Mutiara Hati

Mutiara Hati
Istana yang sebenarnya


__ADS_3

Mobil yang membawa Susan dan pengasuh Elina berhenti tepat didepan pintu gerbang yang menjulang tinggi dan megah. Disitu ada penjaga keamanan yang siaga menjaga. Begitu melihat mobil tepat didepan gerbang penjaga dengan siaga dan cepat membukakan pintu. Setelah berhenti diparkiran Susan membuka pintu dan turun.


Dia pun takjub dengan apa yang dia lihat saat ini. Sebuah rumah yang luar biasa megahnya dan luas, rumah itu bergaya modern bak istana.


"Bik, ini rumah atau istana?" ucapnya tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


Bik Sri hanya tersenyum melihat Susan terheran - heran.


"Mari Non kita masuk, Non Elin pasti seneng."


Susan berjalan mengikuti bik Sri dengan mengedarkan pandangannya keseluruh arah dan berdecak kagum.


Baru kali ini dia melihat dan menginjakkan kaki ke rumah semegah ini, bahkan rumah Aldo yang sudah bisa dibilang istana saja tak semegah ini meski dia seorang Presdir diperusahaan besar dan terkenal.


Gw kerja seumur hidup juga ga bakal bisa buat rumah seperti ini bahkan dalam mimpi saja ga mungkin.


Tiba - tiba gadis kecil berlari ke arahnya sambil berteriak senang.


"Mama....."


Elina dan Susan saling berpelukan melepas kerinduan. Susan mencium pipi dan kening Elina bertubi - tubi.


"Sayang Mama kangen banget sama kamu."


"Elin juga kangen banget sama Mama."


"Elin lagi apa sayang?"


"Mainan Ma"


"Sama siapa?"


Susan mengedarkan pandangan mencari seseorang yang mungkin dia kira teman bermain Elin, tapi tak ada tanda - tanda akan hadirnya orang kecuali para pekerja dirumah itu.


"Elin main sama si pinky ini Ma?"


Elina menunjukkan boneka kelinci yang dia pegang.


Ada kepedihan yang tiba - tiba menyelimuti hatinya saat melihat Elina menunjukan boneka - bonekanya yang dia susun rapi diatas kursi taman.


Dan terlihat mainan lain yang berserakan di samping boneka itu.


Apakah seperti ini kehidupan orang kaya? apakah selama ini gadis kecil ini merasa kesepian dan tidak ada teman sehingga dia harus bermain dengan boneka - boneka itu?

__ADS_1


apakah benar harta lebih berarti dari sebuah keluarga?


Dan banyak lagi pertanyaan yang muncul dalam pikirannya saat menyaksikan keadaan didepannya.


Tanpa terasa sebulir air menetes dari sudut matanya.


"Mama kenapa menangis?" tanya gadis kecil itu ketika melihat Susan mengusap air matanya.


Susan memeluk erat tubuh gadis itu dan bertambah deras pula air mata membasahi pipinya.


"Mama sayang sama Elina, Mama janji Mama akan membuat Elina bahagia sayang."


"Elina juga sayang Mama, Elina ga mau Mama pergi."


Gadis kecil itupun kini ikut menangis bahkan para pegawai rumah yang menyaksikan juga turut bersedih dan meneteskan air mata mereka terharu menyaksikan kejadian saat itu.


Baru kali ini mereka melihat gadis kecil itu merasakan hangatnya pelukan seorang ibu yang selama ini tidak pernah dia rasakan bahkan dari dia dilahirkan ke dunia.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang dari awal mengawasi dan ikut menyaksikan kejadian itu yang juga merasakan kepedihan mendalam bercampur dengan kebahagian dan haru.


Rey merasakan sesak di dadanya ketika melihat putri semata wayangnya itu menangis dalam pelukan Susan yang dia panggil mama.


Dia merasakan ada kerinduan mendalam yang dirasakan putrinya pada sosok seorang ibu.


Ada pula rasa syukur saat ini karna dia melihat putrinya dapat merasakan dekapan dan kasih sayang seorang ibu meski bukan dari ibu kandungnya sendiri melainkan sosok wanita yang juga tulus menyayanginya.


