
Berkali - kali Rey melihat arlojinya.
Berjalan mondar - mandir. Duduk - berdiri.
Pindah canel TV, pencet...pencet...dan pencet lagi.
Diliriknya lagi arloji di tangannya. Berdiri dan berjalan ke sana ke mari.
"Rey....hentikan tingkahmu itu!. Aku pusing melihatmu dari tadi mondar - mandir," ucap Aldo pusing melihat Rey.
"Lama sekali jamnya berjalan. Aku sudah bosan."
"Kalau kamu bosan pulang saja!"
"Enak saja kamu bilang pulang. Bilang saja kalau kamu tidak rela sekertarismu itu jalan denganku!"
"Ahk...." Aldo mengusap kasar rambutnya dengan dengan kedua tangan.
"Kalau begitu bawa saja dia sekarang! Aku sudah pusing lihat kamu kayak kucing mau beranak."
"Ini belum jam pulang kantor. Apa kamu yakin mengijinkan dia ku bawa sekarang?"
"Ya" ucap Aldo singkat.
"Baiklah kalau begitu aku akan membawanya dengan senang hati. Terimakasih saudaraku yang baik hati."
Rey memeluk Aldo ala gaya laki - laki.
Rey bergegas keluar ruangan sebelum Aldo berubah pikiran.
Rey menghampiri susan di meja kerjanya.
"Ayo kita jalan sekarang nona cantik," ajak Rey.
"Ini belum jam pulang!"
"Tapi aku sudah mendapat ijin dari bosmu Aldo untuk membawamu pergi sekarang."
"Tidak mungkin!"
"Coba saja kamu tanya dia!"
Susan mengambil telepon kantor dan menekan nomor ruang Aldo.
"Apa kamu yang menyuruh Rey membawaku sekarang?"
"Ya. Pergilah! aku bosan melihat dia mondar mandir di ruanganku."
Susan menutup teleponnya.
"Aku bereskan barangku dulu."
Setelah selesai Susan berjalan bersama Rey.
" Mau kemana kita?"
"Kita lihat matahari tenggelam."
Sepanjang perjalanan mereka asyik ngobrol.
Mereka sampai pada tujuan.
Pantai berpasir putih menjadi tujuan mereka.
Susan berlari ke arah air laut dengan berteriak senang.
Ombak yang menggulung beraturan saling berkejaran.
Suara menderu memecah kesunyian.
Tak jarang membawa karang kecil ke tepian.
Angin yang bertiup sepoi menambah kesejukan.
Susan memainkan air dengan kakinya.
Mengembang senyum manis di wajah cantiknya. Dia mengarahkan pandangnya ke laut lepas. Ada sejuta keagungan Tuhan di sana.
Dia berbalik badan melihat Rey yang berdiri di tepi pantai menghadap laut.
"Rey....kemarilah!"
Rey berjalan mendekat pada Susan.
"Apa kamu senang?" tanya Rey.
"Aku senang sekali. Apa kamu sering ke sini Rey?"
"Dulu ya. Sekarang jarang."
__ADS_1
"Kenapa? Apa karna kamu sibuk sekarang?"
"Tidak juga. Hanya tidak ingin saja."
Susan masih memainkan air dengan kakinya. Sesekali dia menendang ombak yang bergulung mengenai kakinya.
Rey yang memperhatikannya tersenyum senang.
"Apakah kamu percaya mitos?" tanya Rey.
"Tergantung mitosnya. Kalau masuk akal aku percaya."
"Kata orang kalau kita menuliskan nama kita dan pasangan kita di pasir ini dan ombak menyapunya ke dalam laut, kita pasti akan berjodoh."
"Apa kamu percaya Rey?"
"Aku percaya. Apa kamu mau mencoba menulisnya?"
Rey berjongkok memungut ranting kecil dan menyodorkan pada Susan.
Susan ikut berjongkok di hadapan Rey.
Dipandangnya Rey, mata mereka saling beradu pandang.
"Tulislah!"
Susan mengambil ranting dari tangan Rey.
Sekali lagi dia menatap Rey. Rey tersenyum padanya.
"Apa kamu juga akan menulisnya?"
Rey tersenyum dan mengambil ranting yang lain.
Rey membuat bentuk hati.
"Isilah hati ini!"
Susan menulis namanya pada hati itu tapi saat dia harus menulis nama pasangannya dia tampak ragu.
Rey terus memperhatikannya.
"Aku tidak akan menulisnya."
Susan duduk di samping gambar hati itu dan melemparkan ranting yang dia pegang ke laut. Matanya memandang ke laut lepas.
Rey hanya tersenyum menanggapi sikap Susan. Dia masih pada posisi awal menghadap gambar hati itu.
"Entahlah. Aku tidak yakin."
"Apa dia menyakitimu?"
"Tidak. Aku hanya tidak ingin menulis namanya di situ."
"Aku yang akan menulis namanya di sini."
Susan masih mengarahkan pandangannya ke laut tanpa menghiraukan apa yang di tulis Rey.
