
Setelah makan malam, Aldo, Ana dan Susan bercengkrama di ruang keluarga.
"Susan, aku dengar dari Mas Aldo, kamu lagi berantem sama Riko?"
"Iya Mbak. Ada salah paham sedikit."
"Apa kamu benar - benar mencintainya?"
"Iya Mbak"
"Apa kamu akan menuruti permintaannya untuk keluar dari perusahaan?"
"Aku bingung Mbak."
"Kalau aku boleh saran. Kamu tetap bekerja. Jangan mengambil keputusan di saat marah."
"Aku minta maaf Mbak. Kalau Aldo ikut terbawa dalam masalah kami."
"Kamu itu keluarga kami. Jadi apapun yang terjadi padamu, itu juga urusan kami. Masalahnya bukan pada kamu dan Mas Aldo. Tapi pada Riko sendiri. Dia..."
Sebelum Ana menyelesaikan kata - katanya Aldo meraih tangannya dan memberi kode agar tidak meneruskan.
"Dia kenapa Mbak?"
"Dia hanya belum mengerti posisimu sekarang ini," timpal Aldo.
"Apa kedepannya dia akan mengerti?"
"Entahlah...aku yakin kamu lebih paham dari kami," ucap Aldo
"Aku tidak mau kamu menjauh dari kami,"
Ana memegang tangan Susan.
Flashback on
Seorang gadis remaja berlari kecil menghampiri pria yang menunggunya di atas motor gede.
Pria itu melambaikan tangannya.
"Kakak..."
"Apa kuliahmu sudah selesai?"
"Sudah Kak."
"Kalau begitu apa kamu siap?"
"Kita mau kemana Kak? Kenapa Kakak menjemputku pakai motor tidak pakai mobil?. Bagaimana nanti kalau hujan?"
"Tenang saja hari ini tidak akan turun hujan. Karna hari ini kita akan menikmati indahnya jalanan ibu kota."
"Tapi aku takut. Kakak bawanya jangan ngebut ya?"
"Siap tuan putri. Kamu cukup peluk Kakak seperti ini. Pegang yang erat ya!" ucap pria itu sembari meletakkan tangan gadis itu dipinggangnya untuk memeluknya.
Pria itu melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan mereka asyik ngobrol dan bercanda.
"Kakak.. apa Kakak menyayangi Selvi?"
"Tentu saja aku menyayangimu. Kamu itu harta Kakak. Bahkan bila harus menyerahkan nyawa untukmu Lakak rela melakukannya."
"Kakak jangan ngomong begitu," ucap gadis itu manja.
Gadis itu menyenderkan kepalanya pada punggung kakaknya.
"Kak..."
"Hemmm "
"Selvi menyayangi Kakak. Apakah Kakak mau berjanji padaku?"
"Kakak juga menyayangimu. Apa pun akan Kakak lakukan. Katakan Kakak harus berjanji apa"
"Suatu saat nanti apabila Selvi tidak ada apakah Kakak akan selalu mengingat Selvi?"
"Hey....kamu tidak boleh ngomong gitu!. Kakak akan selalu menyayangimu sampai kapanpun."
Pria itu memegang tangan gadis itu dengan tangan kirinya
__ADS_1
"Aku mau Kakak juga menyayangi orang - orang yang membantu kita, menyelamatkan kita. Kakak harus menyayanginya seperti Kakak menyayangi Selvi Kakak juga harus melindunginya seperti melindungi Selvi."
"Pasti sayang. Kakak janji."
Motor itu terus melaju. Di persimpangan jalan.
Tanpa mereka sadari dari arah kanan jalan ada mobil truk melaju dengan kecepatan tinggi.
Auw........!!!!!
Brukkkk......
Motor terpental kira - kira lima belas meter.
Tubuh gadis itu jatuh terperosok dibawah ban truk.
Sedangkan tubuh pria itu terpental menghantam aspal sepuluh meter dari tempat kejadian.
"Sel...vi..." ucap pria itu hilang dan tidak sadarkan diri.
Orang - orang berkerumun menyaksikan kejadian itu.
Ambulance membawa mereka ke rumah sakit terdekat.
Pria itu langsung mendapat perawatan intensif. Dia banyak kehilangan darah. Stok darah di rumah sakit itu sedang kosong.
"Pasien harus cepat mendapatkan donor darah. Bila sampai telat sedikit saja saya takut nyawanya tidak tertolong," kata dokter yang menangani pria itu.
Keluarga korban cemas dan berusaha mencari pendonor. Pria itu bukan anak kandung dari keluarganya makanya golongan darah mereka tidak ada yang sama.
Seorang wanita cantik menangis melihat kekasihnya tak berdaya. Dia sempat pingsan saat mendengar kekasihnya kecelakaan dan adiknya meninggal di tempat.
Seorang wanita berjalan di koridor rumah sakit. Dia melihat keluarga itu sedang menangis dan panik.
Dia bertanya pada perawat.
