerja."
"Apa kamu takut kalau akan hidup susah?"
"Tidak Rey. Kamu jangan bercanda, aku yakin kok kamu akan membahagiakan kami."
"Pasti sayang."
Sudah sebulan Susan bed rest. Hari ini jadwal kontrol ke dokter kandungan.
"Halo Dokter Nelsa," sapa Rey ramah.
"Hay, bagaimana keadaanmu Susan? aku dapat operan dari temenku yang menanganimu saat kamu jatuh."
"Sudah lebih baik."
"Sekarang aku periksa dulu ya, semoga hasilnya baik."
Dokter Nelsa mulai memeriksa kandungan Susan dan hasilnya memang baik, perkembangan janinnya juga bagus tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Bagus. Perkembangannya baik dan sepertinya ada si kembar di dalam sini," ucap Nelsa.
"Apa Anda tidak bercanda Dokter?" ucap Rey senang.
"Sepertinya tidak, sebulan lagi kita lakukan USG ulang ya."
"Apa aku sudah boleh bekerja lagi?"
"Boleh, asal tetap jaga kesehatan dan tidak terlalu lelah karna hamil kembar akan sangat berbeda dengan hamil tunggal."
"Baik Dokter."
"Sayang sebaiknya kamu tidak usah bekerja lagi, aku takut kamu kelelahan."
__ADS_1
"Kamu jangan khawatir Rey! Biasanya ibu yang aktif akan mempermudah proses persalinan, asal rajin kontrol semua akan baik," terang dokter Nelsa.
"Kamu dengar Rey apa kata dokter Nelsa."
"Baiklah, kali ini aku nyerah."
***
Sudah beberapa hari ini Susan kembali bekerja. Rey dengan setia mengantar jemput istrinya bahkan Rey selalu datang di jam istirahat hanya sekedar membawakan makan siang untuk istrinya.
Hari ini seperti biasa, Rey membawakan makan siang untuk Susan, tapi ternyata Susan sedang meninjau proyek bersama Aldo.
Rey sedikit kecewa dan marah pada Aldo karna Aldo membiarkan Susan bekerja di luar kantor.
Rey menunggu di ruang Aldo dengan cemas.
Beberapa kali Rey mencoba menghubungi Aldo dan Susan, tapi tidak terhubung.
"Lihat saja kalau terjadi apa - apa dengan istriku, aku tidak akan memberimu ampun Aldo," ucap Rey sendiri.
Sekali lagi Rey menghubungi Susan dan kali ini tersambung.
"Sayang kamu di mana?"
Ceklek
Pintu terbuka.
"Aku di sini sayang," ucap Susan sambil menggoyangkan Hp nya.
"Kamu tau aku sangat khawatir padamu, kenapa kamu harus keluar kantor? Apa Aldo yang memaksamu untuk ikut?" ucap Rey matanya menatap tajam Aldo.
"Jangan lebay!! Aku hanya mengajaknya jalan saja bukan untuk mengangkat semen atau batako," ucap Aldo.
"Hey!! kamu pikir istriku kuli!!"
"Aku tidak apa - apa Rey, jangan terlalu khawatir."
"Aku membawakanmu makanan, kamu makan dulu ya!"
"Lain kali kamu tidak perlu membawakan dia makanan Rey, kamu pikir aku tidak bisa memberinya makan?" ucap Aldo.
"Terserah aku donk, dia istriku," wajah Rey masam.
"Aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Susan lalu berjalan ke kamar mandi.
"Kamu tidak perlu terlalu khawatir Rey, aku takut kekhawatiranmu ini malah akan membuatnya tidak nyaman, itu akan mempengaruhi perkembangan bayinya," ucap Aldo.
"Aku hanya takut terjadi sesuatu padanya, aku tidak mau kejadian itu terulang lagi. Cukup sekali aku kehilangan wanita yang aku cintai di saat dia berusaha menjaga anakku."
Wajah Rey sedih, terlihat jelas ada trauma dalam pancaran matanya. Trauma kehilangan istri yang dia cintai, trauma karna di saat istrinya membutuhkan dirinya, malah dia tidak di sampingnya.
Kali ini Rey berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan meninggalkan Susan apapun yang terjadi sampai dia melahirkan.
"Aku tau Rey, tapi kamu tidak harus seperti ini. Percaya padaku! Susan itu wanita yang kuat, mungkin dia memang terlihat lemah dan manja tapi dia adalah wanita yang tangguh. Aku akan selalu menjaganya untukmu."
"Aku percaya padamu, tapi tetap saja aku masih takut."
__ADS_1
"Hilangkan secara perlahan rasa takutmu itu! Jangan sampai dia merasa tidak bebas karna sikapmu ini."
"Baiklah, aku akan mencobanya. Aku titip dia padamu saat dia bekerja."
"Aku akan menjaganya meski tidak kamu minta, karna bagiku Susan adalah separuh nyawaku yang separuh lagi Ana."
"Aku bangga padamu Aldo, kamu pria yang sangat bijak. Aku tidak heran kalau Ana dan Susan sangat mencintaimu."
"Yang mencintaiku hanya Ana, Susan hanya menyayangiku bukan cinta. Kalau dia mencintaiku pasti sudah aku jadikan istri keduaku," ucap Aldo nyengir.
"Kalau itu terjadi, aku pasti akan membunuhmu!"
Aldo tertawa melihat Rey kesal.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Susan saat keluar dari kamar mandi.
"Tidak ada. Lama sekali kamu di dalam kamar mandi, apa ada yang sakit?" tanya Rey.
"Perutku hanya mual sedikit tapi sekarang sudah lebih baik."
"Sebaiknya kamu makan dulu lalu istirahat," ucap Aldo.
"Apa kamu tidak makan?"
"Rey hanya membawakan untukmu," ucap Aldo menatap licik Rey.
"Kamu bisa cari makan sendiri! Lagi pula kamu tidak hamil."
"Makanlah bersama! Lagi pula aku tidak akan habis sendirian," ucap Susan.
"Sayang, aku membawanya hanya untukmu. Kamu harus banyak makan biar kuat, apalagi bayi dalam perutmu itu kembar."
"Kamu hamil bayi kembar Susan?" ucap Aldo seolah tak percaya tapi senang.
"Begitu kata Dokter Nelsa."
"Akhirnya aku bakal punya keponakan kembar. Terimakasih ya sayang," ucap Aldo mendekat pada Susan lalu memeluknya.
"Hey!! Ada suaminya di sini! Main peluk seenaknya," ucap Rey kesal.
"Jangan hiraukan dia, anggap saja tidak ada," ucap Aldo pada Susan.
"Sialan!!"
Susan tersenyum melihat tingkah Rey.
"Kalau begitu kamu harus menghabiskan makananmu! Aku tidak mau keponakanku ini kelaparan di dalam," ucap Aldo melepaskan pelukannya.
"Tapi kamu juga harus makan."
"Aku bisa makan nanti."
"Sayang, kamu jangan hiraukan dia! Sini aku suapi," ucap Rey mengambil sendok dan menyuapi Susan.
Susan makan dengan lahapnya, sesekali Rey menggoda dengan kejailannya.
Susan merasa senang mendapat perhatian dari kedua pria yang dia sayangi, Rey sebagai suami yang perhatian dan Aldo sebagai seorang kakak yang tidak kalah perhatiannya.
__ADS_1