
Hari ini Rey dan Aldo serta Dino melakukan persiapan untuk menjebak Merry.
Wanita cantik dengan postur tubuh hampir sama dengan Susan berdiri dengan anggun.
"Apa kamu sudah siap nona?" ucap Rey sedikit kawatir.
"Tenang saja tuan aku sudah siap."
"Apa kamu yakin? situasi ini sangat berbahaya dan mungkin nyawamu taruhannya bila kita tidak berhasil mengalahkan mereka. Apa sebaiknya kita batalkan saja penjebakan ini."
"Jangan tuan. Aku siap meski nyawa taruhanku, setidaknya aku bisa mati dengan senang Karna sudah melakukan kebaikan."
Rey berjalan ke arah wanita itu dan memeluknya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menjadi korban di sini. Aku akan melindungimu nona."
"Terimakasih tuan"
Penjebakan berawal dari kantor Aldo karna mereka pasti mengawasi Susan dari sepulang kerja.
Seorang wanita berjalan santai keluar gedung perkantoran. Wajahnya sengaja di tutupi dengan masker hidung dan kacamata.
Wanita itu berjalan acuh tapi sikapnya tetap waspada.
Dua orang pria bertubuh kekar menyergapnya dari belakang, mulut wanita itu dibekapnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
Rey dan kawanannya memperhatikan dan mengawasi setiap gerak gerik orang itu.
Mereka mengikutinya sampai ke markas.
Markas itu terletak jauh dari keramaian dan hanya ada satu bangunan itu saja.
Suasana rumah itu pun sepi dan suram, pencahayaan yang redup membuat rumah itu tampak remang - remang.
Tampak sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah itu dan seorang wanita keluar dengan penjagaan para pria kekar.
Mereka berbincang sebentar sebelum wanita itu masuk.
Rey memberi kode pada Aldo dan yang lain untuk segera masuk dan bertindak, dia tidak ingin nyawa wanita yang telah menolongnya itu terancam.
Rey menendang keras pintu di depannya, sontak penghuni rumah itu terkejut dan siap siaga dengan senjata mereka.
Terjadilah perkelahian antara kubu Rey dan kubu penghuni rumah itu.
Rey memutarkan matanya ke segala arah.
"Aldo, di mana wanita sialan itu?"
"Aku tidak melihatnya, tadi bukannya dia berdiri di hadapanmu."
"Sialan, pasti dia sudah melarikan diri."
"Apakah kelompok kita ada yang terluka?," tanya Aldo cemas.
"Tidak"
"Bagus kalau begitu. Semua anak buah Merry sudah di tangkap dan polisi sedang menuju ke sini. Dino tolong kamu bawa nona ini ke rumah sakit, dia harus mendapat perawatan karna efek obat bius dan kamu jaga dia jangan sampai dia terluka."
"Baik Rey, aku akan membawanya tapi bagaimana dengan Merry?"
"Kami akan berusaha mencarinya sampai dapat."
Setelah polisi datang, Rey dan Aldo meninggalkan tempat itu.
"Bagaimana dengan Susan apakah dia sudah sampai rumah dan aman?" tanya Rey pada Aldo.
"Tadi aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengantarnya pulang."
"Baguslah kalau begitu, aku sangat kawatir dengan dia. Aku akan ke rumahnya."
__ADS_1
"Bilang saja kalau kamu rindu pakai alasan kawatir."
"Kalau memang rindu kenapa? apa kau cemburu bosku kalau aku kencan dengan sekertaris kesayanganmu?," Rey menggoda Aldo.
"Sialan lo. Antarkan aku pulang dulu baru kamu boleh pergi menemuinya."
"Kenapa kamu tidak naik taksi saja?"
"Kalau begitu aku tidak akan mengijinkanmu menemui sekertarisku lagi"
"Ancamanmu menakutkan bos"
Rey mengantar Aldo sampai depan rumahnya lalu dia melajukan mobilnya ke rumah Susan.
Dilihatnya rumah itu tampak sepi dan gelap, lampu rumah tidak menyala.
Rey melangkahkan kakinya penuh dengan kekawatiran dan was - was, dia takut terjadi sesuatu pada Susan.
Setelah dipastikan tidak ada yang mencurigakan, Rey mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Rey menghubungi nomor Susan tapi tidak aktif.
Pikiran Rey mulai kacau, ketakutan dan kecemasan bermain indah di dalam otaknya.
Rey menghubungi ponsel Aldo.
"Aldo...apakah Susan menghubungimu?"
"Tidak"
"Susan tidak ada di rumahnya dan rumahnya gelap gulita, aku takut terjadi apa - apa dengannya"
"Tenanglah Rey mungkin dia hanya mencari makan di luar."
