
Susan duduk termenung di sofa ruang keluarga rumah Rey. Wajahnya masih menunjukkan kekesalannya pada pria brengsek itu. Tangannya aktif menekan tombol - tombol remot TV.
"Dasar laki - laki brengsek! bisa - bisanya dia melakukan itu!" Susan mengomel sendiri.
"Siapa yang brengsek sayang?"
Rey mendekati Susan dan mencium pucuk kepalanya.
"Rey... kamu sudah pulang?"
"Ya. Baru datang malah dibilang brengsek sama kamu," Rey duduk di samping Susan.
"Bukan kamu yang brengsek."
"Kalau bukan aku, lalu siapa? apa ada orang yang mengganggumu sayang?" Rey kawatir.
"Apa kamu mengundang temanmu untuk datang ke sini?"
"Tidak. Aku tidak pernah mengundang temanku."
"Lalu siapa laki - laki brengsek yang ada di kamar tamu?"
"Laki - laki? apa dia menyakitimu?"
"Kamu tanya sendiri saja padanya!. Aku mau menyiapkan makan untuk kita."
Susan meninggalkan Rey.
Rey berjalan ke kamar tamu menemui laki - laki yang di maksud Susan.
Setelah semua hidangan siap, Susan memanggil Elina dan Rey.
Elina duduk di kursi sambil menggoyang - goyangkan kakinya.
"Ma... Papa mana?" tanya gadis kecil itu.
"Papa sebentar lagi ke sini sayang,"
"Papa...." panggil Elina saat melihat papanya berjalan ke arahnya.
"Selamat malam sayang."
Rey mencium kening putrinya dan duduk di depan Susan.
"Kenapa piringnya cuma tiga sayang?"
"Kan kita hanya bertiga Rey," ucap Susan.
"Apa kamu tidak ingin mengajakku makan Nona?"
Susan menoleh ke sumber suara. Matanya menatap tajam penuh kebencian.
"Uncle...." panggil Elina pada pria itu.
Susan yang mendengar Elina memanggil pria itu dengan sebutan uncle otomatis matanya melotot sempurna dengan mulut terbuka.
Rey tertawa kecil melihat ekspresi kekasihnya itu.
Pria itu memeluk dan menggendong tubuh Elina serta menciumnya.
"Ponakan Uncle makin cantik saja," ucapnya sambil mencubit pipi Elina.
"Uncle sama kayak papa suka cubit pipi Elin, Elin sebel!" wajah gadis kecil itu cemberut marah.
"Maaf. Habis Uncle kangen sama kamu. Apa kamu tidak kangen sama Uncle?"
"Elin kangen banget sama Uncle, mana kakak Raka Uncle?"
"Kakak Raka tidak ikut."
"Elina sayang, kita makan dulu ya?" ucap Rey.
"Iya pa. Uncle kita makan dulu ya? nanti malam Elina mau bobo sama Uncle ya? boleh ya Pa?"
"Boleh sayang."
Susan mengambilkan makanan untuk Elina dan Rey.
"Apa aku tidak di ambilkan juga Nona? kenapa kamu tidak adil padaku?" ucap pria itu.
"Kamu punya tangan, bisa ambil sendiri!"
"Sayang... jangan begitu di depan Elina!" ucap Rey pada Susan dan memberi kode untuk melayani pria itu.
Dengan terpaksa Susan menuruti kata Rey.
Susan mengisi piring pria itu dengan nasi, sayur dan lauk hingga piringnya hampir penuh. Susan menyodorkan piring itu kepadanya.
"Apa kamu sengaja ingin membuatku gendut Mona?!"
__ADS_1
"Makan saja jangan bawel! masih untung di kasih makan!" ucap Susan kesal.
Rey tersenyum melihat wajah Susan.
"Sayang, kamu makanlah jangan hanya di lihat saja!" ucap Rey.
"Aku tidak nafsu lagi!".
"Mama...apa Mama sakit?" tanya Elina.
"Tidak sayang. Mama tidak sakit, ini Mama mau makan." Susan mulai menyuapkan sendok ke mulut.
"O ya sayang, ini Shandy unclenya Elina. Dia baru datang dari luar kota." ucap Rey.
Pria itu tersenyum pada Susan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Susan bergidik melihat tingkah pria itu.
Selesai makan Elina bermain dengan Shandy.
"Uncle, kapan Uncle datang kok Elina ga lihat tadi?"
"Uncle baru datang terus istirahat sayang, habisnya uncle capek banget. Begitu datang Uncle di sambut oleh macan betina," ucap Shandy melirik ke arah Susan.
Susan yang mendapat lirikan mata Shandy merasa risih.
"Rey, antar aku pulang!" ucap Susan pada Rey.
"Sayang, bukannya kamu mau menginap di sini?" ucap Rey heran.
"Aku berubah pikiran!" ucapnya sambil melirik pada Shandy.
"Apa kamu takut padaku?" ucap Shandy.
"Aku tidak takut padamu!"
"Kamu yakin tidak takut padaku? Apa karna ada Rey di sini?"
