
Susan mengusap air matanya yang tidak dapat dia bendung saat mendengarkan cerita Rey. Dia menggenggam tangan pria itu dan mengusap - usap punggung tangannya.
Rey membalas dengan menggenggamnya erat. Tersirat kepedihan yang dalam pada mata Rey. Matanya merah. Menetes air bening di sudut matanya.
"Susi itu adalah istriku. Aku sangat mencintainya tetapi Tuhan lebih menyayanginya."
"Maafkan aku," ucap Susan sendu
"Kamu memang sekilas mirip dengan dia. Itu sebabnya Elina memanggilmu mama. Dia memang tidak pernah melihat mamanya secara nyata. Tapi dia tau dari foto Susi ."
"Apa dia tau kalau mamanya sudah meninggal?"
"Tidak. Yang dia tau mamanya kerja jauh."
"Kenapa seperti itu?"
"Karna aku ingin. Bila suatu saat nanti aku menikah lagi. Dia dapat menerima mama barunya."
"Tapi bagaimana kalau dia tidak mau menerima istri barumu?"
"Aku tidak akan menikah dengan wanita yang tidak dicintai oleh putriku."
"Meskipun kamu mencintainya?"
"Ya. Aku bisa berusaha mencintai orang yang putriku cintai. Tapi mungkin tidak sebaliknya pada putriku. Belum tentu dia bisa mencintai orang yang aku cintai."
Rey menarik napas panjang. Dipandangnya wajah Susan dalam.
"San...Bolehkah aku memelukmu?"
Susan mengganggukan kepalanya.
Rey memeluknya dengan erat. Air matanya jatuh kembali.
Susan merasakan kehangatan dan rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Susan mengeratkan pelukannya seolah enggan untuk melepaskannya.
Apakah aku mencintainya?
"Rey...Apakah kamu pernah mencintai wanita lain setelah istrimu tiada?".
Mereka masih berpelukan.
"Pernah".
Rey melepaskan peluknya.
"Aku pernah mencoba mencintai wanita lain. Aku pikir dia juga mencintai Elina. Tapi ternyata tidak. Dia hanya mencintaiku dan hartaku. Dia sayang pada putriku saat di depanku saja. Tapi dibelakang ku dia tidak peduli pada putriku bahkan tega menyakitinya."
"Apa Elina pernah dekat dengan seseorang dan suka padanya?"
"Tidak. Selama ini dia hanya dekat dengan Ana istri Aldo. Dan juga dirimu."
Wajah Susan bersemu merah. Ada rasa senang saat dia mendengar kata - kata Rey.
Rey kembali memegang tangan susan dengan kedua tangannya.
"San...apakah kamu akan tetap menyayangi dia meski kamu sudah menikah dengan Riko kekasihmu?"
"Kenapa kamu tanya begitu seperti itu?"
"Aku takut dia akan merasa kehilanganmu setelah kamu menikah dengan Riko."
Susan menatap tulus mata Rey.
"Sampai kapan pun aku akan tetap mencintai dia. Apapun keadaanku dan statusku."
"Aku percaya padamu."
Susan tersenyum.
Mereka menghabiskan waktu bersama - sama.
__ADS_1
Sepekan sudah berlalu.
Sepulang kerja Susan dan Mela mampir ke sebuah mall dekat tempatnya bekerja.
Hanya sekedar nyore saja tidak ada tujuan pasti.
Mereka berjalan melewati sebuah restauran dengan dinding kaca.
Mela menarik tangan Susan untuk berhenti.
Susan menoleh ke arah Mela. Mela menunjuk sepasang pria dan wanita yang sedang makan di situ dengan bercanda mesra.
"Itu kan Riko san?!"
Susan masih menatap mereka dalam diam.
"Dengan siapa dia?" lanjut Mela.
"Mana ku tau," jawabnya seolah masa bodoh.
"Bagaimana kalau kita ke sana?" lanjut Susan.
"Apa kamu yakin san? Apa kamu akan melabrak wanita itu?"
"Jangan gila!. Ikut saja dan diam!"
Susan menarik tangan Mela. Mela kawatir kalau Susan akan marah - marah di depan banyak orang.
Susan berdiri tepat di samping meja pria dan wanita yang sedang kasmaran itu.
"Hay Riko," ucap Susan santai.
Riko terkejut melihat Susan berdiri di sampingnya.
"Su...san.." Riko salah tingkah.
"Hay...." sapanya pada wanita yang bersama Riko.
