Mutiara Hati

Mutiara Hati
Persalinan 2


__ADS_3

Rey mondar - mandir di depan ruang operasi, pikirannya kacau, jam serasa berjalan sangat lambat.


Aldo berjalan setengah berlari menghampiri Rey.


"Rey, bagaimana keadaan Susan?"


"Masih di dalam, menjalani operasi."


"Sabar Rey, Susan pasti kuat dan selamat," Aldo menepuk pundak Rey lalu memeluknya.


"Aku takut dia akan meninggalkan kami."


"Tidak Rey. Jangan bicara seperti itu! Susan wanita yang kuat."


Aldo mencoba menguatkan Rey meskipun tidak dipungkiri bahwa dia sendiri merasa sangat khawatir dan takut.


"Kita berdoa semoga semua lancar," ucap Aldo membawa Rey untuk duduk.


Tidak seberapa lama Dino datang menghampiri mereka.


"Aldo, Rey, bagaimana keadaan Susan?"


Rey hanya menatap nanar Dino.


"Masih menjalani operasi," ucap Aldo.


"Sabar ya Rey, Susan pasti kuat," ucap Dino memeluk Rey.


Rey hanya pasrah air matanya tetap setia menetes.


Hampir satu jam mereka menunggu dengan resah dan gelisah.


Dokter Nelsa keluar dengan wajah yang tidak meyakinkan.


"Dokter, bagaimana keadaan istriku?" tanya Rey gelisah.


"Maaf Rey, Susan harus menjalani observasi di ruang ICU karna keadaannya sangat lemah, dia banyak mengeluarkan darah saat operasi."


Kaki Rey terasa lemas dan tubuhnya jatuh tersungkur di lantai.


"Apa aku harus kehilangan dia lagi? Kenapa Tuhan tidak membiarkan aku bahagia," ucap Rey dalam tangisnya.


Aldo dan Dino mencoba untuk menguatkan Rey tapi untuk saat ini sia - sia.


"Bagaimana dengan bayinya Dokter?" ucap suara di belakang Nelsa.


"Maaf, Anda siapanya pasien?"


"Saya Papanya Rey, mertua Susan."


"Kedua bayinya sehat Tuan."


"Maksud Dokter cucu kami kembar?" tanya Oma seakan tidak percaya.


"Benar Nyonya, cucu anda kembar. Saat ini sedang dalam perawatan perawat kami."


"Apa kami boleh melihatnya Dokter?"


"Boleh tapi setelah selesai dibersihkan dan di pindahkan ke ruang bayi."


"Nelsa, kapan kami bisa melihat Susan?" ucap Aldo.


"Tunggu sampai keadaannya stabil. Tapi hanya satu orang yang bisa masuk karna itu bukan ruangan biasa."


"Apa tidak bisa dua orang? Aku dan Rey."

__ADS_1


"Coba nanti aku izin sama penanggung jawab ruangan dulu."


"Terimakasih Nelsa."


Nelsa meninggalkan mereka dan berjalan kembali ke ruangannya.


Setelah beberapa saat Nelsa kembali menemui mereka.


"Aku sudah minta ijin dan kalian diperbolehkan masuk menjenguk Susan, tapi jangan berisik biarkan dia istirahat karna kondisinya belum stabil."


"Terimakasih Nelsa."


Rey dan Aldo berjalan menuju ruang ICU dan mendekat pada Susan yang masih terkulai lemah. Wajahnya masih terlihat pucat tak berdaya tapi tersungging senyum pada bibirnya.


Rey mengusap lembut wajah istrinya ada kepiluan pada hati Rey.


"Sayang, bukankah kamu sudah berjanji tidak akan meninggalkan kami? Bangunlah sayang!"


Aldo hanya bisa terpaku melihat wajah Susan pikirannya melayang pada wajah adiknya Selvi, ada kerinduan yang mendalam dalam hatinya. Ada kepedihan yang berkecamuk bercampur menjadi satu, ketakutan pun ikut mengobrak - abrik hatinya.


"Selvi, kamu pernah bilang agar Kakak selalu menjaganya, tapi kali ini Kakak gagal menjaganya. Kakak melihatnya terkulai saat ini dan Kakak tidak bisa melakukan apapun sama seperti saat Kakak melihatmu terkulai di depan mata, Kakak tidak bisa melakukan apapun," ucap Aldo lirih.


Aldo membelai rambut Susan dan mencium keningnya.


"Kamu harus kuat San! kamu harus kembali ke kantor! Pekerjaanmu sudah menunggu. Kamu sekertaris kesayanganku tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu."


"Sayang, apa kamu tidak rindu pada kami? Bangunlah!" ucap Rey.


Seharian Rey dan Aldo menunggu Susan, tapi belum ada tanda - tanda bahwa Susan akan sadar.


"Rey, sebaiknya kamu pulang saja! biar aku yang menemaninya di sini."


"Tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkannya. Kamu saja yang pulang! Kasihan Ana pasti menunggumu."


