
Karna kejadian semalam, pagi ini Nay bangun kesiangan. Dia tidak sempat membuat sarapan, untung bibik sudah menyiapkannya.
Nay masih bermalas - malasan di atas tempat tidur. Di lihatnya ke samping. Ternyata Elina sudah tidak ada. Dia sudah bangun lebih dulu dari Susan. Susan kembali menarik selimutnya ke atas menutupin seluruh tubuhnya.
Aku masih ngantuk sekali. Sepertinya tidak masalah kalau aku tidur sebentar lagi.
Di kamar, Rey pun masih tertidur dengan nyenyak. Dia merasa lelah karna harus pulang tengah malam.
Ceklek.....
Bruuukkkkk....
Tubuh kecil melompat di atas tubuh pria itu.
"Papa bangun..." panggilnya manja sambil menarik selimut Rey.
Rey membuka matanya kecil untuk melihat putrinya.
"Papa masih ngantuk sayang. Biarkan papa tidur sebentar lagi ya..."
Rey kembali menutup matanya.
"Ga boleh...papa harus bangun!"
"Nanti sayang. Kamu mainan saja dulu sama bibik."
"Ga mau. Elin mau main sama papa sama Mama."
"Mama?"
Mata Rey langsung terbuka sempurna begitu mendengar kata mama. Tangannya membelai lembut rambut putri semata wayangnya itu.
"Elina sayang, papa kan sudah bilang sama Elin. Mama sedang kerja, besok kalau mama sudah selesai kerjanya pasti mama pulang."
Ada kepedihan tersirat di mata pria itu. Dia harus berbohong pada Elina tentang mamanya.
"Tidak papa. Mama itu sudah selesai kerjanya, mama sudah pulang. Dan mama sekarang lagi bobo di kamar Elina. Makanya papa buruan bangun Aku mau jalan - jalan sama papa sama Mama."
"Sayang mana mungkin mama pulang?"
"Ayok papa bangun...kita bangunin mama"
Gadis kecil itu menarik - narik tangan Rey agar bangun dan ikut dengannya.
Dengan malas Rey menuruti kemauan putrinya itu.
Kamar Rey bersebelahan dengan kamar putrinya. Dia sengaja menempatkan kamar putrinya dekat dengan kamarnya agar dia dapat dengan mudah memperhatikan putrinya saat dia tidur.
"Sini papa gendong putri papa yang paling cantik ini."
Rey menggendong putrinya dan berjalan ke kamar Elina.
Pintu di buka.
"Huussstt...."
Gadis kecil itu meletakkan jari telunjuknya di bibir memberi kode agar papanya diam.
Rey melihat di atas ranjang ada seseorang di bawah selimut tebal itu.
Hati Rey penasaran.
Siapa dia? Kenapa dia bisa tidur di kamar Elina? Kenapa dia mengaku sebagai mamanya Elina?
Banyak pertanyaan yang mengiringi langkah Rey ke arah orang itu.
Rey menurunkan putrinya di sisi tempat tidur.
Rey memberanikan diri membuka selimut itu berlahan.
Rey terkejut mengetahui wajah siapa yang nongol saat selimut terbuka dengan sempurna. Rey memandangi wajah itu dengan tersenyum.
"Tidur saja kamu cantik sekali," ucapnya lirih mengagumi ke agungan Tuhan.
"Papa...papa malah ngomong sendiri."
Elina menarik baju papanya.
__ADS_1
Rey memberi kode pada putrinya.
"Satu....dua....tiga....!!!"
Mereka kompak memeluk tubuh wanita yang sedang terlelap itu.
Sontak mata Susan terbuka lebar, kaget.
"Mama...."
"Sayang..mama kaget lho."
Susan lebih kaget lagi ternyata Rey ikut memeluk tubuhnya.
"Hey apa yang kau lakukan Rey?"
Tangannya berusaha melepaskan pelukan Rey.
"Jangan lakukan di depan Elina, biarkan seperti ini. Aku tidak mau putriku sedih,"
Rey berbisik lirih di telinga wanita itu.
Putriku? Ternyata benar Elina anak Rey.
Susan bengong sejenak.
"Mama Bagun!. Aku mau jalan - jalan."
"Jalan - jalan kemana sayang?"
"Aku mau lihat kebun binatang ma."
"Baiklah nanti kita ke sana. Sekarang Elina mandi dulu, terus kita sarapan ya!"
"Elin mau di mandiin mama"
"Boleh sayang. Ayo kita mandi."
"Papa juga mau di mandiin mama," bisik Rey.
"Kamu hutang penjelasan padaku!" bisiknya penuh penekanan.
Susan menggendong Elina ke kamar mandi.
Rey berjalan ke luar dan masuk ke kamarnya sendiri.
Susan berjalan menuju dapur.
"Bibik.."
"Eh non Susan sudah bangun."
