
Aldo berjalan menuju ruangannya.
Diliriknya Susan sedang bercanda bersama Mela sahabatnya.
Ketika melihat bosnya, mereka menghentikan candaan mereka.
Aldo memasang muka datar, tapi sebenarnya dia senang bisa melihat Susan tersenyum lagi.
"Selamat pagi pak," sapa Susan ramah.
"Pagi."
"Susan, apa kamu sudah tidak marah dengan pak Aldo? Apa kalian sudah baikan lagi?"
tanya Mela kepo.
"Sudah. Rey sudah menjelaskan semua."
"Pantas saja wajahmu sudah tidak dilipat jadi sembilan lagi secara sudah rujuk kembali."
"Kamu pikir aku istrinya?!. rujuk."
Dret...dret..
Aldo
Keruangan ku sekarang!
Susan
Baik pak
Susan berdiri
"Mau kemana kamu?"
"Ke ruangan pak Aldo, dia menyuruhku ke sana."
"Kapan dia menyuruhku? aku tidak dengar."
Susan menggoyang - goyangkan hp yang dia pegang.
Mela mengetahui apa yang di maksud oleh sahabatnya itu. Aldo menyuruhnya lewat chat.
"Permisi pak, anda memanggil saya?"
"Apa kamu masih marah padaku san?"
"Tidak."
Aldo menatapnya, matanya mengisyaratkan sebuah tanya.
"Apa kamu lebih senang kalau aku marah terus kepadamu?" ucap Susan.
Aldo berjalan mendekatinya.
Aldo meraih tangan Susan dan meletakkan di dada bidangnya.
"Apa kamu tau?, aku tersiksa selama kamu marah padaku. Di sini terasa sangat sakit."
"Salah sendiri bikin ulah."
"Bukan aku yang bikin ulah, tapi Rey."
"Kamu dan Rey itu sama saja. Sama - sama jail dan pinter ngegombal."
"Tapi kamu suka kan kami gombalin?"
"Kenapa kamu tidak pernah bilang kalau Rey itu seorang Presdir dan bukan asisten Presdir?"
"Kamu sudah tau?"
"Ya. Kemarin aku ke perusahaannya mengantar berkas dan bertemu dengannya."
"Apa kalian sudah baikan dan tidak marah lagi ?"
"Dia sudah menjelaskan semuanya."
"Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu kawatir dan tidak perlu capek - capek menjelaskannya padamu."
"Tapi kamu tetap harus menjelaskan sesuatu kepadaku!"
"Apa?"
"Tentang istri Rey dan Susi"
"Kalau itu aku tidak bisa. Biarkan Rey yang menjelaskan sendiri padamu."
"Berarti kalian memang mengenal Susi? Atau jangan - jangan Susi itu istri Rey?"
"Sudah jangan bahas itu lagi!"
__ADS_1
"Tapi aku ingin mengetahuinya."
"Jangan nakal!. Tunggu saja, aku yakin Rey akan memberitahumu!" ucap Aldo memegang pucuk kepala Susan.
"Bagaimana kalau akhir pekan ini kita liburan bersama? Aku ajak Ana, kamu ajak Rey dan putrinya."
"Ide bagus. Tapi aku ijin Riko dulu ya."
"O ya bagaimana kabar kekasihmu itu?, apa dia masih sibuk lembur?"
"Terkadang masih. Tapi sudah lebih jarang."
"Kapan kalian akan merencanakan pernikahan?"
"Entahlah. Aku tidak yakin?"
"Maksudmu?"
"Akhir - akhir ini aku tidak yakin dengan hubungan kami."
"Apa kamu tidak mencintainya lagi?"
"Entahlah. Aku sendiri tidak tau apa yang saat ini aku rasakan."
"Apa kamu mencintai pria lain?"
"Maksudmu?!"
"Rey, misalnya?"
Susan menatap Aldo dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Tapi saat aku tau Rey menyembunyikan kenyataan bahwa dia ayah Elina, hatiku sangat sakit. Lebih sakit dari saat aku melihat orang yang kucintai memeluk wanita lain."
"Wanita lain?. Apa maksudmu?"
"Tidak ada. Aku hanya asal bicara saja."
"Apa kamu yakin?"
"Kemana kita akan liburan?"
Susan mengalihkan pokok pembicaraan.
Aldo masih dengan pikirannya sendiri, dia mencoba mencerna perkataan Susan tentang wanita lain dan orang yang dia cintai.
"Bagaimana kalau kita ke Bali saja?"
"Ya. Jumat sore kita berangkat, Minggu sore kita pulang. Bagaimana?"
"Apa Rey akan setuju?"
"Aku yakin dia akan setuju. Nanti aku yang akan memberitaunya. Aku juga yang akan menyiapkan semuanya. Kalian terima beres saja."
"Baiklah."
Setelah kepergian Susan, Aldo menghubungi Rey lewat telepon selularnya.
Aldo menceritakan rencananya dan Rey menyetujuinya tanpa banyak tanya.
*****
Pesawat yang mereka tumpangi mendarat mulus di bandara Ngurah Ray Bali.