Rey terus memperhatikan apapun yang mereka lakukan di sore itu.


Ada perasaan bahagia dalam hatinya.


Inilah istana yang sesungguhnya. istana yang diharapkan semua orang. ya...inilah istana bagi putri kecilku Elina dan aku akan menjaga istana itu aku akan menjaga kalian berdua karna kalianlah penghuni istanaku.


Hari ini adalah awal dari kebahagian bagi gadis kecil itu, dia merasakan sentuhan seorang ibu, dia merasakan masakan seorang ibu, dia merasakan suapan dari seorang ibu dan dia pun merasakan merdunya sebuah lagu yang mengiringi tidur malamnya.


Susan menemani gadis kecil itu hingga malam dan sampai Elina tertidur pulas.


Apa yang mereka kerjakan hari ini tak luput dari perhatian Rey.


Merasa sudah larut malam Susan pun berpamitan pada pengasuh Elina.


"Bik saya pulang dulu ya, besok kalo ada waktu saya mampir lagi kesini."


"Iya Non, terimaksih ya Non untuk hari ini, bibik senang non susan mau kesini."

__ADS_1


"Iya Bik, saya juga senang kok bisa main sama Elina. tolong jaga Elina ya Bik..! kalo ada apa - apa jangan sungkan hubungi saya."


"Iya Non."


Bibik mengantarnya sampai pintu depan.


"Mari Non saya antar pulang," ucap seorang supir yang sudah siap dengan mobil disampingnya.


"Ga usah repot - repot Pak saya bisa naik taksi saja."


"Maaf Non ini perintah dari Tuan."


"Tuan?" ucapnya bingung


"Iya Non. Tuan yang menyuruh saya untuk mengantarkan Non Susan pulang ke rumah. kalo Non Susan menolak saya bisa dipecat Non," ucapnya dengan wajah sedih.


"Apakah Tuanmu tidak suka saya ada disini?"


"Bukan Non bukan itu. Tuan malah senang Non Susan disini makanya Tuan menyuruh saya mengantar Non pulang dan memastikan Non Susan selamat sampai rumah."


"Baiklah kalo begitu. Terimakasih ya Pak. Maaf sudah merepotkan."


"Tidak Non. Saya juga senang kalo Non Susan sering kesini."


Kalo Tuannya ada di rumah kenapa aku tidak melihatnya ya? Apa dia tidak mau menemuiku? Siapa sebenarnya orang tua Elina? Sesibuk itukah mereka hingga melalaikan tugas sebagai orang tua?.


Segudang pertanyaan muncul dalam benaknya setelah melewati kejadian hari ini.


Ada janji dalam hatinya bahwa dia akan selalu memberikan kasih sayang kepada gadis kecil itu apapun keadaannya kelak.


Rey memandangi wajah putrinya yang sedang tertidur lelap dengan senyuman manis berlahan Rey mencium lembut putrinya itu.


Ada rasa bersalah pada putri kecilnya karna tidak mampu memberi kebahagian seutuhnya meskipun dia sudah melakukan dan memenuhi semua yang dibutuhkan putri kecilnya.


Bagaimanapun juga dia tidak bisa memberikan kasih sayang seorang ibu itulah yang belum bisa diberikan kepada putri kesayangannya saat ini.


Dari dia lahir hanya diasuh oleh pengasuhnya meski terkadang mertua dan ibunya membantu tapi tetap saja berbeda dengan sentuhan seorang ibu.


Selama ini Rey mencoba tidak ingin mengenang masa lalunya kembali tetapi dengan kejadian hari ini mau tidak mau Rey kembali teringat akan masa lalu yang tidak dia harapkan sama sekali yang membuat hidupnya dan putri kecilnya kesepian seperti saat ini.


Dia tidak pernah menyalahkan siapapun dengan keadaan yang dia alami dan mencoba untuk ikhlas serta menerima bahwa ini merupakan takdir dari Tuhan.


## auto mewek 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2