Mutiara Hati

Mutiara Hati
Restu


__ADS_3

Rey menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah pemakaman keluarga.


Setiap tahun Rey selalu mengunjunginya disaat hari ulang tahunnya tapi kali ini Rey tidak sendirian dan kali ini bukan hari ulang tahunnya.


Bunga indah dia bawa saat menemuinya sebagai tanda cinta kepadanya.


Hari ini Rey ingin mengenalkan seseorang kepada istrinya.


Rey berdiri di samping batu nisan yang terukir indah.


"Selamat siang sayang, apa kabarmu di sana?"


Rey berjongkok menyentuh batu nisan dan meletakan buket bunga di atasnya.


Sebuah foto wanita cantik dengan senyum manis terpampang di sana.


Senyum yang selalu dia rindukan, senyum yang pertama kali membuatnya jatuh cinta.


Namun Rey harus kehilangan senyum itu untuk selama - lamanya.


"Sayang, hari ini aku membawa putri kita Elina. Lihatlah dia sangat mirip denganmu bukan?!" ucap Rey sembari memeluk putri kecilnya.


"Maaf kalau baru sekarang aku membawanya kepadamu."


"Pa, apa ini Mama Elina?"


"Iya sayang, ini makamnya Mama Elina, Mama Susi."


"Ma, Elina datang mau lihat Mama. Elina rindu sama Mama, Elina sayang sama Mama. Mama bahagia ya di surga."


Ucapan gadis kecil itu terdengar sangat menyayat hati.


Susan berjongkok dan memeluk pundak Elina.


"O ya sayang, kami ke sini ingin mengenalkan seseorang padamu, dia sangat mencintai putri kita."


Rey menggenggam tangan Susan.


"Ini Susan, wanita yang selama ini menyayangi putri kita. Dia telah mengisi hati kami."


Rey menatap Susan dan tersenyum.


"Halo Mbak, salam kenal. Aku janji akan menjaga dan menyayangi mereka seperti Mbak Susi menyayangi mereka. Aku harap mbak Susi mau merestui kami," ucap Susan.


"Sayang, kami ingin kamu merestui hubungan kami. Aku tidak pernah menggantikanmu dengan siapapun, kamu tetap akan selalu ada dalam hatiku, dalam hati putrimu. Kamu dan Susan akan sama - sama ada dalam hati kami. Kalian adalah harta kami. Mau kah kamu merestui kami?"


Mereka memanjatkan doa sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


"Pa, sekarang kita mau kemana?" tanya Elina.


"Bagaimana kalau kita kerumah Oma Reka saja? kita sudah lama tidak ke sana."


"Hore....!! Elina sudah kangen sama Oma dan Opa. Pa, apa kakak Raka ada di rumah Oma ya? aku sudah lama ga pernah ketemu sama kakak Raka."


"Kata Uncle kakak Raka hari ini main ke rumah Oma."


Elina merasa senang mendengar bahwa Raka juga ada di sana.


Raka adalah putra dari Shandy dan Ririn, umurnya sudah tujuh tahun.


Elina memang sangat senang bermain dengan Raka meski terkadang Raka suka iseng dan terkadang Elina sampai menangis karna keisengan Raka.


Meski begitu Elina tidak pernah membencinya malah sebaliknya, dia sangat menyayangi Raka.


"Oma....." panggil Elina sambil berlari saat melihat Omanya sedang menyirami bunga.


"Oh...cucu Oma," ucap wanita itu memeluk tubuh mungil Elina.

__ADS_1


"Oma, kakak Raka mana?"


"Kok yang ditanyain kakak Raka? memangnya ga kangen sama Oma?"


"Kangenlah Oma."


"Oma," ucap Susan memberi salam.


"Sayang kamu kemari Nak?" Oma Reka senang melihat Susan.


"Iya Oma."


Mereka saling memeluk cukup lama.


"Oma, apa menantu Oma ini sudah tidak dirindukan lagi?" ucap Rey seakan terabaikan.


"O iya, Oma lupa kalau punya memantu setampan ini," ucap Oma sambil memeluk Rey.


Meskipun Susi sudah tidak ada tapi Rey masih menyambung silahturahmi dengan keluarga Susi dengan baik bahkan Rey mengganggap orang tua Susi adalah orang tuanya juga dan sebaliknya, orang tua Susi sangat menyayangi Rey.


"Hai Nona cantik, apa kamu merindukanku?"


Susan menoleh ke sumber suara.


"Shandy?!"


"Apa kamu rindu padaku?"


Susan tersenyum malu.


"Ayolah jangan malu - malu! Apa kamu tidak ingin memeluk tubuhku yang macho ini?" ucap Shandy sambil merentangkan tangannya.


