
Pagi ini Aldo berencana ke rumah sakit sebelum ke kantor, dia akan mengunjungi Susan.
"Mas....apa aku boleh ikut ke rumah sakit? aku kawatir dengan keadaan Susan," ucap Ana.
"Sayang..jangan dulu ya, nanti kalau Susan sudah sadar baru kamu ke sana. Saat ini Susan belum sadar jadi percuma juga kamu ke sana lagi pula perutmu sudah sangat besar sayang, aku tidak mau kamu lelah."
"Kamu janji ya kalau Susan sudah sadar kabari aku."
"Iya sayang, pasti aku kabari kamu."
"Mas...tolong lakukan apapun agar Susan sembuh."
"Pasti. Aku akan melakukan apapun untuk kesembuhannya."
"Jaga dia mas. Karna dia adalah nyawamu, dia yang menyatukan kita."
"Pasti sayang, aku akan menjaganya seperti aku menjagamu."
Sementara di rumah sakit, Rey duduk menghadap Susan dan menggenggam tangannya.
"Dino, apa dia belum bangun dari semalam?"
"Belum. Mungkin hari ini."
"Pulanglah! aku akan menjaganya hari ini."
"Nanti saja, aku masih mau di sini."
"Apa kamu tidak lelah?"
"Tidak."
Aldo membuka pintu dan masuk.
"Apa Susan sudah bangun?" tanyanya cemas
"Belum."
"Sampai kapan dia akan seperti ini? atau kita pindahkan saja ke rumah sakit yang lebih baik?"
"Tidak perlu. Aku yakin hari ini dia sadar," ucap Dino percaya diri.
"Apa kamu yakin?"
"Percayalah."
Aldo mendekati Susan dan mencium keningnya.
"Aku datang sayang, cepatlah Bangun."
"Apa kamu tidak bisa kalau tidak menciumnya?! seenaknya aja main cium."
Rey kesal dengan Aldo.
"Kenapa kamu marah dan melarangku?" jawab Aldo santai.
"Dia itu milikku."
"Sejak kapan? Susan saja belum menerima cintamu. Selama dia jadi sekertarisku, dia masih milikku."
"Stop!! Kenapa kalian berisik sekali? nanti biar Susan yang menentukan siapa yang berhak memeluknya." Ucap Dino melerai perdebatan para sahabatnya.
"Aku heran sama Susan, kenapa dia bisa tahan menghadapi dua pria seperti ini."
Rey dan Aldo saling memandang sinis.
Tangan Susan bergerak, berlahan dia membuka matanya.
Rey dan Aldo yang melihat perkembangan Susan terkejut dan langsung mendekatkan diri.
Rey di sebelah kiri, Aldo di sebelah kanan sedangkan Dino masih duduk santai.
"Susan...akhirnya kamu sadar, apa yang sakit? mana yang sakit?" Aldo terus menerocos.
Tidak jauh beda dengan Rey, dia pun langsung mengajukan pertanyaan yang tidak jauh beda. Kedua orang itu terus memberondongi Susan dengan banyak pertanyaan.
Susan yang baru tersadar mengedarkan matanya pada mereka satu persatu.
__ADS_1
"Siapa kalian?"
Aldo dan Rey keduanya sontak terdiam, mereka menatap Susan dan beralih saling tatap dengan rasa tak percaya.
"Susan....apa kamu tidak mengingatku?" ucap Rey.
"Tidak"
"Apa kamu juga tidak mengingatku san?" ucap Aldo.
"Tidak. Aku tidak tau siapa kalian."
"Tidak mungkin. Kamu tidak mungkin melupakan aku," ucap Aldo.
"Coba ingatlah sekali lagi san!"
"Kalau dia tidak ingat pada kalian, jangan dipaksa." Ucap Dino santai masih pada posisi duduknya.
"Apa kamu bilang?!"
Rey dan Aldo sama - sama menatap Dino tajam, Dino yang mendapat tatapan itu berdiri menghampiri mereka.
"Apakah kamu juga lupa padaku Susan?" tanya Dino.
"Dino....apakah benar kamu Dino?"
Susan meraih tangan Dino agar dia lebih mendekat padanya. Dino pun berjalan mendekatinya melewati Rey.
"Kamu mengingatku? Apa kamu baik - baik saja?" Dino tersenyum.
"Ya...aku baik - baik saja."
Rey menarik tangan Dino yang lain.
"Kenapa dia hanya mengingatmu?! Apa yang sedang kamu rencanakan?" ucap Rey penuh amarah.
"Tenanglah kawan. Aku tidak merencanakan apa - apa. Apa salah kalau dia mengingatku?"
"Aku curiga padamu. Kenapa kemarin kamu menyuruh kami semua pulang dan hanya kamu yang menunggu dia? Apa yang sudah kamu lakukan padanya?"
Dino masih santai menanggapi kemarahan Rey.
"Sudahlah Rey, aku yakin Dino tidak melakukan hal yang aneh" Aldo mencoba menetralisir keadaan.
"Kalau kalian masih ingin ribut silahkan pergi dari sini!. Lagi pula aku tidak mengenal kalian aku hanya mengenal Dino jadi tinggalkan kami berdua" ucap Susan.
