Mutiara Hati

Mutiara Hati
Rindu Riko 2


__ADS_3

Aldo menyandarkan kepala Susan pada bahunya, tangannya memainkan jemari susan.


"Apa kamu masih mencintainya?" tanya Aldo lembut.


Susan hanya menggelengkan kepala dan masih bersandar pada pundak Aldo.


"Kenapa kamu rindu ketemu dia?"


Bukannya menjawab, wanita itu malah menangis.


"Aku ga tau kenapa tiba - tiba aku rindu dia," ucap Susan di sela tangisnya.


"Aku yakin sebenarnya Rey bukan melarangmu, dia hanya mau menjagamu. Benar yang dikatakan Rey, tidak baik seorang istri menemui mantan kekasihnya sendirian."


"Tapi Rey marah padaku, bahkan dia tidak memakan sarapan yang aku buat tadi pagi."


"Kenapa tidak kamu bawa saja untukku? Aku pasti memakannya."


Susan meremas tangan Aldo yang masih setia memainkan jemarinya.


"Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu tersenyum? Aku bosan melihat wajahmu seperti ini."


"Aku pergi saja kalau kamu bosan!"


"Mana boleh kamu pergi. Kamu itu tidak akan bisa menghindar dariku sekertarisku tersayang."


Aldo mengusap rambut Susan lembut layaknya seorang kakak memanjakan adiknya.


"Kamu tau? Aku akan melakukan apapun untukmu, termasuk membawa Riko kemari."


Susan mengangkat kepalanya dan melihat dalam mata Aldo.


"Apa kamu bercanda?" ucapnya tak percaya.


"Apa aku pernah bercanda padamu?"


"Bagaimana dengan Rey? Dia akan marah bila mengetahuinya?"


"Apa kamu takut dia marah padamu? Atau kamu takut Rey akan menghajar Riko?"


"Dua - duanya."


"Percaya padaku! Rey bukan pria yang mudah melukai orang tanpa alasan."


"Tapi aku takut," ucapnya kembali menyandarkan kepalanya pada bahu Aldo.


"Apa kamu tidak percaya padaku? Aku akan melindungimu dari siapapun termasuk Rey."


"Aku percaya padamu," ucapnya manja.


"Tapi....??" ucap Aldo.


"Tapi aku takut Rey marah juga padamu."


"Tenang saja! Dia itu sudah jinak," ucap Aldo sambil tertawa kecil.


Aldo memang selalu bisa membuat hati Susan senang. Apa pun masalah yang di hadapinya, hanya Aldo yang dia harapkan selain Rey suaminya.


Ceklek


Seorang pria tampan berdiri di depan pintu ruang Aldo. Saat melihat sikap Susan pada Aldo, pria itu hendak membalikkan tubuhnya dan pergi, tapi Aldo mencegahnya.


"Masuklah!" ucap Aldo pada pria itu.

__ADS_1


Susan melihat pria yang dimaksud oleh Aldo dan sangat terkejut.


"Riko??"


"Hay Susan, apa kabar?"


Riko berjalan mendekati Susan dan mengulurkan tangannya.


Susan menatap wajahnya lalu mengalihkannya pada Aldo sebelum menyambut tangan Riko dan mereka saling berjabat tangan.


"Baik. Riko, kenapa kamu bisa ada di sini?"


Sekali lagi Susan menatap Riko dan Aldo bergantian.


"Aldo bilang kamu mau bertemu denganku dan dia mengundangku ke sini."


"Aldo....." ucap Susan manja.


"Aku tidak mau melihatmu bersedih," Aldo mengusap lembut rambut Susan.


"Kalian ngobrolah! Aku akan meneruskan pekerjaanku."


Aldo menyingkir dan duduk di kursi kebesarannya untuk kembali bekerja, sesekali matanya mengamati mereka berdua.


"Apa kamu sehat San?" tanya Riko sedikit kaku.


"Aku sehat. Bagaimana denganmu?"


"Sehat juga. Apa Rey tidak kemari?"


"Dia sedang rapat."


"Kamu beruntung bisa mendapatkan Rey, dia pria yang baik. Rey juga beruntung bisa memilikimu," ucap Riko.


"Aku yakin kamu juga pasti mendapatkan yang terbaik," ucap Susan senyum.


"Mulai sekarang jangan main - main lagi! Kamu sudah mendapatkan Dokter cantik dan baik," ucap Aldo ikut nimbrung.


"Aku janji akan menjadi pria setia dan baik."


"San, bolehkah aku memelukmu sekali saja?" tanya Riko sedikit ragu.


