
Susan menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi di kantornya.
Matanya terpejam. Hari ini dia merasakan kakinya pegal - pegal.
Aldo lewat di depannya dan melihat Susan.
Dia mengetuk mejanya. Tidak ada reaksi dari sang empu meja.
Ketuk lagi.
Susan menggeliatkan tubuhnya dengan tangan merentang lebar ke samping.
"Apa nyenyak tidurmu nona?!" tanya Aldo.
"Eh pak Aldo," Susan terkejut setengah mati langsung berdiri tegak.
"Kamu pikir kantorku ini hotel?!"
"Maaf pak," ucapnya sambil menundukkan kepala.
"Lain kali saya tidak mau melihat ada karyawan tidur di kantorku, kalau kalian sakit atau lelah lebih baik ajukan cuti saja!!"
Aldo berjalan menuju ruangannya setelah memperingatkan semua karyawannya.
"Baik pak," ucap mereka hampir bersamaan.
Susan duduk dengan kasar, mukanya cemberut kesal.
"Sial amat sih aku!, pagi - pagi sudah kena semprot bos."
"Lagian kamu sih pagi - pagi udah molor di kantor. Apa begadang jaga lilin lo semalaman?" ucap Mela.
"Enak aja. Emang gw **** ngepet. Kemarin seharian aku jalan sama Elina."
"Wah seneng donk"
"Pastinya. Kamu tau Mel? ternyata Elina itu anak Rey," ucapnya datar dan melemah.
"Apa San?!" Mela terkejut dan sedikit berteriak.
"Hust....berisik kalian!!" ucap salah satu karyawan.
"Maaf. Pelankan suaramu!" ucap Susan pada sahabatnya itu.
"Jadi Elina itu anaknya Rey san? Apa kamu serius? Berarti Rey sudah punya istri donk?"
"Begitulah."
"Apa istrinya cantik san? Aku yakin pasti istrinya cantik banget, secara Rey itu ganteng banget," ucap Mela sambil memegang kedua pipinya membayangkan wajah Rey.
"Ingat Dandi...Aku belum pernah ketemu sama istrinya."
"Lha...kalau kamu main ke rumahnya emang ga ada tuh istrinya?"
"Ga ada. Aku aja baru tau kalau Elina itu anak Rey baru kemarin juga aku tau kalau itu rumanya. Sepertinya ada yang di sembunyikan dari ku oleh mereka."
"Mereka? mereka siapa maksudmu?"
"Rey dan Aldo. Aku yakin Aldo mengetahui semuanya. Rencananya hari ini aku akan menanyakan kepadanya tapi sial malah kena semprot."
"Itu salahmu sendiri molor di kantor."
Susan dan Mela melanjutkan pekerjaan mereka masing - masing.
Sepanjang pagi sampai siang Susan terlihat gelisah tidak tenang.
"Kenapa sih san Kayak cacing kepanasan gelisah begitu?"
"Apa aku ke ruangan pak Aldo ya Mel?, aku penasaran."
"Masuk aja lho!, kan sebentar lagi jam istirahat juga."
"Aku takut dia masih marah padaku."
"Kamu kayak ga kenal pak bos saja. Dia kan kalau sudah marah ya sudah selesai, nanti juga baik lagi asal kita ga ngulangi lagi. Apalagi kamu khan deket sama dia?"
"Baiklah sepertinya aku harus ke sana."
"Cayo Susan!!" Mela memberi semangat
"Cayo....!!"
Tok tok tok
Susan membuka pintu dan berjalan masuk.
Dilihatnya Aldo sedang sibuk dengan laptopnya tanpa melihat kedatangannya.
"Permisi pak"
"Hemmmm.." masih dengan posisi yang sama.
"Pak Aldo?" Susan sedikit gemetar
__ADS_1
"Ya," tanpa menoleh.
"Maaf sepertinya pak Aldo sibuk. Kalau begitu saya permisi," suasananya kaku.
Susan membalikan badannya hendak melangkah pergi.
"Siapa yang menyuruhmu pergi?!"
Langkahnya terhenti.
Aldo mendekatinya.
"Kamu pikir kamu bisa pergi begitu saja setelah kamu membuat kesalahan di pagi hari?! Tidak semudah itu gadis nakal!"
Aldo mengacak rambut Susan.
"Jangan lakukan itu, rambutku berantakan!" Susan menyingkirkan tangan Aldo dari kepalanya dengan kesal.
"Duduklah!"
"Aldo.." panggilnya pelan.
"Apa kamu sakit?" Aldo melihatnya aneh.
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya soal Rey dan Elina."
Muka Aldo terlihat terkejut.
"Apa yang kalian sembunyikan dariku?"
"Maksudmu?" Aldo pura - pura tidak paham.
"Jangan pura - pura!!. Aku tau kalian menyembunyikan sesuatu dariku."
"Apa maksudmu san?"
"Aku tau kalau Elina itu anak Rey."
"Dari mana kamu tau?"
"Benarkan ada yang kalian sembunyikan dariku?"
"Bukan aku. Kenapa tidak kamu tanyakan langsung pada Rey?"
"Hari ini aku belum ketemu dengannya."
Ceklek...
"Apa kalian membicarakan ku? senang sekali kalian bergosip tentang ku."
Aldo memberikan kode pada Rey untuk diam.
"Apa kalian sedang bertengkar?" tanyanya sembari duduk di depan Aldo.
"Rey....Aku mau tanya padamu dan kamu harus menjawab aku dengan jujur!"
