
Aldo menghentikan mobilnya tepat di pintu pemakaman keluarga.
Dia berjalan masuk ke pemakaman itu dengan membawa bunga.
Dia berjongkok dan meletakkan Bunganya di salah satu batu nisan.
Tangannya memegang batu nisan.
"Kamu tenang di sana sayang. Kakak janji akan menjaga gadis itu. Kakak tidak akan pernah melupakanmu. Kakak janji akan selalu mengunjungimu. Semoga kamu bahagia di sana. Kakak selalu menyayangimu. I Love You sayang."
Aldo mencium batu nisan itu.
Aldo memanjatkan doa yang terbaik buat Selvi, adiknya.
Hari ini tepat empat tahun kepergiannya. Tepat empat tahun kecelakaan itu terjadi.
Aldo sempat menyalahkan diri sendiri atas kejadian itu. Atas dukungan Ana, Aldo bisa melewati semua hingga saat ini.
Aldo datang ke kantor sudah jam sepuluh.
Hari ini dia malas melakukan pekerjaan apa pun.
Dia hanya duduk di kursi dan melamun, menonton tv dan memainkan telepon selularnya.
Tok tok tok
"Pak..Hari ini rencana akan ada tamu dari perusahaan Teen Company."
"Tunda saja. Suruh datang besok!"
"Tapi pak?. Ini sudah kedua kalinya di tunda."
"Aku bilang tunda ya ditunda!!. Kalau kamu mau menemuinya silahkan!" suara Aldo meninggi.
"Maaf pak."
Susan menahan air matanya.
Baru kali Aldo membentaknya. Ada rasa sakit yang dia rasakan.
Susan membalikkan tubuhnya, berjalan keluar.
Tiba - tiba Aldo memeluknya dari belakang.
"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakitimu."
Tangis Susan seketika pecah saat itu.
"Apa kamu membenciku?"
"Tidak. Aku tidak pernah membencimu. Aku sangat menyayangimu. Maaf."
Aldo membalikkan tubuh Susan sehingga mereka berhadapan dan mengusap air mata gadis itu.
"Maaf aku sudah membuatmu menangis."
"Apa ada masalah?"
"Tidak "
"Kamu yakin?"
"Ya"
Aldo menuntun Susan untuk duduk di sofa.
Mereka duduk bersampingan namun saling berhadapan. Tangan Aldo masih menggenggam tangan Susan.
"Apa kamu sudah ketemu Riko lagi?"
"Kemarin dia ke rumah. Dia minta maaf dan berjanji tidak akan memaksaku untuk keluar dari perusahaan."
"Apa kamu yakin?"
"Awalnya aku tidak percaya. Tapi dia meyakinkanku."
Apa yang kamu rencanakan sebenarnya Riko? Apa pun rencanamu aku tidak akan membiarkan kamu menyakitinya. gumam Aldo dalam hati.
"Aldo...bolehkah aku bertanya padamu?"
" Apa?"
Sebelum Susan bertanya pintu di buka oleh seseorang.
"Apa aku mengganggu kalian?"
__ADS_1
"Rey....persis seperti maling kamu!. Tidak pernah mengetuk pintu," ucap Aldo.
"Kalau aku ketuk pintu, aku tidak akan melihat kemesraan kalian," ucapnya datar seolah tak suka dengan apa yang dia lihat.
Rey duduk di samping Susan.
"Apa kabar nona cantik?" ucap Rey nakal.
"Kalian ini kalau ketemu kayak kucing sama anjing."
"Tuh anjingnya," ucap Rey menunjuk Aldo
"Kamu tuh anjingnya," balas Aldo tidak terima.
"Kamu tadi mau tanya apa san?" lanjutnya.
"Apa kalian kenal sama orang yang bernama Susi?"
Rey dan Aldo saling beradu pandang.
"Kenapa tiba - tiba kamu tanya itu ?"
"Entahlah. Aku penasaran saja dengan nama itu. Apa kalian kenal atau pernah dengar?"
"Tidak" jawab Rey singkat.
"Kamu Aldo?"
"Tidak juga. Aku hanya tau Susi Susanti pemain bulu tangkis."
"Aku serius!"
"Apa yang membuatmu penasaran?"
"Kemarin waktu aku beli buah untuk jenguk ayahnya Dandi. Ada ibu - ibu menghampiriku, tiba - tiba dia memelukku dan menangis. Dia memanggilku Susi."
Rey terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Susan.
"Di mana kamu bertemu ibu itu ?"
"Toko buah di jalan Pahoman Blok B."
Itu kan jalan di rumah oma Reka, mamanya Susi. Apa mungkin itu mama Reka?
Rey dan Aldo sekali lagi beradu pandang mata mereka mengisyaratkan saling tanya.
"Ehem..." Rey berdehem.
Susan melihat Rey dan Aldo bergantian.
"Apa yang kalian sembunyikan?"
"Tidak ada," ucap mereka hampir bersamaan.
"Tunggu.....!!" Susan mengehentikan ucapannya seperti memikirkan sesuatu.
"Apa?" Aldo penasaran.
