
Matahari mulai menampakkan dirinya malu - malu setelah semalaman kota itu di guyur hujan gerimis.
Gemuruh ombak menderu menambah nuansa keramaian.
Seorang wanita dengan perut besar berdiri memandang ke laut lepas.
Kedua tangannya terlentang lebar ke samping. Di hirupnya dalam - dalam udara segar pagi itu.
Pria tampan berjalan mendekati wanita tersebut dan memeluknya erat dari belakang.
"Apa kamu senang sayang?"
"Aku senang sekali mas. Terimakasih ya mas sudah membawa kami ke sini."
"Iya sayang. Aku senang bisa membuatmu bahagia."
Perhatian mereka kini tertuju pada Rey, Susan dan Elina yang berlarian saling kejar sambil tertawa riang.
"Aku bahagia melihat mereka. Rey dan Susan terlihat sangat serasi."
"Semoga mereka berjodoh ya mas?"
"Amin."
"Mas..."
"Hemm..."
"Besok kalau anak kita sudah lahir, apakah aku boleh meminta Susan memberi nama pada anak kita?. Aku ingin dia tumbuh menjadi anak yang baik dan manis seperti Susan."
"Boleh sayang."
Aldo mencium rambut istrinya dengan lembut dan mesra.
"Apa kita gabung dengan mereka?"
"Nanti saja mas. Biarkan mereka menikmati kebersamaan mereka."
"Kalau begitu bagaimana kalau kita pacaran saja?"
"Kita sudah nikah mas"
Aldo memegang pundak istrinya dan membalikan tubuhnya untuk menghadap pada dirinya.
"Aku ingin sampai kapan pun kita seperti orang pacaran bahkan sampai kita tua nanti."
"Iya mas. Aku akan selalu mencintaimu mas sampai kapan pun."
"I love You sayang"
Aldo mengecup pucuk kepala istrinya dan memeluknya erat.
"Om, tante sini kita main pasir!"
Elina berteriak memanggil Aldo dan Ana.
mereka tersenyum melihat gadis kecil itu dan berjalan menghampirinya.
"Kakak Elina lagi buat apa?"
Ana mengelus rambut gadis kecil itu.
"Elina buat istana tante."
"Wah bagus sekali!. Boleh om Aldo ikut membuatnya?"
"Om Aldo buat saja sendiri! Nanti kita lomba, bagus punya om Aldo atau punya Elina."
"Ok. Ayok kita mulai lombanya."
Aldo mulai mengumpulkan pasir dan membuat tumpukan.
"Elina. Elina main sama om Aldo dan Tante Ana dulu ya. Papa mau ajak mama main air dulu."
"Iya papa. Tapi papa ga boleh nakal ke mama dan ga boleh cium - cium mama!"
"Papa khan ga pernah nakal sayang. Papa juga ga pernah cium mama."
"Tapi papa sering cium - cium pipi Elina, pasti papa juga suka cium mama."
__ADS_1
Aldo dan Ana terkekeh mendengar ucapan gadis kecil itu.
Beda dengan Susan. Dia menatap tajam Rey seakan minta penjelasan.
Rey mengangkat bahunya.
Rey menggandeng tangan susan dan membawanya mendekati laut lepas.
Rey berhenti dan memegang kedua tangan Susan. Mereka saling berhadapan.
"Hari ini aku berterimakasih padamu karna kamu mau meluangkan waktu untuk putriku, untuk kami."
"Aku juga senang bisa bermain dengan kalian"
Rey maju dan hendak mencium bibir Susan. Gadis itu menutup bibirnya dengan kedua tangannya.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau!"
"Maaf"
Rey melepaskan pegangan tangannya dan menghadap ke laut lepas.
"Rey...Bolehkah aku tanya sesuatu?"
"Apa?" Rey menghadap ke Susan.
"Di mana istrimu?"
Rey menatap Susan sebentar.
Dia melangkah maju. Berhenti sejanak.
Susan terdiam menanti jawaban.
Tiba - tiba Rey sedikit membungkukkan tubuhnya dan berbalik menghadap Susan dengan memercikan air menggunakan kedua telapak tangannya.
"Auwww....Kau nakal Rey!"
Susan membalas perbuatan pria itu.
Hari itu mereka lalui dengan penuh kebahagiaan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Terlebih untuk Rey dan putri semata wayangnya, Elina.
Elina tertidur dalam dekapan Susan.
