
"Apakah wanita itu menyakitimu?," tanya Rey cemas.
Susan menatap Rey dalam.
Tiba - tiba dia menangis.
"Hiks....hiks...hiks...Dia menamparku....."
Rey langsung membawa tubuh Susan ke dalam pelukanya.
Ada rasa sakit di dadanya saat melihat wanita yang di cintainya menangis karna wanita sialan itu.
Aldo semakin geram dengan perbuatan wanita itu.
"Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang . Dasar wanita sialan."
Aldo mengepalkan tangannya dan menunjukan ke tangan satunya.
"Dia menyuruhku menjauhimu," ucap Susan di sela tangisnya.
"Apa kamu akan melakukannya?" ucap Rey masih memeluk gadis itu.
"Dia bilang akan menyakiti Elina, bila aku tidak menuruti perkataannya. Aku tidak mau dia melakukan itu. Hiks... hiks...hiks..."
"Tidak akan ku biarkan dia menyakiti putriku atau pun menyakitimu."
"Tapi dia berjanji tidak akan menyakiti Elina, asalkan aku menjauhimu," ucap Susan mengangkat kepalanya dan memandang wajah Rey.
"Apa kamu percaya dengan perkataannya?"
Susan mengganggukan kepalanya.
"Bodoh!!" ucap Rey sambil mendorong pelan kepala Susan dengan jarinya.
"Aku tidak mau dia menyakiti Elina."
"Kamu pergi pun dia akan tetap menyakiti putriku. Karna yang dia inginkan hanya aku dan hartaku, bukan putriku."
Suasana hening sejenak.
"Ternyata dia tidak jera dengan peringatan ku dulu," ucap Rey santai.
"Apa dia pernah melakukan hal yang sama juga?"
"Ya. Dia pernah menyakiti Elina."
Flasback on
"Elina...sini sayang papa kenalin sama tante cantik," ucap seorang pria pada putri kecilnya.
Seorang wanita cantik berdiri di sampingnya sambil merangkul lengan pria itu mesra.
"Hallo cantik. Siapa namamu?," ucap wanita itu, dengan suaranya yang di buat selembut mungkin.
"Namaku Elina tante cantik," sambil masih memainkan boneka kecil di tangannya.
"Kalian bermainlah dulu. Aku mau ganti pakaian sebentar."
Pria itu meninggalkan putrinya bersama kekasihnya itu.
"Tante main boneka yuk, pinkynya mau makan kue."
Elina menyuapi boneka yang dia panggil pinky itu dengan kue coklat.
Tanpa sengaja coklatnya jatuh di baju wanita itu.
Sontak wanita itu memarahi anak kecil itu.
Elina menangis.
"Diam tante bilang!!. Awas kalau kamu sampai mengadu pada papamu akan tante kurung kamu di dalam kamar mandi. Sudah diam!!"
__ADS_1
Anak kecil itu sontak menghentikan tangisnya, dia sangat ketakutan.
Untung pengasuhnya datang dan menggendongnya pergi.
Setiap kali wanita itu datang, Elina selalu ketakutan.
Lama - lama papa gadis kecil itu curiga dengan sikap putrinya yang selalu diam dan ketakutan bila bertemu dengan kekasihnya.
Pria itu memasang cctv di dalam rumahnya dan mengajak kekasihnya bertemu dengan Elina seperti biasanya.
Pria itu sengaja meninggalkan mereka berdua, dia pun menyuruh pengasuh putrinya untuk membiarkan wanita itu bersama putrinya. Awalnya pengasuh itu tidak mau, tapi pria itu memberinya pengertian.
"Kamu jangan pernah menjadi penghalang ku untuk mendapatkan papamu. Nanti setelah aku menikah dengan papamu pasti kamu akan ku buang anak sialan."
Wanita itu mengangkat tubuh anak kecil itu dari pangkuannya dan mendudukkannya di sofa dengan sangat kasar.
"Aku tidak sudi menjadi mamamu"
Wanita itu mendorong tubuh Elina, hingga tubuh kecil itu terjatuh kesamping.
Gadis kecil itu menahan tangisnya. Wajahnya sangat jelas menyiratkan ketakutan yang sangat dalam.
Pria itu geram melihat apa yang di perbuat kekasihnya itu pada putrinya.
Di tinjunya meja di depannya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti putriku!"
Pria itu menuruni anak tangga di rumahnya.
Dia berjalan menghampiri putrinya.
"Bibik..." panggilnya pada pengasuh putrinya.
"Iya tuan"
"Bawa Elina ke kamarnya!"
Mata pria itu menatap tajam wanita di depannya.
"Jangan berpura - pura."
"Sayang. Kenapa kamu ngomong seperti itu padaku?"
Wanita itu mendekati Rey dan menggelayut manja.
"Aku tidak mau mempunyai calon istri yang sudah menyiksa putriku," ucap Rey dingin.
"Apa maksudmu sayang?"