"Maaf Ners, apa boleh saya tau kenapa keluarga itu menangis?"
"Anaknya kecelakaan. Adiknya meninggal di tempat. Kakaknya lagi kritis dan membutuhkan darah tapi sayangnya stok darah kami habis."
"Apakah parah Ners?"
"Kalau boleh tau apa golongan darah pasien itu?"
"A Negatif. Golongan darah Negatif jarang ada mbak."
"Terimakasih ya Ners."
Hatinya tergerak dan berjalan mendekat pada keluarga itu.
"Permisi Bu, Pak"
Semua orang yang ada di situ mengarahkan mata ke arahnya.
"Apakah Anda membutuhkan darah golongan A Negatif?"
"Iya Nak" jawab seorang pria setengah baya.
"Saya golongan A Negatif"
"Kamu serius nak. Apa kamu bersedia mendonorkan darah untuk putra kami? Apapun yang kamu minta akan kami berikan Nak. Saya mohon tolong Anak kami Nak!"
Pria itu mengatupkan tangannya di dada tanda permohonan.
"Saya mohon selamatkan pacar saya Mbak!"
Kekasih pria itu sampai bersujud di hadapan wanita itu.
Dia mengangkat pundak wanita itu agar dia berdiri.
"Jangan lakukan itu Mbak. Saya bersedia mendonorkan darah dan saya tidak akan meminta apa - apa."
Kekasih pria itu memeluk wanita yang baik hati itu sembari menangis.
"Terimakasih. Aku janji akan membalas jasamu dan akan menceritakan ini padanya agar dia bisa membalas kebaikanmu."
"Tidak perlu Mbak"
Proses donor darah pun berlangsung.
__ADS_1
Berganti hari dan hampir dua Minggu.
Pria itu pun lambat laun sembuh dan pilih dari penyakitnya.
"Siapa nama wanita itu?" tanya pria itu ketika dia sudah sembuh.
"Susan. Susan Anggraini"
Ya nama wanita yang menolong pria itu adalah Susan Anggraini. Pria yang kecelakaan itu adalah Aldo dan kekasihnya adalah Ana istri Aldo sekarang.
Sejak kejadian itu mereka selalu mencari informasi tentang Susan. Karna setelah mendonorkan darahnya Susan tidak pernah datang lagi.
Mereka berjanji akan menyayangi dan melindungi wanita itu seperti yang di katakan Selvi adiknya sebelum kecelakaan itu terjadi.
Flashback off
"Apa kamu mau berjanji padaku San? Kamu tidak akan pernah keluar dari perusahaan dan tidak akan meninggalkan kami," ucap Ana penuh harapan.
Susan merasakan ada sebuah harapan dan permohonan pada mata Ana dan Aldo.
"Aku janji Mbak. Aku tidak akan keluar dari perusahaan."
Ana memeluk tubuhnya haru.
"Terimakasih San. Kami menyayangimu."
"Aku juga menyayangi kalian."
Aldo memeluk mereka berdua.
"Kalian adalah keluargaku. Kalian hartaku yang paling bernilai," ucap Aldo.
Suasana haru dan bahagia bercampur di sana.
Orang lain tetapi menjadi lebih berharga dari keluarga.
Mereka saling menyayangi dan melindungi.
Malam semakin larut mereka kembali ke kamar masing - masing.
Susan merebahkan tubuhnya. Dilihatnya langit - langit kamar. Dia tersenyum.
"Aku bahagia memiliki kalian."
Sedangkan di kamar lain. Aldo dan Ana juga merebahkan tubuh di atas ranjang.
Aldo memeluk mesra istrinya yang sedang hamil. Dia menciumi nya.
"Apa dia akan baik - baik saja m
Mas?"
"Aku yakin dia baik."
"Apa kamu yakin Riko tidak akan menyakitinya?"
"Dia tidak akan menyakitinya. Dia hanya mencari alasan agar tujuannya tercapai. Tapi kamu tenang saja. Aku janji Susan akan baik - baik saja."
"Apa dia sudah mengetahui bahwa kamu yang dulu menerima darahnya?"
"Tidak"
"Apa perlu kita memberitaunya?"
"Aku rasa tidak perlu. Biarkan itu menjadi rahasia kita. Aku takut dia akan berubah bila mengetahuinya."
"Apa kamu menyayanginya Mas?"
"Aku sangat menyayanginya. Setiap aku bersamanya, aku dapat merasakan Selvi bersamaku. Apa kamu marah bila aku tetap menyayanginya?"
Aldo membawa tubuh istrinya dan menyandarkan kepala Ana pada dada bidangnya.
"Tidak. Aku juga sangat menyayanginya. Aku percaya kamu akan memberikan yang terbaik bagi kami."
"Aku mencintaimu sayang."
"Aku juga mencintaimu Mas"
Aldo mencium kening istrinya, turun ke bibir.
__ADS_1
Malam itu menjadi malam yang hangat bagi dua sejoli itu.