Mutiara Hati

Mutiara Hati
Cemburu


__ADS_3

Akhir - akhir ini Rey rajin mengunjungi kantor Aldo bukan untuk bertemu dengan Aldo pastinya. Rey hanya mau bertemu dengan Susan.


"Rey, apa kamu tidak ada kerjaan hampir setiap hari kamu kemari?" tanya Aldo.


"Apa kamu mengusirku?!"


"Kalau aku mengusirmu memangnya kamu mau pergi? pasti tidak juga."


"Itu tau."


"Jangan terlalu sering ketemu Susan nanti bosan!"


"Setiap jam ketemu saja aku tidak akan bosan."


"Bukan kamu yang bosan tapi susan!"


"Kalian ngomongin apa?" Susan masuk.


"Rey bosan setiap hari ketemu kamu," ucap Aldo.


Susan menatap tajam Rey.


"Tidak sayang. Jangan dengarkan Aldo dia hanya sirik pada kita!" ucap Rey mendekati Susan.


"Jangan sentuh - sentuh! bukannya kamu bosan sama aku?"


Susan menepiskan tangan Rey.


"Sayang, apa kamu lebih percaya pada Aldo dibanding kekasihmu ini?"


"Ya. Aku lebih percaya dia dari pada kamu, karna dia bosku."


"Kalau begitu mulai besok kamu jadi sekertarisku saja dan jangan ketemu lagi sama Aldo!" ucap Rey kesal.


"Kenapa kalian malah berdebat di ruanganku? kalian memang bukan pasangan yang romantis. Susan, putuskan saja dia! besok aku carikan kamu kekasih yang lebih romantis!"


"Coba saja kalau berani!" ucap Rey.


"Sayang...kamu jangan percaya sama Aldo ya! aku tidak akan bosan, malah aku selalu merindukanmu makanya aku sering kemari," lanjut Rey.


Rey merayu dan merajuk seperti anak kecil minta permen pada Susan.


"San, besok ada utusan dari Teen Group katanya ini direktur yang baru, dia ingin mengenal perusahaan kita. Aku mau kamu yang menemuinya."


"Jam berapa?"


"Katanya sih jam makan siang, di restauran Aneka. Aku tidak bisa menemanimu karna mau antar Angel ke rumah sakit untuk imunisasi."


"Terus aku sama siapa?"


"Ajak Mela saja!"


"Biar aku yang menemanimu!" ucap Rey.


"Apa kamu yakin Rey? tapi aku tidak mau kamu merusak suasana!"


"Tenang saja! aku hanya menemaninya saja tidak akan macam - macam."


"Baiklah kalau begitu."


Rey dan Susan sudah datang di restauran tempat yang dijanjikan. Mereka duduk menunggu seseorang.


Tidak lama dari mereka datang, dua orang pria menghampiri mereka.


"Hay....bukannya kamu Susan ya?" ucap salah seorang dari mereka.


"Iya aku Susan dan kamu Dika?"


"Benar sekali. Apa kabar Susan? kamu makin cantik saja," ucap Dika menjabat tangan Susan lama.


"Terimakasih. Kamu juga makin sukses," jawab Susan ramah.


"O ya ini asistenku, namanya Leo." Dika memperkenalkan asistennya, matanya melirik pada Rey.

__ADS_1


"Kenalkan ini Rey!" ucap Susan memperkenalkan Rey pada Dika.


"Apa dia bosmu?" tanya Dika.


"Ah..bukan dia...."


"Aku kekasihnya!" ucap Rey datar memotong perkataan Susan.


"Oh...Baiklah Susan, bagaimana kalau kita makan saja dulu sebelum kita lanjut pada pembicaraan kita? lagi pula sudah lama kita tidak bertemu," ucap Dika menatap intens Susan.


"Boleh juga."


Mereka memesan menu makanan dan mulai menikmati hidangan yang mereka pesan.


"Apakah kamu masih tinggal di rumah itu?" tanya Dika.


"Ya."


"Bagaimana kalau kapan - kapan kita mengadakan reuni kecil bersama teman yang lain, terus terang aku rindu pada kalian."


"Boleh. Kabari saja waktunya kalau aku tidak sibuk pasti datang!"


"Bagaimana kabar Riko? Apa kalian sudah lama putus?" Dika melirik sejenak pada Rey.


"Kami sudah lama tidak berhubungan lagi."


"Aku kalah cepat dengan Riko. Kamu lebih memilih dia dari pada aku." ucap Dika mengenang kekalahannya dalam merebut hati Susan.


Dika adalah teman Susan dan Riko waktu kuliah.


Dika juga mencintai Susan sama halnya dengan Riko tapi Riko lebih cekatan dalam hal mencuri hati Susan. Susan pun lebih memilih Riko ketimbang Dika tapi meskipun Dika kecewa karna cintanya bertepuk sebelah tangan tapi dia tetap menjalin hubungan baik dengan Susan dan Riko.