"Tidak mungkin kalau dia hanya mencari makan, rumahnya tidak kan gelap."
"Kamu jangan bercanda Rey" Aldo mulai ikut cemas.
"Baik. Aku akan segera datang."
Aldo berjalan keluar rumah dengan tergesa - gesa.
"Mas, ada apa?"
Ana heran dengan sikap suaminya saat itu.
"Tidak ada. Rey memintaku untuk menemuinya. Sebaiknya kamu masuk saja ya, tidak baik udara malam untuk wanita hamil. Aku akan menemui Rey."
"Kamu yakin mas tidak menyembunyikan apapun dariku?"
"Tidak sayang. Nanti setelah pulang aku akan cerita semuanya, saat ini Rey menungguku jadi ceritanya ditunda dulu."
"Ya sudah, kamu hati - hati ya mas"
"Iya sayang. Aku pergi dulu ya. I Love You sayang."
Aldo mengecup kening istrinya.
"I Love You Too mas"
Sementara di tempat yang sama saat kejadian pembekapan itu terjadi ada seorang wanita yang menyaksikan kejadian itu.
Saat keluar dari kantor, Susan melihat seorang wanita di cilik oleh dua orang pria bertubuh kekar.
Susan diam - diam mengikutinya dan mencoba mencari bantuan tapi malang seorang pria menghampirinya dan membuatnya tidak sadarkan diri dengan sekali pukulan di lehernya.
Susan membuka matanya, leheenya terasa sakit dan kepalanya berat.
Diedarkan pandangannya ke segala arah, rumahan itu tampak sepi dan sunyi.
__ADS_1
Tangan dan tubuhnya terikat pada kursi, sedangkan mulutnya di tutup dengan kain.
Susan berusaha melepaskan diri tapi sia - sia tali itu terlalu kuat.
Dua orang menghampirinya, seorang laki - laki kekar dan seorang lagi wanita cantik.
Wajah wanita itu menyeringai sinis dan puas.
"Lepaskan kain di mulut wanita itu!" perintah wanita itu pada temannya.
"Merry...."
Susan tidak percaya kalau wanita yang ada di depannya itu Merry.
"Apa kamu terkejut melihatku?"
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku hanya ingin bermain - main saja denganmu."
"Apa tujuanmu?"
"Apa kamu belum paham juga wanita sialan, bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Rey dan pergi dari kehidupannya tapi ternyata kamu melawanku dan tidak menuruti perkataanku."
"Lepaskan aku, aku akan pergi dari rey, aku hanya menunggu surat pindah kerja dari Aldo setelah surat itu keluar aku langsung pergi dari kota ini."
"Apa kamu mau membodohi ku?!"
"Tidak. Aku sudah membicarakan ini pada Aldo dan dia sedang mengurusnya"
"Apa aku harus percaya padamu?"
"Itu terserah kamu tapi yang jelas aku tidak pernah mengingkari janjiku, aku akan menjauhi Rey setelah surat itu keluar."
Di sisi lain Rey menatap Aldo dengan segudang pertanyaan dan kemarahan atas apa yang dia dengar. Aldo hanya nyengir dan menggaruk kepalanya.
Rey dan Aldo memang berada di luar ruangan tempat Susan di sekap.
Dengan bermodalkan cctv kota mereka dapat melacak keberadaan Susan.
Mereka mengintai dan menunggu saat yang tepat untuk menangkap Merry.
Polisi sedang menuju tempat itu.
Merry bermaksud melepaskan ikatan Susan dan melepaskannya karna dia percaya dengan apa yang dikatakannya.
Tetapi dia terkejut dengan kehadiran Rey dan Aldo di depan pintu dengan wajah menyeramkan.
Merry yang panik membekap leher Susan dengan lengannya dan mengarahkan pisau, Susan merasa lehernya sakit dan susah bernapas.
"Jangan mendekat, atau wanita ini akan kubunuh!" ancam Merry.
"Lepaskan dia!!"
"Aku tidak akan melepaskan dia. Kalau aku tidak bisa memilikimu maka wanita ini juga tidak akan memilikimu."
"Jangan gila, kamu bisa menyakitinya!!"
ucap Aldo cemas
"Aku tidak hanya akan menyakitinya tapi aku akan membunuhnya."
"Tolong jangan sakiti dia"
Rey mendekati pelan wanita itu.
Karna merasa terpojok Merry mendorong Susan kuat ke arah tembok dan dia melarikan diri tapi polisi sudah menunggunya di luar.
Merry pun akhirnya di tangkap.
__ADS_1
Tubuh Susan membentur tembok sangat kuat dan keras, tubuhnya sempat terhuyung dan jatuh dalam pangkuan Rey.
Susan tidak sadarkan diri dan darah segar mengalir dari luka di kepalanya akibat benturan.