"Aku ingat. Dulu pertama kali aku ketemu Elina, pengasuh Elina sempet memanggilku nyonya Susi. Dan satu lagi...oma...ya omanya Elina juga pertama ketemu dia memanggilku Susi bahkan dia memelukku juga."
Susan terdiam sebentar.
"Apa mungkin ibu di toko buah itu ada hubungannya dengan Elina?. Atau...mamanya Elina bernama Susi?"
Rey dan Aldo tetap diam. Tidak ada yang tau apa yang mereka pikirkan.
"Apa aku tanyakan saja pada bibik?"
Rey dan Aldo masih sama dengan kode - kode mata mereka.
"Ya...nanti pulang kerja aku akan ke rumah Elina dan menanyakan sama bibik."
"Jangan!!" ucap Rey spontan.
"Kenapa? Aku kan mau ketemu sama Elina juga. Aku sudah kangen."
"Tidak boleh!"
"Emang kamu bapaknya? main larang - larang seenaknya."
Aku memang bapaknya, Susan.....
Aldo tersenyum melihat Rey celinguk'an kena skak Susan.
Mati kutu lo Rey. Tanggung sendiri ulahmu.
__ADS_1
"Bukan begitu. Hari ini rencananya aku mau ngajak kamu jalan - jalan sepulang kerja nanti. Kamu harus mau, tanpa penolakan."
Gila Lo ya Rey. Masih bisa juga nih orang cari cara untuk menutupi ulahnya. Bilang saja mau berduan sama Susan.
"Aku tidak mau."
Rey melirik pada Aldo meminta bantuannya agar dia merayu Susan. Aldo mengerti maksud lirikan Rey.
"Pergilah san!. Mungkin dengan jalan sore kamu lebih rileks dan kamu temani Rey biar dia tidak tambah stres karna tak laku - laku."
Kali ini Rey harus mengalah dari Aldo demi sandiwaranya.
" Baiklah. Kali ini aku akan menemanimu."
"Terimakasih nona cantik. Kamu akan ku rekomendasikan menjadi sekertaris kesayanganku."
"Kamu gila!" Susan melempar bantal pada Rey.
"Baiklah kabari aku bila kamu sudah siap," lanjut Susan.
"Ok. Aku akan menunggumu di sini sampai jam pulang."
Aldo tiba - tiba melotot menatap Rey. Rey nyengir menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Susan keluar dari ruangan Aldo.
Kini tinggal Aldo dan Rey.
"Apa mungkin ibu - ibu yang di maksud Susan itu mamanya Susi?" ucap Rey.
"Aku rasa begitu."
"Kalau dia menanyakan itu pada bibik. Bisa mati kutu aku. Aku harus meminta bibik tutup mulut."
"Bagaimana dengan mamamu?. Dia kan bawel apa kamu bisa memintanya tutup mulut. Bisa - bisa mulutmu yang ditutup."
"Enak aja kamu ngomongin mama ku bawel!. Tapi bener juga sih. Aku bisa menutup mulut bibik tapi mama....ahk.." Rey kesal.
" Mungkin sudah saatnya kamu harus jujur pada Susan."
"Tidak. Belum saatnya. Aku sedang menikmati bisa menggoda sekertaris kesayanganmu."
"Asal jailmu tidak kelewatan!"
"Tenang saja. Paling parah mungkin aku mencium bibirnya," Rey terkekeh
"Pasti rasa bibir sexy gadis itu sangat manis," lanjutnya.
Rey membayangkan dan ******* bibirnya sendiri.
"Otakmu mesum. Efek lama tidak dibelai," Aldo jengah dengan tingkah Rey.
"Apa kamu tidak ada kerjaan?" tanya Aldo.
"Tidak. Hari ini aku males di kantor. Kalau kamu mau kerja silahkan aku tidak akan mengganggumu. Aku akan duduk manis di sini menunggu sekertaris kesayangan."
"Aku juga lagi males kerja. Tadinya utusan dari Teen Company akan ke sini tapi sudah dibatalkan."
"Mau apa mereka menemuimu?"
"Aku juga tidak tau. Sepertinya akan mengajukan kontrak kerjasama."
"Kamu harus hati - hati dengan mereka. Mereka itu licik."
"Aku tau."
"Apa tidak ada kopi untuk tamumu ini?"
"Tidak ada. Bagaimana kalau kita keluar saja?. Sekalian aku ada perlu."
"Kemana?"
"Ikut saja!. Nanti juga kamu tau."
"Ok"
Aldo dan Rey berjalan keluar.
Rey menghampiri Susan di meja kerjanya dan masih saja sempat menggodanya.
"Abang keluar dulunya sayang. Tunggu Abang dan jangan nakal," ucap Rey sedikit berbisik dan membungkukkan badannya ke arah Susan.
"Rey....!!" teriak Aldo sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan saudaranya itu.
Rey mempercepat langkahnya menyeimbangi langkah Aldo sambil tersenyum puas.
__ADS_1
"Jaga wibawamu di depan karyawan ku!!"
"Hanya sedikit memberi pesan padanya. Tak perlu cemburu begitu."