Mela tidak menduga Susan akan melakukan itu. Dia melotot ke arah Susan tapi Susan tidak menghiraukan sahabatnya itu.
Riko tidak kalah herannya dengan sikap Susan yang tenang meski mengetahui bahwa dia selingkuh.
"Ya...aku pacarnya Riko. Tapi maaf kami sudah memesan meja ini khusus buat kami berdua!" Jawab wanita itu angkuh.
"Baiklah kalau begitu. O ya...boleh saya tau sudah berapa lama kalian pacaran? kenapa kamu tidak pernah cerita kepada kami?. Padahal kita sudah sahabatan lama, apa kamu tidak mengganggap kami sahabat lagi?"
ucap Susan santai dengan merangkul pundak Mela. Mela hanya bisa terdiam melihat sikap sahabatnya yang aneh itu.
"Kami pacaran sudah empat bulan. Buat apa dia harus cerita ke kalian!. Nanti juga kalian pasti dapat undangan pernikahan kami."
"Wah..selamat ya Riko. Akhirnya kamu akan menikah juga."
Susan menatap tajam Riko dengan tatapan membunuh.
Riko yang mendapat perlakuan seperti itu semakin salah tingkah.
"O ya selamat juga ya mbak. Kalau begitu kami permisi. Silahkan menikmati kencannya semoga bahagia. Da...Riko."
Susan meninggalkan mereka sambil melambaikan tangan.
"San....kamu hebat!. Riko mati kutu."
Susan hanya diam dan terus berjalan.
"San...kamu baik - baik saja? Apa kamu mau menangis di pundakku san?. Aku siap jadi sandaranmu," Mela sedih melihat Susan.
"Jangan lebay!. Aku tidak apa - apa."
"Apa kamu yakin san? Kamu tidak marah lihat Riko selingkuh?"
"Tidak."
"Apa kamu sudah tidak mencintainya lagi?"
__ADS_1
"Menurutmu?" Susan balik bertanya nadanya tetap datar.
"Aku sudah tau lama kalau dia selingkuh. Hanya saja belum ada waktu yang tepat."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Tidak ada. Yang akan aku lakukan sekarang adalah pulang dan bobo cantik."
"Apa kamu sudah tidak waras san?! ngeliat pacarnya selingkuh tapi tetap tenang gitu."
"Laki - laki di dunia ini bukan hanya satu."
Setelah taksi yang mereka tumpangi mengantar Mela Susan meminta pak supir putar arah.
Dia menangis di dalam taksi itu.
Sang supir taksi menjadi bingung melihat penumpangnya menangis.
"Non...apakah non baik - baik saja?"
Susan tidak menjawab dia tetap menangis.
"Pak ke jalan permata ya!"
"Baik non."
Susan menghapus air matanya.
Dia berjalan memasuki rumah besar dan mewah. Susan tidak pulang ke rumahnya tapi ke rumah Rey.
Dia ingin bertemu Elina. Mungkin dengan bersama Elina hatinya akan terhibur.
Tapi sayang, ternyata Elina tidak di rumah. Gadis kecil itu ikut Oma Reka ke luar kota.
Dia duduk di tepi kolam renang milik Rey.
Bibik yang melihat Susan bersedih menjadi penasaran dan kawatir. Dia menghubungi tuannya.
Rey sedang rapat. Mendengar apa yang dikatakan bibik tentang susan, Rey langsung menutup rapatnya dan segera pulang.
Dalam perjalanan pikiran Rey tidak karuan, dia kawatir.
Rey duduk di samping Susan.
Melihat kehadiran Rey di sampingnya, Susan langsung memeluknya dan menangis.
Rey semakin menjadi bingung tapi dia membiarkan Susan agar puas dengan tangisnya.
"Katakan apa yang terjadi!" ucapnya setelah tangis gadis itu mereda.
"Dia menghianatiku."
"Dari mana kamu tau?"
"Tadi kami ketemu dia dengan kekasihnya di restauran."
Susan menceritakan apa yang baru dia lihat.
"Menangislah!. Mungkin dengan menangis hatimu akan lega."
Susan menangis dalam pelukan Rey.
Entah mengapa hati Rey terasa sakit saat melihat gadis itu menangis di depannya.
Maafkan aku san. Sebenarnya aku sudah tau lama dari Aldo. Tapi Aldo melarangku untuk memberitaumu.
Rey mendekap erat tubuh Susan.
Dia ingin melindunginya tapi kali ini dia harus melihatnya menangis karna laki - laki lain yang tidak pantas untuk di tangisi.
Hati Rey semakin terasa sakit.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1