"Apa kamu belum menikah Dika?" tanya Susan.


"Belum. Aku menunggumu," ucap Dika sembari mencondongkan kepalanya pada Susan lalu dia tersenyum.


"Kamu jangan bercanda! aku yakin banyak wanita yang mau denganmu, jangan terlalu memilih!" ucap Susan.


Bagaimana dengan wajah Rey? Kalian pasti tau donk wajah pria itu bagaimana?


Wajah Rey ditekuk menjadi sembilan lipatan melihat keakraban Susan dan Dika.


Rey cemburu.


"Aku permisi," Rey berdiri.


"Mau kemana Rey?" tanya Susan.


"Mencari angin segar, di sini sangat panas."


Rey mengibas - ngibaskan tangannya lalu pergi.


"Apa kekasihmu itu cemburu?"


"Tidak mungkin, dia pria yang baik dan pengertian. Tenang saja!"


"Baiklah. Kita lanjutkan pembicaraan kita masalah kerjasama perusahaan."


Apa benar Rey cemburu pada Dika?


Susan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kamu kenapa san?" tanya Dika heran melihat wajah Susan.


"Ah..tidak. Lanjutkan!"


Dika menjelaskan semua isi dalam berkas yang dia bawa tentang kontrak kerjasama perusahaan.


"Baiklah, dokumen ini akan saya pelajari bersama pak Aldo. Nanti aku kabari kalau sudah ada keputusan dari pak Aldo." Ucap Susan membereskan berkas di depannya.


"Jangan lupa hubungi aku kalau ada yang perlu diperbaiki!"


"Jangan kawatir! aku pasti menghubungimu."

__ADS_1


"Satu lagi. Jangan lupa setelah ini kamu masih ada tugas lain!"


"Apa?"


"Merayu kekasihmu itu. Aku yakin dia cemburu kepadaku," ucap Dika tersenyum.


"Kamu masih sama seperti yang dulu suka usil."


"Baiklah. Kalau begitu aku pulang dulu, lain kali boleh donk kita makan berdua saja?"


"Jangan buat gara - gara!"


Dika tertawa mendengar ucapan Susan, dia paham dengan apa yang dimaksud Susan.


Dika dan Leo pergi meninggalkan Susan.


Susan mencari keberadaan Rey dan menghubunginya lewat telepon.


Rey menunggu Susan di dalam mobil.


Wajahnya kelihatan sekali bila dia sedang tidak mood dan cemburu.


"Rey. Kenapa kamu di sini?" ucap Susan masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Rey.


"Apa sudah selesai?" tanyanya datar tanpa melihat Susan.


"Sudah."


"Aku antar kamu kembali ke kantor!"


Rey melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa menghiraukan Susan. Tatapannya lurus ke depan dan kaku seperti robot.


"Rey, bisa kamu pelankan mobilmu?! Kalau seperti ini sama saja kamu mau membunuhku dan kita bisa mati."


"Apa kamu tidak mau mati bersamaku?" masih datar dan tanpa ekspresi lurus ke depan.


"Turunkan aku di sini! kalau kamu mau mati silahkan mati sendiri! aku masih mau menikmati hidup."


Rey menghentikan mobilnya secara mendadak. Susan yang tidak ada persiapan kepalanya membentur dasboard mobil.


"Auw...!!" teriaknya kesakitan langsung memegang kepalanya.


"Apa kamu sudah gila Rey?!! Kalau kamu mau membunuhku bukan begini caranya!!"


"Sayang...maaf aku tidak bermaksud seperti itu."


Rey memegang kepala Susan dan memeriksanya dia sangat kawatir.


"Sudah hentikan jangan sentuh aku!" Susan menepis tangan Rey


"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk melukaimu." Rey merasa bersalah dan menyesal.


"Buka pintunya! Kamu tidak usah mengantarku! aku naik taksi saja."


Rey meraih tangan Susan.


"Sayang. Apa kamu marah padaku? maafkan aku. Aku hanya cemburu pada Dika." Ucap Rey memelas.


Susan menatap Rey.


"Tapi tidak begini caranya Rey! Apa yang kamu lakukan itu sangat berbahaya."


"Iya maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi tapi kamu harus janji tidak akan dekat - dekat lagi pada pria itu."


"Rey. Dia itu partner bisnis perusahaan dan dia itu temanku."


"Aku lihat dia menyukaimu, bukan hanya sekedar partner bisnis."


"Apa kamu tidak percaya padaku lagi Rey?" Susan mulai kesal.


"Aku percaya padamu tapi aku tidak percaya pada pria itu."


"Terserah kamu saja! Aku tidak mau ribut hanya gara - gara hal kecil."

__ADS_1


Susan memposisikan tubuhnya lurus kedepan begitu pula dengan pandangannya.


"Baiklah. Kita kembali ke kantor." ucap Rey pasrah dan kembali melajukan mobilnya.


__ADS_2