"Siapa yang ingin kamu peluk Mas?"


Seorang wanita cantik berdiri di belakang Shandy dengan menarik telinga pria itu.


"Hay Susan," ucap wanita itu mendekat pada Susan dan memeluknya.


Susan merasa cangguk, wanita itu tadi marah kepada suaminya tapi sekarang malah memeluknya.


"Aku Ririn, istri Mas Shandy. Senang bisa bertemu denganmu."


"Saya Susan Mbak," ucap Susan sedikit kaku.


"Jangan kaku! anggap kami ini keluargamu. Mas Shandy sudah cerita semua tentang kamu."


"Iya Mbak."


"Mana Rey?"


"Rey masih sama Oma."


"Siapa yang mencariku?" ucap Rey


"Kenapa kamu tidak pernah cerita kalau punya kekasih secantik dia?!"


Ririn menarik telinga Rey.


Ririn memang hobi menarik telinga tapi bukan karna marah, dia melakukan itu karena dia menyayangi mereka.


"Apa hobimu itu tidak bisa dihilangkan Kakak Ipar? Lama - lama telingaku panjang," ucap Rey kesal.


"Kamu pikir telingaku juga tidak panjang?!" ucap Shandy menimpali Rey.


"Kalian berdua sama saja! Susan aku peringatkan padamu untuk hati - hati dengan dua pria berotak mesum ini ya."


Susan tersenyum mendengar ucapan Ririn.

__ADS_1


"Hey.. siapa yang mesum? Kalau aku mesum wajar, aku punya istri cantik sepertimu. Melihatmu saja aku sudah tidak tahan apalagi melihatmu di atas ranjang, gairahku langsung memuncak. Beda dengan dia, tidak ada pelampiasan," ucap Shandy.


"Jangan mengejekku! Sebentar lagi aku juga punya mainan dan ku pastikan permainanku lebih hebat darimu," Rey tidak mau kalah.


"Susan, apa kamu yakin mau menikah dengan dia? Kalau aku boleh saran, lebih baik kamu pikir - pikir lagi deh sebelum kamu menyesal."


"Hey... apa maksudmu pikir - pikir lagi?! Dia tidak akan menyesal menikah denganku karna aku akan membuatnya selalu ketagihan dan minta lagi."


Ririn menarik tangan Susan dan membawanya pergi dari dua pria itu.


"Kalau kamu lama - lama bersama mereka, aku pastikan telingamu akan sakit," ucap Ririn.


"Apa mereka selalu seperti itu kalau ketemu?"


"Ya. Mereka seperti Tom and Jerry. Tapi meskipun begitu, mereka itu saling menyayangi dan melindungi."


"Pantas saja. Apalagi kalau ada Aldo pasti tambah hancur."


"Apa kamu juga mengenal Aldo?"


"Ya. Dia bosku di tempat kerja."


"Kamu bekerja dengannya?"


"Apa Mbak Ririn juga mengenalnya?"


"Kami dulu satu alumni. Dia orang yang sangat baik dan bijaksana. Bagaimana kabarnya sekarang?"


"Baik. Dia sudah mempunyai seorang putri cantik."


"O ya? Ana sudah melahirkan? Jantan juga Aldo."


"Mbak Ririn bisa saja."


"Kapan kalian mau menikah? jangan lama - lama, kasihan Rey sudah lama nganggur."


"Kami belum menentukan tanggalnya."


"Kalau bisa secepatnya. Biar kamu bisa merasakan surga dunia itu seperti apa."


"Mbak Ririn sama juga sama mereka," ucap Susan.


"he... he.... he... Ketularan."


"Apa kamu tau kalau Rey itu duda?"


"Awalnya aku tidak tau kalau dia duda, Aldo yang mengenalkan kami. Aldo juga tidak bilang kalau dia duda dan mempunyai putri. Bahkan aku lebih dulu mengenal putrinya, aku juga tidak tau kalau Rey itu Papanya Elina."


"Kenapa kamu masih mau dengan dia padahal dia bukan perjaka?"


"Apa kamu juga mau meracuninya?!"


Rey tiba - tiba muncul di belakang mereka.


"Kenapa kamu suka sekali nguping?" ucap Ririn.


"Aku tidak nguping, aku hanya ingin memeluk kekasihku," ucap Rey sambil memeluk pinggang Susan dari belakang.


"Rey.... malu ah," wajah Susan memerah.


Ririn tersenyum melihat tingkah mereka.


"Kamu siap - siap saja San! Kamu bakal di makan sama buaya ini tiga kali sehari seperti makan obat."


"Siapa bilang tiga hari sekali? aku maunya setiap jam."


"Rey..!?" Susan melotot pada Rey.

__ADS_1


"Sayang, aku hanya bercanda."


__ADS_2