Mutiara Hati

Mutiara Hati
Tante jahat


__ADS_3

Di dapur rumah Aldo. Dua orang wanita sedang asyik memasak sambil berbincang.


Mereka terlihat kompak.


"San..bagaimana acara kencanmu dengan Rey?" tanya Ana


"Bagaimana mbak Ana bisa tau kalau aku jalan sama Rey?"


"Jangan bodoh. Aldo itu suamiku"


"Apa Aldo selalu bercerita dengan mbak Ana?"


"Ya. Apapun masalahnya kami selalu terbuka. Itu kunci kepercayaan kami. Nanti kalau kamu sudah menikah, kalian harus selalu terbuka dengan pasangan"


"Iya mbak"


"Terus gimana, lancar?"


"Kami hanya sekedar makan saja mbak"


"Apa dia sudah bilang cinta?"


"Mbak Ana ini apaan sih," wajah Susan berubah merah, malu


"Sudah apa belum?"


"Belum"


"Apa kamu mencintai Rey?"


"Aku tidak yakin mbak"


"Kenapa?"


"Entahlah mbak. Aku belum yakin saja dengan hatiku sendiri."


"Apa kamu masih mencintai Riko?"


"Sepertinya tidak."


"Kok sepertinya? Apa kamu juga tidak yakin?"


Ana menghentikan aktifitasnya sejenak dan menatap Susan.


"Entahlah. Kemarin kami bertemu Riko dan pacarnya dan Rey mengajak kami makan bersama satu meja."


"Apa Rey sudah tidak waras."


"Rey hanya ingin menunjukkan pada Riko bahwa dia sudah tidak berarti lagi bagiku dan aku bisa bahagia tanpa Riko."


"Kalau itu alasannya aku setuju dengan rey,"


ucap Aldo menyahut dari belakang.


"Kamu nguping pembicaraan kami mas?"


"Aku tidak nguping sayang, tapi aku dengar."


Aldo memeluk istrinya dari belakang dan mencium pucuk kepalanya. Lalu tangan kanannya mengacak rambut Susan lembut.


"Lalu apa yang Riko lakukan?" lanjut Aldo.


"Tidak ada. Dia tidak banyak bicara. Tapi wanita itu...sepertinya dia mencari perhatian Rey."


"Maksudmu, kekasih Aldo menyukai Rey?"


"Aku tidak yakin. Tapi dari sikapnya selama makan begitu."


"Apa kamu cemburu?"


"Jangan bercanda, Rey bukan pacarku."


Susan meninju lengan Aldo. Ana tersenyum melihat mereka.


"Kalian ini, suka sekali jail," ucap Ana


"Aldo mbak yang suka jail, seneng bener dia mengejekku."

__ADS_1


"Kalian sama, satu lagi tuh Rey. Persis. Sudah ayo kita makan"


Ana membawa masakannya ke meja makan.


Mereka menikmati makan sore.


Elina, gadis kecil itu sedang bermain bersama bonekanya. Dia berbicara menirukan suara dalam film kartun.


"Hay gadis kecil.." sapa seorang wanita pada Elina.


Elina menoleh pada wanita itu.


"Tante Merry...Kenapa tante ada di sini?"


Wajah gadis itu berubah pucat.


"Tante rindu kamu sayang dan juga rindu papamu. Kemana papamu sayang?"


"Papa kerja. Tante cari papa di kantor saja jangan di sini."


"Hey gadis kecil!! kamu sudah berani ya sekarang melawan tante. Apa kamu mau tante kurung di kamar mandi?"


Wanita itu mendekati Elina, tapi Elina melangkah mundur.


"Jangan takut sayang. Tante tidak akan menyakitimu, asal kamu nurut sama tante."


"Apa maunya tante Merry?"


"Anak pinter. Tante mau, kamu membujuk papamu untuk menikah dengan Tante. Apa kamu mau melakukan gadis kecil?"


"Elina tidak mau mempunyai mama seperti tante Merry. Tante Merry jahat!!"


"Berani kamu ya anak kecil!!"


Wanita itu menarik tangan Elina geram.


Pengasuh Elina berlari mendekati gadis itu dan mengambil Elina dari tangan Merry. Bibik mendekap tubuh Elina yang menangis ketakutan.


"Apa yang nyonya lakukan di sini? Kalau tuan tau, tuan pasti marah besar pada nyonya."


"Hey...kamu berani mengancam ku ya pembantu sialan. Aku peringatkan kepadamu, kalau kamu masih ingin hidup jangan pernah mengatakan apapun pada Rey."


Susan berjalan santai ke arah mereka. Dia tidak tau apa yang terjadi pada mereka.


"Elina...mama datang sayang."


"Mama..."


Gadis kecil itu berlari memeluk Susan.


"Sayang, kamu kenapa kok menangis?"


Susan mengusap air mata putrinya itu.


