Mutiara Hati

Mutiara Hati
Angelica Yusephina


__ADS_3

"Apa kamu sedang sibuk sayang?" ucap Rey tiba - tiba nongol di depan Susan.


"Rey...kamu bikin aku kaget saja. Ada apa kemari? ini kan jam kantor."


"Apa Aldo ada?"


"Hari ini sampai beberapa hari kedepan dia tidak ke kantor."


"Apa dia ke luar kota?"


"Tidak Rey. Dia di rumah, sebentar lagi istrinya mau melahirkan, dia mau jadi suami yang siaga."


"Apa sudah ada tanda - tanda?"


"Belum sih, tapi dia mau menemani istrinya di rumah."


"Baguslah. Bagaimana kalau kita pergi makan?"


"Rey....aku masih kerja."


"Ayolah sayang...sebentar lagi jam istirahat."


"Kamu tunggu saja sebentar! ga enak sama yang lain, lagi pula bisa dimarah juga aku sama Aldo."


"Baiklah. Aku tunggu di bawah ya?"


Restauran tempat mereka makan tampak sangat ramai.


"Ramai sekali Rey, kayaknya udah ga ada tempat deh."


"Kata siapa? ikut aku!" Rey menarik tangan Susan menuju ruangan di sudut restauran itu.


"Aku baru tau kalau ada ruangan di sini?"


"Biasanya ini ruang khusus, hanya orang - orang tertentu yang masuk ke sini."


"Pasti mahal ya Rey? tempatnya nyaman."


"Lumayan mahal, apa kamu mau setiap hari kita makan di sini?"


"Memang kamu ga sayang uangmu kalau setiap hari ke sini?"


"Aku lebih sayang kamu daripada uangku."


"Boleh juga. itung - itung ngirit kalau setiap hari kamu traktir aku, uang gajiku utuh."


"Ternyata kekasihku ini matre ya...." ucap Rey sembari mencubit hidung Susan.


"Rey...kalau ternyata aku matre beneran apa kamu masih mau sama aku?"


"Asal kamu bener - bener mencintaiku."


"Kalau aku cuma menginginkan hartamu gimana?"


"Aku akan menghukummu!"


"Apa?"


"Hukuman diatas ranjang..."


"Rey..kamu nakal sekali."


Sementara di tempat lain, Aldo dan Ana sedang bercengkerama di halaman belakang rumah mereka.


"Bagaimana kabar Susan Mas?"


"Baik. Beberapa hari yang lalu sudah mulai kerja makanya sekarang aku bisa menemanimu."


"Jangan terlalu diebani dengan pekerjaanmu Mas! biar dia pulih dulu."


"Tidak sayang. Aku sudah menyuruh Mela untuk membantunya."


Tiba - tiba Ana merasakan sakit yang hebat pada perutnya.


"Auw....Mas perutku sakit sekali.....!!" Ana memegangi perutnya sedangkan tangan satunya mencengkeram lengan Aldo.


"Sayang, apa kamu mau melahirkan? Kita ke rumah sakit sekarang!".


Aldo menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke dalam mobil."

__ADS_1


"Bibik...tolong ambilkan perlengkapan melahirkan di kamar!"


"Pak...antar kami ke rumah sakit sekarang!"


pinta Aldo pada supirnya.


"Baik tuan."


"Cepat ya pak! kasihan istriku kesakitan."


"Baik tuan."


"Sayang, bertahanlah! kamu pasti kuat.."Aldo terus memberi motivasi pada istrinya, sesekali dia mencium kening istrinya.


"Mas....sakit Mas..."


"Sabar sayang sebentar lagi sampai. Pak bisa lebih cepat lagi?!"


Petugas medis menyiapkan perlengkapan untuk proses persalinan.


"Dokter apakah saya boleh menemani istri saya?"


"Boleh tuan. Tapi saya periksa istri anda sebentar."


Rey dan Susan menghampiri Aldo dengan cemas.


"Aldo, bagaimana keadaan mbak Ana sekarang?" tanya Susan cemas.


"Dokter masih memeriksanya."


"Aku yakin mbak Ana pasti kuat."


"Tuan Aldo. Silahkan menemani istri anda dalam proses persalinan! Tapi anda harus kuat jangan sampai pingsan itu akan membuat kami repot!" ucap dokter yang menangani Ana.


Dokter itu tidak mau kalau suami yang menemani istri melahirkan malah pingsan karna tidak tega melihat istrinya kesakitan dan itu sering terjadi.


Rey duduk di kursi tunggu dengan wajah pucat.


"Rey....apa kamu sakit sayang?" ucap Susan kawatir dengan keadaan Rey.


"Tidak."