Rey menulis namanya di dalam gambar hati itu.
Susan & Rey.
Rey duduk di samping gambar hati itu dan melemparkan ranting yang dia pegang ke laut.
"Apa kamu marah bila aku menulis nama ini di sini?"
Susan menoleh pada gambar hati itu.
Dia tersenyum.
"Apa kamu sudah gila Rey?!"
Susan bermaksud ingin menghapus tulisan itu tetapi ombak laut terlebih dulu menyapunya.
Susan terlihat kecewa karna dia tidak sempat menghapusnya.
Rey tersenyum melihat wajah kesal gadis itu.
"Berarti alam merestui kita," ucapnya sambil berdiri dan berjalan ke arah air.
Susan masih dengan posisi yang sama dia tak bergeming.
Dia memang ragu dengan perasaannya pada Riko. Tapi saat ini dia tidak pernah berpikir untuk jatuh cinta pada Rey.
"Apa kamu akan terus mematung di situ?"
Merasa tidak mendapat respon, Rey berjalan mendekati Susan.
"Maaf. Aku sudah membuatmu marah. Anggap saja mitos itu tidak benar."
__ADS_1
Ada nada kecewa dalam ucapan Rey.
Rey kembali mendudukkan dirinya di samping Susan.
Sesaat terjadi keheningan.
Rey merebahkan tubuhnya diatas pasir. Dia memejamkan matanya.
Susan mengarahkan matanya pada pria di sampingnya itu.
Tampan dan sempurna. Tapi dia menyimpan sejuta misteri. Aku belum mengetahui siapa dia sebenarnya. Apa mungkin dia yang akan menjadi jodohku?.
Rey sadar kalau Susan memperhatikannya. Dia sengaja membiarkan hal itu dan berpura - pura tidak melihatnya.
Susan ikut merebahkan tubuhnya di atas pasir. Dan mulai memejamkan matanya.
Kini giliran Rey yang memperhatikan wajah gadis itu.
Rey memiringkan tubuhnya dan menyangga kepalanya dengan tangan agar dapat dengan jelas menikmati wajah cantik gadis itu.
Cantik dan sempurna. Semoga Tuhan mengirimkan kamu menjadi jodohku, ibu dari anak - anakku.
Matahari mulai terlihat tenggelam.
Cahaya senja mempercantik suasana.
Rey membangunkan Susan. Dia tidak ingin Susan melewatkan momen yang indah itu.
Mereka berdua dalam posisi duduk menikmati dan memandang matahari tenggelam. Keheningan masih setia menemani mereka berdua.
Rey berjalan menuju air laut.
"Aaaaaaaa........." teriaknya keras dan lepas.
"Kemarilah!" pintanya
Susan berjalan mendekati Rey dan berdiri tepat di sampingnya.
"Aaaaaaaa......" Rey kembali berteriak.
"Kata orang kalau kita berteriak lepas akan mengurangi beban yang kita rasakan."
Tidak ada jawaban.
"Apa kamu tidak mau melepaskan bebanmu? Cobalah!"
Susan menatap Rey. Lalu menatap ke arah laut lagi. Dia berjalan maju ke depan.
"Aaaaaaaaaa......" Susan berteriak puas.
"Bagaimana apa kamu merasa lepas?" ucap Rey mendekatinya.
"Apa kamu sering melakukannya?"
"Ya. Ketika aku tak mampu mencurahkan bebanku pada orang lain aku akan berteriak."
" Apa setelah itu kamu merasa lega?"
"Saat itu iya. Tapi tetap saja kita harus menghadapinya. Kita tidak bisa menghindari segala kenyataan yang ada di depan kita. Semakin kita berusaha menghindar semakin besar juga dia menghantui kita."
" /Aku tidak menyangka kamu bisa sebijak ini. Selama ini aku hanya mengenalmu sebagai manusia yang konyol."
"Terkadang kita harus bersikap seperti anak kecil, agar hidup kita bahagia. Terkadang kita pun harus bersikap gila agar kita tau apa itu hidup."
"Rey...Apa kamu sudah lama mengenal Aldo?"
"Kami dari kecil sudah bersama. Dia saudara sepupuku. Apa kamu mencintainya?"
Rey menatap Susan.
"Tidak."
Mereka berjalan kecil menyusuri bibir pantai.
"Aku merasa menemukan sosok kakak di dalam dirinya dan juga Ana. Setiap ada dia, aku merasa nyaman dan terlindungi. Aku sangat menyayangi mereka.'
"San...boleh aku gandeng tanganmu?"
"Kenapa?"
"Tidak. Aku hanya ingin melakukan saja. Tapi kalau tidak boleh, tidak apa - apa aku tidak memaksa."
Susan meraih tangan Rey dan menggandengnya. Rey tersenyum melihatnya.
Mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
"Terimakasih."
Senja sudah berganti malam.
__ADS_1
Mereka beranjak meninggalkan tempat itu.
Hari ini menjadi sejarah bagi dua anak manusia itu.