Lalu melemparkan pandangannya ke pengasuh Elina seolah meminta penjelasan.


Pengasuh Elina sekilas melihat pada Susan lalu mengalihkannya pada Merry.


Merry yang mengetahui ada wanita lain yang di panggil mama oleh Elina, dia membalikkan badan untuk melihat siapa wanita tersebut.


Dia berjalan mendekat.


"Siapa kamu?," tanyanya dengan angkuh.


"Perkenalkan saya Susan."


Susan mengulurkan tangan pada Merry, tetapi wanita itu tidak mempedulikannya.


"Apa hubunganmu dengan anak ini?"


"Saya Mamanya."


"Berani - beraninya kamu mengakui bahwa kamu Mama anak ini. Apa kamu tidak mengenalku Nona?"


"Maaf saya memang tidak pernah mengenal Anda dan saat ini saya tidak tertarik untuk mengenal Anda."


Merry semakin geram dengan jawaban Susan.

__ADS_1


"Tapi kamu harus tau siapa aku. Kamu dengar baik - baik, namaku Merry calon istri Rey."


"Aku tidak mau punya mama jahat!" teriak Elina.


"Tutup mulutmu anak kecil!!" bentak Gea.


"Tolong jangan kasar pada anak kecil."


Susan mendekap erat tubuh Elina yang bergetar ketakutan.


"Nyonya, sebaiknya nyonya pergi dari sini sebelum saya memberitau tuan Rey,," ucap pengasuh.


"Siapa kamu? beraninya kamu mengusirku. Setelah aku jadi istri Rey. Orang pertama yang akan ku pecat adalah kamu."


"Maaf Merry, sepertinya keberadaanmu di sini tidak di butuhkan lagi, jadi silahkan pergi dari sini. Dan satu lagi bila kamu ada masalah dengan Rey, silahkan selesaikan dengannya jangan membawa - bawa Elina."


"Dasar wanita sialan. Aku akan memberimu perhitungan."


Merry meninggalkan mereka dengan marah dan kesal.


Setelah wanita itu pergi, Susan memeluk putrinya yang masih menangis ketakutan.


"Sayang, sudah ya jangan nangis, kan ada mama di sini."


"Elina takut Ma. Elina ga mau punya mama seperti tante Merry. Dia jahat sama Elina."


"Sudah ya...masih ada Mama. Mama tidak akan membiarkan tante Merry jahat lagi sama Elina. Mama akan menjaga Elina."


"Apa Mama berjanji tidak akan meninggalkan Elina?"


"Iya sayang. Mama janji tidak akan meninggalkan Elina sendirian."


Susan mencium kening Elina.


Merry melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia menghentikan mobilnya di sebuah rumah berwarna hitam. Rumah itu tampak sepi dan sedikit menyeramkan. Rumah yang tertutup dan jauh dari keramaian.


Merry menemui seseorang yang tinggal di situ.


"Aku ingin kamu mencari tau tentang wanita yang bernama Susan. Cari informasi tentang dia sebanyak mungkin dan secepatnya," ucapnya pada pria itu.


"Baik nona. Apakah saya harus membawa wanita itu ke hadapan nona dan membereskannya?"


"Tidak perlu. Kamu hanya cari informasi tentang dia saja. Nanti aku sendiri yang akan membereskannya"


"Baik Nona"


Merry tersenyum menakutkan.


"Pertama - tama aku akan memperingatkan mu dengan cara halus. Tapi kalau kamu tidak menurut padaku, ku pastikan hidupmu tidak akan damai wanita sialan," Merry berbicara sendiri.


Sementara di kantor. Rey mengepalkan tangannya dengan geram. Di tinjunya meja di depannya.


"Dino .."


"Ada apa tuan?"


"Kamu beri pelajaran pada wanita itu!"


Rey menunjuk sosok wanita pada layar monitornya.


"Merry...." Dino terkejut ketika melihat wajah Merry di dalam monitor.


Layar monitor itu terhubung dengan cctv di rumah Rey.


Rey memang memasang cctv di beberapa titik di rumahnya. Untuk memantau dan mengawasi putrinya. Karna dia tidak bisa selalu ada bersama putrinya.


"Apa perlu aku menghabisinya?"


"Jangan. Aku tidak mau kamu jadi pembunuh. Beri pelajaran saja sampai dia tidak akan pernah berani datang lagi dan menggangu keluargaku."


"Baiklah"


"Aku akan menghubungi Aldo agar mengirim orang untuk melindungi Susan. Karna aku yakin wanita sialan itu pasti akan mencelakainya."


"Apa tidak sebaiknya Susan tinggal di rumahmu saja?. aku rasa itu akan lebih aman"


"Tidak. Kami belum menikah. Aku tidak mau ada masalah baru."

__ADS_1


Dino meninggalkan ruangan Rey dan menghubungi seseorang.


__ADS_2