Senyum lebar menghiasai wajah mereka.
Suasana Bali yang menyegarkan membuat setiap orang ingin selalu mengunjunginya.
Panorama alam dan kekayaan budayanya membuat hati selalu merindukan untuk datang ke pulau itu.
Tempat yang mereka datangi pertama kali setelah sampai adalah sebuah restauran yang ada di pinggir pantai Kuta.
Mereka akan makan malam di situ dan setelah itu baru ke hotel untuk beristirahat.
"Tante. Apa dedek bayinya juga senang ikut liburan?"
Ucap Elina sambil memeluk perut Ana.
"Tentu saja dedek bayinya senang bisa menemani kakak Elin liburan."
Mereka tersenyum melihat tingkah gadis kecil itu.
"Besok kalau dalam perut mama ada dedek bayinya pasti akan Elina ajak liburan juga. Iya kan pa?" ucap gadis itu pada Rey.
Rey spontan menatap Susan, begitupun dengan Susan. Mata mereka saling beradu pandang.
Aldo dan Ana tersenyum melihat sikap mereka.
__ADS_1
"Iya sayang. Pasti besok kita ajak dedek bayinya liburan. Bukan hanya di Bali tapi kita liburan ke paris," matanya melirik nakal Susan.
Susan yang mendapat lirikan Rey tampak kesal.
"Mama, kapan dalam perut mama ada dedek bayinya? Elina pingin punya dedek bayi yang lucu."
"Uhuk....uhuk..." Susan tersedak mendengar ucapan Elina.
Ana langsung menyodorkan minum pada Susan.
Ada - ada saja anak kecil ini. Hampir saja membuatku strok. Bener - bener sama dengan bapaknya. Ucap Susan dalam hati.
"Setelah ini kita istirahat dulu di hotel. Aku sudah pesan dua kamar," ucap Aldo
"Hanya dua kamar?!" protes Susan.
"Ya. Satu kamar untuk aku dan Ana. Satu lagi untuk kalian bertiga. Jangan kawatir aku memesan kamar ukuran besar."
"Apa kamu sudah gila?!. Masak aku harus satu kamar sama Rey."
"Apa kamu mau di berondong pertanyaan oleh gadis kecil itu kalau kalian pisah kamar?. Yang dia tau kamu itu mamanya dan Rey papanya," Aldo memelankan suaranya.
"Tapi Al..."
"Tenang saja. Aku tidak akan macam - macam padamu. Paling - paling kalau khilaf ya hanya mencium bibir sexymu itu," Rey berbisik di telinga Susan.
"Jangan macam - macam atau ku jahit mulutmu itu!"
Mereka beradu mulut setengah berbisik karna takut Elina dengar.
Aldo dan Ana geleng - geleng kepala, pusing melihat mereka.
Sampai di hotel seperti yang Aldo katakan, Rey, Susan dan Elina tinggal dalam satu kamar.
Rey langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.
Elina loncat mendekati papanya.
"Papa geser ke sana!" Elina mendorong tubuh Rey.
"Papa disini sayang. Papa kan laki - laki sendiri makanya papa harus di tengah - tengah. Elina sebelah kanan, mama sebelah kiri. Biar papa bisa jagain kalian."
Susan melempar bantal pada muka Rey.
"Ga boleh papa!. Yang di tengah itu Elin bukan papa. Kalau Elina di pinggir nanti bisa jatuh."
"Anak pinter. Nanti kalau jatuh pasti sakit sekali ya.." ucap Susan
"Tuh bener kan pa. Mama aja setuju kalau Elin di tengah. Sana papa minggir!" anak itu mendorong papanya.
"Iya iya anak papa yang bawel."
Rey mencubit pipi putrinya dengan gemes.
"Papa ga boleh cubit - cubit pipi!. Nanti pipi Elin tembem ga cantik lagi."
"Sudah pinter ya sekarang anak papa ini."
Rey mengangkat tubuh putrinya ke atas dan menggodanya.
Mereka bercanda tertawa.
Susan senang melihat kebahagiaan mereka.
"Sudah!. Sekarang Elina tidur ya sudah malam. Besok kita jalan - jalan lagi ya."
"Iya ma."
"Selamat tidur sayang. Mimpi indah ya."
Susan mencium lembut pucuk kepala gadis kecil itu dan menyelimutinya.
"Papanya ga di cium?" goda Rey.
"Mau di cium?. Tuh sama pantat panci."
Rey tertawa melihat Susan kesal kepadanya.
Susan merebahkan tubuhnya di samping Elina. Mulai terpejam dan terlelap.
Rey memiringkan tubuhnya, kepalanya di sangga dengan tangan. Di pandangnya wajah Susan dan Elina secara bergantian.
"Mereka sangat mirip."
Rey mencium kening putrinya. Lalu berpindah pada Susan. Sebelum menciumnya sekali lagi Rey memandangi wajah Susan.
"Kamu memang wanita yang sempurna. Terimakasih untuk kebahagiaan ini."
Rey mencium kening Susan.
"Selamat tidur malaikat - malaikatku."
__ADS_1