Susan melihat ke arah Aldo seolah meminta pertimbangan.


Aldo menganggukan kepalanya mengerti apa maksud Susan.


"Boleh."


Riko mendekati Susan dan memeluknya, ada rasa bahagia karna dia dapat memeluk orang yang pernah dicintainya.


Meski kini mereka tidak lagi bisa bersama tapi Riko senang melihat Susan bahagia bersama Rey. Susan memang pantas bahagia bersama pria yang baik seperti Rey.


Tidak terasa air mata Susan mengalir di sudut matanya.


"Riko, aku rindu padamu," ucap Susan lirih.


Riko tidak menjawab, dia hanya tersenyum mendengar ucapan Susan. Riko senang mengetahui bahwa Susan masih punya rasa rindu padanya, meskipun dia tau bahwa rasa itu tidak lebih dari sekedar rindu pada seorang teman.


"Apa sudah cukup acara pelukan dan rindu - rindunya?"


Susan dan Riko sama - sama terkejut mendengar pemilik suara itu. Riko melepaskan tangannya dari Susan, begitu juga Susan.


"Rey, aku bisa jelaskan semuanya! Ini tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Susan gugup mendekati suaminya.

__ADS_1


Sama halnya dengan Riko, dia merasa tidak enak hati pada Rey.


"Rey, kami bisa jelaskan."


"Apa yang ingin kalian jelaskan?! Sudah jelas khan semuanya?" ucap Rey santai melihat mata Riko dan Susan bergantian.


"Rey, aku dan Riko..."


Rey meletakkan jarinya pada bibir istrinya.


"Kamu tidak perlu menjelaskan lagi sayang. Aku sudah tau semuanya, Aldo sudah memberitauku. Makanya aku ke sini."


"Jadi kamu tidak marah padaku Rey?" ucap Susan sumringah.


"Tidak. Aku tidak pernah marah padamu, tapi aku marah pada dia!" mata Rey menatap Riko.


Riko yang mendapat tatapan tajam Rey merasa semakin bersalah.


Rey mendekati Riko.


"Apa lebihnya dia dariku? kenapa istriku sampai merindukanmu?" ucap Rey berjalan mengitari Riko yang berdiri mematung.


"Rey, ini bukan salahnya! tapi aku yang salah," ucap Susan lalu menunduk sedih.


"Lihatlah! Istriku membelamu di depan suaminya," Rey menepuk pundak Riko.


"Kamu termasuk pria yang beruntung, istriku saja masih mau merindukanmu," lanjut Rey.


"Maaf Rey, aku tidak bermaksud..."


"Santai saja Riko! Aku hanya bercanda."


Rey meninju pelan lengan Riko. Suasana yang sempat tegang karna ulah Rey yang ingin mengerjai Susan dan Riko kini mencair dan penuh dengan gelak tawa persahabatan.


"Rey, apa kamu tidak marah?" Susan masih tidak percaya.


"Tidak sayang. Lagian kenapa kamu tidak bersabar? aku khan sudah bilang sampai pekerjaanku selesai baru aku menemanimu bertemu Riko."


"Aku pikir kamu marah padaku."


"Aku tidak bisa marah padamu sayang. Aku hanya takut kehilanganmu, aku takut kamu kembali lagi pada pria ini." Mata Rey melirik pada Riko.


"Aku tidak akan merebutnya darimu bung!" ucap Riko.


"Aku percaya padamu. Lagi pula kamu akan menjadi pria bodoh kalau sampai menelantarkan Dokter cantik itu."


"Apa kamu mengenalnya?" ucap Riko.


"Dia anak dari rekan Bisnisku. Dulu sempet mau dijodohkan padaku tapi kami sama - sama menolaknya. Aku juga baru tau dari Aldo kalau kalian menjalin hubungan asmara."


"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama," ucap Riko.


"Bagaimana kalau kita pergi cari makan? Aku sudah lapar," ucap Aldo.


"Setuju. Tapi Susan bersamaku karna dia istriku."


"Ini hari kerja, jadi dia harus bersamaku!" timpal Aldo.


Riko berjalan mendekati Susan dan menarik tangannya.


"Biarkan dia bersamaku! Bagaimanapun hari ini dia merindukanku, jadi aku yang berhak bersamanya untuk mengobati rindunya."


"Apa kamu sudah bosan hidup!"

__ADS_1


"Kalian sama saja! Kita naik mobil Rey saja!" ucap Susan jengah dengan tingkah mereka.


"Setuju sayang," ucap Rey menarik kembali tangan istrinya agar menjauhi dari Riko.


__ADS_2