"Uncle, Uncle jangan nakal - nakal sama Mama, nanti Elina marah sama Uncle!" ucap Elina polos.
"Uncle tidak nakal kok. Uncle hanya senang mengganggu mamamu saja."
"Elina, sekarang Elina bobo ya sudah malam." ucap Rey pada putrinya.
"Elina mau bobo sama Uncle, Pa."
"Baiklah, ayo Uncle temani Elina bobo."
"Kalau dia tidur sama Elina, terus aku tidur di mana?" ucap Susan menatap kepergiannya Elina.
"Bagaimana kalau kamu tidur bersamaku saja?" Rey menggoda Susan.
"Rey....." Susan melotot pada Rey.
"Kamu tidur di kamarku saja, nanti aku tidur di kamar tamu."
"Apa kamu yakin?"
"Untukmu aku rela tidur dimana saja sayang."
Rey merangkul pundak Susan, dan menyandarkan kepala Susan pada pundaknya.
"Apa yang terjadi antara kamu dan Shandy? kenapa kamu membencinya?"
"Apa bener pria brengsek itu uncle Elina, Rey?"
"Ya."
"Apa dia sering datang kemari?"
"Sudah lama tidak, dia baru datang lagi sekarang ini."
"Kenapa?"
"Tidak ada apa - apa, katanya hanya rindu pada Elina."
Dia hanya ingin mengenalmu sayang, gumam Rey dalam hati.
Flasback on
Rey menerima telepon dari seseorang di seberang.
"Rey, kata mama dia bertemu dengan kekasihmu yang mirip dengan Susi apa itu benar?" tanya suara di seberang.
"Sebenarnya tidak begitu mirip hanya sedikit saja."
"Apa dia mencintai ponakanku Rey?"
"Dia sangat mencintai Elina, bahkan Elina pun sangat mencintainya."
__ADS_1
"Apa kamu yakin dia pantas menjadi mama Elina pengganti Susi?"
"Aku yakin. Dia wanita yang baik."
"Apa kamu mencintainya juga Rey?"
"Aku sangat mencintainya dan kami saling mencintai."
"Aku penasaran Rey sama wanita itu."
"Nanti kalau kamu sudah bertemu dan mengenalnya pasti kamu juga suka padanya."
"Bagaimana kalau aku jatuh cinta padanya?"
"Siap - siap saja kamu pulang hanya tinggal nama!"
Suara di seberang sana tertawa keras.
"Ingat anak bini! masih saja mau nikung milik saudara sendiri!"
"Rey.... bolehkah aku sedikit bermain - main dengannya?"
"Apa maksudmu?!"
"Aku hanya ingin melihat keseriusannya saja, aku tidak akan keterlaluan, tenang saja!"
"Jangan sampai menyakitinya!"
"Tenang saja. Paling - paling aku hanya membuatnya jengkel padaku tapi itu hanya sesaat saja setelah itu dia akan merindukanku setiap hari."
"Jangan macam - macam. Kalau terjadi apa - apa dengannya bukan hanya aku yang akan membunuhmu tapi Aldo juga akan menghabisimu!".
"Apa hubungannya dengan Aldo?"
"Dia sekertaris kesayangan Aldo. Aldo menganggapnya seperti adeknya sendiri".
"Sepertinya dia benar - benar wanita yang istimewa sampai seorang Aldo saja menyayangi dan melindunginya".
"Lebih dari istimewa, bagi Aldo dia itu nyawanya."
"Semakin tidak sabar aku ingin bertemu dengannya. Kalau memang dia wanita yang baik dan istimewa pasti Susi akan senang melihat putrinya mendapatkan mama sepertinya."
"Kapan kamu mau datang?"
"Mungkin lusa."
"Baiklah. Aku akan memintanya untuk menginap di rumahku agar kamu bisa mengenalnya."
"Tapi jangan campuri caraku mengenalnya!"
"Asal jangan keterlaluan saja!"
"Hey... tenang saja! aku tidak akan menyakiti orang yang mirip adekku Susi dan menyayangi ponakanku."
"Aku pegang janjimu!"
"Aku ini abang iparmu, sopanlah sedikit padaku!"
"Kamu abang ipar yang gila!"
"Ha...ha...ha... kamu seperti tidak mengenalku Rey!".
"Baiklah, aku tunggu kedatanganmu"
Rey menutup teleponnya.
"Aku yakin kamu akan menyayanginya, seperti kamu menyayangi Susi."
Flasback off
"Sekarang tidurlah! sudah larut malam" ucap Rey.
"Apa kamu yakin dia tidak akan menggangguku Rey?" Susan takut.
"Dia tidak akan mengganggumu sayang. Percayalah! ada aku yang akan menjagamu."
"Tapi aku sebal dengannya."
"Kamu akan suka padanya setelah kamu mengenalnya."
"Aku tidak akan menyukainya!"
"Sayang..."
Rey menyentuh bibir Susan dengan jarinya.
Susan gugup, jantungnya berdetak kencang.
Rey mencium bibir Susan dan m******t, Susan pun membalas aksi Rey.
__ADS_1
Mereka terhanyut dalam manisnya cinta.