"Iya bik. Maaf aku kesiangan gara - gara semalam, jadi ga bisa bantuin bibik masak."
"Ga apa - apa non. Bibik sudah masak kok."
"Bibik masak apa?"
"Masak nasi goreng non, kesukaan tuan."
"O... dia suka nasi goreng bik?"
"Iya non. Tuan suka nasi goreng. Apalagi buatan nyonya Susi."
"Nyonya Susi....siapa dia bik?"
"Apa yang kalian bicarakan?"
Tiba - tiba Rey berdiri di belakang mereka.
Rey menatap tajam pada bibik. Bibik gemetar karna merasa melakukan kesalahan menyebut nama Susi di depan Susan. Padahal Rey sudah memperingatkan semua pegawai di rumah itu untuk tidak menyebut atau memberikan informasi tentang Susi.
"Apa sarapannya sudah siap bik?"
"Maaf tuan. Sudah." suaranya gemetar.
Susan menatap Rey curiga.
__ADS_1
"Ya sudah, kami mau sarapan. Bibik dan yang lain juga silahkan sarapan!"
"Baik tuan. Terimakasih tuan. Permisi non."
Rey mendudukkan Elina di kursi meja makan.
Dia pun lalu duduk di depan putrinya.
Susan duduk di samping gadis kecil itu.
Mereka menikmati sarapan layaknya keluarga kecil. Selama makan Susan selalu menatap Rey penuh dengan kesinisan dan pertanyaan.
Rey yang mendapat perlakuan seperti itu menjadi ngeri sendiri. Dia harus mencari cara agar Susan tidak menghukumnya dengan sebrondong pertanyaan.
Tiga orang berjalan diantara pepohonan dan beberapa hewan dalam kandang.
Mereka tampak bahagia, sesekali bercanda dan saling menggoda jail.
Siapa pun yang melihat mereka saat itu pasti akan menduga bahwa mereka adalah pasangan suami istri dengan satu orang putri.
Pasangan itu membuat orang - orang yang melihatnya semakin iri.
Mereka berfoto ria dengan binatang - binatang bahkan Rey dan Susan tak segan - segan saling bergandengan tangan.
Setelah puas melihat dan bermain dengan binatang - binatang. Mereka pergi ke taman wisata air.
Taman itu nampak sangat ramai karna memang saat itu hari Minggu.
"Ramai sekali sayang," ucap Susan pada putri kecil itu.
"Bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain saja?, di sini terlalu ramai mama takut kita tidak bisa main," lanjutnya.
"Ga mau. Elina mau di sini saja. Elin mau main itu ma."
Gadis kecil itu menunjuk permainan bebek air.
Mereka mendatangi tempat yang ditunjuk Elina. Ternyata bebek airnya sudah habis terpakai semua. Gadis itu nampak kecewa dan sedih. Rey yang melihat ekspresi putrinya mendekati petugas. Tidak lama kemudian Rey kembali dan disusul oleh petugas.
Petugas itu mengeluarkan kendaraan bebek air dari dalam ruangan.
Bebek air itu nampak berbeda dengan yang lain lebih cantik dan lebih besar.
Bebek itu memang di simpan khusus buat putrinya Elina. Ya...tempat wisata air itu merupakan milik Rey. Dia mendirikan tempat itu untuk menghibur putrinya agar tidak selalu menanyakan keberadaan mamanya. Hampir setiap bulan Rey membawa putrinya ke taman itu.
Wajah gadis kecil itu seketika terlihat senang.
Mereka bertiga naik, Rey dan susan kompak mengayuh pedal agar bebek itu berjalan ke tengah danau.
"Mama kayuhnya yang cepet!, masak kalah sama papa."
"Baik sayang mama akan kalahkan papa."
Susan menggerakkan kakinya dengan cepat. Tidak memakan waktu lama, dia merasa kelelahan.
"Makanya jangan napsu" ucap Rey mengejek.
"Siapa juga yang napsu?. Aku hanya lelah."
"Sudah kamu diam saja biar aku yang mengayuh!"
Rey menggerakkan kaki dengan kuat.
Hari sudah beranjak sore. Gadis kecil itu tertidur di pangkuan Susan. Bibir gadis kecil itu menyunggingkan senyum menandakan dia bahagia, sampai terbawa dalam tidurnya.
Susan membelai lembut rambutnya.
Rey yang memperhatikannya ikut merasakan senang. Dia melihat ada ketulusan dan kasih sayang yang besar dalam diri susan pada putrinya.
"Apa kamu senang san?"
"Aku bahagia bisa menghabiskan waktu bersamanya. Dia putri yang sangat cantik. Aku sangat mencintainya."
"Apa kamu juga tidak mau mencintai papanya?" Rey mulai jail.
Rey sendiri tidak tau mengapa sekarang dia suka jail, terutama pada Susan.
Setelah mengantar Susan pulang, Rey kembali ke rumahnya.
__ADS_1