"Aku akan menunggunya juga. Ana mengerti. Lagi pula dia juga ada di sini bersama orang tuamu di ruang rawat bayi."


"Meraka sehat. Apa kamu tidak ingin melihatnya sebentar?"


"Aku akan melihatnya bersama Susan."


"Terserah kamu saja, yang penting sekarang kamu harus istirahat! Jangan sampai saat Susan bangun melihatmu kusut seperti ini."


"Bagaimana denganmu? Apa kamu juga mau Susan bangun dan melihatmu seperti ini?"


Sedikit tersungging senyum pada bibir kedua pria itu, ada rasa konyol dalam pikiran mereka.


"Kamu pulanglah dulu dan mandi! Aku akan menunggunya setelah kamu kembali aku akan pulang dan mandi," ucap Aldo.


"Baiklah. Aku titip dia, tolong jaga dia dan kabari aku bila sebelum aku datang dia sudah bangun!"


"Pasti. Orang pertama yang akan aku kabari adalah kamu."


Rey mencium kening istrinya sebelum meninggalkannya bersama Aldo.


Setelah Rey kembali ke Rumah Sakit, kini giliran Aldo yang pulang untuk mandi.


Malam ini kedua pria itu masih setia menunggu di samping Susan.


Rey duduk dan tertidur di sebelah kanan istrinya, tangannya masih setia menggenggam tangan istrinya. Sedangkan Aldo juga duduk dan tertunduk tidur di sebelah kiri Susan, tangannya berada di puncak kepala Susan karna sebelumnya Aldo membelai rambut wanita itu hingga dia tertidur karna lelah.


Pagi hari.


Saat Susan membuka mata, tangannya terasa berat seakan ada yang menarik dan menindihnya. Dia mencoba menariknya tapi sulit, dilihatnya dua pria sedang tertidur dengan posisi duduk di sebelah kanan dan kirinya.


Tersungging senyuman dari bibirnya, ada rasa bahagia dalam hatinya, rasa syukur karna dikelilingi orang - orang yang sangat peduli dan sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Rey, Aldo," panggilannya pelan.


Aldo membuka matanya karna merasa ada yang memanggilnya, dikucek - kucek matanya beberapa kali.


"Susan, kamu sudah bangun sayang?" ucapnya saat melihat Susan tersenyum padanya. Aldo membelai lembut rambut Susan.


"Rey....Rey...bangun!!" Aldo menggoyangkan tubuh Rey.


Rey hanya menggerakkan tubuhnya tapi tidak membuka matanya.


"Biarkan saja! Mungkin dia lelah," ucap Susan.


"Susan, apa ada yang sakit? Katakan dimana yang sakit?"


"Tidak Aldo. Tidak ada yang sakit, hanya tanganku yang sakit karna kalian tidur di atas tanganku."


"He..he..he.. Maaf ya sayang. Kami ketiduran, habis kamu ga bangun - bangun."


"Aldo, bagaimana dengan anakku? Apa mereka sehat?"


"Kamu jangan khawatir ya, mereka sehat sekarang lagi sama Opa dan Omanya, Elina juga ada di sini."


Rey membuka matanya.


"Rey, kamu sudah bangun sayang?"


Mata Rey spontan terbuka sempurna dan langsung menghambur memeluk istrinya.


"Sayang kamu sudah bangun? Kamu tidak meninggalkan kami khan? Ini bukan mimpi khan sayang?"


"Rey, aku tidak bisa napas," ucap Susan dalam dekapan Rey.


"Maaf sayang, aku terlalu senang," Rey melepaskan peluknya.


"Kamu terlalu napsu Rey!" ucap Aldo.


"Aku bahagia Aldo."


"Aku tau. Dari tadi di bangunin ga bangun - bangun."


"Apa kamu sudah bangun dari tadi sayang?"


"Iya. Aku sudah memanggilmu dan Aldo, tapi hanya Aldo yang bangun."


"Maaf ya sayang, aku ga denger."


"Bagaimana mau denger, kamu ngorok!"


"Enak aja! Aku kalau tidur ga pernah ngorok ya, tidurku itu manis, tanya saja Susan kalau kamu ga percaya! Ya ga sayang?"


"Kok kalian malah berisik sih? Mending aku ga usah bangun deh kalau seperti ini."


Susan memejamkan matanya.


"Jangan!!" ucap Rey dan Aldo hampir bersamaan.


"Jangan ya sayang, aku ga mau kamu tidur lagi."


"Kamu harus bangun! Anakmu sudah menunggumu," ucap Aldo.


"Maaf Tuan - Tuan tolong kecilkan suaranya! Jangan berisik!" ucap salah satu perawat di ruangan itu.


"Maaf Ners," ucap Aldo.


"Kamu sih berisik!"

__ADS_1


"Kamu yang berisik"


Kembali mata perawat menatap tajam ke arah mereka. Rey dan Aldo hanya nyengir sambil bersungut - sungut. Susan tertawa geli melihat tingkah dua pria dewasa menjadi seperti anak kecil yang sedang dimarahi emaknya.


__ADS_2