Wajahnya yang polos dan cantik menyiratkan kebahagiaan.
Berkali - kali Susan mencium kening Elina.
Malam ini Rey pergi nongkrong dengan teman - temannya yang tinggal di kota itu.
"Apa kamu belum menikah lagi Rey?"
"Belum."
"Ayolah bro..jangan lama - lama menduda. Kasihan anakmu, dia butuh kasih sayang seorang ibu," ucap Leon.
"Bukan hanya kasihan anaknya, Leon. Tapi juga kasihan pada si otong tuh, dia kesepian di dalam sana," ledek Ken teman satunya lagi.
Mereka tertawa.
"Awas kalian ya!. Beraninya keroyokan."
"Ngomong - ngomong sudah ada calon belum Rey?"
"Kalian tenang saja. Tunggu saja undangannya!"
"Undangan pernikahan atau undangan sunatan nih?" jail Leon.
"Lo pikir si otong mau gw sunat lagi! Gila aja bisa ga puas bini gw nti."
"Kenalkan gadis itu pada kami, jangan di simpan sendiri. Siapa tau dia mau ku jadikan istri keduaku."
"Gila lo!. Jadi istri pertama saja aku yakin dia tidak mau denganmu Leon. Dia itu wanita yang sempurna, cantik tapi sayang...dia sudah punya kekasih."
"Sial!. Kamu mendekati kekasih orang Rey. Apa tidak ada wanita lain? Bukankah kita pernah sepakat untuk tidak menjadi perusak hubungan orang lain?"
"Hey...aku tidak merusak hubungan mereka. Aku hanya menunggunya putus saja."
__ADS_1
"Sama saja."
"Bedalah. Aku tidak pernah mencampuri urusan mereka."
"Aku harap kita tetap konsisten dengan prinsip kita Rey"
"Pasti."
"Apa Aldo tidak ikut denganmu Rey?"
"Dia di hotel menemani istrinya."
"Dasar Aldo bucin."
"Istrinya sedang hamil."
"Wah jago juga dia."
Mereka berbincang hingga larut malam.
Hari ini adalah hari terakhir liburan.
Hari ini jadwalnya cari oleh - oleh.
Mereka mengelilingi pasar - pasar tradisional.
Membeli barang - barang antik.
Elina memborong oleh - oleh untuk para bibik di rumahnya.
Memang setiap dia pergi berlibur, dia selalu membawakan oleh - oleh bagi para pekerja di rumah.
Setelah semua selesai, mereka ke bandara untuk kembali ke rumah.
Rey dan Aldo mengendarai mobil masing - masing. Saat berangkat kemarin memang hanya menggunakan satu mobil milik Aldo.
Tapi Rey menyuruh supirnya untuk mengantar mobil ke bandara agar dia tidak merepotkan Aldo untuk mengantarnya pulang. Rey berpikir mereka pasti lelah dan butuh istirahat.
Rey mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Sebenarnya Rey ingin Susan tidur di rumahnya. Tapi Susan menolak dan memilih pulang ke rumahnya sendiri.
Susan tidak ingin ada salah paham dengan istri Rey.
Sebenarnya Susan merasa bersalah pada istri Rey, karna mereka melakukan liburan ini.
Dia tidak ingin menjadi orang ketiga dalam hubungan orang lain.
Sebenarnya dia ingin mengenal istri Rey. Tapi selama ini dia tidak pernah bertemu dengannya. Dia hanya ingin ijin untuk tetap menyayangi Elina putri mereka.
Karna bagaimanapun Susan sudah terlanjur sayang pada anak itu.
"Apa kamu yakin tidak mau tidur di rumahku san?" tanya Rey sekali lagi saat dia menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Susan.
"Tidak Rey. Lain kali saja."
"Ya sudah. Kamu istirahat ya!"
"Kamu juga hati - hati di jalan!"
Susan membuka pintu mobil dan turun.
"San....terimakasih ya," ucap Rey
Susan tersenyum dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Di rebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Susan tersenyum sendiri mengingat liburan mereka.
Apa mungkin semua ini akan terjadi lagi?
Apa mungkin ini adalah yang pertama dan yang terakhir?
Apa akan ada liburan lagi untuk kita?
Aku sangat menyayangi kalian
Tidak tau kenapa aku merasa bahagia bersama kalian.
Aku berharap semua ini tidak akan berakhir.
__ADS_1