"Tidak perlu!. Aku tidak apa - apa."


"Tapi wajahmu pucat Rey."


Tiba - tiba Rey mendekap erat tubuh Susan.


"Rey....ada apa denganmu? jangan buat aku kawatir Rey!"


"Aku takut san...Susi meninggalkanku saat dia melahirkan Elina. Aku takut Aldo mengalami hal yang sama denganku."


"Rey...percayalah! Mbak Ana pasti bisa melewati ini dan aku yakin dia tidak akan meninggalkan Aldo, dia tidak akan meninggalkan kita."


"Apa kamu yakin?"


"Aku yakin."


"San...bagaimana kalau setelah kita menikah kamu tidak usah melahirkan saja?. Aku tidak mau kehilanganmu."


"Jangan bercanda Rey! buat apa kita menikah kalau tidak mau punya anak?"


"Tapi aku takut hal itu terjadi lagi."


"Sayang....dengarkan aku! Tuhan menyayangi umatnya dengan berbagai cara dan kita mempunyai jalan masing - masing. Percayalah! Tuhan tidak akan mengambil orang yang kamu sayangi dengan cara yang sama untuk kedua kalinya."


Suara tangis bayi memecah suasana.


Ada wajah - wajah bahagia mengelilingi bayi mungil itu.


Ana melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat imut dan cantik.


"Sayang, lihatlah! wajahnya mirip sekali denganmu, cantik sekali," ucap aldo sembari memperhatikan putri kecilnya dalam box bayi.


"Tentu mirip aku, aku kan mamanya."


"Terimakasih ya sayang, kamu sudah memberikan kebahagiaan bagiku." Aldo mencium pucuk kepala istrinya.


"Mbak Ana selamat ya, dedek bayinya imut dan cantik banget."

__ADS_1


"Terimakasih ya san. Aku berharap saat dewasa nanti dia cantik dan baik seperti kamu."


Rey mendekati Ana dan langsung memeluknya.


"Rey....apa kamu baik - baik saja?" Ana terkejut melihat sikap Rey.


"Ana, aku senang melihatmu tersenyum."


"Rey, ada apa denganmu?" ucap Aldo.


"Aku hanya teringat pada Susi."


"Rey..."


Aldo merangkul tubuh Rey.


"Relakan dia Rey! Aku yakin dia juga bahagia melihat kita di sini."


"Kenapa semua jadi melo sih? bukannya hari ini harusnya kita senang? ada bidadari baru di sini." ucap Susan mencoba mencairkan suasana.


Semua tersenyum mendengar ucapan Susan.


"Susan, maukah kamu memberi nama pada putri kami?" tanya Ana.


"Aku?? kenapa harus aku? kan ada Aldo bapaknya."


"Kami ingin saat dia tumbuh dewasa nanti akan menjadi orang baik seperti kamu."


"Tapi aku tidak mempunyai nama yang bagus."


Susan mencoba berpikir sejenak.


"Bagaimana kalau namanya Angelica? ya...Angelica...malaikat yang cantik."


"Bagaimana Mas?"


"Nama yang bagus. Angelica Yusephina. Dia akan menjadi malaikat yang baik bagi semua orang."


Saat mereka sedang asyik berbincang pintu terbuka dan Dino masuk dengan seorang wanita.


"Hay Ana..selamat ya udah menjadi mama." Dino menghampiri Ana.


"Terimakasih ya Dino."


"Hay bro...selamat sudah menjadi papa. Mulai sekarang jangan banyak tingkah."


"Enak saja...Lo tuh yang banyak tingkah."


"Dino...siapa yang bersamamu?" tanya Susan.


"O ya...kenalkan ini Justyn kekasihku."


"Hay..."


Justyn memperkenalkan diri dengan ramah.


"Tunggu sebentar! sepertinya aku mengenalmu nona?. Bukankah kamu ini yang membantu kami waktu menjebak Merry?" ucap Rey.


"Ternyata ingatanmu masih bagus Rey," ucap Dino.


"Jangan bilang saat itu kalian sudah pacaran?"


"Kami sudah lama pacaran dan sebentar lagi kami akan menikah."


"Apa kamu gila Dino?! kamu tega menjadikan kekasihmu sebagai umpan. Apa kamu tidak takut terjadi apa - apa dengannya?!'.


"Sorry." ucap Dino singkat dan santai.


"Kenapa kamu mau dengan pria gila ini Justyn?"


Wanita itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Rey.


Dia maklum dengan kekesalan Rey karna pada saat kejadian itu Rey pun mengkhawatirkannya.


Tetapi Justyn dan Dino memang sudah memutuskan untuk melakukan itu.


Angelica Yusephina


__ADS_1


__ADS_2