Rey dan Aldo sontak saling pandang penuh dengan ketidakpercayaan akan apa yang dia dengar dari Susan.
Ada rasa hancur dalam hati mereka, orang yang mereka sayangi ternyata mengalami trauma yang begitu hebat sehingga tidak mengenali mereka lagi.
"Semua ini salahku. Seandainya aku membiarkanmu pergi dan menjauhiku mungkin semua ini tidak terjadi, aku tidak akan kehilangan dirimu yang dulu."
Rey menjatuhkan dirinya di lantai dan menangis, dia merasa bersalah dengan kejadian yang dialami oleh Susan.
Aldo mendekatkan diri pada Susan dan menatapnya.
"Apa kamu sama sekali tidak mengingat kami san?"
Susan menggelengkan kepalanya.
Aldo memeluknya erat sambil menangis.
"Apapun keadaanmu, baik kamu mengingatku ataupun tidak, aku akan tetap menyayangimu, aku akan tetap menjagamu seperti saat kamu mengingatku dulu. Semua ini tidak akan merubah rasa sayangku padamu. Kamu adalah hartaku kamu tetap menjadi nyawaku sampai kapanpun aku akan selalu menjadi yang terbaik bagimu."
Aldo semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa yang kamu katakan itu benar?" ucap Susan.
Aldo merenggangkan pelukannya dan menatap Susan dengan lembut.
"Aku rela memberikan nyawaku untukmu dan aku rela melakukan apapun untukmu karna kamu adalah nyawaku yang sesungguhnya."
"Apa aku boleh memelukmu sekali lagi?" tanya Susan sambil tersenyum.
Aldo membalas senyum Susan dan memeluknya kembali air matanya masih setia mengalir.
Setelah beberapa saat Susan melepaskan pelukan Aldo.
__ADS_1
Dia menatap Rey yang masih tertunduk sedih di lantai.
"Rey.....apa kamu tidak ingin memelukku juga?"
Sontak mata Rey terbelalak mendengar ucapan Susan dia tidak percaya Susan memanggil namanya.
"Apa kamu memanggil namaku?" ucapnya masih belum beranjak dari posisinya.
"Apa aku harus mengulangnya? Tapi kalau kamu tidak mau ya sudah, lebih baik aku peluk Dino saja," ucap Susan sembari menarik tangan Dino.
Tanpa menunggu lama, Rey langsung berdiri dan mendekap erat tubuh Susan.
Ada rasa bahagia dalam tangisnya.
"Apa kamu tidak melupakanku? Aku sangat takut kehilanganmu, aku sangat mencintaimu. Tolong jangan tinggalkan aku."
Rey melepaskan pelukannya dan menyentuh pipi Susan dengan lembut.
"Apa kamu tau? aku sangat bahagia kamu memanggil namaku. Apa kamu tidak lupa padaku?".
"Seperti yang kamu lihat, aku baik - baik saja dan aku dapat mengenalimu dengan baik."
"Apa kamu juga ingat padaku?" tanya Aldo.
"Kemarilah!"
Susan merentangkan tangannya ingin memeluk Aldo, Aldo mendekat dan memeluknya.
"Aku tidak mungkin melupakan kakakku yang paling berharga ini. Aku sangat menyayangimu."
"Tunggu sebentar....lalu apa yang kamu katakan saat pertama membuka mata?"
Susan dan Dino saling melirik dan tertawa.
Aldo dan Rey saling beradu pandang.
"Kami hanya bersandiwara." Ucap Dino disela tawanya.
"Apa kamu sudah gila? kamu hampir saja membunuhku!" Ucap Rey penuh amarah.
"Maaf. Tapi kalian sangat lucu"
"Lucu kamu bilang?"
Rey melemparkan guling yang ada di dekatnya pada Dino.
"Sudah - sudah!. Ini bukan salah Dino, ini semua rencanaku."
Semua mata tertuju pada susan.
"Kenapa kamu melakukan itu? kamu hampir saja membunuhku sayang."
Rey mengusap lembut pipi Susan.
"Sebenarnya aku sudah bangun dari semalam tapi hanya ada Dino yang menemaniku, aku tidak melihat kalian. Aku jadi sebel."
"Dino....bukannya kamu bilang mau menghubungiku kalau Susan sudah sadar?"
"Tadinya aku memang mau menghubungi kalian tapi Susan melarangnya dan dia merencanakan ini semua."
"Apa itu benar sayang? Apa Dino yang memintamu untuk berbohong?"
"Itu benar. aku yang melarang Dino menghubungi kalian."
"Apa kamu tidak percaya dengan cintaku?"
"Aku senang melihat kalian seperti tadi. Aku bersyukur mempunyai orang - orang yang sangat menyayangiku. Apalagi saat aku melihatmu Rey...sebenarnya aku ingin berlari memelukmu."
"Apa hanya Rey yang ingin kamu peluk?"
Aldo merasa cemburu.
"Tentu saja tidak. Dari pertama aku buka mata dan melihatmu aku sudah ingin memelukmu kakakku tersayang. Tapi kalau aku melakukan itu...gagal donk rencana kami."
"Dasar nakal ya...."
Mereka saling memeluk dalam kebahagiaan.
__ADS_1