"Apa sayang?" Rey
"Aku serius Rey!" nada suara Susan mulai meninggi.
"Baiklah. Apa yang mau kamu tanyakan padaku?"
"Apa Elina itu anak kandungmu?"
"Benar. Dia anak kandungku"
"Lalu kenapa kamu menyembunyikannya dariku?"
"Apa kamu pernah bertanya padaku tentang siapa ayahnya? Tidak pernah bukan?!. Lalu apa salahku?"
"Kenapa waktu kita pulang dari kota B kamu tidak jujur padaku? Padahal waktu itu kamu yang mengantar aku ke rumahmu sendiri. Dan kenapa orang - orang di rumahmu juga berlaku seolah - olah kalian tidak saling mengenal?. Kenapa Rey?!"
Susan mulai kesal dan marah.
"Dan kamu Aldo! Kenapa kamu tidak pernah memberitauku? Apa kalian berdua sekongkol untuk mengerjai ku?"
Mereka hanya diam.
"Dua kali Rey kamu mengantarku ke rumahmu sendiri. Ternyata kamu pandai berakting Rey. Kamu berpura - pura tidak mengenali karyawanmu sendiri dan mereka pun sebaliknya. Aku beri aplaus untuk akting kalian. Kalian hebat!" Susan bertepi tangan kesal.
"Maaf san. Aku tidak pernah berniat untuk membohongimu apalagi sampai mempermainkanmu."
"Tidak ingin membohongiku?. Apa kamu pikir ini bukan sebuah kebohongan dan permainan Rey?"
"Aku hanya ingin mengetahui seberapa tulus kamu menyayangi Elina tanpa harus mengetahui siapa orang tuanya."
"Jadi selama ini kalian meragukan perasaanku pada Elina? Kalian meragukan rasa sayangku padanya? Kalian semua terlalu!".
Susan tak sanggup menahan amarahnya, dia menangis.
Aldo mendekat dan merangkul pundaknya.
Susan menyingkirkan tangan Aldo kasar.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kamu tega melakukan ini padaku Aldo. Selama ini aku selalu percaya padamu."
Aldo tidak mampu berkata apa - apa. Dadanya terasa sesak mendengar ucapan Susan.
"Apa yang kalian lakukan padaku itu jahat!!"
Susan berdiri dan keluar meninggalkan tempat itu.
"Susan..."
Rey bermaksud untuk mengejarnya tapi di cegah oleh Aldo.
"Ahk....!!!"
Rey menjambak rambutnya dengan kasar.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Rey duduk kembali dan menceritakan kejadian malam itu.
"Apa kamu tidak tau kalau dia tidur di rumahmu?"
"Tidak. Biasanya dia hanya datang pagi dan sore pulang."
"Apa dia juga tau kalau kamu Presdir DJ Company?"
"Sepertinya belum."
"Dari awal aku ragu dengan apa yang kita lakukan. Apa yang aku takutnya ternyata terjadi."
"Sekarang dia pasti membenciku. Aku takut dia menjauhi putriku karna kesalahanku."
"Aku rasa dia tidak akan melakukan itu. Dia sangat mencintai Elina."
"Aku rela dia membenciku asal jangan putriku. Aku tidak bisa melihat Elina bersedih karena harus kehilangan dia. Dari lahir dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Baru beberapa saat dia mendapatkannya tapi aku sudah menghancurkan," Rey frustasi.
"Itu tidak akan terjadi. Aku paham dia. Biar aku nanti yang bicara padanya."
"Apa kamu yakin?"
"Percayalah!. Apa kamu mencintainya?"
"Aku tidak yakin. Dia sudah punya kekasih juga. Aku tidak mau berharap lebih. Dengan dia mencintai Elina saja aku sudah senang. Aku tidak berharap dia mencintaiku juga," ucap Rey pasrah.
Aldo menepuk pundak Rey.
"Sekarang pulanglah!. Tenangkan dirimu!"
"Aku tidak yakin bisa tenang."
"Aku akan membantumu. Aku tidak ingin melihatmu hancur untuk ke dua kalinya."
Rey menatap Aldo penuh harap.
Dia bersyukur mempunyai sepupu seperti Aldo.
Dia selalu memberi dukungan dan motivasi saat Rey hancur.
Menolongnya saat Rey jatuh.
Kalau tidak ada Aldo dan Dino mungkin nama Rey kini sudah tersemat pada batu nisan.
Aldo dan Dino yang selalu memberi dukungan.
Setelah Rey pulang, Aldo menekan nomor di hp nya.
Dia melakukan panggilan, tidak ada jawaban.
Ya .dia mencoba menghubungi nomor Susan berkali - kali tapi tetap tidak ada jawaban.
Aldo mengangkat gagang telepon kantor.
"Mela...apa ada Susan?""
"Maaf pak. Tadi Susan bilang mau pulang."
"Baiklah terimakasih."
Dia menghubungi Ana dan menceritakan kejadian hari ini pada istrinya.
"Biarkan dia tenang dulu. Nanti setelah tenang baru ajak dia bicara. Kalau sekarang mas Aldo ajak bicara dia, percuma. Dia tidak akan terima."
Ana selalu memberikan masukan yang terbaik dan masuk akal pada Aldo.
"Aku hanya kawatir."
"Dia tidak akan melakukan hal yang membahayakan dirinya sendiri."
** Semoga ceritanya tidak membosankan ya
mohon kritik dan saran serta like and komentarnya.
Terimakasih.
__ADS_1