"Aku sudah melihat semuanya. Sebelum aku bertindak kasar padamu. Silahkan kamu meninggalkan rumahku dan jangan pernah lagi datang menemuiku!"
"Tapi Rey, aku mencintaimu dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Kamu tidak mencintaiku Merry, kalau kamu mencintaiku harusnya kamu juga mencintai putriku."
"Aku tidak mau pergi."
Rey memanggil satpam rumahnya.
Dua orang satpam dengan tubuh kekar menghampirinya.
"Bawa wanita ini keluar dan jangan pernah biarkan dia masuk ke rumah ini lagi!!"
"Baik tuan. Mari nona saya antar keluar."
Wanita itu marah dan kesal.
"Aku tidak akan menyerah Rey"
Beberapa hari kemudian wanita itu menyuruh orang untuk menculik anak kecil itu.
__ADS_1
Sebenarnya di hanya ingin menggertak Rey agar dia mau menikah dengannya.
Tapi rencana penculikan itu gagal. Karna saat kejadian itu Elina di jaga ketat oleh orang - orang Rey.
Sempat terjadi aksi kejar - kejaran dengan pelaku penculikan. Hingga akhirnya mereka tertangkap dan di habisi oleh Rey.
Rey memperingatkan Merry dengan keras. Rey membuat keluarga Merry jatuh miskin. Sebagai imbas dari perbuatannya.
Keluarga Merry menemui Rey dan meminta maaf. Mereka memohon agar Rey mau melepaskan putrinya dan berjanji akan membawa putrinya pergi jauh dari kehidupan Rey.
Rey pun mengabulkan permintaan orang tua Merry dengan satu syarat. Apabila suatu saat nanti Merry kembali dan membuat onar lagi maka Rey tidak akan pernah mengampuninya lagi. Orang tua Merry senang mendengarnya dan merekapun membawa Merry pergi sesuai dengan janjinya.
Dari sejak kejadian itu, Rey harus dengan sabar mendampingi putrinya menjalani terapi untuk menyembuhkan trauma.
Rey tidak mau putrinya tumbuh dalam bayang - bayang kejahatan wanita itu. Makanya Rey membawa putrinya untuk terapi.
Hingga usaha Rey berhasil dan putrinya dinyatakan sembuh dan di harapkan tidak akan mengalami hal yang sama.
Flasback off
"Kali ini aku tidak akan membiarkannya hidup kalau dia berani menyentuh putriku," ucap Rey.
"Tapi dia sudah menyentuh hartaku. Aku tidak akan mengampuninya," ucap Aldo geram.
Matanya tajam seperti akan menerkam mangsanya.
"Tidak. Kalian tidak boleh menyakiti siapapun. Biarkan aku pergi darimu."
"Tidak. Kamu tidak akan kemana - mana. Kami akan melindungimu dan akan ku pastikan dia tidak akan berani melakukan itu padamu dan juga Elina," ucap Rey
"Apa kamu juga akan meninggalkan aku dan Ana?"
Aldo mendekati Susan dan memegang pundaknya.
"Aku takut dia menyakiti Elina."
Aldo memeluk tubuh Susan.
"Percayalah padaku. Aku akan melindungimu dan Elina. Tak akan kubiarkan dia menyakitimu. Meski harus nyawaku taruhannya."
Susan merenggangkan pelukan Aldo dan melihat wajah Aldo dengan sendu.
"Aku sangat menyayangimu. Percayalah."
Aldo mengusap lembut pipi Susan.
"Aku juga menyayangimu dan Ana."
"Apa kamu tidak menyayangiku dan Elina juga?," Ucap Rey dengan nada cemburu.
Susan menatap Rey, dan berjalan mendekatinya.
"Tentu aku menyayangimu dan Elina juga. Kalian semua adalah keluargaku. Makanya aku harus pergi agar dia tidak menyakitimu dan putrimu"
"Tidak. Aku sudah bilang kamu tidak boleh pergi," suara Rey meninggi.
"Rey...aku tidak mau dia menyakiti Elina. Dia sudah berjanji padaku, asal aku menjauhimu dia tidak akan melakukan itu," teriak Susan.
"Apa kamu bodoh?. Apa kamu tidak tau bahwa aku sangat mencintaimu?"
Aldo tidak menyangka Rey mengakui perasaannya dalam kondisi seperti ini.
Bukan hanya Aldo, Susan pun tidak kalah terkejutnya dengan ucapan Rey.
Rey mendekati Susan dan memegang pipinya dengan lembut.
"Apa kamu tau?, aku sangat mencintaimu dan aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak mau kehilangan wanita yang aku cintai untuk kedua kalinya. Apa kamu mengerti apa yang aku rasakan?"
Susan hanya menatap Rey. Dia tidak tau harus berkata apa - apa. Air mata jatuh di sudut matanya.
Ada rasa bahagia tapi juga rasa takut.
__ADS_1
Bahagia karna ternyata Rey mencintainya.
Takut pada ancaman wanita itu.